| Persiapan Pemberontakan Republik Timor Raya |
Jam 7 malem aku masih asyik menikmati 2 buah mangga
hasil kiriman dari Om Teus di rumah atas (rumah Ba’i), sambil jaga kios +
nonton bola (pas Tim Garuda yang maen skor sementara 2-2, yang nonton sekampung (listrik
belum masuk desa), maklumlah di Republik ini kan
pemerataan pembangunan Cuma di Pidato Pejabat ama UUD 45 aja), nah pas babak
dua, tiba-tiba Om Agus manggil Om Teus katanya ada yang nyari +nunggu di Rumah
atas. Panggilan itupun langsung bersambut, Om
Teus segera keluar dan menemui si Pencari. Setelah keluar nggak lama Om Teus
masuk lagi terus minta dompet yang
notabene adalah gantungan kunci motor, setelah kukasih ternyata Om Teus cuma mau ngambil duit di dalam dompet (untung aku
gag tau, coba aku tau langsung kusikat rata dah). Setelah itu tiba-tiba Om Cipri pun ngomong ke Om Teus
kalau jam segini, apalagi pas bulannya terang (bukan karena tanggal muda loo)
tapi malam ini pas banget buat berburu musang, gag tau tumben telingaku malam
ini peka banget hingga aku mendengar pembicaraan, akhirnya tanpa sebuah
komando, rasa panasaran (selalu mau tahu) pun muncul, dengan rasa yang
menggebu-gebu (bagaikan pahlawan waktu berperang melawan Belanda), akhirnya
akupun memutuskan untuk ikut andil dalam perburuan.
Aku pun langsung bilang ke Om Teus untuk ikut berburu,
mungkin karena melihat posturku yang agak kurang ideal (163/75) ditambah
kegiatanku selama di Kaubele cuma makan + tidur (tuntutan cuaca) padahal yang
di dalam kurung cuman alesan saja, tapi aku tetap memaksa untuk ikut. Akhirnya
karena melihat keteguhanku Om Teus pun
mengijinkan aku untuk ikut dalam perburuan itu. Setelah mendapat ijin, akupun
segera mempersiapkan sesuatu untuk bekal dalam perburuan itu, mulai dari air
mineral satu botol, jaket tebal dan berat, rokok surya 12, handphone, kamera
segera aku masukkan dalam tas punggungku.
Pas aku menjinjing tas dari dalam kamar, Om
Cipry menegurku “buat apa bawa tas itu??” dan aku pun menjawab dengan lantang
“perbekalan berburu”. Begitu aku keluar rumah, sekegar ku-start motor dan
menuju ke rumah Om Teus. Sesampainya disana
ternyata Ferdi dan Om Kelemes sudah menunggu
lengkap dengan senapan dan 3 ekor anjing pelacak.
| Dalam Perjuangan Tetap Ada Senyum Pepsodent |
Akhirnya kami 5 orang
(Saya, Ferdy, Om Teus, Om Kelemes dan Om Endik)
segera berangkat ke tempat perburuan, sebelum berangkat, Om Teus menanyakan
kembali pertanyaan yang ditujukan kepadaku “kamu bisa tidak jalan di bukit??”
