Kamis, 26 April 2012

Antara Rasa dan Logika


Setiap orang terlahir di dunia ini dengan sebuah karunia yang sangat luar biasa dari Sang pencipta,  dan anugerah itu adalah perasaan dan logika/ akal.  Menurutku kedua Anugerah itu akan menjadi sebuah kekuatan yang sangat dahsyat apabila dapat dijalankan secara berimbang dan membuat keduanya tidak saling mematikan satu sama lain.

Kehidupan percintaan memang sebuah hal yang sangat rumit, banyak orang yang bahagia karena “cinta”, tetapi tidak sedikit pula yang hancur karena cinta. Ada sebuah permasalahan dalam percintaan yang akhirnya membuat dua Anugerah itu tidak dapat berjalan berdampingan, bahkan cenderung saling  membunuh. 

Suatu hari ada seorang teman berbagi cerita denganku, dia menceritakan sebuah pengalaman percintaannya di masa lalunya, hingga akhirnya membuat penyesalan yang sangat dalam pada dirinya. Sebut saja Bunga. Bunga adalah seorang mahasiswa di sebuah perguruan tinggi negeri  di Solo. Saat duduk di bangku kuliah, dia mempunyai seorang asisten dosen yang sangat baik dan perhatian dengannya. Singkat cerita, karena kedekatan dan perhatian yang diberikan oleh sang asisten dosen, akhirnya muncul benih-benih cinta hingga akhirnya keduanya pun bersepakat untuk menjalin sebuah hubungan spesial. Hubungan keduanya sangat harmonis penuh dengan warna, hingga suatu saat ketika Bunga sudah menyelesaikan studinya S1-nya, ia diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halamannya mengikuti ujian negara, untuk mendapatkan pekerjaan. Akhirnya Bunga pun memutuskan untuk pulang sesuai dengan permintaan keluarganya. Setelah pulang dan mencari pekerjaan. Nasib baik bersambut, dan ia pun diterima untuk bekerja sebagai salah satu karyawan di sebuah Kantor BUMN di Kota Kelahirannya.

Namun selang waktu berjalan, ternyata kesuksesannya dalam karier pekerjaannya tidak diiringi dalam kisah percintaannnya dengan Mantan Asisten Dosennya. Jarak dan waktu yang terpisah jauh, menjadi penyebab kerenggangan hubungan mereka berdua. Karena sering terjadi percekcokan dan merasa sudah tidak menemukan kecocokan lagi, akhirnya mereka pun memutuskan untuk mengakhiri hubungan yang telah mereka bina selama hampir 4 tahun.  Setelah perpisahan itu, akhirnya Sang Mantan Asisten Dosen pun memutuskan untuk menikah dengan wanita lain pilihan hatinya. 

Namun tidak begitu dengan Bunga, Penyesalan yang sangat dalam muncul sesaat setelah perpisahan itu. Bunga merasa sangat kehilangan sosok yang mampu membuatnya merasa sangat nyaman. Pengalaman kisah cintanya itu membuat Bunga terpuruk oleh masa lalu, hingga sejak saat itu ia memutuskan untuk fokus terhadap pekerjaannya, dan lebih memilih untuk menutup diri untuk membuat sebuah cerita baru dengan orang lain. Bunga merasa bahwa tidak ada sosok pria lain yang mampu membuatnya nyaman seperti mantan kekasihnya itu.   Tetapi waktu terus berjalan, umur dan tekanan dari keluarga untuk segera menikah, membuat sebuah tekanan yang sangat luar biasa terhadapnya. Namun  hingga saat ini, ternyata Bunga belum mampu untuk melepas masa lalunya, hingga ia selalu menutup diri terhadap pria yang ingin mencoba untuk mendekatinya. Bunga pun sebenarnya sangat menyadari bahwa dengan keadaan seperti ini, sebenarnya sangat menyiksanya.

Inilah yang terjadi ketika rasa dibutakan oleh cinta hingga membunuh logika. Akibatnya adalah penyiksaan terhadap diri sendiri, seseorang tidak lagi dapat berfikir secara jernih karena terkungkung oleh pengalaman masa lalu.  Rasa penyesalan terhadap masa lalu yang terbangun sangat kuat, hingga akhirnya ia mematikan kebahagiaannya sendiri dengan bersikap acuh tak acuh dan menutup diri. Logika yang ia miliki telah dimatikan oleh perasaannya sendiri. Akhirnya rasa itu perlahan-lahan akan menyiksa badannya, karena logika sudah tidak mampu lagi membendung rasa yang ada. Ketika ini dibiarkan secara terus menerus bukan suatu keniscayaan keadaan ini akan menghancurkan dirinya sendiri.

Dalam kehidupan dalam hal apapun diperlukan sebuah keseimbangan di dalamnya semuanya harus dapat berjalan beriring satu sama lain, tidak boleh ada salah satu yang dibiarkan terlalu kuat hingga mengintervensi yang lain, karena itu akan membawa sebuah kehancuran yang akan merugikan diri kita sendiri.  Begitu juga dalam menggunakan perasaan dan logika kita. Jika salah satu lebih kuat, maka satunya akan menjadi tumpul dan mati. Seperti contoh kisah di atas, Bunga membiarkan rasa yang dia miliki terlalu kuat mengintervensi logikanya, hingga ia selalu terjebak dengan pengalaman masa lalunya yang menyakiti dirinya sendiri. Ketika  itu terjadi, akhirnya seluruh logika berpikir Bunga pun mati. Bunga masih tetap mengharapkan sosok mantan kekasihnya, yang kini sudah membangun kisah dengan keluarga yang sudah dibangunnya. Keadaan ini membuat Bunga benar-benar merasa terpuruk dan tersiksa. Pada satu isi ia masih mengharap mantan kekasihnya kembali, tetapi di sisi lain Ia sadar dan tahu benar bahwa mantan kekasinya itu tidak mungkin kembali lagi. Dengan realitas yang ada, seharusnya Bunga menyadari bahwa sebuah kehidupan tidak berhenti selama nafas belum berhenti. Banyak orang selain mantan kekasihnya itu, yang bisa membuat dirinya nyaman dengan cara yang lain. Tapi pilihan itu tidak diambilnya, ia memilih untuk mengedepankan rasa yang ia miliki, dengan mengabaikan logikanya, hingga ia hanya bisa menyesal dan menyesal, tanpa bisa berfikir bahwa masa lalu hanyalah sebuah sejarah dan masa depan masih suci. Masa depan masih bisa dibangun dengan baik, hingga kelak ia akan menemukan tambatan hatinya.

Sebuah pesan di sini adalah jangan biarkan rasa yang kita miliki membunuh logika kita, atau sebaliknya jangan biarkan logika kita membunuh rasa yang kita miliki, keduanya harus berjalan beriring dalam menghadapi permasalahan yang ada, hingga ketika rasa sudah tidak mampu menyelesaikan masalah, logika mampu menopangnya, atau sebaliknya jika logika sudah tidak mampu menyelesaikan permasalahannya maka rasa dapat menopangnya. Ketika ini terjadi maka kita pun dapat menjalani kehidupan ini dengan selaras dan seimbang. 

1 komentar:

Entri Populer