Saatku duduk termenung sendiri di teras rumah kos tempat kutinggal sambil memainkan dawai-dawai gitar di teras, diiringi suara debur ombak pantai yang memecah keheningan malam itu, tiba-tiba melintas dalam pikirankku sebuah tanya sederhana tetapi sangat mengusik diriku. Siapa aku? Untuk apa aku hidup? Sangat sederhana memang kedua pertanyaan itu tapi bagiku terlalu sulit aku menjawab pertanyaan itu.
Pertama, siapa aku, yah memang sangat sulit bagiku untuk menjawab pertanyaan itu, bukan tanpa sebuah argumen aku menyatakan sangat sulit menjawab pertanyaan siapa aku. Untuk menjawab pertanyaan itu, maka aku harus mampu mengeluarkan seluruh daya kemampuanku untuk mengingat kembali, dan untuk membuka kembali sejarah hidupku yang dimulai saat aku mulai bisa berfikir sendiri, hingga saat ini.
Kedua, Apakah tujuan hidupku? Pertanyaan ini pun sampai dengan saat ini belum mampu aku jawab dengan tegas dan berani tanpa satu kebohongan apapun. Apakah? apa yang kuimpikan, kurencanakan, serta kukerjakan hingga saat ini, sudah sesuai, atau selaras satu sama lain untuk dapat meraih tujuan hidupku?Ketika muncul pertanyaan dari orang lain tentang “apa sebenarnya tujuan hidupmu”, seringkali aku hanya mampu memberikan jawaban-jawaban normatif, yang mungkin jawaban itu banyak juga digunakan oleh sebagian besar manusia di semesta ini. Menjadi orang yang baik dan bisa menjadi berguna bagi sesamanya, menjadi sebuah jawaban yang sering muncul. Jawaban seperti itu memang terlihat heroik dan sangat mulia tapi menurutku sangat munafik. Lalu jika aku berfikir bahwa jawaban seperti itu adalah salah, lalu jawaban seperti apa yang dapat melegakan dahaga bathinku ini. Kadang aku sempat sedikit berfikir aku hidup hanya karena aku dilahirkan dan merasakan menghirup udara ini tanpa mempunyai tujuan hidup yang ada hanyalah aku sudah hidup dan aku harus mempertahankan hidupku.
Aku merasa sangat membutuhkan jawaban atas kedua pertanyaan di atas, jawaban yang murni berdasarkan sebuah refleksi hidupku selama ini. Refleksi tentang apa yang sudah, sedang dan akan aku lakukan. Refleksi itu menjadi sangat penting, agar aku tahu dan paham benar, tentang siapakah aku dan untuk apa aku hidup di dunia ini. Tapi kemudian sisi lain dalam diriku juga bertanya-tanya, setelah aku tahu siapa aku dan apa tujuan hidupku, kemudian, apa yang akan aku lakukan atas jawaban itu, apa keuntungan yang aku dapat, jika aku dapat menjawab kedua pertanyaan yang diajukan di awal tadi. Mungkin hal ini nampak tidak terlalu penting bagi kebanyakan orang, atau bahkan juga menurut aku sendiri. Tapi ketika kucoba untuk berfikir lebih jauh, ternyata jawaban atas pertanyaan itu sangat penting sekali. Jawaban atas pertanyaan itu dapat aku gunakan sebagai pegangan atau kompas, untuk aku menentukan arah hidup ini, agar dalam menjalani hidup ini, aku tidak hanya ikut hanyut kemana air mengalir membawa kita, tetapi agar aku mampu menjadi nahkoda atas hidupku sendiri.
SIAPA AKU???