dengan lantang lagi aku jawab “bisa”. Setelah itu kamipun berjalan menuju bukit
yang ada di depan rumah, baru berjalan 3 menit (masih dipinggiran bukit) 3
anjing yang kami bawa dengan serempak berlari ke arah 1 pohon sambil
menggonggong dengan keras dan galak dengan langkah seribu kamipun
mengikuti ketiga anjing itu sambil dalam hati tegang mau dapet musang begitu
sampai ditempat segera kami mengkokang senjata sembari mengarahkannya kepohon
sedang 1 orang menyenter pohon itu setelah. Setelah
agak lama mencari-cari dengan senter ternyata bukan musang yang nangkring di
pohon tapi cuma kucing yang takut dikejar anjing... hemmmm... pupus harapan
mendapatkan musang kecewa dah gag jadi makan, tapi tenang itu baru awal
perjalanan. Setelah tahu salah buruan, kami pun melanjutkan perjalanan dan
mulai menaiki bukit yang pertama, pas ngeliat medan langsung mental jadi
nge-down bayangin aja bukitnya ternyata curam banget 60 derajat setinggi
kira-kira 20 meter, mana tanahnya bukan tanah kuat ditambah sendal yang aku
pake adalah sendal selop sungguh berat kurasa, tapi untungnya tertolong
akar-akar yang sudah agak kering, tapi harus waspada karena kalo kita tarik
akarnya agak kuat pasti langsung tercabut dan itu berarti mungkin tubuhku
bagaikan bola yang menggelinding dari atas kebawah, tapi jangan salah tantangan
pertama berhasil aku lalui dengan perjuangan super hardcore pokoknya tapi pas
berhasil berada di puncak yang agak datar sebenernya aku pengen banget
istirahat sejenak, eh ternyata yang laen udah pada turun lewat balik bukit
waduh padahal tenggorokan ini rasanya dah kering banget, ditambah beban tas
yang luar binasa beratnya bonus nafas yang rasanya dah hampir putus terpaksa
harus tetap berjalan ngikutin mereka daripada ditinggalin mana ngga tau
jalannya, ditambah gelap lagi, tapi aku agak sedikit bernafas lega karena
jalannya menurun jadi nggak terlalu berat, cuman kakiku udah keder banget
jadinya agak takut juga pas jalan menurun (takut gag kuat ngerem) setelah
menuruni bukit akhirnya kami pun bertemu dengan sungai, tapi sungainya cuman
sedikit airnya karena pas musim kering, padahal lebarnya kalo dibandingin ama
bengawan solo kira-kira dua kali lipatnya, nah pas udah nyebrang, aku bertiga
sama Om Kelemes dan Om Teus beristirahat sejenak, sedangkan Ferdy bersama Om
Endik tetap setia menyusuri hutan di pinggiran kali (dalam bathinku gila nafas
apa mereka nie), nah pas istirahat nggak aku sia-siakan begitu saja langsung
air yang kubawa tapi aku keluarin dan langsung ngglek glek glegekkk... sampai
sisa ¾ lega banget rasanya, tapi masalahnya perut ini rasanya jadi agak berat,
tapi yang penting tenggorokanku terobati, eh belum selesai mengatur nafas yang
udah satu-satu nariknya tiba-tiba anjing menggonggong langsung saja Om Teus
bersama tiga orang yang lain berlari menuju tempat anjing menggonggong pas itu
aku mau ikutan lari tapi kakiku masih keder terpaksa aku memilih diam
beristirahat di kali. Tidak lama berselang ternyata buruan mereka sudah
berpindah kepohon yang lain dan mereka pun sibuk mencari tanpa sadar ternyata
jarak ku dengan ketiga orang yang lain udah agak jauh, wah ngeri juga nie mana
gelap gag bawa senter lagi akhirnya mau tidak mau akhirnya aku harus memulai
perjalananku lagi “mencari kitab suci” eh “mencari musang” sebelum jarak mereka
semakin jauh, kali ini agak ringan karena jalannya datar dan emang jalan
umumnya orang lewat tapi tetep aja ada yang bikin susah karena ternyata ada
jalan yang terputus jadi harus menyebrang melalui akar pohon yang agak besar ya
cukup membutuhkan perjuangan karena butuh keseimbangan badan ditambah pas turun
ke akarnya juga membutuhkan tenaga buat nahan berat badan di pohon tapi tetep berhasil pas udah nyebrang akhirnya
kami pun bersama-lagi, nah mereka sedang berbicara dengan bahasa daerah yang
sepenangkapanku mereka membicarakan rute perjalanan selanjutnya. Perasaanku
udah bener-bener udah nggak enak sama sekali waktu itu karena aku melihat ferdi
menunjuk satu bukit sambil memutar tangannya. Dan bener setelah selesai mereka
ngobrol parjalanan pun dilanjutkan langsung dengan memasuki area perbukitan dan
langsung mengarah ke ujung bukit lemes + nyesel kenapa ngga tidur aja di rumah
sambil nunggu ntar kalo dapet pasti juga dikasih dagingnya tapi percuma aja
nyesel udah sampe pertengahan kalo mundur juga nanggung.
| Laskar Siap Nembak |
Akhirnya akupun tetap mengikuti dan
kali ini bukit yang kunaiki ternyata medannya lebih mengerikan udah curam dan
medannya seperti bukit yang pertama, ditambah lagi bukit itu belum ada jalan
yang dibuka ama penduduk jadi aku harus berjuang menerobos ranting-ranting
pohon yang kering dan cukup lebat minta ampun rasanya dah, raga ini rasanya
udah mau menyerah aja. Untungnya aku membawa tas yang bisa kupake buat tameng
dari ranting-ranting itu, tapi biar udah pakai tameng tas tetep aja
seluruh
badan ku tercabik-cabik oleh keganasan ranting itu malah aku sampe terjebak di
ranting-ranting itu mau mundur udah ngga bisa lagi mau maju sakitnya minta ampun.
Pas di bukit ini kembali anjing menggonggong kembali dan mereka semua pun
langsung berlari mengejar anjing itu. Yang aku heran adalah dalam posisi yang
agak menanjak, ditambah tertutup ranting-ranting kering tetep aja mereka masih
bisa berlari, dan akupun masih sibuk melepaskan diri dari jebakan –ranting itu,
setelah berhasil lolos akhirnya akupun melanjutkan menaiki bukit itu dan
ternyata di puncak bukit adalah areal pekuburan, tapi untungnya aku mempunyai
mental yang nggak pernah takut ama barang yang begituan. Setelah sampai
bergabung kembali, ternyata mereka tetap tidak mendapatkan buruan mereka, dari
puncak itu akhirnya kami pun berjalan kembali menyusuri dari samping bukit
jalurnya sangat miring sekali huftttttttt,,, rontok semua nie badan. Ditambah
luka-luka di semua bagian tangan dan kakiku. Setelah mendapat tempat yang agak
sedikit enak akhirnya kami pun beristirahat sejenak, lumayan dan waktu itu aku
gunakan sebaik-baiknya untuk melepaskan dahaga di tenggorokan lagi. Setelah
rasa dahaga terobati sekarang gantian perut serasa kram karena terlalu banyak
minum air di tambah lagi rasa kebelet pipis menghantuiku terus. Setelah duduk
sekitar 15 menit, akhirnya kamipun melanjutkan kembali perjalanan, satu bukit
lagi sudah menanti sudah menanti dengan medan yang agak berbeda lagi yakni
medan yang berbatu, sedikit ranting tapi banyak durinya dan tetap dengan
kemiringan yang cukup mengerikan, akhirnya kami pun menaiki bukit itu kembali
lagi-lagi aku menjadi penjaga gawang
paling belakang pas sampai di puncak bukit aku melihat hamparan dataran yang
sangat luas dan banyak bukit-bukit menjulang lalu aku bertanya ke Om Kelemes,
posisi kampung kita dimana, lalu Om Kelemes menunjuk barisan bukit yang keempat
dan berkata “nah itu letak kampung kita” jadi kita berkeliling tadi. Aku
melihat dengan seksama dan langsung berkata dengan spontan “gila jauh juga ya” owhhh
man langsung berfikir ini belum berakhir ditambah lagi perjalanan pulang
rasanya udah males banget pengen tidur disitu aja tapi tetep aja gag bisa
karena yang lain tetep jalan, setelah membayangkan itu semua aku kemudian
melihat kebawah, ternyata yang lain udah pada jalan sendiri-sendiri menyebar ke
tiga arah.
| Hayo Pada Turun Ngga!! |
| Ada yang lihat penampakan ngga? |
Aku pun memutuskan mengikuti On Endik yang memang jaraknya
paling dekat denganku, kemudian aku melihat Om Endik berhenti dan memukul
batang pohon dan terdengar suara burung terbang meninggalkan sarangnya, segera
Om Kelemes menyusul Om Endik dengan cepatnya, sesampainya di pohon, mereka
berdua berbicara entah apa maksudnya Cuma pada intinya mereka membicarakan
bahwa ada anakan burung tekukur,lalu mereka pun mengambil sepotong kayu dan
mencungkil sarang itu, otak-atik kulihat mereka mencoba menurunkan isi di dalam
sarang itu, waktu itu aku gunakan sebaik-baiknya untuk beristirahat, tidak lama
2 ekor anak tekukur pun jatuh ke tanah segera saja Om Kelemes mengangkatnya,
lalu akupun langsung berkata, itu harus dipelihara jangan langsung dimakan,
heheheee dalam hatiku kasihan burungnya masih kecil dan imut-imut (memang ngga
ada sama sekali jiwa pemburu di dada ini). Setelah itu kami pun melanjutkan
perjalanan menuruni bukit kembali, setelah sampai di tengah bukit kami pun
berkumpul kembali dengan 2 orang yang lain, setelah bertemu kami pun
melanjutkan perjalanan. Karena belum juga mendapat buruan dan hari semakin
mendekati pagi, akhirnya kamipun memutuskan untuk pulang, dalam bathin ini serasa sangat lega sekali akhirnya kami
pun berjalan pulang. tapi ternyata perjalanan pulang pun tak semudah kusangka
ternyata kami juga tetap harus berjalan menaiki dan menuruni bukit lagi owhhh
kaki ini serasa bergetar semua hanya yang membedakan, waktu kami pulang kami
melewati jalan setapak yang sudah biasa di lewati orang jadi tidak terlalu
banyak semak yang sudah merobek kulitku diperjalanan kembali anjing itu
menggonggong owhh man dalam hati ini pasti pada lari nggak jelas lagi ini,
bakalan lewat medan berat lagi ini, dan benar, kulihat Ferdy sudah menaiki
tebing batu yang agak lebat semaknya, sementara aku masih berdiam di tengah
jalan setapak itu. Tidak lama aku mendengar suara nggg nggg nggggggggg....
ternyata setelah aku cari-cari suara itu berada disampingku dalam jumlah yang
cukup banyak, dan saat itulah aku menyadari kalau aku berdiri tepat
disamping sarang tawon yang berada di
semak-semak, kontan saja walaupun nafas sudah hampir putus di tambah kaki yang
gemataran aku langsung berlari dengan kencang (daripada dikejar ketangkep terus
disengat), setelah berlari sampai di ujung jalan setapak itu akupun melihat
batu-batuan yang menjulang tinggi dan ternyata jalan setapak itu habis sampai
situ saja hufttttt.... pening kepala ini rasanya melihat medan itu tapi mau
tidak mau harus tetep kulalui, nah pas naik batu –batu itu aku merayap sambil
mencari pegangan ranting-ranting kecil eh pas megang salah satu ranting ternyata
itu duri langsung saja duri itu menancap dengan gagahnya ditanganku owhhhhh
sakitnya minta ampun kayak disengat tawon langsung saja aku melepas duri itu
satu persatu sampai habis tapi ternyata durinya banyak banget, sakit banget
rasanya telapak tangan ini. Sambil jalan aku melepaskan duri-duri itu. Setelah
sampai di puncak aku melihat ada jalan setapak lagi untuk menuruni bukit,
setelah itu kami pun berjalan turun, dipersimpangan bukit akhirnya kami
memutuskan berpisah kami berdua ke arah kiri, dan mereka bertiga ke arah kanan,
setlah kutanyakan ke Om Teus kenapa kita berpisah Om Teus pun menjawab “itu
rumah di bawah” laga sekali rasanya, dan benar saja ternyata setelah berjalan
menuruni bukit melalui jalan setapak kami pun langsung sampai di depan rumah, lega
sekali rasanya kalo diibaratkan seperti menemukan Sumber Air ditengan padang
gurun.
Sesampainya di rumah akupun duduk
sejenak membasuh peluh yang ternyata sudah membasahi seluruh badan ini, setelah
itu aku lanjutkan dengan tidur dan bisa ditebak, akhirnya akupun bangun pada
sore hari (padahal yang lain pagi-pagi banget udah pada bangun). Itulah
pengalaman pertama dan mungkin akan jadi yang terakhir aku berburu Musang, udah
nggak dapat hasil, ditambah aku ternyata salah membawa peralatan (gag perlu bawa
jaket) yang Cuma nambah beban aja, badanku tercabik-cabik ranting dan duri,
nafas ku mau putus-putus, dan salah kostum tentunya (baju dan celana baru
ditambah sandal selop) dan memang lengkaplah penderitaanku selama perburuan
Musang berlangsung. Owh mannnnnnnnnnnnn.........
12 Oktober 2010
| Biar lemes tetep narses |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar