Minggu, 29 April 2012

Tour Flores - Jawa Part III Sapeh-Tano

Tanggal 26 Desember 2012

Pelabuhan Sapeh...


Bangun pagi setelah semalam kami tidur di atas kapal, akhirnya kami sampai juga di pelabuhan Sapeh, Bima Nusa Tenggara Barat. Dari jauh kami melihat begitu banyak aparat bersenjata lengkap melakukan penjagaan di Pelabuhan Sapeh, bukan untuk melakukan pengawalan pribadi kepada kami, tapi memang untuk menjaga pelabuhan Sapeh, yang pada waktu itu terjadi aksi massa untuk menolak kebijakan tidak populis yang diambil oleh kepala daerah setempat.











Menikmati pemandangan sebelum turun ke Pelabuhan Sapeh, aku merasakan keindahan yang luar biasa dan saya yakin orang lain juga akan setuju dengan pendapatku ini. Begitu banyak kapal-kapal nelayan dipinggiran laut, ditambah pencahayaan dari alam yang menampakkan warna jingga semburat melengkapi keindahan sudut pandang ini. Sambil menikmati pemandangan itu tidak terasa akhirnya kapal yang kami tumpangi pun merapat di pelabuhan. Pada waktu turun kami sempat mengambil beberapa gambar aparat kepolisian yang sedang berjaga-jaga di Pelabuhan Sapeh. Mungkin dalam benak mereka, kami adalah utusan dari tim investigasi atau apapun yang akan melakukan penyelidikan atau meninjau lokasi, setelah terjadi kasus pembubaran aksi massa secara paksa oleh aparat yang terjadi di Sapeh waktu itu. Padahal sebenarnya kami adalah Trio Zebra yang sedang menikmati liburan mudik melintasi separo selatan tenggara Indonesia, yang pura-pura menyamar sebagai tim investigasi.







Keluar dari Pelabuhan Sapeh kamipun langsung masuk ke sebuah rumah makan di Padang yang tempatnya didekat gapura keluar masuk pelabuhan sapeh, dan kamipun langsung bersarapan pagi menikmati kopi, sambil bertanya-tanya tentang kejadian pada waktu terjadi pembubaran aksi massa. 

Pemilik Warungpun bercerita sampai hampir menangis. Kata Ibu itu, kejadiannya berlangsung mulai pukul 4 pagi, waktu itu massa yang jumlahnya ribuan menunggu datangnya aparat yang rencananya akan datang pada dini  hari atau tengah malam, tetapi hingga sekitar pukul 3 dini hari ternyata aparat tak kunjung datang juga, akhirnya ribuan warga pun pulang kerumahnya masing-masing untuk beribadah dan hanya disisakan sekitar 300-an orang warga yang tetap berjaga di Pelabuhan. Tidak lama setelah warga meninggalkan lokasi pelabuhan, aparat pun bergerak menuju pelabuhan, menurut sang pemilik warung, aparat bergerak sangat rapi tidak menimbulkan kegaduhan sama sekali, hingga para warga yang masih tinggal di pelabuhan pun tidak tahu kedatangan aparat gabungan ini. Begitu sampai di Pelabuhan aparat pun langsung membubarkan massa dengan tembakan dan pentungan, banyak dari warga yang tertangkap waktu itu diseret kemudian didudukkan di pinggir-pinggir kios jalan masuk pelabuhan kemudian ditendang dan dipukuli dengan sepatu maupun popor senjata, bahkan ibu yang menyaksikan kejadianpun itupun tak kuasa menahan tangis. Setelah selesai makan dan mendengarkan cerita itu kami pun membayar Rp. 35.000.

Selesai makan kami pun langsung keluar, dan kami melihat banyak Benhur (alat transportasi sejenis kereta yang ditarik kuda),  kami pun tertarik untuk  naik Benhur  berjalan-jalan  keliling menikmati Kota Sapeh. Aku pun bertanya biaya untuk menyewa Benhur tersebut, setelah tawar-menawar akhirnya disepakati Rp. 30.000 untuk berkeliling kota Sapeh.
 Nah pas kami naik Benhur ini (mungkin karena kudanya habis makan sehingga tenaganya pun masih utuh), si kuda pun seperti mengamuk atau dalam bahasa Yunani “Njondhel-Njondhel” hampir menubruk bagian belakang mobil kami. Aku yang sudah naik pun terpaksa harus meloncat turun kembali karena takut. Untung sang kusir sudah lihai dalam menjinakkan Benhur, sehingga tidak sampai menabrak mobil kami. Setelah Sang Kuda agak tenang, kemudian kami naik kembali ke Benhur. Waktu itu Mas Chan terpilih untu lebih dahulu naik (muatan paling berat), setelah itu aku dan Sang Kuda langsung berlari dengan gagah. Setelah kuda mulai berlari ternyata ada satu kru kami yang tertinggal, yaitu Kang Agung. Dia pun berteriak-teriak histeris hampir menangis karena ditinggal Benhur, tapi kuda ini adalah tipikal kuda yang agak cuek, jadi biar Kang Agung berteriak-teriak minta di tunggu, si kuda tetep saja jalan tidak mau tahu, dan terus melaju. Melihat situasi ini Kang Agung pun akhirnya mengalah untuk berlari dan loncat untuk menaiki Benhur itu.






 Setelah Kang Agung berhasil menaiki benhur itu, kemudian kami menuju ke Pasar Sapeh. Terlihat aktivitas di pasar itu sangat ramai, karena kami datang pada saat jam biasanya orang-orang mulai berbelanja.


 Sesampainya di pasar, kamipun langsung berkeliling pasar untuk mencari makanan-makanan khas yang ada di dalam pasar itu. Sampai di tengah pasar, kami menemukan salah satu makanan khas di Sapeh yaitu Bingka (jajanan khas sapeh yang terbuat dari kelapa yang diparut dicampur beras yang ditumbuk kemudian di kukus hingga mengeras dan berbentuk kotak-kotak). Harga  Bingka ini sangat murah, hingga kami memutuskan untuk membeli 4 kotak bingka dengan harga Rp. 8000. Setelah puas berkeliling di dalam pasar, akhirnya kamipun kembali menuju mobil kami yang di parkir di depan pintu masuk pelabuhan. Dalam perjalanan lagi-lagi kami dibuat ketakutan oleh Benhur, apalagi saat sebuah truk melambung dari sebelah kanan kami, sang kuda menjauh dari truk ke arah kiri, tetapi tetap dengan kecepatan maksimal, tanpa memikirkan keseimbangan hingga kamipun hampir keluar dari bahu jalan. Bukan hanya itu saja, karena terbiasa dengan jalurnya, ketika melihat salah satu pasar di sebelah kiri, dengan sok tahunya sang kuda berinisiatif sendiri untuk belok ke kiri masuk pasar tanpa diperintah pilotnya. Dengan sigap sang pilot pun membelokkan benhur hingga kami kembali menuju jalur yang benar.

Sesampai di tempat mobil kami di parkir, kami pun kembali berfoto-foto di depan gapura pelabuhan sapeh, tak ketinggalan sang pilot benhur juga meminta untuk di foto bersama dengan benhur tercintanya. Akhirnya kami pun melanjutkan perjalanan menuju Bima, sebelum itu kami menyempatkan untuk membeli salah satu makanan khas kota Sapeh yang lain yaitu Ayam Panggang dengan harga Rp. 70.000 untuk satu ekor ayam.

 Setelah membeli ayam panggang, kamipun melanjutkan perjalanan, selama perjalanan kami melihat pemandangan yang sangat indah hamparan bukit yang berpadu dengan sawah dan sungai menghiasi perjalanan kami. Di tengah perjalanan menuju Bima kami berhenti sejenak untuk menikmati pemandangan sekaligus menyantap ayam panggang yang sudah kami beli tadi.



 Sungguh luar biasa rasanya, kami duduk di atas gubuk yang kosong di dekat sungai, dan menikmati gurihnya ayam panggang yang rasanya sangat nendang di tenggorokan hingga rasanya aku ingin balas menendang ayam itu. Selesai menikmati ayam panggang kami pun  melanjutkan perjalanan menuju Bima.








Perjalanan dari Sapeh menuju kota Bima kira-kira kami tempuh selama kurang lebih tiga jam dengan jalan yang cukup berkelok-kelok naik turun. Sesampainya di Bima, Kang Agung segera mengontak temannya pada waktu kuliah, yang bernama Iwan. Tidak berselang lama kami pun dijemput oleh Iwan, dan kamipun langsung menuju ke Rumah Iwan untuk menumpang mandi, makan sekaligus beristirahat. Dirumah Iwan kami disuguhi makanan khas Bima yang terkenal dengan ikan bandengnya. Bandeng itu dibuat dalam beberapa macam masakan, disertai dengan aneka lalapan dan sambal khas Bima dengan cita rasa asam. Selesai beristirahat,  kamipun melanjutkan perjalanan menuju Sumbawa.

Pukul 17.00 kami bergerak menuju Sumbawa melalui Dompu. Dari seluruh rute yang kami lewati, jalan Bima-Dompu-Sumbawa adalah jalan dengan medan paling berat dan sangat melelahkan. Jauhnya jarak yang dilengkapi dengan keadaan jalan yang amat sangat rusak berat, membuatku sangat tersiksa. apalagi saat itu aku sebagai jokinya. Banyak tikungan yang kami temui. Jalan berlumpur memaksaku untuk belajar menyetir mobil, layaknya para offroader beraksi. Bahkan  di salah satu tikungan, kami berpapasan dengan sebuah bus naas, yang baru berhenti di tengah jalan karena as rodanya patah. Dibelakang bus itu, terdapat truk yang berhadap-hadapan dan ikut terjebak, hingga jalan yang tersisa hanya cukup untuk 1 mobil saja. Dengan keadaan sangat mepet, rawan longsor, ditambah dengan adanya galian sedalam sekitar 1 meter di samping jurang yang dasarnya pun kami tidak bisa melihat, akhirnya dengan bermodal kenekatan dan dibantu oleh Mas Chandra yang memberi aba-aba dari samping depan, serta kang Agung dari belakang, aku pun dengan hati-hati membawa mobil maju melewati bus itu. Sebelum maju tak lupa aku melipat kaca spion kanan agar aku mendapat ruang yang sedikit lebih longgar. Waktu berada tepat disamping truck, aku merasa ada sebuah batu yang jatuh kebawah karena bergesekan dengan ban mobil, dag di dug rasanya karena takut mobil serasa akan terbalik ke sebelah kiri. Tetapi untungnya dengan keadaan itu, aku masih bisa tenang dan tidak panik, dengan segera aku membelokkan stir ke kanan dan sedikit membalasnya ke kiri, agar mobil bisa lebih rapat ke kanan. Aku pun tidak peduli walau ternyata mobil sudah sedikit menyerempet dengan truk yang ada disamping kanan. Dengan pelan tapi pasti kupacu mobil pelan-pelan, alhasil dengan ketenangan, kesabaran, kerjasama serta pikiran yang jernih, kamipun berhasil melawati tikungan itu.

Kami pun melanjutkan kembali perjalanan. Namun perjalanan belum mulus, jalan bergelombang sepanjang kurang lebih 40 km memperlambat perjalanan kami.  Karena sudah merasa kelelahan, dan memang jam menunjukkan jadwal orang untuk menikmati makan malam, kamipun berhenti di sebuah warung di daerah Empang. Saat itu Mas Chandra kelihatan sakit, sehingga dia memilih untuk tidur di dalam mobil. Aku dengan kang Agung pun berdua turun untuk makan Rp. 32.000.  Selesai makan (Pukul 21.30 Wita) kami pun melanjutkan perjalanan menuju Sumbawa. Jalan yang kami lalui sudah lumayan bagus, tidak naik turun, tetapi banyaknya tikungan dan keadaan jalan yang sangat sepi, membuat aku memutuskan untuk  memacu mobi lebih kencang. Ditengah perjalanan kami sempat mengisi bensin Rp. 72.000.

Kira-kira pukul 02.00, kami pun sampai di depan RSUD Provinsi di Sumbawa. Waktu sampai di RSUD Sumbawa, kami mengalami sedikit insiden. Waktu itu aku menyalakan AC dan menutup rapat semua jendela mobil, tiba-tiba kang Agung yang sedang tidur, tiba-tiba tersadar dan dengan sigap menurukan kaca mobil dan langsung memuntahkan makanan yang ada di dalam perutnya. Melihat kejadian itu aku segera memperlambat laju mobil, tetapi anehnya Kang Agung malah menyuruhku untuk tetap memacu mobil, baru selang beberapa detik, sesuatu yang membuat kang Agung muntah akhirnya tercium juga oleh hidungku. Aroma nerakawi yang sangat busuk, yang keluar dari sebuah perut orang yang sedang sakit di belakang, ternyata menjadi penyebab utamanya. Begitu tahu penyebab utamanya,  aku segera menghentikan mobil dan membuka pintu untuk segera keluar menghilangkan bau, sekaligus beristirahat untuk melakukan pergantian Nahkoda.

Sampai di pintu masuk kota Sumbawa, kami memutuskan untuk tidak berkeliling di kota Sumbawa karena waktu yang tidak tepat. Kamipun langsung menuju pelabuhan feri di Tano. Dalam perjalanan menuju Pelabuhan Tano, kami sempat membeli telur dan minuman Rp. 25.000, untuk menambah tenaga agar tidak mengantuk. Aku pikir perjalanan ke Tano cukup dekat, tetapi setelah berjalan, ternyata dari pintu masuk Kota Sumbawa menuju Pelabuhan Tano cukup jauh, kira-kira membutuhkan waktu sekitar 3 jam perjalanan. Sesampai di Pelabuhan Tano kami langsung membawa mobil kami naik ke kapal. Biaya Penyeberangan dari Tano- Lembar Lombok Rp. 380.000. Waktu di atas kapal pun kami gunakan untuk sejenak beristirahat. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Entri Populer