Minggu, 29 April 2012

PRASOJO


Dalam kehidupan percintaan, ketika seorang pria merasa tertarik dengan seorang wanita, atau seorang wanita tertarik dengan seorang pria, lalu kemudian mereka tertarik untuk mendekati seseorang yang telah memikatnya, dalam masa pendekatan biasanya ia akan melakukan apa saja untuk mendapatkan incarannya itu. Aku mempunyai seorang teman pada waktu duduk dibangku kuliah, ia tertarik dengan seorang wanita. Karena tidak merasa percaya diri waktu melakukan pendekatan, ia pun berusaha dengan cara apapun. Mulai dari merubah sifat hingga merubah penampilan di luar kebiasaannya. Semua itu dilakukan hanya untuk membuat wanita yang ingin didekatinya tertarik kepadanya. Melihat semua yang ada pada temanku begitu sempurna, akhirnya sang wanita pun menerima permohonan temanku untuk menjalin sebuah hubungan spesial. Setelah beberapa lama menjalin hubungan, akhirnya pelan tapi pasti sifat-sifat aslinya mulai terbuka. Dia yang biasanya mempunyai perhatian yang lebih untuk pasangannya kini mulai berkurang bahkan cenderung menghilang, semua barang-barang mulai dari kendaraan, baju, hingga handphone yang selalu ia gunakan tidak pernah nampak lagi. Saat itu si wanita pun tersadar bahwa ternyata apa yang ia bayangkan dan harapkan ternyata tidak ada sama sekali dalam temanku itu. Semuanya berbeda sama sekali pada waktu masa pendekatan. Ia tersadar bahwa apa yang didapatkannya pada waktu itu hanyalah semu. Merasa dibohongi, akhirnya wanita itu meninggalkan temanku.

Bukan hanya dalam kisah percintaan, dalam kehidupan bermasyarakatpun seringkali terjadi “pemalsuan” seperti itu. Pada suatu hari, ada seorang tetangga saya meminjam uang kepada saya sebesar setengah juta rupiah. Ketika aku tanya untuk kepentingan apa, ia pun menjawab untuk mengadakan pesta sambut baru (kebiasaan masyarakat Larantuka atau Nusa Tenggara Timur pada umumnya untuk mengadakan pesta perayaan, untuk umat Katholik yang baru menerima komuni pertama) untuk anaknya. Secara ekonomi tetanggaku bisa dibilang pas-pasan saja bahkan cenderung kekurangan. Tetapi karena kebiasaan yang berlaku di masyarakat sini, dan dengan alasan demi anak tetapi juga mungkin terselip di dalamnya adalah demi prestise atau gengsi keluarga, akhirnya ia tetap mengadakan pesta tersebut walau harus dengan cara apapun. Kemudian yang terjadi setelah pesta usai,  dia pun sibuk dan bingung untuk melunasi hutang-hutang yang dia gunakan membiayai pesta itu, dan pendidikan formal si anak pun menjadi terbengkelai.

Dua Contoh cerita di atas membuatku berkesimpulan bahwa sering kali demi mengejar sesuatu untuk memuaskan nafsu duniawi,  banyak orang yang kemudian mengadakan apa yang biasanya tidak ada, atau selalu menonjolkan kebaikan diri dan menutupi kekurangan yang dimiliki. Dengan bersikap seperti  itu, secara tidak sadar, sebenarnya orang itu telah melakukan sebuah penipuan atau kebohongan terhadap orang lain atau diri sendiri. Memang dengan melakukan itu dia dapat meraih sebuah kebahagian, tetapi kebahagian yang diraihnya adalah sesuatu yang semu. Lebih parah lagi kebahagian atau kepuasaan itu juga bisa hilang dalam sekejap mata, atau bahkan bisa menjadi  sebuah petaka yang merugikan dirinya sendiri dan mungkin juga orang lain. Hal ini dikarenakan apa yang dia lakukan adalah sebuah kepalsuan, dan dengan yang ia lakukan itu, secara tidak sadar sebenarnya dia juga menerima sebuah kepalsuan.

Dalam Bahasa Jawa aku mengenal kata yang menurutku mempunyai makna sangat dalam. “Prasojo”. "Prasojo" Dalam Bahasa Indonesia berarti apa adanya, atau sesuai dengan apa adanya, tidak dilebih-lebihkan dan tidak dikurang-kurangkan.  Apa yang diberikan adalah sesuatu yang asli, maka apa yang dia terima pun adalah sesuatu yang asli. Entah dia dengan keasliannya itu dia akan menerima sesuatu yang buruk atau baik, tetapi semuanya asli tanpa ada sebuah kepalsuan. Dengan begitu dalam hal berteman ia akan mendapatkan teman yang benar-benar merupakan teman, dalam hal percintaan ia akan mendapatkan pasangan yang benar-benar mau menerima segala kekurangan dan kelebihannya dan dalam aspek kehidupan yang lain ia akan mendapat sesuatu yang asli bukan palsu. Seorang Jawa Bijaksana berkata “dadio uwong sing prasojo” artinya mengajak menyuruh kita supaya dalam kehidupan sehari hari kita menjadi orang yang apa adanya atau tidak memalsukan diri kita sendiri. 
Jadi silahkan memilih apakah ingin yang “Asli” atau “Palsu” ??
Semuanya terserah anda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Entri Populer