Minggu, 23 Oktober 2011

MAUNYA DAPET DAGING TAHUNYA BADAN ANCURrrr



Persiapan Pemberontakan Republik Timor Raya
Jam 7 malem aku masih asyik menikmati 2 buah mangga hasil kiriman dari Om Teus di rumah atas (rumah Ba’i), sambil jaga kios + nonton bola (pas Tim Garuda yang maen skor sementara 2-2, yang nonton sekampung (listrik belum masuk desa), maklumlah di Republik ini kan pemerataan pembangunan Cuma di Pidato Pejabat ama UUD 45 aja), nah pas babak dua, tiba-tiba Om Agus manggil Om Teus katanya ada yang nyari +nunggu di Rumah atas. Panggilan itupun langsung bersambut, Om Teus segera keluar dan menemui si Pencari. Setelah keluar nggak lama Om Teus masuk lagi  terus minta dompet yang notabene adalah gantungan kunci motor, setelah kukasih ternyata Om Teus cuma mau ngambil duit di dalam dompet (untung aku gag tau, coba aku tau langsung kusikat rata dah). Setelah  itu tiba-tiba Om Cipri pun ngomong ke Om Teus kalau jam segini, apalagi pas bulannya terang (bukan karena tanggal muda loo) tapi malam ini pas banget buat berburu musang, gag tau tumben telingaku malam ini peka banget hingga aku mendengar pembicaraan, akhirnya tanpa sebuah komando, rasa panasaran (selalu mau tahu) pun muncul, dengan rasa yang menggebu-gebu (bagaikan pahlawan waktu berperang melawan Belanda), akhirnya akupun memutuskan untuk ikut andil dalam perburuan.
Aku pun langsung bilang ke Om Teus untuk ikut berburu, mungkin karena melihat posturku yang agak kurang ideal (163/75) ditambah kegiatanku selama di Kaubele cuma makan + tidur (tuntutan cuaca) padahal yang di dalam kurung cuman alesan saja, tapi aku tetap memaksa untuk ikut. Akhirnya karena melihat keteguhanku Om Teus pun mengijinkan aku untuk ikut dalam perburuan itu. Setelah mendapat ijin, akupun segera mempersiapkan sesuatu untuk bekal dalam perburuan itu, mulai dari air mineral satu botol, jaket tebal dan berat, rokok surya 12, handphone, kamera segera aku masukkan dalam tas punggungku.  Pas aku menjinjing tas dari dalam kamar, Om Cipry menegurku “buat apa bawa tas itu??” dan aku pun menjawab dengan lantang “perbekalan berburu”. Begitu aku keluar rumah, sekegar ku-start motor dan menuju ke rumah Om Teus. Sesampainya disana ternyata Ferdi dan Om Kelemes sudah menunggu lengkap dengan senapan dan 3 ekor anjing pelacak.
Dalam Perjuangan Tetap Ada Senyum Pepsodent
Akhirnya kami 5 orang (Saya, Ferdy, Om Teus, Om Kelemes dan Om Endik) segera berangkat ke tempat perburuan, sebelum berangkat, Om Teus menanyakan kembali pertanyaan yang ditujukan kepadaku “kamu bisa tidak jalan di bukit??” dengan lantang lagi aku jawab “bisa”. Setelah itu kamipun berjalan menuju bukit yang ada di depan rumah, baru berjalan 3 menit (masih dipinggiran bukit) 3 anjing yang kami bawa dengan serempak berlari ke arah 1 pohon sambil menggonggong dengan keras dan galak dengan langkah seribu kamipun mengikuti ketiga anjing itu sambil dalam hati tegang mau dapet musang begitu sampai ditempat segera kami mengkokang senjata sembari mengarahkannya kepohon sedang 1 orang menyenter pohon itu setelah. Setelah agak lama mencari-cari dengan senter ternyata bukan musang yang nangkring di pohon tapi cuma kucing yang takut dikejar anjing... hemmmm... pupus harapan mendapatkan musang kecewa dah gag jadi makan, tapi tenang itu baru awal perjalanan. Setelah tahu salah buruan, kami pun melanjutkan perjalanan dan mulai menaiki bukit yang pertama, pas ngeliat medan langsung mental jadi nge-down bayangin aja