Dalam kehidupan
percintaan, ketika seorang pria merasa tertarik dengan seorang wanita, atau
seorang wanita tertarik dengan seorang pria, lalu kemudian mereka tertarik untuk
mendekati seseorang yang telah memikatnya, dalam masa pendekatan biasanya ia
akan melakukan apa saja untuk mendapatkan incarannya itu. Aku mempunyai seorang
teman pada waktu duduk dibangku kuliah, ia tertarik dengan seorang wanita.
Karena tidak merasa percaya diri waktu melakukan pendekatan, ia pun berusaha
dengan cara apapun. Mulai dari merubah sifat hingga merubah penampilan di luar
kebiasaannya. Semua itu dilakukan hanya untuk membuat wanita yang ingin
didekatinya tertarik kepadanya. Melihat semua yang ada pada temanku begitu
sempurna, akhirnya sang wanita pun menerima permohonan temanku untuk menjalin
sebuah hubungan spesial. Setelah beberapa lama menjalin hubungan, akhirnya pelan tapi
pasti sifat-sifat aslinya mulai terbuka. Dia yang biasanya mempunyai perhatian yang lebih untuk pasangannya kini mulai berkurang bahkan cenderung menghilang, semua barang-barang mulai dari
kendaraan, baju, hingga handphone yang selalu ia gunakan tidak pernah nampak
lagi. Saat itu si wanita pun tersadar bahwa ternyata apa yang ia bayangkan dan
harapkan ternyata tidak ada sama sekali dalam temanku itu. Semuanya berbeda
sama sekali pada waktu masa pendekatan. Ia tersadar bahwa apa yang
didapatkannya pada waktu itu hanyalah semu. Merasa dibohongi, akhirnya wanita
itu meninggalkan temanku.
Bukan hanya dalam kisah
percintaan, dalam kehidupan bermasyarakatpun seringkali terjadi “pemalsuan”
seperti itu. Pada suatu hari, ada seorang tetangga saya meminjam uang kepada
saya sebesar setengah juta rupiah. Ketika aku tanya untuk kepentingan apa, ia pun
menjawab untuk mengadakan pesta sambut baru (kebiasaan masyarakat Larantuka
atau Nusa Tenggara Timur pada umumnya untuk mengadakan pesta perayaan, untuk
umat Katholik yang baru menerima komuni pertama) untuk anaknya. Secara ekonomi
tetanggaku bisa dibilang pas-pasan saja bahkan cenderung kekurangan. Tetapi
karena kebiasaan yang berlaku di masyarakat sini, dan dengan alasan demi anak
tetapi juga mungkin terselip di dalamnya adalah demi prestise atau gengsi
keluarga, akhirnya ia tetap mengadakan pesta tersebut walau harus dengan cara
apapun. Kemudian yang terjadi setelah pesta usai, dia pun sibuk dan
bingung untuk melunasi hutang-hutang yang dia gunakan membiayai pesta itu, dan pendidikan formal si anak pun menjadi terbengkelai.
Dua Contoh cerita di
atas membuatku berkesimpulan bahwa sering kali demi mengejar sesuatu untuk
memuaskan nafsu duniawi, banyak orang
yang kemudian mengadakan apa yang biasanya tidak ada, atau selalu menonjolkan
kebaikan diri dan menutupi kekurangan yang dimiliki. Dengan bersikap seperti itu,
secara tidak sadar, sebenarnya orang itu telah melakukan sebuah penipuan atau
kebohongan terhadap orang lain atau diri sendiri. Memang dengan melakukan itu
dia dapat meraih sebuah kebahagian, tetapi kebahagian yang diraihnya adalah
sesuatu yang semu. Lebih parah lagi kebahagian atau kepuasaan itu juga bisa hilang dalam sekejap mata, atau bahkan bisa menjadi sebuah petaka
yang merugikan dirinya sendiri dan mungkin juga orang lain. Hal ini
dikarenakan apa yang dia lakukan adalah sebuah kepalsuan, dan dengan yang ia
lakukan itu, secara tidak sadar sebenarnya dia juga menerima sebuah kepalsuan.
Dalam Bahasa Jawa aku
mengenal kata yang menurutku mempunyai makna sangat dalam. “Prasojo”. "Prasojo" Dalam
Bahasa Indonesia berarti apa adanya, atau sesuai dengan apa adanya, tidak dilebih-lebihkan dan tidak dikurang-kurangkan. Apa yang diberikan adalah sesuatu yang asli,
maka apa yang dia terima pun adalah sesuatu yang asli. Entah dia dengan
keasliannya itu dia akan menerima sesuatu yang buruk atau baik, tetapi semuanya
asli tanpa ada sebuah kepalsuan. Dengan begitu dalam hal berteman ia akan
mendapatkan teman yang benar-benar merupakan teman, dalam hal percintaan ia
akan mendapatkan pasangan yang benar-benar mau menerima segala kekurangan dan
kelebihannya dan dalam aspek kehidupan yang lain ia akan mendapat sesuatu yang
asli bukan palsu. Seorang Jawa Bijaksana berkata “dadio uwong sing prasojo”
artinya mengajak menyuruh kita supaya dalam kehidupan sehari hari kita menjadi
orang yang apa adanya atau tidak memalsukan diri kita sendiri.
Jadi silahkan memilih
apakah ingin yang “Asli” atau “Palsu” ??
Semuanya terserah anda.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar