Selasa, 24 April 2012

Dua Sisi Loyalitas

Loyalitas sepengertianku adalah sebuah kesetiaan terhadap sesuatu, dan aku adalah salah satu orang yang mempunyai sifat loyal terutama dalam hal pertemanan. Loyalitas yang aku miliki ini bisa menjadi sebuah kekuatan bagiku, tetapi di sisi lain, loyalitas yang aku miliki ternyata dapat juga menjadi sebuah kelemahan yang hebat terhadapku.

Suatu hari ada tetanggaku meminjam uang untuk merayakan pesta anakknya, dan untuk keperluan itu aku tahu dia sangat membutuhkan uang itu. Walaupun  pada saat itu aku sebenarnya  membutuhkan uang, tetapi aku lebih memilih untuk meminjamkannya terlebih dahulu kepadanya karena aku berfikir kebutuhanku juga belum terlalu mendesak. Aku tidak bisa untuk mengatakan tidak punya jika sebenarnya aku masih mempunyai. Hari berganti akhirnya aku benar-benar membutuhkan uang itu, tetapi aku tidak berfikir untuk aku meminta kembali uangku tetapi aku lebih memilih untuk mencari jalan lain dengan meminjam ke orang lain, karena aku berfikir dia lebih membutuhkan uang itu.

Saat aku masih duduk dibangku sekolah dasar, aku pernah mengantarkan temanku yang  mempunyai masalah dengan orang dari tetangga sebelah. Aku datang untuk menyelesaikan masalah itu  dengan cara berkelahi satu lawan satu. Sebenarnya waktu itu sebenarnya aku hanya pergi untuk mengantar, menyaksikan sekaligus menjadi juri saja, karena aku memang  tidak mempunyai masalah dengan orang itu. Tetapi pada saat berkelahi, temanku dengan lawannya meminta aku untuk berkelahi dengan teman lawannya. Sebenarnya aku merasa aneh, karena aku sama sekali tidak mempunyai masalah dengan mereka. Akhirnya muncul sebuah ide, aku mendekati temannya dan mengatakan, biarlah kita berkelahi tapi tidak usah serius hanya berakting saja, dan dia langsung setuju.  Syukurlah dalam hati ini sehingga aku tidak perlu menambah musuh, sekaligus tetap bisa memuaskan temanku. Akhirnya perkelahian temanku dengan lawanya, dan sandiwara perkelaihan antara aku dengan teman dari lawan temanku pun juga dimulai. Tiba-tiba di tengah perkelaihan itu, lawan dari temanku meminta berhenti, karena tahu kalau kami tidak serius waktu berkelahi. Akhirnya dia meminta untuk berganti lawan. Sebenarnya aku tidak mau, tetapi demi teman akhirnya aku mau melakukannya dan akhirnya pertarungan dilanjutkan hingga salah satu dari kami menyerah. Dan aku melakukan itu demi teman.

Saat pertama kali aku mendapatkan pekerjaan di sebuah instansi pemerintah, kebetulan waktu itu aku langsung dihadapkan dengan sebuah permasalahan yang sesungguhnya dalam kerjaku, permasalahan yang berhubungan dengan pihak luar sekaligus dengan instasi lebih atas. Setelah aku mendapat penjelasan dari teman kantorku dan aku memahami permasalahan itu, akhirnya aku memutuskan untuk membela teman sekaligus instansiku. Pada waktu itu sebenarnya posisiku tidak mendukung untuk bersinggungan dengan permasalahan itu, bahkan lebih jauh, itu bisa membahayakan diriku sendiri. Tetapi jiwa loyalitasku tidak bisa terbendung dan aku memutuskan untuk membantu teman dan instansiku secara totalitas, dengan cara apapun dan dengan segala resiko terburuk yang mungkin akan aku terima. 

Sifat loyalitas yang ada dalam diriku ini bisa menjadi sebuah kekuatan bagiku dalam hal penguatan pertemanan, ini terbukti hingga saat ini aku belum pernah merasa susah jika pergi entah kemana, karena aku merasa mempunyai teman atau saudara dimanapun aku akan pergi. Namun Sifat loyalitas ini juga bisa menjadi sebuah kelemahan utama untukku, karena tidak jarang aku mengabaikan kepentingan pribadiku demi teman-temanku. Aku selalu berfikiran teman  adalah segalanya hingga  seringkali aku harus mengabaikan kepentingan diriku sendiri. 

Hingga saat ini aku merasa masih belum bisa untuk mapan sebagai pribadi, karena aku terlalu sering mengabaikan kepentinganku sendiri demi orang lain, hingga membuat aku lupa bahwa aku juga punya wilayah kehidupan pribadi, yang harus aku bangun untuk persiapanku kedepan. aku tidak boleh egois untuk memenuhi kepuasanku dengan loyalitas ini, tetapi aku juga harus memikirkan sisi-sisi pribadi untuk diriku sendiri ke depan.

Hal-hal yang aku sampaikan di atas menyadarkanku bahwa  aku harus berfikir ulang lagi dalam memaknai sebuah loyalitas. menurutku loyalitas adalah satu hal yang baik, tetapi loyalitas tidak boleh mengesampingkan  sisi pribadi dalam hidupku. Loyalitas tidak boleh dilakukan secara membabi buta karena itu dapat merugikan diri sendiri, apalagi aku hidup dalam diantara manusia yang cerdik yang mungkin hanya memanfaatkan loyalitasku hanya untuk memenuhi kepentingannya saja.

Loyalitas Itu Baik, Tetapi Loyalitas Tanpa Batas Membuat Kita Mengabaikan Diri Sendiri.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Entri Populer