bukitnya ternyata curam banget 60 derajat setinggi kira-kira 20 meter, mana tanahnya bukan tanah kuat ditambah sendal yang aku pake adalah sendal selop sungguh berat kurasa, tapi untungnya tertolong akar-akar yang sudah agak kering, tapi harus waspada karena kalo kita tarik akarnya agak kuat pasti langsung tercabut dan itu berarti mungkin tubuhku bagaikan bola yang menggelinding dari atas kebawah, tapi jangan salah tantangan pertama berhasil aku lalui dengan perjuangan super hardcore pokoknya tapi pas berhasil berada di puncak yang agak datar sebenernya aku pengen banget istirahat sejenak, eh ternyata yang laen udah pada turun lewat balik bukit waduh padahal tenggorokan ini rasanya dah kering banget, ditambah beban tas yang luar binasa beratnya bonus nafas yang rasanya dah hampir putus terpaksa harus tetap berjalan ngikutin mereka daripada ditinggalin mana ngga tau jalannya, ditambah gelap lagi, tapi aku agak sedikit bernafas lega karena jalannya menurun jadi nggak terlalu berat, cuman kakiku udah keder banget jadinya agak takut juga pas jalan menurun (takut gag kuat ngerem) setelah menuruni bukit akhirnya kami pun bertemu dengan sungai, tapi sungainya cuman sedikit airnya karena pas musim kering, padahal lebarnya kalo dibandingin ama bengawan solo kira-kira dua kali lipatnya, nah pas udah nyebrang, aku bertiga sama Om Kelemes dan Om Teus beristirahat sejenak, sedangkan Ferdy bersama Om Endik tetap setia menyusuri hutan di pinggiran kali (dalam bathinku gila nafas apa mereka nie), nah pas istirahat nggak aku sia-siakan begitu saja langsung air yang kubawa tapi aku keluarin dan langsung ngglek glek glegekkk... sampai sisa ¾ lega banget rasanya, tapi masalahnya perut ini rasanya jadi agak berat, tapi yang penting tenggorokanku terobati, eh belum selesai mengatur nafas yang udah satu-satu nariknya tiba-tiba anjing menggonggong langsung saja Om Teus bersama tiga orang yang lain berlari menuju tempat anjing menggonggong pas itu aku mau ikutan lari tapi kakiku masih keder terpaksa aku memilih diam beristirahat di kali. Tidak lama berselang ternyata buruan mereka sudah berpindah kepohon yang lain dan mereka pun sibuk mencari tanpa sadar ternyata jarak ku dengan ketiga orang yang lain udah agak jauh, wah ngeri juga nie mana gelap gag bawa senter lagi akhirnya mau tidak mau akhirnya aku harus memulai perjalananku lagi “mencari kitab suci” eh “mencari musang” sebelum jarak mereka semakin jauh, kali ini agak ringan karena jalannya datar dan emang jalan umumnya orang lewat tapi tetep aja ada yang bikin susah karena ternyata ada jalan yang terputus jadi harus menyebrang melalui akar pohon yang agak besar ya cukup membutuhkan perjuangan karena butuh keseimbangan badan ditambah pas turun ke akarnya juga membutuhkan tenaga buat nahan berat badan di pohon  tapi tetep berhasil pas udah nyebrang akhirnya kami pun bersama-lagi, nah mereka sedang berbicara dengan bahasa daerah yang sepenangkapanku mereka membicarakan rute perjalanan selanjutnya. Perasaanku udah bener-bener udah nggak enak sama sekali waktu itu karena aku melihat ferdi menunjuk satu bukit sambil memutar tangannya. Dan bener setelah selesai mereka ngobrol parjalanan pun dilanjutkan langsung dengan memasuki area perbukitan dan langsung mengarah ke ujung bukit lemes + nyesel kenapa ngga tidur aja di rumah sambil nunggu ntar kalo dapet pasti juga dikasih dagingnya tapi percuma aja nyesel udah sampe pertengahan kalo mundur juga nanggung.
Laskar Siap Nembak
Akhirnya akupun tetap mengikuti dan kali ini bukit yang kunaiki ternyata medannya lebih mengerikan udah curam dan medannya seperti bukit yang pertama, ditambah lagi bukit itu belum ada jalan yang dibuka ama penduduk jadi aku harus berjuang menerobos ranting-ranting pohon yang kering dan cukup lebat minta ampun rasanya dah, raga ini rasanya udah mau menyerah aja. Untungnya aku membawa tas yang bisa kupake buat tameng dari ranting-ranting itu, tapi biar udah pakai tameng tas tetep aja 
seluruh badan ku tercabik-cabik oleh keganasan ranting itu malah aku sampe terjebak di ranting-ranting itu mau mundur udah ngga bisa lagi mau maju sakitnya minta ampun. Pas di bukit ini kembali anjing menggonggong kembali dan mereka semua pun langsung berlari mengejar anjing itu. Yang aku heran adalah dalam posisi yang agak menanjak, ditambah tertutup ranting-ranting kering tetep aja mereka masih bisa berlari, dan akupun masih sibuk melepaskan diri dari jebakan –ranting itu, setelah berhasil lolos akhirnya akupun melanjutkan menaiki bukit itu dan ternyata di puncak bukit adalah areal pekuburan, tapi untungnya aku mempunyai mental yang nggak pernah takut ama barang yang begituan. Setelah sampai bergabung kembali, ternyata mereka tetap tidak mendapatkan buruan mereka, dari puncak itu akhirnya kami pun berjalan kembali menyusuri dari samping bukit jalurnya sangat miring sekali huftttttttt,,, rontok semua nie badan. Ditambah luka-luka di semua bagian tangan dan kakiku. Setelah mendapat tempat yang agak sedikit enak akhirnya kami pun beristirahat sejenak, lumayan dan waktu itu aku gunakan sebaik-baiknya untuk melepaskan dahaga di tenggorokan lagi. Setelah rasa dahaga terobati sekarang gantian perut serasa kram karena terlalu banyak minum air di tambah lagi rasa kebelet pipis menghantuiku terus. Setelah duduk sekitar 15 menit, akhirnya kamipun melanjutkan kembali perjalanan, satu bukit lagi sudah menanti sudah menanti dengan medan yang agak berbeda lagi yakni medan yang berbatu, sedikit ranting tapi banyak durinya dan tetap dengan kemiringan yang cukup mengerikan, akhirnya kami pun menaiki bukit itu kembali lagi-lagi aku  menjadi penjaga gawang paling belakang pas sampai di puncak bukit aku melihat hamparan dataran yang sangat luas dan banyak bukit-bukit menjulang lalu aku bertanya ke Om Kelemes, posisi kampung kita dimana, lalu Om Kelemes menunjuk barisan bukit yang keempat dan berkata “nah itu letak kampung kita” jadi kita berkeliling tadi. Aku melihat dengan seksama dan langsung berkata dengan spontan “gila jauh juga ya” owhhh man langsung berfikir ini belum berakhir ditambah lagi perjalanan pulang rasanya udah males banget pengen tidur disitu aja tapi tetep aja gag bisa karena yang lain tetep jalan, setelah membayangkan itu semua aku kemudian melihat kebawah, ternyata yang lain udah pada jalan sendiri-sendiri menyebar ke tiga arah. 
Hayo Pada Turun Ngga!!
Ada yang lihat penampakan ngga?
