Pelabuhan Sapeh...
Bangun pagi setelah semalam kami
tidur di atas kapal, akhirnya kami sampai juga di pelabuhan Sapeh, Bima Nusa
Tenggara Barat. Dari jauh kami melihat begitu banyak aparat bersenjata lengkap
melakukan penjagaan di Pelabuhan Sapeh, bukan untuk melakukan pengawalan
pribadi kepada kami, tapi memang untuk menjaga pelabuhan Sapeh, yang pada waktu
itu terjadi aksi massa untuk menolak kebijakan tidak populis yang diambil oleh
kepala daerah setempat.
Menikmati pemandangan sebelum
turun ke Pelabuhan Sapeh, aku merasakan keindahan yang luar biasa dan saya
yakin orang lain juga akan setuju dengan pendapatku ini. Begitu banyak
kapal-kapal nelayan dipinggiran laut, ditambah pencahayaan dari alam yang menampakkan
warna jingga semburat melengkapi keindahan sudut pandang ini. Sambil menikmati
pemandangan itu tidak terasa akhirnya kapal yang kami tumpangi pun merapat di
pelabuhan. Pada waktu turun kami sempat mengambil beberapa gambar aparat
kepolisian yang sedang berjaga-jaga di Pelabuhan Sapeh. Mungkin dalam benak
mereka, kami adalah utusan dari tim investigasi atau apapun yang akan melakukan
penyelidikan atau meninjau lokasi, setelah terjadi kasus pembubaran aksi massa
secara paksa oleh aparat yang terjadi di Sapeh waktu itu. Padahal sebenarnya
kami adalah Trio Zebra yang sedang menikmati liburan mudik melintasi separo
selatan tenggara Indonesia, yang pura-pura menyamar sebagai tim investigasi.

Keluar dari Pelabuhan Sapeh kamipun langsung masuk ke sebuah rumah makan di Padang yang tempatnya didekat gapura keluar masuk pelabuhan sapeh, dan kamipun langsung bersarapan pagi menikmati kopi, sambil bertanya-tanya tentang kejadian pada waktu terjadi pembubaran aksi massa.
Selesai makan kami pun langsung keluar, dan kami melihat banyak Benhur (alat transportasi sejenis kereta yang ditarik kuda), kami pun tertarik untuk naik Benhur berjalan-jalan keliling menikmati Kota Sapeh. Aku pun bertanya biaya untuk menyewa Benhur tersebut, setelah tawar-menawar akhirnya disepakati Rp. 30.000 untuk berkeliling kota Sapeh.
Setelah membeli ayam panggang, kamipun melanjutkan perjalanan, selama perjalanan kami melihat pemandangan yang sangat indah hamparan bukit yang berpadu dengan sawah dan sungai menghiasi perjalanan kami. Di tengah perjalanan menuju Bima kami berhenti sejenak untuk menikmati pemandangan sekaligus menyantap ayam panggang yang sudah kami beli tadi.

Sungguh luar biasa rasanya, kami duduk di atas gubuk
yang kosong di dekat sungai, dan menikmati gurihnya ayam panggang yang rasanya
sangat nendang di tenggorokan hingga rasanya aku ingin balas menendang ayam itu.
Selesai menikmati ayam panggang kami pun
melanjutkan perjalanan menuju Bima.Pukul 17.00 kami bergerak menuju Sumbawa melalui Dompu. Dari seluruh rute yang kami lewati, jalan Bima-Dompu-Sumbawa adalah jalan dengan medan paling berat dan sangat melelahkan. Jauhnya jarak yang dilengkapi dengan keadaan jalan yang amat sangat rusak berat, membuatku sangat tersiksa. apalagi saat itu aku sebagai jokinya. Banyak tikungan yang kami temui. Jalan berlumpur memaksaku untuk belajar menyetir mobil, layaknya para offroader beraksi. Bahkan di salah satu tikungan, kami berpapasan dengan sebuah bus naas, yang baru berhenti di tengah jalan karena as rodanya patah. Dibelakang bus itu, terdapat truk yang berhadap-hadapan dan ikut terjebak, hingga jalan yang tersisa hanya cukup untuk 1 mobil saja. Dengan keadaan sangat mepet, rawan longsor, ditambah dengan adanya galian sedalam sekitar 1 meter di samping jurang yang dasarnya pun kami tidak bisa melihat, akhirnya dengan bermodal kenekatan dan dibantu oleh Mas Chandra yang memberi aba-aba dari samping depan, serta kang Agung dari belakang, aku pun dengan hati-hati membawa mobil maju melewati bus itu. Sebelum maju tak lupa aku melipat kaca spion kanan agar aku mendapat ruang yang sedikit lebih longgar. Waktu berada tepat disamping truck, aku merasa ada sebuah batu yang jatuh kebawah karena bergesekan dengan ban mobil, dag di dug rasanya karena takut mobil serasa akan terbalik ke sebelah kiri. Tetapi untungnya dengan keadaan itu, aku masih bisa tenang dan tidak panik, dengan segera aku membelokkan stir ke kanan dan sedikit membalasnya ke kiri, agar mobil bisa lebih rapat ke kanan. Aku pun tidak peduli walau ternyata mobil sudah sedikit menyerempet dengan truk yang ada disamping kanan. Dengan pelan tapi pasti kupacu mobil pelan-pelan, alhasil dengan ketenangan, kesabaran, kerjasama serta pikiran yang jernih, kamipun berhasil melawati tikungan itu.
Kami pun melanjutkan kembali perjalanan. Namun perjalanan belum mulus, jalan bergelombang sepanjang kurang lebih 40 km memperlambat perjalanan kami. Karena sudah merasa kelelahan, dan memang jam menunjukkan jadwal orang untuk menikmati makan malam, kamipun berhenti di sebuah warung di daerah Empang. Saat itu Mas Chandra kelihatan sakit, sehingga dia memilih untuk tidur di dalam mobil. Aku dengan kang Agung pun berdua turun untuk makan Rp. 32.000. Selesai makan (Pukul 21.30 Wita) kami pun melanjutkan perjalanan menuju Sumbawa. Jalan yang kami lalui sudah lumayan bagus, tidak naik turun, tetapi banyaknya tikungan dan keadaan jalan yang sangat sepi, membuat aku memutuskan untuk memacu mobi lebih kencang. Ditengah perjalanan kami sempat mengisi bensin Rp. 72.000.
Kira-kira pukul 02.00, kami pun sampai di depan RSUD Provinsi di Sumbawa. Waktu sampai di RSUD Sumbawa, kami mengalami sedikit insiden. Waktu itu aku menyalakan AC dan menutup rapat semua jendela mobil, tiba-tiba kang Agung yang sedang tidur, tiba-tiba tersadar dan dengan sigap menurukan kaca mobil dan langsung memuntahkan makanan yang ada di dalam perutnya. Melihat kejadian itu aku segera memperlambat laju mobil, tetapi anehnya Kang Agung malah menyuruhku untuk tetap memacu mobil, baru selang beberapa detik, sesuatu yang membuat kang Agung muntah akhirnya tercium juga oleh hidungku. Aroma nerakawi yang sangat busuk, yang keluar dari sebuah perut orang yang sedang sakit di belakang, ternyata menjadi penyebab utamanya. Begitu tahu penyebab utamanya, aku segera menghentikan mobil dan membuka pintu untuk segera keluar menghilangkan bau, sekaligus beristirahat untuk melakukan pergantian Nahkoda.
Sampai di pintu masuk kota Sumbawa, kami memutuskan untuk tidak berkeliling di kota Sumbawa karena waktu yang tidak tepat. Kamipun langsung menuju pelabuhan feri di Tano. Dalam perjalanan menuju Pelabuhan Tano, kami sempat membeli telur dan minuman Rp. 25.000, untuk menambah tenaga agar tidak mengantuk. Aku pikir perjalanan ke Tano cukup dekat, tetapi setelah berjalan, ternyata dari pintu masuk Kota Sumbawa menuju Pelabuhan Tano cukup jauh, kira-kira membutuhkan waktu sekitar 3 jam perjalanan. Sesampai di Pelabuhan Tano kami langsung membawa mobil kami naik ke kapal. Biaya Penyeberangan dari Tano- Lembar Lombok Rp. 380.000. Waktu di atas kapal pun kami gunakan untuk sejenak beristirahat.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar