Pertama kali aku
ngebuktiin kalo apa yang digambar di peta adalah sebuah kebenaran, yaitu waktu
tahun 1999 tepatnya pas aku masih kelas 3 SMP, waktu itu aku adalah anak SMP
yang polos, lugu dan cukup ndeso, tapi punya hasrat buat bisa naek alat transportasi
selain sepeda, motor, atau mobil aku pengen jalan-jalan tapi di tempat yang
jauh (gag Cuma Solo-Jogja-Klaten itu aja belom tentu setahun sekali), tapi aku
cukup bersyukur dengan ke-ndesoan-ku karena berkat itu aku punya rasa penasaran
yang sangat luar biasa sehingga selalu muncul gejolak nafsu yang sangat luar biasa untuk menjawab rasa penasaranku. Kembali lagi ke penasaran tentang pembuktian apakah peta itu bener atau ngga, akhirnya hampir tiap hari aku memaksa Bapakku biar mau ngajak aku pulang kampung halamannya yang sangat jauh dari perkiraanku (bayanganku adalah java khususnya klaten-solo-jogja), oh ya sebelumnya biar nggak rancu aku kasih bocoran dikit dah kenapa aku selalu maksain Bapak, kebetulan oleh kehendak yang Maha Kuasa, Esa sekaligus bijaksana, aku diberi anugerah berupa Bapak yang berasal dari sebuah pulau di luar jawa di daerah terpencil yang konon belum terdapat listrik disana (sampe sekarang dan mungkin selamanya pun listrik gag berminat buat kesana!!!) begitu kuatnya desakanku ditambah lagi dukungan dari koalisi (sodara dari Bapak) akhirnya meluluhkan hati Bapak buat memberangkatkan ku ke tempat kelahiran Bapakku.
Seperti informasi dari informan di atas akhirnya keturutan juga aku berangkat ke NTT waktu itu aku berangkat sama Omku namanya Om Maksi, sebelum berangkat ke NTT aku diajak terlebih dahulu di Mess tempat Om ku di Malang dan ini adalah kali pertama aku keluar dari Provinsi Jawa Tengah. setelah menginap di Malang kami akhirnya berangkat menuju Bali tepatnya Tanjung Benoa Bali, Pelabuhan besar di Bali pas berangkat menuju bali dan itu pertama kali aku keluar dari Pulau Jawa dan pertama kalinya aku naik alat transportasi yang cukup besar yaitu Kapal Feri pertama aku melakukan perjalanan ini tiap malam aku nggak pernah bisa tidur membayangkan besok mau naik kapal sekaligus berharap cepat-cepat hari berganti dan aku bisa merasakan naik kapal. tidak pernah sedikitpun aku merasa takut pertama kali aku naik kapal karena aku bisa berenang tapi ternyata laut gag seperti bayanganku (karena seringya ngeliat jolotundo/kolam pemandian) tapi walau melihat laut begitu luas rasa takut juga tak kunjung muncul karena kebahagianku menikmati perjalanan ini. setelah naik kapal feri menyebrangi selat bali akhirnya tibalah kami di Bali, hmm pulau yang sangat mistik menurutku (karena kulihat setiap pohon besar pasti disarungin). setelah perjalanan darat lagi akhirnya sampailah kami di Pelabuhan Tanjung Benoa Bali yang aku lihat di Peta letaknya di sebelah timur selatan bali. sesampainya di Pelabuhan, kami pun menginap 1 hari di Bali karena kapal yang akan kita tumpangi baru dijadwalkan besoknya baru tiba, saat itu kami menunggu dan tidur di Pelabuhan Bali. hati ini rasanya semakin tidak tenang ingin segera menaiki kapal yang akan kita tumpangi besok untuk perjalanan menuju NTT, dari mulai ngga bisa tidur, nggak tenang saat makan (takut kebelet) sampe ngga bisa buang air besar (aer di bak pelabuhan gag ada ntar kalo nekat cebok pake apa coba?) menjadi bentuk nyata dari kegelisahan itu. Hari pun akhirnya berganti dan matarahari keluar dari sarangnya lagi, sekarang tibalah saatnya kapal itu datang pada sore hari, sangat besar sekali kataku dalam hati dengan polosnya sambil berkata wah kalo punya rumah segede kapal ini nyapunya gimana ya? pas mau naik ke kapal, aku sangat kaget karena naik kapal nggak seperti kita kalo mau naik angkot atau bis kota, antri yang sangat luar biasa (bisa nyampe ribuan orang) apalagi jaman dulu naik orang masih jarang banget naik yang namanya pesawat karena harga tiket pesawat lumayan mahal + aku naiknya kelas ekonomi jadi harus rebutan buat dapetin tempat tidur di atas kapal (waktu itu belum tau sikon di atas kapal) mau tidak mau akhirnya aku pun segera membaur dalam antiran itu. Rasa panas, berat (karena bawaan kaya orang mau pindahan), desak-desakan, sesak menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain tapi semua itu dapat kulawan karena waktu itu badanku tak segemuk sekarang, dengan perjuangan yang sangat keras ditambah bantuan kebersamaan dari teman-teman Om Maksi, akhirnya aku pun berhasil melewati antrian itu. sesampainya di atas Om Maksi menanyakanku "adit kamu mabuk laut tidak?? nanti istirahat di dek kapal saja"aku pun menjawab "ndak tau Om saya belum pernah mabuk jadi ndak tau", "okelah kalau begitu" jawab Om Maksi. Rasa desak-desakan dan sebagainya ternyata tidak berhenti sampai di atas kapal saja, ternyata setelah naik di atas kapal kita juga harus berpacu dengan penumpang-penumpang yang lain untuk mendapatkan tempat di dalam deck kapal, mulai dari deck 5 sampai deck 3 kami susuri untuk mendapatkan tempat yang masih kosong, nah ada yang berbeda dalam perburan tempat ini, karena biasanya para penumpang sudah memesan tempat dari orang (entah saudara atau teman) penumpang yang mau turun untuk memakai tempatnya, selain itu para ABK juga sering menyewakan matras untuk tidur (padahal seharusnya itu fasilitas kapal tapi maklumlah Indonesia) nah setelah berkeliling akhirnya kami pun mendapatkan tempat di deck 3 setelah mendapatkan tempat kami pun segera mengatur posisi, nah kalau sudah dapat tempat, nanti biasanya kalau ada yang tanya "masih ada yang kosong ko?" pasti selalu dijawab "sudah penuh" walaupun tempat itu masih ada 1 atau 2 tempat yang masih kosong (tempat tidur di kapal kelas ekonomi seperti barak tentara) memang sifat individualisme manusia kentara sekali disini. setelah kami selesai menata posisi, akhirnya terdengar pengumuman yang bunyinya kira-kira seperti ini "Selamat datang para penumpang KM Awu, diberitahukan bahwa sesaat lagi KM Awu akan segera di berangkatkan kepada para pengantar dimohon segera meninggalkan kapal karena kapal sebentar lagi akan diberangkatkan" saat ini suasana menjadi ramai kembali banyak orang-orang di dalam kapal yang ternyata adalah pengantar penumpang saja, para pengantar ini pun segera berlari-lari mencari pintu keluar karena takut terbawa kapal, nah begitu para pengantar ini turun, ternyata jumlah penumpang jadi menyusut lumayan banyak sehingga kapal pun menjadi agak longgar. begitu kapal akan diberangkatkan, dalam diriku muncul rasa penasaran dan langsung aku pamit ke Om Maksi untuk keluar dari deck untuk melihat keberangkatan kapal aku pun keluar di sisi samping.
Akhirnya kapal pun diberangkatkan, lambaian tangan dari pengantar yang masih berada di pelabuhan yang di balas lambaian tangan dari para penumpang di atas kapal pun mengiringi keberangkatan kapal, aku pun tak mau kalah, biar nggak ada yang ngantar aku juga ikut melambaikan tangan sambil berteriak-teriak histeris manggil dari Eyang sampai cucu. setelah kapal agak manjauh dari pelabuhan akupun berjalan-jalan menyusuri tiap bagian kapal dari ujung sampai ujung, dan ternyata cukup menguras energi karena memang alat transportasi yang satu ini sangat besar sekali. setelah berjalan-jalan akhirnya aku menemukan tempat paling favorit di atas kapal yaitu kafe/kantin kapal yang umumnya terletak di belakang atas bagian kapal, tempat ini paling menyenangkan menurutku karena dari sini kita bisa duduk sambil melihat pamandangan sambil mendengarkan musik dan ngobrol-ngobrol dengan sesama penumpang. Naik kapal laut membutuhkan waktu yang sangat lama sehingga karena itu membuat berada dalam alat transportasi kapal ini sering kali menjadi menjadi ajang perkenalan bahkan tidak jarang juga yang ketemu jodohnya di atas kapal (kalo gag salah tanteku adalah bukti nyata-nya) dan disinilah letak seni menggunakan alat transportasi ini, karena di dalam kapal kita dapat bertemu, bertukar pikiran dalam bidang apa saja dengan siapa saja dari berbagai suku bangsa di Indonesia atau bahkan dengan turis asing yang tak jarang juga menggunakan alat transportasi ini.

Kembali ke cerita ku di awal, setelah menemukan tempat favoritku aku pun duduk dan memesan minuman di kafe itu (harga makanan di atas kapal ternyata miring tapi naik) setelah itu pelan-pelan akhirnya aku mendapat seorang kenalan penumpang dari Waingapu Sumba, kami pun ngobrol tentang daerah masing-masing dan dilanjutkan obrolan kana kiri yang tidak jelas arah juntrungannya, setelah itupun aku mulai semakin berani membuka perkenalan-perkenalan yang lain hingga waktu itu hampir di setiap bagian kapal aku mempunyai kenalan (serasa jadi artis ueyy) dan setiap lewat pasti ada yang manggil namaku, setelah ngobrol, kira-kira jam 7 sore terdengar pengumuman bahwa akan diadakan pemeriksaan tiket kepada penumpang, dan untuk memperlancar jalannya pemeriksaan untuk sementara semua pintu akan ditutup dan penumpang dilarang mondar-mandir, kaget dan takut akhirnya akupun segera bergegas turun untuk mencari Om Ku, tapi terlambat ternyata pintu sudah terkunci sehingga aku pun ngga bisa masuk lagi tapi aku agak merasa tenang karena tiket kapal waktu itu kubawa sendiri tapi yang menjadi masalah berikutnya adalah aku udah nahan kencing agak lama dan diluar ngga ada tolietnya hmmmmmm bayang pun.. mau ngga mau aku pun berusaha menahan rasa itu dengan sekuat tenaga, setelah tau terkunci akupun segera kembali ke posisi awal yaitu di kafe kapal dalam pikiranku wah ini sampai kapan pintunya dikunci kalau sampai besok parah dah. Kira-kira setelah setengah jam berlalu datanglah beberapa orang berseragam Putih-putih datang dan meminta karcis kami, akhirnya karcis itu saya berikan tapi kemudian setelah di cek sebentar karcis itu di berikan kembali padaku, eitzzz tapi jangan di buang lansung tiketnya karena ternyata dalam tiket itu terdapat doorprize berupa jatah makan di pantri. setelah petugas itu berlalu tidak lama kemudian di umumkan bahwa pemeriksaan tiket sudah berakhir, akhirnya akupun mencoba kembali turun untuk masuk dalam deck dan ternyata amin, pintunya sudah terbuka segera aku berlari mencari toilet untuk segera membuang air yang sudah lumayan lama aku tahan. setelah selesai membuang hajat ternyata masalah baru muncul yaitu aku lupa dimana tempat Om Ku, wah yang satu ini membuatku agak bingung bukan main aku terpaksa menyusuri kembali deck demi deck yang mambutuhkan waktu sekaligus tenaga extra karena hampir semua deck bentuknya sama, setelah kira-kira 1 jam akhirnya aku menemukan posisi Om Ku di dalam Deck. karena sudah sore semua penumpang pada sibuk untuk mandi dan membersihkan badan, melihat antrian kamar mandi yang cukup panjang akhirnya aku memutuskan untuk menunda waktu mandiku, dan akupun menanti sambil mengobrol dengan Om Maksi dan teman-temannya. Kira-kira pukul 21.00 WITA aku melihat kamar mandi sudah kosong, aku pun memutuskan untuk mandi sekaligus menghilangkan keringat yang membuat lengket badan ini. setelah mengambil semua alat mandi aku pun segera menuju ke kamar mandi. dengan percaya diri aku segera mengalirkan shower dalam kamar mandi segar rasanya, walaupun air di kapal ngga seperti air di darat tapi tetap serasa segar. setelah mengguyur badan dengan shower segera aku matikan shower untuk mengelap badan ku dengan sabun, segera usap seluruh badanku, lekuk demi lekuk tubuhku aku usap dengan sabun hingga berbusa dari ujung kepala sampai dengan ujung kaki hingga mata pun susah melek, dengan meraba-raba akhirnya aku menemukan kran shower nah pas aku putar eh aernya udah ngga ngalir lagi, hmmmmmmmm dalam hati alamat dahhh dengan setia aku menunggu hingga setengah jam, tapi tetap tidak ada tanda-tanda air akan mengalir kembali, aku pun hanya bisa pasrah sambil ngedumel dalam hati "tau gitu tadi nggak usah mandi malah aman" dan selanjutnya itu aku gunakan waktuku terkurung dalam rasa dingin untuk merenung menyesali dosa-dosa masa laluku, satu jam berjalan akhirnya ada tanda-tanda air dengan tetes demi tetes air yang turun dari shower satu tets berarti untuk semua ini kurasakan betul saat terkurung di dalam kamar mandi kapal, tetes demi tetes yang turun aku ratakan ke semua badanku hingga tak terasa 2 jam berlalu dan akhinya busa pun hanya tersisa sedikit tapi masih terasa agak lengket, dan setelah itu aku pun langsung keluar dari kamar mandi, seluruh badanku menjadi mengkerut. dan sejak saat itu aku berjanji untuk tidak lagi mandi dalam kapal. dan dari peristiwa itu akhirnya membuatku trauma dan ngga berani makan dikapal takut nanti pas buang air besar tiba-tiba macet bisa jongkok sampe 2 jam aku. setelah selesai menghadapi cobaan bertubi-tubi itu akhirnya cukup membuatku trauma untuk melakukan beberapa kegiatan di atas Kapal.
Banyak kejadian unik lainnya yang kulalui saat aku menikmati perjalanan di atas Kapal, pernah suatu malam waktu itu aku naik kapal Dobonsolo dari Kupang tujuan Surabaya, waktu itu sore hari kau berkenalan dan sempat sedikit ngobrol dengan Orang dari Papua di Luar deck kapal tepatnya di atas pelampung keselamatan kapal orangnya tinggi kekar dan sangar tapi baik, nah pada malam harinya aku tidur sendirian di bangku samping di luar deck karena aku memang malas untuk tidur di dalam deck, pas lelap-lelapnya tidur tiba-tiba ada yang meraih kerah bajuku dan mengangkatku dalam posisi berdiri di atas kursi sayup-sayup mata ditambah kesadaran yang baru naik sekitar 5 watt, aku perhatikan ternyata orang yang berkenalan dan ngobrol sama aku tadi sore. dalam posisi berdiri di atas kursi dan dia di bawah saja tinggi badan kami sama. setelah agak sadar akhirnya betapa kagetnya aku ternyata dia dalam keadaan mabuk parah sambil menanyakan dompetnya yang hilang kepadaku dengan sangat emosi. takut ngeri, bingung kenapa nanya dompet ke aku padahal waktu itu perasaan ngga ada sama sekali potongan copet, belum menurunkan kerah bajuku tiba-tiba dari ujung kapal muncul lagi segerombolan teman-temannya berteriak (entah teriak apa) sambil berlari kepadanya, dalam bathin ini langsung berkata matilah aku malam ini. sesampainya gerombolan itu di tempat kami satu orang langsung menariknya dan bilang bukan-bukan ini kawan kita langsung serasa mendapat setetes air di tengah hamparan padang pasir, legaaa plong akhirnya aku nggak jadi malam itu, kejadian ini memberikanku pelajaran bahwa berbuat baiklah kepada setiap orang maka di dalam situasi yang sangat sulit pasti akan ada orang yang menolongku.
Di kapal juga aku berkenalan dengan seorang dari Belanda bernama Sam Van Vliet atau akrab kupanggil dengan nama Samuel pas dengan dia juga banyak cerita seru di atas kapal mulai dari diuber-uber orang gag jelas yang cukup membuat dia risih sehingga kamipun membantu untuk melarikannya dari uberan orang tak dikenal itu, pas waktu itu kebetulan ada penumpang cewe bule juga dari german, bermodalkan nekat akhirnya akupun mengajak berkenalan sebelum berkenalan aku tanya sedikit dulu ke Samuel tentang cara pendekatan awal, nah waktu itu pas mau tenggelam mataharinya lalu aku dengan sok tau dan pedenya aku pun menghampirinya dan berkata "would u want to look sunset? but we must wait for one a clock" mendengarku itu cewe bule kebingungan aku pun juga jadi ikutan bingung kenapa ini orang bingung, tapi melihat dia kebingungan aku pun gag kehabisan akal aku coba menambahkan dengan bahasa isyarat tapi ternyata dia tetap bingung, melihat situasi ini Samuel pun tanggap dan langsung menyambung pembicaraan kami akhirnya akupun tertolong malu-maluin sih tapi pede aja kali besok juga udah nggak ketemu lagi. dari perkenalan itu akhirnya Samuel pun mengikuti kau hingga sempat 3 hari menginap di kosan di malang dan satu minggu di rumah Klaten.
Pernah juga aku mengalami berdiri terus saat perjalanan dari Kupang menuju Makasar dengan Kapal Dorolonda, waktu itu aku berkenalan dengan mahasiswi dari Makasar nah dari perkenalan itu kamipun bermain kartu untuk mengusir kebosanan selama di Kapal kami waktu itu bermain permainan Jenderal, yang sebelumnya aku nggak tau gimana pola permainan itu tapi tetap aja aku nekat buat ikut dalam permainan itu (di jawa kan biasanya main 4-1, minuman, malingan dan remi saja), padahal sebelum bermain aku udah dikasih tau kalau peraturannya kalau kalah maka hukumannya berdiri sampai bisa menang, memang sebelum bermain aku sempat diajari sedikit cara bermain dalam permaianan ini walaupun belum terlalu paham tapi tetep akhirnya aku bergabung untuk bermain, nah parahnya selama dalam permainan nggak satu kalipun aku menang dalam permainan itu dan buset konsekuensi yang haru aku tanggung adalah berdiri selama perjalanan dari Kupang sampai Makasar owh man karena inilah akhirnya betisku menjadi besar sekali (padahal emang udah bawaan lahir). selain itu masih banyak pengalaman-pengalaman yang menurutku menarik selama aku menggunakan alat transportasi massal ini.
selain itu dari sini aku bisa mendapatkan banyak pelajaran berharga dalam hidupku yang tak akan pernah terlupakan mulai dari pentingnya teman, keankaragaman manusia, kewaspadaan dan masih banyak hal-hal yang lain lagi. itulah sedikit pengalamanku yang membuat aku begitu menikmati perjalan di atas kapal.
KMAwu,
KM Dobonsolo, KM Dorolonda, KM Sirimau telah memberikanku kenangan yang begitu indah, unik dan tak terlupakan. Terima Kasih. Ayo Semua Kita Naik Kapal.....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar