Selasa, 17 April 2012

Ketamakan = Bunuh Diri


Sejak tinggal di Flores Timur, aku menjadi orang yang selalu dekat dengan laut. Hal ini memang karena keadaan geografis wilayah Flores Timur  dikelilingi oleh laut. Kondisi alam seperti itu membuat mayoritas masyarakat Flores Timur, mengandalkan laut sebagai sumber utama dalam memenuhi kebutuhan hidup. Kekayaan laut di wilayah Flores Timur juga dapat dikatakan sangat besar, beragam jenis ikan ataupun terumbu karang, sangat luar biasa besar dan beragam hingga mampu mencukupi kebutuhan pangan ataupun ekonomi  masyarakat Flores Timur.


Sebagai salah satu orang yang suka menikmati keindahan alam, aku mempunyai keinginan untuk melihat keindahan alam secara langsung, dan salah satu keindahan alam yang ingin kunikmati adalah alam dasar laut. Pada suatu hari aku dengan teman-teman, melakukan wisata dasar laut di salah satu daerah di Flores Timur tepatnya di sekitaran Pulau Waibalun. Pada saat aku menyelam, betapa takjubnya melihat keindahan alam laut yang sangat luar biasa indahnya, mungkin memang karena aku baru pertama kali menikmati keindahan alam dasar laut. Begitu banyak aneka jenis ikan dan terumbu karang yang bisa kunikmati walau sekedar untuk memuaskan mata ini. Aku melihat dengan hidupnya terumbu karang ini, banyak ikan-ikan yang berkumpul disekitaran terumbu karang entah untuk bertahan hidup, mencari makan atau memang terumbu karang adalah tempat yang nyaman untuk ikan tinggal dan berkumpul. 

Selesai menikmati keindahan alam dasar laut di Waibalun, akhirnya aku tertarik untuk menjadikan aktivitas menyelam sebagai salah satu hobi, sehingga aku selalu mencoba tempat-tempat lain untuk bisa aku jadikan tempat memuaskan mata dan bathun dengan keindahan-keindahan alam dasar laut di tempat yang lain. Setelah aku melakukan penyelaman dibeberapa tempat, kemudian aku membuat satu perbandingan antara satu tempat dengan tempat yang lain sehingga aku bisa membuat satu kesimpulan bahwa ikan-ikan lebih senang tinggal di antara  terumbu karang. Kesimpulan ini karena, aku melihat di tempat-tempat yang terdapat banyak terumbu karang hidup, pasti banyak terdapat ikan-ikan di sekitarnya, sedangkan di tempat yang terdapat sedikit atau tidak ada sama sekali terumbu karang, sangat jarang aku menemui ikan-ikan.  Pengalaman ini akhirnya yang membuatku berfikir bahwa sama dengan mahkluk-mahkluk lain di alam ini, mereka akan berkumpul jika mereka nyaman dengan tempat tinggal mereka.

Aku mempunyai satu kebiasaan menceritakan pengalaman menarikku kepada setiap orang, pada saat mengobrol atau berkumpul dengan orang-orang.  Pengalamanku pada saat menyelam adalah salah satu pengalaman yang kuceritakan. Pada saat bercerita kepada penduduk lokal, aku mendapat berbagai tanggapan, ada yang memberi saran tempat-tempat yang bagus, ada yang ingin mengajak ke suatu tempat, tetapi yang paling banyak aku terima adalah cerita mereka tentang keadaan alam dasar laut saat ini, yang  sangat jauh berbeda dengan keadaan dulu, dan perbedaan itu cenderung bersifat negatif. Kebanyakan dari mereka berkata bahwa dasar laut saat dulu, jauh sangat indah dari saat ini. Mendengar cerita itu kemudian aku tertarik untuk sekedar mengorek informasi tentang penyebab penurunan kualitas kondisi alam dasar laut di Larantuka. Dengan polos merekapun menceritakan bahwa kebiasaan beberapa nelayan yang mempunyai kebiasaan mencari ikan dengan menggunakan BOM adalah penyebab utamanya.


Jengkel, sedih dan marah bercampur menjadi satu, ketika aku mendengar cerita itu. Dalam hati ini bergejolak dan menggumam dasar orang bodoh, tamak, rakus, hanya berfikir untuk kesenangan sesaat, tetapi akhirnya mematikan atau membuntu rezeki tempat mereka mencari makan. Akibat penggunaan BOM IKAN untuk mendapatkan hasil yang banyak dengan cara yang mudah atau instant akan menyebabkan rusaknya habitat tempat ikan tinggal. Hal ini dikarenakan BOM tidak hanya membunuh ikan saja, tetapi juga menghancurkan bibit ikan, sekaligus dengan habitat tempat  ikan tinggal. Ketika itu terjadi secara terus menerus, maka yang akan terjadi adalah ikan menjadi tidak nyaman untuk tinggal di daerah itu lagi. Sama dengan manhluk lain, secara naluri mereka akan mencari tempat yang lebih aman dan nyaman untuk mereka tinggal, begitu juga ikan-ikan di laut. Akhirnya yang terjadi adalah populasi ikan-ikan di daerah itu akan berkurang atau bahkan akan habis, dan jika itu terjadi, maka bukan suatu keniscayaan bahwa kelak tidak akan ada lagi ikan yang datang berkumpul dan tinggal di situ. Ketika ini terjadi maka yang akan dirugikan adalah para nelayan sendiri, dan semua ini terbukti dengan nyata. Dahulu mereka tidak perlu pergi jauh-jauh menghabiskan sekian liter bahan bakar, menghabiskan tenaga dan waktu untuk mendapatkan ikan, tetapi sekarang nelayan harus keluar agak jauh untuk mendapatkan ikan. Bahkan tidak jarang mereka pulang dengan hampa karena tidak mendapatkan ikan, ataupun karena tidak mendapatkan umpan, dan itu terjadi karena ulah mereka sendiri yang karena ketamakan mereka akhirnya menutup jalan rezeki mereka sendiri.

Pengalaman dan perbandingan keadaan masa lalu dengan saat ini seharusnya menjadi pelajaran yang sangat berharga untuk mereka. Saat ini banyak dari mereka yang mengeluh karena berkurangnya hasil laut karena jumlah populasi ikan di sekitar daerah menurun. Tetapi ibarat sebuah teori tanpa ada pelaksanaan, banyaj dari mereka yang masih tetap memilih menggunakan BOM untuk mencari ikan dengan mudah. Jika kita memilih jalan seperti ini, maka jangan pernah menyesal jika kelak kita tidak bisa lagi mengandalkan alam laut untuk mengais rezeki dan memenuhi kehidupan, karena kita sendiri yang telah menutup rezeki kita.  

   
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Entri Populer