Kamis, 14 Januari 2010

Catatan Sebuah Kisah "Mbrojol"


Dimulai dari sebuah insprirasi yang muncul setelah aku nonton film berjudul “Kambing Jantan”, sebuah film tentang seseorang yang rajin menuliskan kisah hidup dan pemikirannya dalam sebuah catatan, ditunjang dengan hobiku menghabiskan waktu di warnet, memunculkan sebuah keinginan untuk membuat sesuatu yang menurutku menarik untuk dilakukan, yaitu membuat sebuah Catatan Kisah hidup dan pemikiranku, yang mungkin menurut orang tulisan ini nggak penting atau nggak ada nilainya, tapi menurutku ini akan menjadi kenangan indah tentangku, yang mungkin baru dapat                                                                         kunikmati setelah aku tua nanti.
Mbrojol” dalam bahasa Indonesia “keluar dengan tiba-tiba”
Cerita ini dimulai dari suatu tempat di Jawa Tengah, di kabupaten Klaten dan lebih  terperinci lagi di desa Jatinom dan tepatnya di sebuah rumah, milik dari Eyang Soeharsono. Rumah tersebut cukup luas dan dihuni oleh banyak anggota keluarga. Para penghuninya adalah pertama,  Eyang M. Soeharsono sebagai kepala Rumah Tangga, sekaligus sebagai pemilik rumah. Kedua, Eyang Elisabeth Siti Sumarni, sebagai Ibu rumah tangga, sekaligus istri sah dari Eyang Soeharsono. Ketiga, Ibu Susana Erni Herawatie, sebagai putri pertama dari Eyang Soeharsono. Keempat, Bapak Usfal Pius, Sebagai anak mantu dari pemilik rumah, sekaligus suami dari Ibu Susana Erni Herawatie. Kelima, Bapak Purnomo Hadi, sebagai Putra kedua dari Pemilik Rumah. Keenam, Ibu Ermawati Rahayu yang akrab dipanggil dengan sebutan “Mbak Tipluk”, sebagai anak ketiga dari bapak dan ibu Rumah Tangga tersebut, sekaligus adik dari Ibu Susana dan Bapak Purnomo, yang akrab dipanggil dengan nama “Om Pur”. Ketujuh adalah Bapak Hendratmojo yang akrab dipanggil dengan sebutan “Om Endot”, yang merupakan anak bungsu dari Eyang Soeharsono atau akrab dipanggil dengan nama “Kakung”, dengan Eyang Siti Sumarni yang Sering kami Panggil dengan sebutan Uti (Eyang Putri ). Terakhir Kedelapan adalah Wulan Ayu Mandasia Rasi Usfal, yang merupakan anak pertama dari Pasangan Suami istri Bapak Pius dan Ibu Susana. 
Pada tanggal 8 July 1986, di rumah tersebut mendapatkan pesanan  membuat makanan, untuk sebuah acara, dan makanan tersebut berupa “Arem-arem” dan “Resoles”,  masing-masing sebanyak sekitar 1000 biji. Kegiatan memasak tersebut dimulai dari pagi, kira-kira mulai pukul 3 dini hari. Proses pengerjaan pesanan tersebut dipimpin langsung oleh komandan dapur, yaitu Eyang Uti. Suasana pagi di rumah itu sangat ramai, karena banyak tetangga yang ikut dan terlihat sibuk sekali. Pada tanggal tersebut Ibu Susana Anak sedang hamil besar dan usia kehamilannya pun cukup tua. Karena saking sibuknya suasana pada saat itu, sampai-sampai ada satu hal yang sangat penting dan urgent, terabaikan dan terlupakan. Hal itu adalah kehamilan dari Ibu Susana yang memasuki dalam kondisi Siaga Satu, dan siap untuk melahirkan, walaupun memang belum ada tanda-tanda bahwa anak yang ada dalam kandungan tersebut akan keluar hari itu.
Pada pukul 18:00, pada saat Semua Orang sedang sibuk-sibuknya untuk mengemas makanan tersebut, tiba-tiba terdengar teriakan dari seorang ibu yang sangat menggemparkan seluruh isi rumah tersebut. Yupphh,, tak diduga dan tak dinyana, tiba-tiba keluar air dari perut sang ibu, yang ternyata  adalah air ketuban. Dengan keluarnya air tersebut, maka dapat dipastikan bahwa anak yang masih di dalam kandungannya tersebut memberontak dan ingin segera keluar dari dalam perut, untuk dapat merasakan segarnya udara di dunia ini.
Kepanikan dan kesemrawutan, itulah gambaran kondisi yang ada pada saat itu. Ketidaksiapan akan kelahiran tersebut, membuat orang-orang menjadi bingung untuk mengambil keputusan apa yang harus dilakukan. Akhirnya dengan cekatan, Om Pur segera mencari bantuan pertolongan dengan mencari mobil carteran untuk membawa Ibu tersebut kerumah sakit, untuk segera melahirkan. Tidak lama berselang, akhirnya mobil tersebut datang juga dan segera mengangkut sang ibu.  Pada dasarnya di perencanaan awal, Ibu tersebut akan dibawa menuju rumah sakit kota, yang letaknya kira-kira 30 km dari rumah. Akan tetapi karena waktu yang kurang bersahabat, ditambah sang bayi yang terus memberontak di dalam perut sang ibu, akhirnya diputuskan bahwa ibu tersebut akan dilarikan di sebuah puskesmas paling elit, di kawasan kecamatan jatinom yaitu PUSKESMAS JATINOM. 
Ternyata keputusan untuk melarikan sang ibu ke Puskesmas, adalah sangat tepat. Akhirnya pada tanggal 8 July 1986, di kala senja sang anak pun “Mbrojol” dalam Bahasa Indonesia (sudah keluar) sebelum memasuki Ruangan Puskemas. Karena proses kelahiran yang cukup praktis tanpa membuat orang lain kesusahan tersebut, maka atas kelahiran anak tersebut di kenai Biaya persalinan Rp. 4.500,00-. Akhirnya anak yang terlahir itu diberi nama oleh Sang Ibu Susana + Bapak Usfal Pius (+ Bisikan dari Sang Eyang) dengan nama “Adityo Danukusumo Usfal”.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Entri Populer