Sejak terlahir di dunia ini, aku diberi nama oleh kedua orang-tuaku dengan sebutan "Adityo Danukusumo Usfal". Aku dilahirkan dari sebuah keluarga kecil, yang pada waktu itu bisa dikatakan agak sedikit kekurangan dalam hal ekonomi, walaupun kedua Orang Tuaku bekerja. Pada masa kecil, aku mendapat pendidikan yang sangat keras dari orang tuaku, tetapi di sisi lain, aku sedikit dimanjakan oleh Kakekku. Pada masa kecil, aku menjadi pribadi yang cukup nakal dan merepotkan orang tuaku. Ketakutan akan orang tua yang disebabkan oleh didikan yang cukup keras, mendominasi hidupku pada masa itu. Bahkan terkadang dari pikiranku yang sangat polos ini, muncul sebuah dendam kepada orang tuaku sendiri, tapi aku tidak berani untuk mengungkapkannya melainkan hanya kupendam dalam bathin saja, sambil berkata dalam hati “ingat ya besok kalo sudah sama-sama besar aku akan membalas”. Kejadian secara tidak langsung mempengaruhi dalam pembentukan karakter sifatku pada saat sekarang ini.
Karena faktor ekonomi, pada saat itu
aku selalu disuruh untuk membeli barang-barang di toko milik Pak Sarwono, hanya dengan secarik kertas sambil berkata “Pak, bon dulu nanti bulan depan baru Bapak bayar”.
Pada saat itu kadang muncul rasa malu atau sungkan, karena aku merasa orang tuaku sangat tidak mampu dan tidak punya uang untuk mencukupi kebutuhan hidup kami, hingga setiap kali berbelanja atau membeli sesuatu harus dengan berhutang. Keadaan seperti ini berlangsung terus-menerus hingga aku menyelesaikan masa SMPku.
Pada saat sekolah dasar aku menjadi anak biasa yang dalam hal prestasi, tidak terlalu menonjol malahan cenderung agak nakal. Tapi kenakalanku ini masih bisa terbatasi dengan rasa takut jika nanti membuat kesalahan yang merugikan orang lain, dan terdengar hingga ke orang tuaku. Bila itu terjadi, bisa dipastikan aku akan menerima hukuman dari Orang Tuaku. Namun walaupn dalam hati menyimpan ketakutan-ketakutan, aku tetap menjadi sosok yang sangat periang. Selain itu kami juga merasakan hidup dalam suasana yang senang, bahkan sangat senang, sehingga aku merasa ada sebuah keseimbangan di dalamnya.
Semasa kecil, layaknya anak kecil pada umumnya, aku selalu menginginkan mainan, entah itu mobil-mobilan, kapal-kapalan pesawat atau sepeda. Tapi sebagian keinginanku tersebut tidak terpenuhi dengan alasan klasik yaitu perekonomian. Bahkan uang jajan untuk sekolah waktu itupun, bila dibandingkan dengan teman-temanku yang lain, uang jajanku adalah paling sedikit. Perbandingannya bisa mencapai 1 : 5-50 yaitu 100 rupiah saat di SDN 1 Jatinom tahun 1991-1997, kemudian naik menjadi 1000 rupiah saat di SMPN 1 Karang Anom tahun 1997-2000, dan naik kembali menjadi 2500 saat di SMA St. Albertus Malang (Dempo) Tahun 2003-2004. Dengan nominal uang sebesar itu, saat SD aku hanya bisa menukarkan uang tersebut dengan 4 buah gorengan di Mbok Tenong, Saat SMP aku hanya bisa menukarkan dengan 1 mangkuk soto di Bu Mondir atau Pak Slamet, jika aku berangkat tidak menggunakan angkot, saat SMA aku hanya bisa menukarkan dengan satu mangkuk pangsit mie Dempo Malang, jika tidak menggunakan alat transportasi umum. Namun, atas keadaan itu membuatku mempunyai satu kelebihan, yakni dengan nominal uang seberapa sedikitpun aku tetap bisa bertahan, tapi kebiasaan itu juga membuatku merasa sangat jauh sekali dengan kebiasaan menabung.
Saat itu masih lekat dalam ingatanku semasa duduk dibangku SD, aku mempunyai jadwal kegiatan harian dari orang tuaku. Kadang aku merasa iri dengan teman-teman sebayaku, yang bisa bermain bebas pada siang hingga malam hari, dengan berbagai mainan yang dimilikinya. Tapi apa daya, aku tidak bisa bebas dengan aturan main yang dibuat oleh Bapakku pada saat rapat keluarga. Aturan-aturan seperti itu yang kadang membuatku berfikir untuk bisa melarikan diri, untuk sejenak bermain dengan teman-temanku. Karena pengalaman akhirnya aku menemukan cara untuk melarikan diri. Kedua orang tuaku pada saat itu bekerja semua, dan biasanya pulang agak sore, dan itulah kunci dalam pelarianku. Tapi ternyata muncul masalah lain jika aku tidak melaksanakan istirahat siang. Rasa kantuk yang luar biasa hingga tertidur pada saat belajar, bisa menjadi sebuah akibat fatal. Apabila hal itu terjadi maka aku harus menyiapkan fisik dan mental untuk mendapat hukuman dari orang Tuaku.
Pada waktu SD aku mempunyai teman belajar di rumah, yaitu Udin dan Apris. Ada hal menarik dan agak sedikit konyol pada waktu belajar bersama mereka. Aku dan Udin pada waktu sering mengalami penyakit kulit yang kompak yaitu Panu, sehingga biasanya pada waktu belajar, di saat pengawasan sedang lengah, kami gunakan kesempatan itu untuk membasmi penyakit jahat tersebut. Sedangkan Apris mengingatkanku pada sosok Patrick dalam film kartun Spongebob Squarepant, yang selalu tidur dan malas untuk belajar. Hal itu berlangsung terus menerus hingga aku duduk di bangku kelas 3 SMP. Tapi pada hari sabtu siang hingga minggu sore aku mendapat kebebasan mutlak dari kedua orangtuaku. Bagaikan burung yang lepas dari sangkarnya waktu itu selalu aku gunakan dengan semaksimal mungkin.
Pada masaku, di tempatku, aku kurang mempunyai teman yang sebaya denganku. Aku cenderung bermain dengan teman yang usianya di bawah atau di atasku jauh. Seingatku teman sebaya yang paling dekat adalah Danang teman untuk nakal (mulai belajar merokok dll), yang bisa saling membantu hingga saling bermusuhan. Namun naas kerena Bapaknya meninggal dan ditambah dengan berakhirnya masa SD, akhirnya kami jarang untuk bisa bermain bersama lagi. Setelah itu aku lebih sering bermain dengan teman yang usianya di atasku, karena lingkungan di rumahku lebih banyak teman dengan usia di atasku. Pada saat itu aku sangat dekat dengan tetangga depan rumah Eyangku, yang sudah kuanggap seperti keluargaku sendiri, yang akrab kupanggil dengan nama Mas Iwan. Mas Iwan adalah orang yang agak pemalu, dan cenderung kurang berani dalam menghadapi sesuatu hal yang baru (menurutku). Karena sifat Mas Iwan ini membuat aku berkembang menjadi pribadi yang mencoba menjadi seorang motivator untuk seorang sahabat. Sifat ini sedikit banyak terbentuk dan melekat dalam diriku hingga saat ini. Aku merasa bahwa aku bisa menjadi seorang motivator, yang mendorong teman-temanku untuk dapat maju dan melakukan perubahan. Namun yang menjadi permasalahan adalah ternyata aku menyimpan kegagalan luar biasa, yaitu aku merasa gagal untuk menjadi motivator untuk diriku sendiri.
Pada masa SMU aku menjadi sosok yang agak minder, karena aku merasa di tempatku belajar, hanya akulah orang dengan latar belakang keluarga yang kurang mampu dalam hal ekonomi. Aku bersekolah di sebuah SMU swasta yang cukup mahal di kota Malang yaitu SMUK St Albertus/ Dempo. Rasa malu dan minder membayangi hidupku waktu awal aku masuk sekolah, apalagi mungkin hanya aku yang berasal dari basic SMP di desa. Namun perlahan seiring berjalannya waktu aku merasa dapat mengatasi permasalahan itu. Hal ini karena karena aku mulai dapat berfikir bahwa untuk dilahirkan dari sebuah keluarga yang kekurangan, adalah bukan keinginanku. Tapi ternyata itulah yang terjadi dan tentu saja aku tidak bisa melawannya.
Pada masa awal SMU aku dididik dengan penuh disiplin oleh saudaraku, di rumahnya di malang (karena pada awal sekolah aku ikut tinggal di rumah saudara). Selain itu bersekolah di sebuah SMU dengan latar belakang yayasan Katholik, membuatku menjadi sosok rohaniawan, dengan angan-angan penuh kebaikan. Bahkan pada waktu itu sempat terbersit dalam anganku untuk menjadi seorang biarawan. Hampir Satu setengah tahun aku tinggal di rumah saudaraku, akan tetapi karena suatu hal permasalahan akhirnya aku memutuskan untuk tinggal di sebuah kos-kosan. Walaupun merasa diri tinggal di sebuah kost-kostan mengurangi pengawasan terhadap diriku, namun ini sangat memotivasiku untuk lebih semangat untuk membuktikan kepada orang, bahwa aku mampu untuk bersekolah, dan bisa lulus dari sebuah sekolah, yang konon menurut cerita dari banyak orang, sangat sulit untuk bisa naik kelas atau mendapatkan nilai yang bagus di SMU itu.
Pada masa SMU, aku mengenal seorang motivator yang sering kami panggil dengan nama Ko Yon. Bagi orang seperti aku, menurutku Ko Yon adalah orang yang sangat handal dalam bidang bisnis. Aku sangat antusias sekali dengannya, apalagi saat dia membawakan materi tentang orang yang begitu mudah untuk meraih kesuksesan. Aku serasa dibuai mimpi di siang bolong, angan-anganpun langsung melesat jauh dan menganggap bahwa dengan ikut ekstra kulikulernya-pun, aku merasa sudah menjadi orang yang sukses. Dalam ekstra kulikuler itu, aku dididik atau dicuci otakku dengan pandangan bahwa menjadi orang kaya itu sangat enak dan akan lebih mudah untuk menggapai surg, karena aku bisa memberikan bantuan yang banyak kepada orang lain. Aku sangat bersemangat sekali pada waktu itu, apalagi aku berfikir itu selaras dengan kondisiku saat itu, di mana aku adalah sosok yang sangat saleh. Bahkan saking antusiasnya aku sampai mempraktekkan apa yang aku dapatkan selama dia mengajar. Waktu itu aku membuat kelompok dengan teman-temanku, mencoba membuat sebuah bisnis iklan. Namun entah karena kurang gigih atau belum mendapat kepercayaan, ditambah dengan tidak adanya modal yang mendukung, akhirnya kami gagal karena tidak ada satupun produk yang mau bekerjasama dengan kami untuk mengiklankan produknya di konsep majalah kami. Fakta itulah yang sedikit menurunkan semangatku, namun aku juga tidak mau menyerah dengan bisnis itu saja (mungkin karena sudah terlanjur terbuai dengan mimpi yang terlalu tinggi).
Aku tetap setia dan bersemangat untuk mengikuti ekstra kurikuler beserta dengan pola pikirnya. Akupun dikenalkan dengan sebuah bisnis, yang katanya sangat menguntungkan, sangat cepat, dan juga tidak membutuhkan modal yang cukup banyak. Cukup dengan kemampuan beriklan dapat memberikan keuntungan yang sangat besar. Multilevel Marketing itulah bisnis yang dia perkenalkan lagi. Semangat yang sangat membara ditambah masih kuatnya angan-angan untuk menjadi orang kaya yang sangat berkobar-kobar, membuatku memutuskan untuk segera mengikuti bisnis itu waktu itu aku mengikuti MLM dengan nama AMWAY. Tapi dalam perjalanan lebih jauh aku tersadar bahwa ternyata apa yang dia lakukan pada ekstrakurikuler tentang bisnis itu semata hanya ingin menarik minat dari siswa untuk dapat dijadikan down-line dalam bisnis Multilevel Marketingnya untuk kepentingannya sendiri.
Serasa ditipu habis-habisan, karena setelah dia mencapai tujuan pribadinya, kemudian dia pergi meninggalkan kami begitu saja, dengan dalih akan menetap di Australia. Sejak saat itu aku merasa bahwa tidak ada manusia yang benar-benar tulus dalam menolong orang lain. Tapi ternyata di lain tempat aku masih mempunyai teman yang seperti saudaraku sendiri Almais Tandung seorang dari Pulau Sulawesi yang merantau ke Malang. Banyak suka dan duka waktu SMA (setelah aku tinggal di Kos) yang mewarnai hidup waktu bersahabat dengannya, mulai dari hal yang bersifat positif sampai hal yang bersifat negatif pernah kita lalui bersama.
Selepas masa SMU aku berhenti bersekolah selama 1 tahun. Masa rehat sekolah itu aku gunakan untuk berlibur sekaligus belajar bekerja di Tempat Eyangku Abatan dan Victoria Osi, di Kefamenanu tepatnya di Desa Kaubele. Hampir selama 1 tahun itu aku pernah menjalani beberapa pekerjaan, mulai menjaga persawahan, merontokkan padi dengan mesin rontok, menjaga kios, sampai dengan berjualan di pasar pada waktu hari pasar (setiap hari Sabtu). Banyak hal yang aku nikmati pada saat itu, yaitu kebebasan yang sangat luar biasa. Tapi secara tidak sadar hal itu yang membuat perutku mulai membuncit karena seringanya minum bir atau minuman keras lainnya.
Hampir 1 tahun aku di Kefa akhirnya aku ditelpon oleh Bapak agar segera kembali ke Jawa, untuk melanjutkan Sekolahku. Berat hati ini untuk kembali lagi ke Jawa, karena aku sudah menikmati hidup dan bekerja di Kefa. Akhirnya mau tidak mau aku harus tetap kembali di Jawa karena Eyang dan Omku juga memaksaku untuk pulang dan bersekolah terlebih dahulu, baru nanti kemudian kembali lagi ke Kefa untuk berkerja dan hidup disana. Akupun memutuskan untuk pulang ke Jawa. Aku ingat waktu itu aku pulang dengan membawa uang 5 Juta, nominal yang menurutku sangat besar pada waktu itu. Tanpa berfikir panjang lagi, sesampainya di Jawa, aku langsung membelikan sebuah komputer dengan uang itu (benda yang sangat ingin aku beli semenjak SMA).
Pada saat akan dimulai penerimaan mahasiswa baru di Universitas, akupun mulai mempersiapkan segala sesuatu untuk kepentingan pendaftaran di universitas. Salah satunya adalah dengan mengikuti Bimbingan Belajar. Akhirnya tibalah waktunya untuk melakukan pendaftaran di universitas-universitas. Pada waktu itu aku mengikuti tes di Sanata Dharma Yogyakarta. Karena adanya ikatan kerjasama antara Universitas Sanata Dharma dengan SMUK St Albertus, membuatku yakin bahwa aku pasti akan diterima di Kampus itu. Benar saja, pada waktu pengumuman nama-nama calon mahasiswa yang diterima, tercantum juga namaku didalamnya. Jalan tak selalau mulus, masuk di Universitas Sanata Dharma menyebabkan perkelaihan antara aku dengan Bapak, karena permasalahan waktu aku mengurus administrasi keuangan. Akibat perselisihan itu akupun kabur dari rumah selama hampir selama 2 minggu.
Selain Universitas Sanata Dharma, aku juga mencoba peruntungan lain dengan mengikuti SPMB (tes untuk memasuki Universitas Negeri). Walaupun ada perasaan pesimis akan diterima, tapi aku tetap berusaha untuk mencoba jalur test itu. Aku ingat sekali, waktu itu aku mendaftar untuk jurusan Ilmu Hukum di Universitas Sebelas Maret Surakarta, dan Ekonomi Pembangunan di Unversitas Brawijaya Malang. Tanpa disangka-sangka, ternyata pada saat pengumuman di Koran, nama juga ikut tercantum di dalamnya. perasaan senang bangga tercampur jadi satu. Ibuku yang waktu itu ragu dengan kemampuanku dalam bidang akademik pun kaget dan turut senang dan mulai membanggakan aku.
Masa kuliah sangat merubah pribadiku seperti saat dulu aku masih SD-SMA. Aku yang dahulu sama sekali tidak tertarik dengan kegiatan-kegiatan selain sekolah, menjadi berubah sama sekali waktu memasuki bangku kuliah. Aku menjadi sangat aktif dalam berbagai kegiatan baik internal maupun eksternal kampus. Salah satu yang paling menarik bagiku adalah sebuah organisasi eksternal kampus yang bernama PMKRI. Ketua PMKRI Cabang Surakarta pada waktu itu adalah Stefanus Asat Gusma, seorang mahasiswa D3 Managemen di UNS. Di sini otakku dicuci kembali dengan diperkenalkannya aku dengan Faham Marxisme. Dalam berbagai diskusi, menurutku apa yang sama-sama kami pelajari ini sungguh sangat benar dan bersih. Faham itu telah berhasil merubahku menjadi sosok yang keras dan penuh dengan Idealisme. Implementasi nyata dari Faham itu, adalah dengan aku mulai aktif dalam kegiatan demontrasi menolak kebijakan-kebijakan pemerintah menurutku tidak berpihak dengan masyarakat kecil. Sejak saat itu, angan-anganku untuk menjadi pengusaha buyar. Bahkan aku menjadi merasa benci dengan pemikiran para pengusaha, yang memang tidak sejalan dengan pemikiranku saat itu. Aku menjadi sosok idealis dan semakin menjauh dari sosok ketuhanan. Bahkan aku mulai meninggalkan Gereja, untuk berjalan disebelah kiri bersama kawan-kawan pergerakanku. Tapi karena sebuah permasalahan, akhirnya aku menjadi kecewa dengan beberapa temanku. Aku merasa, melihat dan menilai ada teman-temanku yang sangat getol berbicara tentang keadilan dan kebenaran, tetapi ternyata malah mengambil keuntungan dari situ. Permasalahan itu akhirnya membuatku memutuskan untuk keluar dari mereka, dengan sedikit tersisa idealismeku.
Setelah keluar, akupun memutuskan untuk ikut bekerja bersama temanku "Agung Aditya Putra" atau akrab dipanggil "Mbolox". Dari sini aku mulai mendapatkan penghasilan, hanya untuk sekedar menambah uang jajan. Sejalan dengan ini, akupun menjadi sosok yang pemboros. Sambil bekerja aku mengikuti kegiatan dalam kampus salah satunya adalah aku mengikuti kegiatan MCC atau Moot Court Competition. di situ aku belajar tentang persahabatan yang saling mendukung. Di MCC, kami membentuk sebuah persahabatan yang bukan hanya untuk kepentingan dalam MCC saja. Panitia 8 kami menamai tim yang beranggotakan 8 Orang ini. Aku, Anita Tiar, Eka Yudi, Fadli Alfarisi, Junaidi Arif, Nasyatun Fadillah, Sekar Dianing dan Feri Irina Rahmani bersama-sama belajar tentang kebersamaan dalam sebuah perbedaan. Persahabatan dalam MCC ini terbawa hingga saat ini. Akupun aktif dalam kegiatan MCC hingga akhirku duduk dibangku kuliah.
Sambil menanti wisuda aku sempat bekerja di sebuah LSM di Surakarta yaitu yang bergerak dalam bidang pertanggung jawaban perusahaan terhadap masyarakat sekitar atau CSR. Tapi tidak lama aku keluar, karena aku merasa tidak cocok bekerja disitu. Setelah lulus Kuliah akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke Kefa untuk mencoba peruntungan hidup di sana. Belum sampai di Kefa aku mencoba mengikuti tes-tes pegawai negeri, karena pada waktu itu kebetulan banyak instansi-intansi pemerintah yang sedang membuka rekrutimen pegawai negeri. Karena ada informasi dari temanku, akhirnya pada waktu itu aku mengikuti tes hakim, tapi nasib kurang mujur, hingga akhirnya namaku pun tidak muncul pada waktu pengumuman hasil tes. Bersamaan dengan tes hakim aku mendapat informasi dari pembimbing magangku di Sragen bahwa ada pendaftaran di KPU, akhirnya aku pun memutuskan untuk mengikuti tes KPU mungkin karena nasibku akhirnya akupun lolos tes CPNS KPU dan hingga saat ini aku menjadi Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Sekretariat KPU Kabupaten Flores Timur.
Dari liku-liku perjalanan hidupku akhirnya aku menyadari siapa dan seperti apa sosokku Adityo Danukusumo Usfal sosok yang terlihat sangat percaya diri tapi menyimpan ketakutan-ketakutan, sosok yang periang dan cenderung tidak mau mempersoalkan permsalahan dalam dirinya, sosok yang sangat loyal dan militant dalam menjalani sebuah persahabatan, sosok yang mudah terpengaruh dengan orang lain, dan pribadi yang menganggap bahwa sebagian besar kesuksesan atau kebahagian diukur dengan materi semata, sosok yang takut berada didepan sendirian untuk memulai sesuatu hal. dari sini aku ingin mencoba melihat apa sebenarnya tujuan hidupku.
APA TUJUAN HIDUPKU ???
Merenungi perjalanan hidupku dari mulai kecil hingga 25 tahun berlalu ini aku merasa belum mempunyai tujuan hidup yang sesungguhnya. Semuanya mengalir begitu seperti aliran air. Bahkan aku cenderung menjadi pribadi yang gampang terseret arus dan rapuh untuk mempertahankan kehendakku, dan aku menjadi sosok yang mudah terpengaruh. Dari sini aku menyadari, bahwa hidupku adalah untuk diriku dan keluargaku kelak. Jadi aku merasa, aku harus bisa menjadi nahkoda untuk hidupku sendiri, tanpa terpengaruh siapapun. Aku harus berani untuk memilah-milah mana yang baik dan mana yang tidak baik menurutku, untuk aku lakukan. Aku juga tidak boleh menjadi minder karena apapun yang terjadi, Raga inilah yang akan selalu menemaniku hingga aku mati apapun yang akan terjadi.
Setelah aku mengetahui sosok "aku"aku meyakini sebuah tujuan yang tersimpan di dalamnya. Sebuah tujuan hidupku yang sesungguhnya, tanpa ada suatu intervensi dari orang lain siapapun itu. Dan tujuan hidupku itu adalah sebuah kebahagian sejati, kebahagiaan yang bukan hanya diukur dengan materi, kebahagian yang ingin kuraih bersama keluargaku kelak dan kebahagian seluruh manusia. Itu saja.
Larantuka, 26 September 2011

maaf mas, kalo boleh tau kos2an di malang yg agak aman dimana ya ? karna anak saya juga masuk sekolah dempo tahun ajaran 2012 ini tapi tidak dapat tempat di asramanya, jadi mengharuskan untuk kos, mungkin bisa bantu alamat2 t4 kos daerah malang. ini email address saya, stellamare79@gmail.com. mohon bantu ya mas. Thank's. starsea.
BalasHapusdisekitaran Dempo jalan kurinci itu banyak kos-kossan, kalau saya dulu kos di Jalan Jombang II sebelah Mushola kiri jalan (masuk dari gang Jombang II rumah kedua sebelah kiri), kebetulan bapak dan ibu kosnya baik dan berprofesi guru jadi selain kos kami dulu sering dapat pelajaran tambahan gratis
BalasHapus