Aku pun memutuskan mengikuti On Endik yang memang jaraknya paling dekat denganku, kemudian aku melihat Om Endik berhenti dan memukul batang pohon dan terdengar suara burung terbang meninggalkan sarangnya, segera Om Kelemes menyusul Om Endik dengan cepatnya, sesampainya di pohon, mereka berdua berbicara entah apa maksudnya Cuma pada intinya mereka membicarakan bahwa ada anakan burung tekukur,lalu mereka pun mengambil sepotong kayu dan mencungkil sarang itu, otak-atik kulihat mereka mencoba menurunkan isi di dalam sarang itu, waktu itu aku gunakan sebaik-baiknya untuk beristirahat, tidak lama 2 ekor anak tekukur pun jatuh ke tanah segera saja Om Kelemes mengangkatnya, lalu akupun langsung berkata, itu harus dipelihara jangan langsung dimakan, heheheee dalam hatiku kasihan burungnya masih kecil dan imut-imut (memang ngga ada sama sekali jiwa pemburu di dada ini). Setelah itu kami pun melanjutkan perjalanan menuruni bukit kembali, setelah sampai di tengah bukit kami pun berkumpul kembali dengan 2 orang yang lain, setelah bertemu kami pun melanjutkan perjalanan. Karena belum juga mendapat buruan dan hari semakin mendekati pagi, akhirnya kamipun memutuskan untuk pulang, dalam bathin  ini serasa sangat lega sekali akhirnya kami pun berjalan pulang. tapi ternyata perjalanan pulang pun tak semudah kusangka ternyata kami juga tetap harus berjalan menaiki dan menuruni bukit lagi owhhh kaki ini serasa bergetar semua hanya yang membedakan, waktu kami pulang kami melewati jalan setapak yang sudah biasa di lewati orang jadi tidak terlalu banyak semak yang sudah merobek kulitku diperjalanan kembali anjing itu menggonggong owhh man dalam hati ini pasti pada lari nggak jelas lagi ini, bakalan lewat medan berat lagi ini, dan benar, kulihat Ferdy sudah menaiki tebing batu yang agak lebat semaknya, sementara aku masih berdiam di tengah jalan setapak itu. Tidak lama aku mendengar suara nggg nggg nggggggggg.... ternyata setelah aku cari-cari suara itu berada disampingku dalam jumlah yang cukup banyak, dan saat itulah aku menyadari kalau aku berdiri tepat disamping  sarang tawon yang berada di semak-semak, kontan saja walaupun nafas sudah hampir putus di tambah kaki yang gemataran aku langsung berlari dengan kencang (daripada dikejar ketangkep terus disengat), setelah berlari sampai di ujung jalan setapak itu akupun melihat batu-batuan yang menjulang tinggi dan ternyata jalan setapak itu habis sampai situ saja hufttttt.... pening kepala ini rasanya melihat medan itu tapi mau tidak mau harus tetep kulalui, nah pas naik batu –batu itu aku merayap sambil mencari pegangan ranting-ranting kecil eh pas megang salah satu ranting ternyata itu duri langsung saja duri itu menancap dengan gagahnya ditanganku owhhhhh sakitnya minta ampun kayak disengat tawon langsung saja aku melepas duri itu satu persatu sampai habis tapi ternyata durinya banyak banget, sakit banget rasanya telapak tangan ini. Sambil jalan aku melepaskan duri-duri itu. Setelah sampai di puncak aku melihat ada jalan setapak lagi untuk menuruni bukit, setelah itu kami pun berjalan turun, dipersimpangan bukit akhirnya kami memutuskan berpisah kami berdua ke arah kiri, dan mereka bertiga ke arah kanan, setlah kutanyakan ke Om Teus kenapa kita berpisah Om Teus pun menjawab “itu rumah di bawah” laga sekali rasanya, dan benar saja ternyata setelah berjalan menuruni bukit melalui jalan setapak kami pun langsung sampai di depan rumah, lega sekali rasanya kalo diibaratkan seperti menemukan Sumber Air ditengan padang gurun.
Sesampainya di rumah akupun duduk sejenak membasuh peluh yang ternyata sudah membasahi seluruh badan ini, setelah itu aku lanjutkan dengan tidur dan bisa ditebak, akhirnya akupun bangun pada sore hari (padahal yang lain pagi-pagi banget udah pada bangun). Itulah pengalaman pertama dan mungkin akan jadi yang terakhir aku berburu Musang, udah nggak dapat hasil, ditambah aku ternyata salah membawa peralatan (gag perlu bawa jaket) yang Cuma nambah beban aja, badanku tercabik-cabik ranting dan duri, nafas ku mau putus-putus, dan salah kostum tentunya (baju dan celana baru ditambah sandal selop) dan memang lengkaplah penderitaanku selama perburuan Musang berlangsung.  Owh mannnnnnnnnnnnn.........  

12 Oktober 2010





Biar lemes tetep narses






    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Entri Populer