Rabu, 28 September 2011

Aku Sayang Semuanya

 

Satu-satu aku sayang Ibu, dua-dua aku Sayang Bapak, tiga-tiga aku sayang kakak, empat-empat, aku sayang kakak lima-lima aku sayang anaknya kakakku satu dua tiga empat lima sayang semuanya enam-enam aku sayang orang tuanya Bapakku tujuh-tujuh aku sayang orang tuanya ibuku, delapan-delapan aku sayang kakaknya bapakku sembilan-sembilan aku sayang adiknya ibukku sepuluh-sepuluh aku sayang adiknya bapakku, enam tujuh delapan sembilan sepuluh aku sayang semuanya sebelas-sebelas aku sayang anaknya kakaknya bapakku, dua belas-dua belas aku sayang anaknya adiknya ibukku, tiga belas tiga belas aku sayang anaknya adikknya bapakku, empat belas empat belas aku sayang kakak adiknya nenekku sebelas dua belas tiga belas empat belas aku sayang semua lima belas lima belas aku sayang tetanggaku enam belas enam belas aku sayang temankku tujuh belas tujuh belas aku sayang temannya temanku delapan belas delapan belas aku sayang temannya temannya temanku sembilan belas sembilan belas aku sayang temannya temannya temannya temanku dua puluh dua puluh aku sayang temannya temannya temannya temannya temannya temanku lima belas enam belas tujuh belas delapan belas sembilan belas dua puluh aku sayang semuanya dua puluh satu dua puluh satu aku sayang saudaranya temanku dua puluh dua dua puluh dua aku sayang saudaranya temannya temanku dua puluh tiga dua puluh tiga aku sayang saudaranya temannya temannya temanku dua puluh empat dua puluh empat aku sayang saudaranya temannya temannya temannya temanku dua puluh lima dua puluh lima aku sayang saudaranya temannya temannya temannya temannya temannya temanku dua puluh satu dua puluh dua dua puluh tiga dua puluh empat dua puluh lima aku sayang semuanya.
enaknya hidup saling menyayangi satu sama lain gag ada perang cuma ada kedamaian gag ada kekuasaan cuma ada kesejahteraan gag ada rasa iri cuma ada motivasi  gag ada perusakan alam saatnya memperbaiki alam enak banget pasti tentrem. variasi hidup biar gag bosan kupikir gag selalu dengan perang atau dengki iri dan lain-lain tapi juga bisa diwujudkan dalam variasi perdamaian saatnya hidup saling menyanyangi sesama.




























Selasa, 27 September 2011

Namanya Rejeki


Saya lihat kalender pas berenti di tanggal 26 sepitember 2011, gila nggak ada penghasilan tambahan lagi cuma mengharapkan gaji bersih + uang makan, merana ngeri nahan laper mpe berat badan turun 6 lebih kg dari 84 jadi 77kg (benernya mau mamerin hasil diet keras 1 bula :D) tapi kantong lagi beneran lagi kosong blong gara-gara lebaran kemarin kuputusin gag mudik tap malah jalan-jalan kemana-mana mulai dari waiwerang Adonara sampe menikmati indahnya Danau Kelimutu ditambah gaji diterima lebih cepet dari tanggal biasanya semakin memacu adrenalin buat berboros-boros ria.

mulai tanggal 17 Agustus 2011 dompet dah mulai menipis beneran dah apalagi atm tetep tipis aja (kalo tebel susah bawanya) tapi masih lumayan bisa bertahan, puncaknya pas tanggal 25 mpe tanggal 26 woww sejarah duit dikantong tinggal 7000 + di atm tinggal 50838 masak ngambil di atm 838 doank hikkzzzz dalam benak langsung terbersit jadwal makan dirumah temen atau tetangga terdekat + tempat makan yang bisa di-kas bon dulu :D
namanya rejeki emang gag bakalan dipatok ayam. bener aja dah pas tanggal 27 bangun siang jam 10.30 langsung ngeBon di warung terdekat habisnya 30000 gag tau dah mau bayar kapan, habis makan langsung dengan pede+ kacamata item menempel dimuka berangkat kekantor (gila terlambat 2 jam lebih) e tiba-tiba langsung ada rapat staf, dengan hikmat dan penuh kepastian saya mengikuti rapat staf, hal membahagiakan adalah waktu akhir rapat, semua staf dapet tugas buat ngambil laporan keuangan ke kecamatan-kecamatan dan nama saya pun disebutkan disitu owh man rapat habis langsung menghadap bendahara buat ngambil duit buat saku dan hasilnya dalam sekejap mata 639000 pun langsung ditangan owh aminnn, disaat penalty beneran langsung dapet duit hal pertama yang dilakukan adalah meluncur kewaroeng dengan senyum lebar dan bayar utang :D emang yang namanya rejeki kalo udah jatah kita gag bakalan di patok ayam.. kalo berani ayamnya matok kupatokin sendiri dah tu ayam akhirnya aku terselamatkan minimal sampe tanggal 3 oktober besok... semoga rejeki berikutnya ikutan datang ehheheheheeee... semangat,........... 

-HILANG-


Aku kehilangan arah
Bagai pertemuan dua arus yang berputar
Aku tidak tahu harus kemana lagi
Aku kehilangan jati diri

Malam ini aku terbangun dari mimpi
Mencoba mencari arahku kembali
Bagai jarum kompas dalam goncangan
Terus berusaha menemukan selatan dan utara

Tolong aku
Bantu aku
Bimbing aku
Temukan arahku temukan jalanku

Aku bosan dengan fana ini
Aku mau hidup normal lagi
Aku ingin kembali
Aku ingin seprti dulu lagi

Tapi ini bukan sebuah permainan yang bisa kita putar lagi
Tapi ini hidup yang berjalan terus  hanya satu kali berhenti
Masa lalu hanya menjadi sebuah sejarah tanpa bisa berubah
Aku hanya bisa memperbaiki walau tak sempurna
Aku ingin terlahir kembali  aku ingin terlahir kembali!!
                                                                                                                                -13 September 2011-

-Negaraku-





Nyamuk saling menghisap
Sampah berserak merusak kesejukan
Benalu merayap batang rapuh
Setan semakin ramai teriak setan
Penyakit busuk jahat penjilat biadab

Hancur hancur hancur pohon  pertiwi
Dikolongnya nyamuk sergap menghisap
Disekitarnya sampah busuk gersang
Dibatangnya benalu  menjilat kehidupan
Huniannya setan girang tertawa angker




Domba domba mulai tak nyaman berteduh
Terkekang terikat tak kuasa berontak
Mengembik memohon mata berpeluh
Raja setan riang penguasa sang pohon

Rapuh rapuh semakin rapuh
Mahkota pertiwi jatuh melacur
Ranting mengering terhisap benalu
Tanah tak kuasa memegang akar
Domba menjadi kumpulan serigala buas

Mengoyak menanduk gerogoti akar
Induk  tergoyang  murka abimanyu
Kini tumbang rata hancur hancur itu lebih baik!!!!         





                                                                                                                       -15 September 2011-








-Akhiri Cerita Ini-


Tlah Kucoba memohonmu tuk kembali
Harus dengan cara apa lagi
Kini Kusadari kau tak akan kembali
Kusadari kau tak akan bisa seperti dulu lagi
Dan aku harus sadari aku harus akhiri cerita ini

Ku tak mau ikuti ego diri
Ku tak mau sakiti hati
Kutak mau mati terbunuh sepi

Kini Aku telah terlahir kembali
Mengawali semua bersama mentari
Kuhapus perih hati
Kunikmati indahnya cahaya pelangi

Lupakan semua probema dihati
Tetap lanjutkan hidup ini
Dengan semangat diri
Tanpa ada obsesi
Seperti para Laskar pelangi

Mencari mimpi
Mencari hati
Meraih mimpi
Meraih hati

Biarkan mengalir apa adanya Tanpa ada disersi
Hanya ada motivasi
Hidup mandiri dengan semangat padri

Mencari mimpi
Mencari hati
Meraih mimpi
Meraih hati
Bagai para laskar pelangi dengan semangat padri.

                                -26 Agustus 2011

Danau Kelimutu



Add caption












Ku berjalan menyusuri jalanan larantuka
Melewati belantara hutan
Melewati Terjalnya Bukit menantang sang langit
Dengan kekuatan penuh
Dengan kepercayaan penuh
Dengan tujuan pasti

Kunikmati perjalanan ini
Kurasakan indahnya perjalanan ini
Walapun berkelok-kelok
Walapun mendaki terjalnya bukit
Walapun menuruni terjalnya bukit

Demi satu tujuan
Demi satu keindahan alam
Demi karunia Tuhan Sang Esa
Di timur tenggara nusantara
Di timur selatan Flores
Danau Kelimutu
Danau Kelimutu Sebuah anugerah nan indah
Untuk manusia untuk manusia









-3 September 2011-

Adaptasi Larantuka



Kira-kira satu tahun lebih saya sudah berada dalam situasi lingkungan dan peradaban sosial Masyarakat yang berbeda, serta dalam keadaan status sosial yang berbeda pula. Perubahan tersebut mau tidak mau, suka atau tidak suka, telah memaksa saya sebagai sosok Pribadi yang menurut saya masih sama, dari waktu kewaktu dan semoga akan tetap sama, untuk belajar kembali tentang cara berinteraksi, menjaga suatu relasi hubungan yang baik, agar tercipta keharmonisan di lingkungan baru ini. banyak hal baru yang saya temui dalam perjalanan saya selama satu bulan di suasana yang baru ini, yang tentunya tidak atau belum pernah saya dapatkan selama saya hidup di lingkungan sebelumnya.
Yah Manusia yang diberi sebuah identitas sebagai pengenal dengan sebutan "Adityo Danukusumo Usfal" dan akrab dipanggil Odik, merasa dirinya cukup beruntung karena telah mendapatkan beberapa kali pelajaran tentang perbedaan kehidupan, termasuk kebudayaan atau pola hidup dari beberapa Masyarakat yang berbeda. walaupun tidak selalu menyenangkan, tetapi saya berfikir bahwa ternyata dengan mengalami perbedaan suasana hidup dalam sosial masyarakat, telah membuka mata saya bahwa dunia ini sangat luas dan kita tidak mungkin dapat menampung semuanya dalam Kepala kita Sendiri. Akan tetapi apabila kita mau memperhatikan lagi secara detail, maka akan terbersit bahwa hampir semua yang perbedaan yang ada pada masing-masing daerah sebenarnya terdapat satu kemiripan entah itu pada masa lalu atau masa depan.  Dari sini saya sedikit mengambil pelajaran hidup ini bahwa secara historis kehidupan masyarakat mengalami tahap perkembangan atau perjalanan sesuai dengan tingkatannya.
Dan saat ini ternyata saya sudah mulai menikmati hidup saya dilingkungan baru saya walaupun ada hal yang menurut saya sangat menjengkelkan tetapi tetap juga ada gula sebagai pemanis di perantauan, dan benar saya sangat menikmati. Hidup di tempat yang berbeda dalam keadaan sosial masyarakat yang berbeda semakin memberikan warna dalam hidup saya. dan inilah yang membuat saya semakin yakin bahwa sesungguhnya hidup ini sangat indah tinggal bagaimana cara kita menikmati keindahan hidup ini dimanapun dan kapanpun.



Senin, 26 September 2011

Tak jadi Hujan

Kemarin hampir hujan
Kesejukan sudah terasa nikmatnya
Terasa dingin diselimuti awan mendung
Membelakangi sang surya di siang hari

Air perlahan turun dari langit
Bak langit sedang berpeluh
Dia hanya turun sedikit
Lalu hilang diterpa angin

Perlahan mendung yang termuat kesejukan
Menyingkap bak panggung memulai acaranya
Panas kurasakan lagi
Kering peluh ini

Langit tak jadi menurunkan keringatnya
Kering lehar ini menyimpan dahaga
Hampir 1 tahun tidak merasakan tangis langit
Wahai sang Langit kenapa engkau enggan menangis lagi

Air mata lagit sudah kering kah
Atau engkau merasakan penat
Atau engkau sedemikian murka
Kenapa engkau tak jadi berikan kesejukanmu.


26 September 2011

-Laut-

Laut ini begitu tenang
Tanpa menunjukkan gelombangnya
Tapi lihatlah jauh ditengah sana
Sang laut menunjukkan murkanya
Tapi lihatlah pantai itu
Laut begitu ceria ingin seakan mengajak kita bercanda bersama

Kini laut yang tenang itu mulai bergerak
Ketimur kebarat keutara ketimur keselatan
Lihat sang tengah kini tak lagi menunjukkan murkanya
Lihat dipantai itu iya tampak malas bercanda

Sang laut berjalan ke segala penjuru
Sang laut memberi rasa dari tawarnya air
Sang laut memberi warna dibumi ini
Sang laut memberi murka ceria tawa dan warna

-14 September 2011-

AKU DAN TUJUAN HIDUPKU

Saatku duduk termenung sendiri di teras rumah kos tempat kutinggal sambil memainkan dawai-dawai gitar di teras, diiringi suara debur ombak pantai yang memecah keheningan malam itu, tiba-tiba melintas dalam pikirankku sebuah tanya sederhana tetapi sangat mengusik diriku. Siapa aku? Untuk apa aku hidup? Sangat sederhana memang kedua pertanyaan itu tapi bagiku terlalu sulit aku menjawab pertanyaan itu.

Pertama, siapa aku, yah memang sangat sulit bagiku untuk menjawab pertanyaan itu, bukan tanpa sebuah argumen aku menyatakan sangat sulit menjawab pertanyaan siapa aku. Untuk menjawab pertanyaan itu, maka aku harus mampu mengeluarkan seluruh daya kemampuanku untuk mengingat kembali, dan untuk membuka kembali sejarah hidupku yang dimulai saat aku mulai bisa berfikir sendiri, hingga  saat ini.

Kedua, Apakah tujuan hidupku? Pertanyaan ini pun sampai dengan saat ini belum mampu aku jawab dengan tegas dan berani tanpa satu kebohongan apapun. Apakah? apa yang kuimpikan, kurencanakan, serta kukerjakan hingga saat ini, sudah sesuai, atau selaras satu sama lain untuk dapat meraih tujuan hidupku?Ketika muncul pertanyaan dari orang lain tentang “apa sebenarnya tujuan hidupmu”, seringkali aku hanya mampu memberikan jawaban-jawaban normatif, yang mungkin jawaban itu banyak juga digunakan oleh sebagian besar manusia di semesta ini. Menjadi orang yang baik dan bisa menjadi berguna bagi sesamanya, menjadi sebuah jawaban  yang sering muncul. Jawaban seperti itu memang terlihat heroik dan sangat mulia tapi menurutku sangat munafik. Lalu jika aku berfikir bahwa jawaban seperti itu adalah salah, lalu jawaban seperti apa yang dapat melegakan dahaga bathinku ini. Kadang aku sempat sedikit berfikir aku hidup hanya karena aku dilahirkan dan merasakan menghirup udara ini tanpa mempunyai tujuan hidup yang ada hanyalah aku sudah hidup dan aku harus mempertahankan hidupku.

Aku merasa sangat membutuhkan jawaban atas kedua pertanyaan di atas, jawaban yang murni berdasarkan sebuah refleksi hidupku selama ini. Refleksi tentang apa yang sudah, sedang  dan akan aku lakukan. Refleksi itu menjadi sangat penting, agar aku tahu dan paham benar, tentang siapakah aku dan untuk apa aku hidup di dunia ini. Tapi kemudian sisi lain dalam diriku juga bertanya-tanya, setelah aku tahu siapa aku dan apa tujuan hidupku, kemudian, apa yang akan aku lakukan atas jawaban itu, apa keuntungan yang aku dapat, jika aku dapat menjawab kedua pertanyaan yang diajukan di awal tadi. Mungkin hal ini nampak tidak terlalu penting bagi kebanyakan orang, atau bahkan juga menurut aku sendiri. Tapi ketika kucoba untuk berfikir lebih jauh, ternyata jawaban atas pertanyaan itu sangat penting sekali. Jawaban atas pertanyaan itu dapat aku gunakan sebagai pegangan atau kompas, untuk aku menentukan arah hidup ini, agar dalam menjalani hidup ini, aku tidak hanya ikut hanyut kemana air mengalir membawa kita, tetapi agar aku mampu menjadi nahkoda atas hidupku sendiri.

SIAPA AKU???

Sejak terlahir di dunia ini, aku diberi  nama oleh kedua orang-tuaku dengan sebutan "Adityo Danukusumo Usfal". Aku dilahirkan dari sebuah keluarga kecil, yang pada waktu itu bisa dikatakan agak sedikit kekurangan dalam hal ekonomi, walaupun kedua Orang Tuaku  bekerja. Pada masa kecil, aku mendapat pendidikan yang sangat keras dari orang tuaku, tetapi di sisi lain, aku sedikit dimanjakan oleh Kakekku. Pada masa kecil, aku menjadi pribadi yang cukup nakal dan merepotkan orang tuaku. Ketakutan akan orang tua yang disebabkan oleh didikan yang cukup keras, mendominasi hidupku pada masa itu. Bahkan terkadang dari pikiranku yang sangat polos ini,  muncul sebuah dendam kepada orang tuaku sendiri, tapi aku tidak berani untuk mengungkapkannya melainkan hanya kupendam dalam bathin saja, sambil berkata dalam hati “ingat ya besok kalo sudah sama-sama besar aku akan membalas”. Kejadian secara tidak langsung mempengaruhi dalam pembentukan karakter sifatku pada saat sekarang ini.

Karena faktor ekonomi, pada saat itu aku selalu disuruh untuk membeli barang-barang di toko milik Pak Sarwono, hanya dengan secarik kertas sambil berkata “Pak, bon dulu nanti bulan depan baru Bapak bayar”. Pada saat itu kadang muncul rasa malu atau sungkan, karena aku merasa orang tuaku sangat tidak mampu dan tidak punya uang untuk mencukupi kebutuhan hidup kami, hingga setiap kali berbelanja atau membeli sesuatu harus dengan berhutang. Keadaan seperti ini berlangsung terus-menerus hingga aku menyelesaikan masa SMPku.

Pada saat sekolah dasar aku menjadi anak biasa yang dalam hal prestasi, tidak terlalu menonjol malahan cenderung agak nakal. Tapi kenakalanku ini masih bisa terbatasi dengan rasa takut jika nanti membuat kesalahan yang merugikan orang lain, dan terdengar hingga ke orang tuaku. Bila itu terjadi, bisa dipastikan aku akan menerima hukuman dari Orang Tuaku. Namun walaupn dalam hati menyimpan ketakutan-ketakutan, aku tetap menjadi sosok yang sangat periang. Selain itu kami juga merasakan hidup dalam suasana yang senang, bahkan sangat senang, sehingga aku merasa ada sebuah keseimbangan di dalamnya.

Semasa kecil, layaknya anak kecil pada umumnya, aku selalu menginginkan mainan, entah itu mobil-mobilan, kapal-kapalan pesawat atau sepeda. Tapi sebagian keinginanku tersebut tidak terpenuhi dengan alasan klasik yaitu perekonomian. Bahkan uang jajan untuk sekolah waktu itupun, bila dibandingkan dengan teman-temanku yang lain,  uang jajanku adalah paling sedikit. Perbandingannya bisa mencapai 1 : 5-50 yaitu 100 rupiah saat di SDN 1 Jatinom  tahun 1991-1997, kemudian naik menjadi 1000 rupiah saat di SMPN 1 Karang Anom  tahun 1997-2000, dan naik kembali menjadi 2500 saat di SMA St. Albertus Malang (Dempo) Tahun 2003-2004. Dengan nominal uang sebesar itu, saat SD aku hanya bisa menukarkan uang tersebut dengan 4 buah gorengan di Mbok Tenong, Saat SMP aku hanya bisa menukarkan dengan 1 mangkuk soto di Bu Mondir atau Pak Slamet, jika aku berangkat tidak menggunakan angkot, saat SMA aku hanya bisa menukarkan dengan  satu mangkuk pangsit mie Dempo Malang, jika tidak menggunakan alat transportasi umum. Namun, atas keadaan itu membuatku mempunyai satu kelebihan, yakni dengan nominal uang seberapa sedikitpun aku tetap bisa bertahan, tapi kebiasaan itu juga membuatku merasa sangat jauh sekali dengan kebiasaan  menabung.

Saat itu masih lekat dalam ingatanku semasa duduk dibangku SD, aku mempunyai jadwal kegiatan harian dari orang tuaku. Kadang aku merasa iri dengan teman-teman sebayaku, yang bisa bermain bebas pada siang hingga malam hari, dengan berbagai mainan yang dimilikinya. Tapi apa daya, aku tidak bisa bebas dengan aturan main yang dibuat oleh Bapakku pada saat rapat keluarga. Aturan-aturan seperti itu yang kadang membuatku berfikir untuk bisa melarikan diri, untuk sejenak bermain dengan teman-temanku. Karena pengalaman akhirnya aku menemukan cara untuk melarikan diri. Kedua orang tuaku pada saat itu bekerja semua, dan biasanya pulang agak sore, dan itulah kunci dalam pelarianku. Tapi  ternyata muncul masalah lain jika aku tidak melaksanakan istirahat siang. Rasa kantuk yang luar biasa hingga tertidur  pada saat belajar, bisa menjadi sebuah akibat fatal. Apabila hal itu terjadi maka aku harus menyiapkan fisik dan mental untuk mendapat hukuman dari orang Tuaku.

Pada waktu SD aku mempunyai teman belajar di rumah, yaitu Udin dan Apris. Ada hal menarik dan agak sedikit konyol pada waktu belajar bersama mereka. Aku dan Udin pada waktu sering mengalami penyakit kulit yang kompak yaitu Panu, sehingga biasanya pada waktu belajar, di saat pengawasan sedang lengah, kami gunakan kesempatan itu untuk membasmi penyakit jahat tersebut. Sedangkan Apris mengingatkanku pada sosok Patrick dalam film kartun Spongebob Squarepant, yang selalu tidur dan malas untuk belajar. Hal itu berlangsung terus menerus hingga aku duduk di bangku kelas 3 SMP. Tapi pada hari sabtu siang hingga minggu sore aku mendapat kebebasan mutlak dari kedua orangtuaku. Bagaikan burung yang lepas dari sangkarnya waktu itu selalu aku gunakan dengan semaksimal mungkin.

Pada masaku, di tempatku, aku kurang mempunyai teman yang sebaya denganku. Aku cenderung bermain dengan teman yang usianya di bawah atau di atasku jauh. Seingatku teman sebaya yang paling dekat adalah Danang teman untuk nakal (mulai belajar merokok dll), yang bisa saling membantu hingga saling bermusuhan.  Namun naas kerena Bapaknya meninggal dan ditambah dengan berakhirnya masa SD, akhirnya kami jarang untuk bisa bermain bersama lagi. Setelah itu aku lebih sering bermain dengan teman yang usianya di atasku, karena lingkungan di rumahku lebih banyak teman dengan usia di atasku. Pada saat itu aku sangat dekat dengan tetangga depan rumah Eyangku, yang sudah kuanggap seperti keluargaku sendiri, yang akrab kupanggil dengan nama Mas Iwan. Mas Iwan adalah orang yang agak pemalu, dan cenderung kurang berani dalam menghadapi sesuatu hal yang baru (menurutku). Karena sifat Mas Iwan ini membuat aku berkembang menjadi pribadi yang mencoba menjadi seorang motivator untuk seorang sahabat. Sifat ini sedikit banyak terbentuk dan melekat dalam diriku hingga saat ini. Aku merasa bahwa aku bisa menjadi seorang motivator, yang mendorong teman-temanku untuk dapat maju dan melakukan perubahan. Namun yang menjadi permasalahan adalah ternyata aku menyimpan kegagalan luar biasa, yaitu aku merasa gagal untuk menjadi motivator untuk diriku sendiri.

Pada masa SMU aku menjadi sosok yang agak minder, karena aku merasa di tempatku belajar, hanya akulah orang dengan latar belakang keluarga  yang  kurang mampu dalam hal ekonomi. Aku bersekolah di sebuah SMU swasta yang cukup mahal di kota Malang yaitu  SMUK St Albertus/ Dempo. Rasa malu dan minder membayangi hidupku waktu awal aku masuk sekolah, apalagi mungkin hanya aku yang berasal dari basic SMP di desa. Namun perlahan seiring berjalannya waktu aku merasa dapat mengatasi permasalahan itu. Hal ini karena karena aku mulai dapat berfikir bahwa untuk dilahirkan dari sebuah keluarga yang kekurangan, adalah bukan keinginanku. Tapi ternyata itulah yang terjadi dan tentu saja aku tidak bisa melawannya.

Pada masa awal SMU aku dididik dengan penuh disiplin oleh saudaraku, di rumahnya di malang (karena pada awal sekolah aku ikut tinggal di rumah saudara). Selain itu bersekolah di sebuah SMU dengan latar belakang yayasan Katholik, membuatku menjadi sosok rohaniawan, dengan angan-angan penuh kebaikan. Bahkan pada waktu itu sempat terbersit dalam anganku untuk menjadi seorang biarawan. Hampir Satu setengah tahun aku tinggal di rumah saudaraku, akan tetapi karena suatu hal permasalahan akhirnya aku memutuskan untuk tinggal di sebuah kos-kosan.  Walaupun merasa diri tinggal di sebuah kost-kostan mengurangi pengawasan terhadap diriku, namun ini sangat memotivasiku untuk lebih semangat untuk membuktikan kepada orang,  bahwa aku mampu untuk bersekolah, dan bisa lulus dari sebuah sekolah, yang konon menurut cerita dari banyak orang, sangat sulit untuk bisa naik kelas atau mendapatkan nilai yang bagus di SMU itu.

Pada masa SMU, aku mengenal seorang motivator yang sering kami panggil dengan nama Ko Yon. Bagi orang seperti aku, menurutku Ko Yon adalah orang yang sangat handal dalam bidang bisnis. Aku sangat antusias sekali dengannya, apalagi saat dia membawakan materi tentang orang yang begitu mudah untuk meraih kesuksesan. Aku serasa dibuai mimpi di siang bolong, angan-anganpun langsung melesat jauh dan menganggap bahwa dengan ikut ekstra kulikulernya-pun, aku  merasa  sudah menjadi orang yang sukses. Dalam ekstra kulikuler itu, aku dididik atau dicuci otakku dengan pandangan bahwa menjadi orang kaya itu sangat enak dan akan lebih mudah untuk menggapai surg, karena aku bisa memberikan bantuan yang banyak kepada orang lain. Aku sangat bersemangat sekali pada waktu itu, apalagi aku berfikir itu selaras dengan kondisiku saat itu, di mana aku adalah sosok yang sangat saleh. Bahkan saking antusiasnya aku sampai mempraktekkan apa yang aku dapatkan selama dia mengajar. Waktu itu aku membuat kelompok dengan teman-temanku,  mencoba membuat sebuah bisnis iklan. Namun entah karena kurang gigih atau belum mendapat kepercayaan, ditambah dengan tidak adanya modal yang mendukung, akhirnya kami gagal karena tidak ada satupun produk yang mau bekerjasama dengan kami untuk mengiklankan produknya di konsep majalah kami. Fakta itulah yang sedikit menurunkan semangatku, namun aku juga tidak mau menyerah dengan bisnis itu saja (mungkin karena sudah terlanjur terbuai dengan mimpi yang terlalu tinggi).

Aku tetap setia dan bersemangat untuk mengikuti ekstra kurikuler beserta dengan pola pikirnya. Akupun dikenalkan dengan sebuah bisnis, yang katanya sangat menguntungkan, sangat cepat, dan juga tidak membutuhkan modal yang cukup banyak.  Cukup dengan kemampuan beriklan dapat memberikan keuntungan yang sangat besar. Multilevel Marketing itulah bisnis yang dia perkenalkan lagi. Semangat yang sangat membara ditambah masih kuatnya angan-angan untuk menjadi orang kaya yang sangat berkobar-kobar, membuatku memutuskan untuk segera mengikuti bisnis itu waktu itu aku mengikuti MLM dengan nama AMWAY. Tapi dalam perjalanan lebih jauh aku tersadar bahwa ternyata apa yang dia lakukan pada ekstrakurikuler tentang bisnis itu semata hanya ingin menarik minat dari siswa untuk dapat dijadikan down-line dalam bisnis Multilevel Marketingnya untuk kepentingannya sendiri. 

Serasa ditipu habis-habisan, karena setelah dia mencapai tujuan pribadinya, kemudian dia pergi meninggalkan kami begitu saja, dengan dalih akan menetap di Australia. Sejak saat itu aku merasa bahwa tidak ada manusia yang benar-benar tulus dalam menolong orang lain. Tapi ternyata di lain tempat aku masih mempunyai teman yang seperti saudaraku sendiri Almais Tandung seorang dari Pulau Sulawesi yang merantau ke Malang. Banyak suka dan duka waktu SMA (setelah aku tinggal di Kos) yang mewarnai hidup waktu bersahabat dengannya, mulai dari hal yang bersifat positif sampai hal yang bersifat negatif pernah kita lalui bersama.

Selepas masa SMU aku berhenti bersekolah selama 1 tahun. Masa rehat sekolah itu aku gunakan untuk berlibur sekaligus belajar  bekerja di Tempat Eyangku Abatan dan Victoria Osi, di Kefamenanu tepatnya di Desa Kaubele. Hampir selama 1 tahun itu aku pernah menjalani beberapa pekerjaan, mulai menjaga persawahan, merontokkan padi dengan mesin rontok, menjaga kios, sampai dengan berjualan di pasar pada waktu hari pasar (setiap hari Sabtu). Banyak hal yang aku nikmati pada saat itu, yaitu kebebasan yang sangat luar biasa. Tapi secara tidak sadar hal itu yang membuat perutku mulai membuncit karena seringanya minum bir atau minuman keras lainnya.

Hampir 1 tahun aku di Kefa akhirnya aku ditelpon oleh Bapak agar segera  kembali ke Jawa, untuk melanjutkan Sekolahku. Berat hati ini untuk kembali lagi ke Jawa, karena aku sudah menikmati hidup dan bekerja di Kefa. Akhirnya mau tidak mau aku harus tetap kembali di Jawa karena Eyang dan Omku juga memaksaku untuk pulang dan bersekolah terlebih dahulu, baru nanti kemudian kembali lagi ke Kefa untuk berkerja dan hidup disana. Akupun memutuskan untuk pulang ke Jawa. Aku ingat waktu itu aku pulang dengan membawa uang 5 Juta, nominal yang  menurutku sangat besar pada waktu itu. Tanpa berfikir panjang lagi,  sesampainya di Jawa, aku langsung membelikan sebuah komputer dengan uang itu (benda yang sangat ingin aku beli semenjak SMA). 

Pada saat akan dimulai penerimaan mahasiswa baru di Universitas, akupun mulai mempersiapkan segala sesuatu untuk kepentingan pendaftaran di universitas. Salah satunya adalah dengan mengikuti Bimbingan Belajar. Akhirnya tibalah waktunya untuk melakukan pendaftaran di universitas-universitas. Pada waktu itu aku mengikuti tes di Sanata Dharma Yogyakarta. Karena adanya ikatan kerjasama antara Universitas Sanata Dharma dengan SMUK St Albertus, membuatku yakin bahwa aku pasti akan diterima di Kampus itu. Benar saja, pada waktu pengumuman nama-nama calon mahasiswa yang diterima, tercantum juga namaku didalamnya. Jalan tak selalau mulus, masuk di Universitas Sanata Dharma menyebabkan perkelaihan antara aku dengan Bapak, karena permasalahan waktu aku mengurus administrasi keuangan. Akibat perselisihan itu akupun kabur dari rumah selama hampir selama 2 minggu.

Selain Universitas Sanata Dharma, aku juga mencoba peruntungan lain dengan  mengikuti SPMB  (tes untuk memasuki Universitas Negeri). Walaupun ada perasaan pesimis akan diterima, tapi aku tetap berusaha untuk mencoba jalur test itu. Aku ingat sekali, waktu itu aku mendaftar untuk jurusan Ilmu Hukum di Universitas Sebelas Maret Surakarta, dan Ekonomi Pembangunan di Unversitas Brawijaya Malang. Tanpa disangka-sangka, ternyata pada saat pengumuman di Koran, nama juga ikut tercantum di dalamnya. perasaan senang bangga tercampur jadi satu. Ibuku yang waktu itu ragu dengan kemampuanku dalam bidang akademik pun kaget dan turut senang dan mulai membanggakan aku. 

Masa kuliah sangat merubah pribadiku seperti saat  dulu aku masih  SD-SMA. Aku yang dahulu sama sekali tidak tertarik dengan kegiatan-kegiatan selain sekolah,  menjadi berubah sama sekali waktu memasuki bangku kuliah. Aku menjadi sangat aktif dalam berbagai kegiatan baik internal maupun eksternal kampus. Salah satu yang paling menarik bagiku adalah sebuah organisasi eksternal kampus yang bernama PMKRI. Ketua PMKRI Cabang Surakarta pada waktu itu adalah Stefanus Asat Gusma, seorang  mahasiswa D3 Managemen di UNS. Di sini  otakku dicuci kembali dengan diperkenalkannya aku dengan Faham Marxisme. Dalam berbagai diskusi, menurutku apa yang sama-sama kami pelajari ini sungguh sangat benar dan bersih.  Faham itu telah berhasil merubahku menjadi sosok yang keras dan penuh dengan Idealisme.  Implementasi nyata dari Faham itu, adalah dengan aku mulai aktif dalam kegiatan demontrasi menolak kebijakan-kebijakan pemerintah menurutku tidak berpihak dengan masyarakat kecil. Sejak saat itu, angan-anganku untuk menjadi pengusaha buyar. Bahkan aku menjadi merasa benci dengan pemikiran para pengusaha, yang memang tidak sejalan dengan pemikiranku saat itu. Aku menjadi sosok idealis dan semakin menjauh dari sosok ketuhanan. Bahkan aku mulai meninggalkan Gereja, untuk berjalan disebelah kiri bersama kawan-kawan pergerakanku.  Tapi karena sebuah permasalahan, akhirnya aku menjadi kecewa dengan beberapa temanku. Aku merasa, melihat dan menilai ada teman-temanku yang sangat getol berbicara tentang keadilan dan kebenaran, tetapi ternyata malah mengambil keuntungan dari situ. Permasalahan itu akhirnya membuatku memutuskan untuk  keluar dari mereka, dengan sedikit tersisa idealismeku. 

Setelah keluar, akupun memutuskan untuk ikut bekerja bersama temanku  "Agung Aditya Putra" atau akrab dipanggil "Mbolox".  Dari sini aku mulai mendapatkan penghasilan, hanya untuk sekedar menambah uang jajan. Sejalan dengan ini, akupun menjadi sosok yang pemboros. Sambil bekerja aku mengikuti kegiatan dalam kampus salah satunya adalah aku mengikuti kegiatan MCC atau Moot Court Competition. di situ aku belajar tentang persahabatan yang saling mendukung. Di MCC, kami membentuk sebuah persahabatan yang  bukan hanya untuk kepentingan dalam MCC saja. Panitia 8 kami menamai tim  yang beranggotakan 8 Orang ini.  Aku, Anita Tiar, Eka Yudi, Fadli Alfarisi, Junaidi Arif, Nasyatun Fadillah, Sekar Dianing dan Feri Irina Rahmani bersama-sama belajar tentang kebersamaan dalam sebuah perbedaan. Persahabatan dalam MCC ini terbawa hingga saat ini. Akupun aktif dalam kegiatan MCC hingga akhirku duduk dibangku kuliah.

Sambil menanti wisuda aku sempat bekerja di sebuah LSM di Surakarta yaitu yang bergerak dalam bidang pertanggung jawaban perusahaan terhadap masyarakat sekitar atau CSR. Tapi tidak lama aku keluar, karena aku merasa tidak cocok bekerja disitu. Setelah lulus Kuliah akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke Kefa untuk mencoba peruntungan hidup di sana. Belum sampai di Kefa aku mencoba mengikuti tes-tes pegawai negeri, karena pada waktu itu kebetulan banyak instansi-intansi pemerintah yang sedang membuka rekrutimen pegawai negeri. Karena ada informasi dari temanku, akhirnya pada waktu itu aku mengikuti tes hakim, tapi nasib kurang mujur, hingga akhirnya namaku pun tidak muncul pada waktu pengumuman hasil tes. Bersamaan dengan tes hakim aku mendapat informasi dari pembimbing magangku di Sragen bahwa ada pendaftaran di KPU, akhirnya aku pun memutuskan untuk mengikuti tes KPU mungkin karena nasibku akhirnya akupun lolos tes CPNS KPU dan hingga saat ini aku menjadi Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Sekretariat KPU Kabupaten Flores Timur.

Dari liku-liku perjalanan hidupku akhirnya aku menyadari siapa dan seperti apa sosokku Adityo Danukusumo Usfal sosok yang terlihat sangat percaya diri tapi menyimpan ketakutan-ketakutan, sosok yang periang dan cenderung tidak mau mempersoalkan permsalahan dalam dirinya, sosok yang sangat loyal dan militant dalam menjalani sebuah persahabatan, sosok yang mudah terpengaruh dengan orang lain, dan pribadi yang menganggap bahwa sebagian besar  kesuksesan atau kebahagian diukur dengan materi semata,  sosok yang takut berada didepan sendirian untuk memulai sesuatu hal. dari sini aku ingin mencoba melihat apa sebenarnya tujuan hidupku.


APA TUJUAN HIDUPKU ???


Merenungi perjalanan hidupku dari mulai kecil hingga 25 tahun berlalu ini aku merasa belum mempunyai tujuan hidup yang sesungguhnya. Semuanya mengalir begitu seperti aliran air. Bahkan aku cenderung menjadi pribadi yang gampang terseret arus dan rapuh untuk mempertahankan kehendakku, dan aku menjadi sosok yang mudah terpengaruh. Dari sini aku menyadari, bahwa hidupku adalah untuk diriku dan keluargaku kelak. Jadi aku merasa, aku harus bisa menjadi nahkoda untuk hidupku sendiri, tanpa terpengaruh siapapun. Aku harus berani untuk memilah-milah mana yang baik dan mana yang tidak baik menurutku, untuk aku lakukan. Aku juga tidak boleh menjadi minder karena apapun yang terjadi, Raga inilah yang akan selalu menemaniku hingga aku mati apapun yang akan terjadi. 

Setelah aku mengetahui sosok "aku"aku meyakini sebuah tujuan yang tersimpan di dalamnya.  Sebuah tujuan hidupku yang sesungguhnya, tanpa ada suatu intervensi dari orang lain siapapun itu. Dan tujuan hidupku itu  adalah sebuah kebahagian sejati, kebahagiaan yang bukan hanya diukur dengan materi, kebahagian yang ingin kuraih bersama keluargaku kelak dan kebahagian seluruh manusia. Itu saja.

Larantuka, 26 September 2011

Sabtu, 24 September 2011

melepas penat

Pada waktu masih tinggal di jawa aku kadang suka memancing di sungai tapi di jawa memancing bukan menjadi rutinitas harian kerna musim memancing di sana hanya waktu-waktu tertentu saja biasanya pada saat menjelang Leparan atau pada waktu bulan puasa.
Semua berubah ketika aku menerima Surat Keputusan CPNS dan aku baca ternyata aku mendapatkan penempatan di Larantuka. Begitu mendapat kabar itu secara spontan aku membeli peralatan pancing lengkap dengan umpan mainan yang sering aku lihat di televisi. benar saja ketika aku menginjakkan kaki di Larantuka, waktu itu aku menginap di sebuah penginapan bernama hotel kartika yang berada di dekat Pelabuhan Kota Larantuka. tanpa berlama-lama pada malam hari aku datang ke Pelabuhan untuk memancing pertama kali aku memancing aku menggunakan umpan ikan asin yang sudah dikeringkan, banyak yang heran dan bertanya-tanya "apa bisa ya mancing pakai umpan ikan asin" bahkan ada yang menertawakanku tapi tanpa kehilangan akan akupun bertanya kepada para pemancing yang ada disekitar apa umpan yang cocok untuk memancing ikan dilaut. dari situ aku tahu bahwa umpan yang bagus untuk memancing dilaut adalah iakn-ikan kecil yang masih segar khususnya ikan Tembang atau Ikan Bedu (sebutan orang NTT) itulah pengalamanku memancing pertama kali di Larantuka dan dilautpertama kali.
waktu berjalan memancing menjadi sebuah hobi sekaligus hiburan yang asyik di laratuka. hampir setiap malam aku pergi memancing kadang dengan temanku kadang juga sendirian. sore ini seperti biasa aku pergi ke pasar senja (pasar yang buka hanya dari sore samapi malam terletak di samping Lapangan Lebao Larantuka) untuk berburu ikan kecil yang akan kujadikan umpan untuk memancing, ya hampir setiap malam aku memancing hanya sekedar untuk melepas penat mengusir kesepianku berharap mendapatkan buruan yang besar malah pulang dengan tangan hampa, kadang hanya sala-asalan berangkat memancing malah mendapat ikan yang cukup besar. Dari aktivitas memancing ini saya mengambil sebuah pelajaran bahwa dalam hidup ini tidak perlu terlalu mengharapkan sesuatu yang tidak/belum pasti biarkan rejeki jodoh atau mati itu datang sendiri pada waktunya, seperti ikan yang mau memakan umpan kita, kadang kita terlalu berharap mendapatkan hasil buruan kita yang besar tetapi ternyata tidak satupun ikan yang menyambar umpan kita sebaliknya disaat kita tidak berharap malah ada ikan kakap besar yang datang menyambar. itulah pelajaran yang saya ambil dari memancing pada intinya kita sudah berusaha dengan penuh kesabaran dan kesungguhan maka suatu saat kita akan mendapatkan rejeki, jodoh dan mati kita.

Rabu, 21 September 2011

tak lagi denganmu

16 Agustus 2011 menjadi puncak ketika dia berkata "kamu mau putus denganku" dan aku men-iyakan... kosong hanya itu yang aku rasa, ketika aku dihadapkan pada persimpangan jalan yang satu menawarkan jalan yang nampak agak berkerikil dan berbatu tapi aku menikmatinya sedang yang satu terlihat sangat halus beraspalkan hotmix tapi sama-sama aku tidak tahu apa yang ada didepan sana.
ketika jalan yang nampak agak terjal membisik padaku didepan sana ada berlian didepan sana sangat indah ada hamparan sawah terbentang ada pantai nan indah ada sungai berkelok-kelok dengan air deras mengalir memberikan kesejukan tapi ternyata aku tidak mau mendengar aku hanya melihat bahwa jalan yang aku lalui sungguh terjal. Aku lebih memilih jalan yang lebih halus tapi aku tidak pernah berfikir bahwa didepan sana Ular siap mematokku singa siap mencabik-cabik raga ini, tetapi ternyata aku tetap memilih jalan yang halus ini.
Menyesal menyesal hanyalah kata sesal yang muncul setelah tahu apa yang nampak didepan ternyata jalan yang halus hanyalah sebuah hiasan tempel yang tampak menarik tapi ketika hiasan itu terlepas maka tampaklah wajah asli yang sangat menyeramkan. menyesal tidak ada guna menyesal hanya semakin menjatuhkanku menyesal hanya akan membunuhku dan aku tidak mau itu. aku tidak mau terbunuh dengan penyesalan karena itu hanya membuatku mati konyol tanpa ada kebanggaan.
kini aku mendapatkan pelajaran yang sangat berharga dari perjalanan yang aku dapat sampai di persimpangan jalan itu. Sekarang aku putuskan untuk kembali lagi kepersimpangan jalan tadi, tapi terlambat ternyata jalan yang nampak terjal itu sudah tertutup jalan yang nampak terjal itu tidak mau lagi aku lewati untuk kuperbaiki agar jalan itu kembali halus dan indah untuk mencapai tujuan yang sangat indah semuanya ada secercah harapan untuk dapat membuka pintu ini. tapi aku berjanji dan akan berusaha untuk bisa kembali ke jalur itu karena aku tidak mau jatuh dalam jurang penyesalan untuk kedua kalinya.

Entri Populer