Setiap orang terlahir di dunia ini dengan sebuah
karunia yang sangat luar biasa dari Sang pencipta, dan anugerah itu adalah perasaan dan logika/
akal. Menurutku kedua Anugerah itu akan
menjadi sebuah kekuatan yang sangat dahsyat apabila dapat dijalankan secara
berimbang dan membuat keduanya tidak saling mematikan satu sama lain.
Kehidupan percintaan memang sebuah hal yang sangat
rumit, banyak orang yang bahagia karena “cinta”, tetapi tidak sedikit pula yang
hancur karena cinta. Ada sebuah permasalahan dalam percintaan yang akhirnya
membuat dua Anugerah itu tidak dapat berjalan berdampingan, bahkan cenderung
saling membunuh.
Suatu hari ada seorang teman berbagi cerita denganku,
dia menceritakan sebuah pengalaman percintaannya di masa lalunya, hingga
akhirnya membuat penyesalan yang sangat dalam pada dirinya. Sebut saja Bunga.
Bunga adalah seorang mahasiswa di sebuah perguruan tinggi negeri di Solo. Saat duduk di bangku kuliah, dia
mempunyai seorang asisten dosen yang sangat baik dan perhatian dengannya.
Singkat cerita, karena kedekatan dan perhatian yang diberikan oleh sang asisten
dosen, akhirnya muncul benih-benih cinta hingga akhirnya keduanya pun
bersepakat untuk menjalin sebuah hubungan spesial. Hubungan keduanya sangat
harmonis penuh dengan warna, hingga suatu saat ketika Bunga sudah menyelesaikan
studinya S1-nya, ia diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halamannya
mengikuti ujian negara, untuk mendapatkan pekerjaan. Akhirnya Bunga pun
memutuskan untuk pulang sesuai dengan permintaan keluarganya. Setelah pulang
dan mencari pekerjaan. Nasib baik bersambut, dan ia pun diterima untuk bekerja
sebagai salah satu karyawan di sebuah Kantor BUMN di Kota Kelahirannya.
Namun selang waktu berjalan, ternyata kesuksesannya
dalam karier pekerjaannya tidak diiringi dalam kisah percintaannnya dengan
Mantan Asisten Dosennya. Jarak dan waktu yang terpisah jauh, menjadi penyebab
kerenggangan hubungan mereka berdua. Karena sering terjadi percekcokan dan
merasa sudah tidak menemukan kecocokan lagi, akhirnya mereka pun memutuskan
untuk mengakhiri hubungan yang telah mereka bina selama hampir 4 tahun. Setelah perpisahan itu, akhirnya Sang Mantan
Asisten Dosen pun memutuskan untuk menikah dengan wanita lain pilihan
hatinya.
Namun tidak begitu dengan Bunga, Penyesalan yang
sangat dalam muncul sesaat setelah perpisahan itu. Bunga merasa sangat
kehilangan sosok yang mampu membuatnya merasa sangat nyaman. Pengalaman kisah
cintanya itu membuat Bunga terpuruk oleh masa lalu, hingga sejak saat itu ia memutuskan
untuk fokus terhadap pekerjaannya, dan lebih memilih untuk menutup diri untuk
membuat sebuah cerita baru dengan orang lain. Bunga merasa bahwa tidak ada
sosok pria lain yang mampu membuatnya nyaman seperti mantan kekasihnya itu. Tetapi waktu terus berjalan, umur dan
tekanan dari keluarga untuk segera menikah, membuat sebuah tekanan yang sangat
luar biasa terhadapnya. Namun hingga saat ini, ternyata Bunga belum mampu untuk
melepas masa lalunya, hingga ia selalu menutup diri terhadap pria yang ingin
mencoba untuk mendekatinya. Bunga pun sebenarnya sangat menyadari bahwa dengan keadaan seperti ini, sebenarnya sangat
menyiksanya.
Inilah yang terjadi ketika rasa dibutakan oleh cinta
hingga membunuh logika. Akibatnya adalah penyiksaan terhadap diri sendiri,
seseorang tidak lagi dapat berfikir secara jernih karena terkungkung oleh
pengalaman masa lalu. Rasa penyesalan
terhadap masa lalu yang terbangun sangat kuat, hingga akhirnya ia mematikan
kebahagiaannya sendiri dengan bersikap acuh tak acuh dan menutup diri. Logika yang
ia miliki telah dimatikan oleh perasaannya sendiri. Akhirnya rasa itu
perlahan-lahan akan menyiksa badannya, karena logika sudah tidak mampu lagi
membendung rasa yang ada. Ketika ini dibiarkan secara terus menerus bukan suatu
keniscayaan keadaan ini akan menghancurkan dirinya sendiri.
Dalam kehidupan dalam hal apapun diperlukan sebuah
keseimbangan di dalamnya semuanya harus dapat berjalan beriring satu sama lain,
tidak boleh ada salah satu yang dibiarkan terlalu kuat hingga mengintervensi
yang lain, karena itu akan membawa sebuah kehancuran yang akan merugikan diri
kita sendiri. Begitu juga dalam menggunakan perasaan dan logika kita.
Jika salah satu lebih kuat, maka satunya akan menjadi tumpul dan mati.
Seperti contoh kisah di atas, Bunga membiarkan rasa yang dia miliki terlalu
kuat mengintervensi logikanya, hingga ia selalu terjebak dengan pengalaman
masa lalunya yang menyakiti dirinya sendiri. Ketika itu terjadi,
akhirnya seluruh logika berpikir Bunga pun mati. Bunga masih tetap mengharapkan
sosok mantan kekasihnya, yang kini sudah membangun kisah dengan keluarga yang
sudah dibangunnya. Keadaan ini membuat Bunga benar-benar merasa terpuruk dan
tersiksa. Pada satu isi ia masih mengharap mantan kekasihnya kembali, tetapi di
sisi lain Ia sadar dan tahu benar bahwa mantan kekasinya itu tidak mungkin kembali lagi. Dengan
realitas yang ada, seharusnya Bunga menyadari bahwa sebuah kehidupan tidak
berhenti selama nafas belum berhenti. Banyak orang selain mantan kekasihnya itu, yang bisa membuat
dirinya nyaman dengan cara yang lain. Tapi pilihan itu tidak diambilnya, ia
memilih untuk mengedepankan rasa yang ia miliki, dengan mengabaikan logikanya,
hingga ia hanya bisa menyesal dan menyesal, tanpa bisa berfikir bahwa masa lalu
hanyalah sebuah sejarah dan masa depan masih suci. Masa depan masih bisa dibangun dengan baik, hingga kelak ia akan menemukan tambatan
hatinya.
Sebuah pesan di sini adalah jangan biarkan rasa
yang kita miliki membunuh logika kita, atau sebaliknya jangan biarkan logika
kita membunuh rasa yang kita miliki, keduanya harus berjalan beriring dalam menghadapi
permasalahan yang ada, hingga ketika rasa sudah tidak mampu menyelesaikan
masalah, logika mampu menopangnya, atau sebaliknya jika logika sudah tidak mampu
menyelesaikan permasalahannya maka rasa dapat menopangnya. Ketika ini terjadi
maka kita pun dapat menjalani kehidupan ini dengan selaras dan seimbang.

Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus