Selasa, 27 Maret 2012

Program Tanpa Pelaksanaan


 Aku adalah seorang yang mempunyai cita-cita dan program-program yang sangat yang sangat luar biasa hebatnya, bahkan semua itu aku tulis dalam buku dasarku, semua kata indaha ada di dalam itu semua dengan maksud dan tujuan yang sangat mulia. Tapi dengan semua program itu aku tidak bisa menjadi lebih baik. Bagaimana bisa menjadi baik, ternyata aku tidak bisa menjalankan semua program, entah karena aku sudah nyaman dengan keadaan ini, atau aku sengaja membuat keadaan seperti ini. yang pasti hingga saat ini semua program itu tidak pernah berjalan dan aku tidak mau membuat "alat" pendukung untuk menyokong agar program itu berjalan.

Itulah kondisiku saat ini, toh ternyata dengan keadaanku yang seperti ini orang-orang yang aku kendalikanpun juga bisa menerima, bahkan orang yang harus berhadapan denganku untuk kepentingannya sendiripun rela memberikan imbalan kepadaku, yang penting urusan mereka cepat beres tanpa ada hambatan. Sebenarnya aku juga sangat miris dengan keadaan ini karena aku berfikir bahwa dengan seperti itu, aku merasa bahwa mereka sebenarnya tidak menganggap aku sebenarnya adalah milik mereka.

Haruskah seperti ini selamanya?? toh mereka juga tidak mau melawan dengan keadaan yang aku buat saat ini, mereka masih merasa tenang-tenang saja, bahkan mereka menikmati keadaan ini. Mereka sama sekali tidak memperlihatkan adanya gejolak untuk melawanku, ada sedikit sebenarnya yang ingin melawan tapi malah bukan dari yang secara langsung aku rugikan, jadi ya maju terus saja.

Aku jadi penasaran lagi kenapa ini bisa terjadi, apakah karena meraka takut, atau mereka pasrah karena dengan keadaan seperti ini pun toh mereka bisa hidup.  Jikalau seperti ini terus alangkah nikmatnya aku melenggang mencapai tujuan ku tanpa memikirkanmu.

Minggu, 25 Maret 2012

FTV Chiayoooo....


Kata teman-temanku mukaku kelihatan sangat sangar atau serem sekali, apalagi waktu jenggot + kumisku kubiarkan terurai diseparoh mukaku ini ditambah postur tubuh yang terlalu sehat tapi agak pendek, pasti membuat orang yang belum mengenalku akan berfikir seribu kali lipat jika aku menawarkan diri untuk sekedar membantu barang bawaan mereka. dan tidak sedikit temanku yang bercerita bahwa dulu sebelum mereka mengenal aku mereka cukup takut padaku dan merasa serem jika melihat aku. itulah sepintas tentang  secara fisik, terlihat lebih tua dari umurku dan sangat bringas.

Semua kesan sadis dan mengerikan itu tiba-tiba seperti hilang lenyap ditelan bumi setelah teman-temanku mengenalku lebih akrab, apalagi teman-temanku yang sangat dekat denganku. Bahkan kebanyakan dari mereka menilai bahwa sifatku tidak sesuai dengan Chasingku. bayangkan saja dengan Muka sesadis ini, ternyata aku adalah salah satu sosok penggemar berat salah satu program TV swasta yaitu FTV, sebuah program televisi yang selalu menghadirkan film-film pendek bertema romantis percintaan para ABG. tapi aku cuek saja karena aku memang suka acara tersebut, selain dari sisi durasi yang pas, menurutku materi film-film dalam FTV banyak juga yang sesuai dengan cerita dalam kisah nyata, walaupun disisi lain dalam berperan kadang kemampuan berakting para pemainnya agak wagu-wagu aneh gimana tapi aku tetap senang dengan berharap besok pasti segala kekurangan yang ada dalam film-film FTV pasti akan diperbaiki.

Tidak sedikit yang yang mengatakan bahwa aku orangnya ketinggalan jaman, karena aku nggak pernah hafal judul-judul film atau pemain film dari holywood. tapi biarkan gug-gug menggonggong tapi si Tampan tetap berlalu, yang pasti aku lebih suka produksi dalam negeri dalam segala hal yang sudah bisa diproduksi di dalam negeri, sejelek apapun kualitas yang dihasilkan saat ini aku yakin dengan mencintai produk-produk dalam nengeri, suatu saat kualitas ini pasti akan selalu berkembang menjadi lebih baik, apalagi jika kita terus mendukung para pemroduksi...


Cintailah Ploduk-Ploduk Dalam Negeli....

FLORES TIMUR JILID II "LARANTUKA"


         Larantuka adalah Ibukota dari Kabupaten Flores Timur, sehingga sebutan Larantuka terasa lebih populer daripada Flores Timur, jika Aceh terkenal sebagai Serambi Mekkah di Indonesia maka Larantuka terkenal sebagai Vatikan dari Indonesia, hal ini bukan tanpa sebab sehingga Larantuka dikenal sebagai Vatikannya Indonesia, Ritual keagamaan (Katholik) yang sudah berlangsung selama ratusan tahun membuat ciri khas dari kebudayaan agama katholik di Larantuka, hingga menarik banyak umat Katholik dari segala penjuru dunia untuk datang dan mengikuti prosesi ini.  "Prosesi Samana Santa" atau "Prosesi Pekan Kudus" menjadi sebuah prosesi  yang mendarah daging dalam tubuh masyarakat Larantuka selama bertahun-tahun dan dari prosesi ini akhirnya terbentuk menjadi  identitas yang melekat  sekaligus daya tarik tersendiri di Kota Larantuka Flores Timur.
          Selain Kegiatan Prosesi tersebut Larantuka juga menawar keindahan-keindahan lain yang sangat Eksotis dan kebanyakan masih sangat alami, mulai dari panorama alam laut, bukit , sungai, gunung, danau hingga megahnya pesona bawah laut lengkap tersaji dengan pemandangan yang sangat luar biasa indahnya. Tak kalah seru dengan pemandangan panorama alammnya , bagi yang mempunyai hobi memancing, Larantuka pasti akan menjadi surga kenikmatan dengan sensasi yang sangat luar biasa, kekayaan laut Larantuka yang sangat melimpah akan sangat memanjakan pemancing untuk memenuhi hasrat memancingnya dengan variasi ikan yang sangat beragam dengan sensasi masing masing. Berikut  saya mencoba menampilkan pengalaman saya selama hampir 2 tahun tinggal di Larantuka, melalui kumpulan gambar-gambar dari kamera sederhana, tapi tetap tidak mengurangi keindahan alam Larantuka.

karya seni dan bangunan dengan nuansa religius Katholik yang menjadi ciri khas Larantuka.

Matter Of Dollorossa
Taman Kota
Taman Kota

Larantuka berada di kaki Bukit Ile Mandiri yang begitu kokoh menyokong daratan Larantuka.

Bukit Ile Mandiri dari Pelabuhan TPI
 




Ketika kita mendengar Larantuka pasti kita tidak akan lepas dengan begitu melimpahnya kekayaan laut di daerah ini, sehingga kegiatan memancing menjadi daya tarik tersendiri bagi para pendatang yang mempunyai hobi memancing.
Sensasi Belut di TPI
Sejenak melempar penat di Pelabuhan Feri 










Sensasi Strike di TPI
Sensasi mancing cakalang














Daratan yang tidak terlalu luas memberi kecantikan disisi lain dari Larantuka, dan inilah Kecantikan  dipinggir sepanjang daratan Larantuka.

Weri di kala senja
Pantai Ular Kepala Tujuh
Sarotari
Penyelamat dari Waibalun
Hangatnya Matindoeng
 


Ile Padung sebuah harmony alam
Damai di Matindoeng
Keindahan dasar laut Waibalun


Pekatnya Waimana
Keramahan Ile Padung
Emaus menyambut Sang Fajar
Kokohnya Batu Ile Padung
Lewolema ketika surya tenggelam
Putihnya pasir Matindoeng








Surga dasar laut Waibalun









Tidak hanya pantai Larantuka juga memiliki air panas alam yang terdapat dapat mengobati segala jenis penyakit kulit
 Panasnya air Mokantarak
Hangatnya Pantai Ile Padung


Panasnya Larantuka akan terobati dengan kesejukan sungai Bama
Sawah Bama


Sejuknya Aliran Sungai Bama











Sejuknya membawa kedamaian pissss



 




















Begadang Jangan Begadang


Tadi pagi aku bangun sekitar jam 7 pagi, beda dari hari-hari kemarin, hari ini rasanya agak panas tidak ada lagi angin kencang disertai hujan lagi, tapi bedanya kali ini aku merasa agak malas tidak seperti hari-hari kemarin, aku tidak tahu kenapa aku jadi malas, emang sih libur mulai hari jumat kemarin sangat mempengaruhi pola hidup yang sudah aku biasakan yaitu tidak begadang, tapi karena merasa ada hari libur lebih, maka aku putuskan untuk begadang sambil menikmati liburan seutuhnya, sampai-sampai aku jadi lupa kalau manusia juga perlu yang namanya tidur. dengan tidur yang cukup membuat badan kita merasa segar dan sehat.

Akhir-akhir ini sebenarnya aku sudah berhasil membuat kebiasaan yang bagus yaitu pada hari-hari biasa aku tidur selalu di bawah jam 12 malam, tidak seperti dulu di mana kebiasaanku begadang berlebihan membuatku tidak pernah bisa tidur sebelum jam 3 atau jam 4 pagi. Akibatnya adalah bangun terlalu siang, menjadikanku malas  dan berakhir dengan badan terasa sakit semua, tulang-tulang ini terasa sangat kaku sekali untuk digerakkan, dan akhirnya menjadikan daya tahan tubuhku menjadi lemah. hmmm.. bayangkan jika ini terjadi setiap hari, niscaya sebentar lagi aku akan segera pensiun dan undur diri selamanya dari bumi ini, tentu hal ini belum aku inginkan karena aku yakin aku ditakdirkan untuk hidup selama 75 tahun.

Karena keyakinanku itu, maka aku juga tidak mau nanti pada umur 50 tahun ke atas aku hanya menghabiskan sisa hidupku di atas kasur dalam rumah saja, karena itu bukan mencerminkan diriku. Terkadang aku memang seperti siput yang selalu berada di dalam rumahnya saja sepanjang hari, tetapi secara keseluruhan sebenarnya aku seperti seekor ikan yang selalu menjelajah kesana kesini tanpa pernah berhenti.

dan karena keinginanku itu maka aku berjanji pada diriku bahwa aku akan selalu menjaga kesehatanku, menjaga ragaku dengan salah satu caranya adalah menjaga pola tidur yang benar dengan waktu yang sewajarnya dalam 24 jam idealnya tidur selama 8 jam  agar aku bisa benar-benar menikmati hidupku disisa 50 tahun lagi umurku.... mengutip kata-kata Bang Haji, "Begadang jangan begadang kalau tiada artinya begadang boleh saja kalau ada perlunya" sekian dan terima kasih... Ayo kita  biasakan hidup sehat.......






Rabu, 21 Maret 2012

Tour Flores- Jawa Part II "Ruteng-Labuhan Bajo"



Beberapa saat sebelumnya
Meninggalkan Kota Bajawa, Perjalananpun dilanjutkan. Kali ini medan yang kami lalui agak lumayan berat  dan  sedikit menantang. Kebetulan, waktu mau masuk ruteng aku yang nyetir. Hujan rintik-rintik kadang deres, terus menanjak tinggi ditambah lereng-lereng rawan longsor kami lalui tapi dengan penuh kesabaran dan perjuangan akhirnya,  kira-kira jam 14. 30 kami sampai juga di Ruteng (Manggarai) di Ruteng rencana kami mampir Kejaksaan Negeri  Ruteng untuk sejenak beristirahat,  tapi waktu sampai di Ruteng kami coba mencari sendiri letak kantor Kejaksaan Negeri, alhasil kamipun jadi kebingungan sendiri, dan sedikit agak nyasar tapi dengan tekat bulat ditambah dengan ketenangan jiwa akhirnya walaupun setelah keliling-keliling tanpa tahu arah, kamipun menemukan kantor Kejaksaan Negeri Ruteng, di Ruteng kami diterima oleh Pak Apri dan Pak Henny, setelah itu kami menuju warung sate untuk makan siang. selesai dan melihat waktu yang terus berlalu kamipun melanjutkan perjalanan menuju Labuhan Bajo (Manggarai Barat)











Add caption











Keluar dari Ruteng kendali diambil alih oleh Mas chan dan ini adalah waktu yang tepat buatku tidur, Jok tengah sudah menanti, dalam perjalanan diantara alam sadar dan bawah sadar, aku kayaknya merasa Mas Chan mengalami sedikit kesulitan jarak pandang apalagi perjalanan kami melawan sinar matahari yang menyorot langsung di kaca mobil, tapi tetep aja aku tidur. Akhirnya setelah perjalanan sekitar 2 jam kami samapi di sebuah tempat bernama Lembor yang berada di antara Ruteng dan Labuhan Bajo, di Lembor kami beristirahat dan menikmati durian dari Lembor duriannya kecil-kecil tapi lumayanlah buat orang yang sudah hampir 2 tahun ngga makan durian waktu itu atas pengetahuan Mas Chandra kami minum kopi yang dimasukkan dalam kopi, katanya enak tapi tetep saja nggak habis tapi enak juga og dan kamipun membayar Rp. 32.000 untuk itu semua... Setelah beristirahat kamipun melanjutkan perjalanan Menuju Labuhan Bajo,  sekarang kendali ada di tangan Kang Agung, pas mata ngantuk sebenernya mau tidur, tapi Kang Agung nggak mau, katanya takut kalo sampe ketemu yang aneh-aneh lagi pas dia nyetir (takut kalo liat sendirian) dan akupun mau-tidak mau ngga bisa tidur lagi, selama perjalanan kita susah bedain mana batu mana kebo karena banyak banget kebo pada istirahat dipinggir jalan setelah seharian berkubang, warna mereka pun seperti batu, jadi selama perjalanan kami haru extra hati hati takut ntar kebonya nglindur guling-guling ditengah jalan kan repot. Setelah melewati kawasan Kebo akhirnya kami memasuki di daerah Riang Dara.


Add caption
Disini kami ketemu dengan rombongan Umat Katholik yang selesai merayakan malam Natal mereka berjalan di tengah jalan raya (maklum dipinggir kan lumpur ditambah gelap karena kurangnya lampu penerangan jalan jadi mereka berjalan di jalan aspal) akhirnya jalan kamipun sedikit terhalang tapi kami tetap menikmati sambil mengucapkan Selamat Natal dan berbagi kebahagian bersama mereka, setelah kami melewati rombongan kami mengalami kesulitan lagi karena jalan berkabut ditambah air di dalam wiper habis dan kamipun segera mencari tempat yang aman dan nyaman untuk beristirahat sakaligus mengisi air di wiper sekalian beristirahat mendinginkan mesin, pas ada kios di daerah Riang Dara yang tutup akhirnya kami memutuskan berhenti di kios itu, tanpa berlama-lama, kap mobilpun kami buka, segera air yang kami bawa di galon pun kami pakai untuk mengisi tabung wiper, setelah terisi penuh Mas Chan mau menutup langsung kap mesin, tapi aku bilang biar buka dulu saja biar agak dingin sebentar, sambil berdiri meluruskan badan, tidak lama ada tiga orang muncul dan bergabung dengan kami, setelah ngobrol sebentar ternyata mereka bertiga baru saja pulang dari merayakan Malam Natal, tidak berselang lama lalu muncul satu rombongan lagi, kira-kira orang satu desa mereka menemani kami sambil bercerita-cerita Dalam cerita mereka, untuk merayakan Malam Natal mereka berjalan sekitar 10 kilo dengan berjalan kaki digelapnya malam itu yang membuat kami salut akhirnya akupun mengeluarkan roti bekal yang kami bawa untuk kami nikmati bersama-sama sambil bercerita, bukan hanya roti, oleh-oleh Mas Chan yang dibawa Mas Chan pun akhirnya juga habis tapi kami merasakan begitu hangatnya kekeluargaan ditempat yang baru kami singgahi, yah Indahnya berbagi dalam berbagai situasi dan dimanapun itu pasti kita akan selalu berbagi.

Setelah beristirahat di Riang Dara Kami segera melanjutkan perjalan kira-kira masih sekitar 20 km lagi untuk mencapai kota Labuhan Bajo, dan akhirnya setelah pukul 19.30 kamipun sampai di Labuhan Bajo dan kamipun segera mengisi bensin Rp. 100.000  setiba di Labuhan Bajo kami makan makan Mie Telor Special + Pisang Ambon yang sudah disediakan di tempat  di tempat Aji Rahmadi, Bahar dan Puji selesai makan Aji dan Bahar kebetulan ada jadwal piket malam. Setelah mereka berdua berangkat piket malam  kamipun segera mandi dan  bersiap-siap untuk agenda Tanggal 25 Desember 2011 yaitu meninjau Komodo di Pulau Rinca. 




Akhirnya kamipun bergegas mencari alat tranportasi menuju Pulau Rinca yaitu kapal, kamipun segera kewarung yang direkomendasikan oleh teman Mas Chan, sambil menikmati kopi Rp 29.000, kamipun diperkenalkan oleh pemilik warung dengan nahkoda kapal (Pak Rizal) yang akan mengantarkan kami menuju Pulau Rinca. Setelah mengalami perdebatan serta tawar menawar yang sangat luar binasa hebat kamipun bersepakat untuk menunda dulu pembayaran sambil mencari kapal yang lebih murah, gerah dengan kemungkinan tidak jadinya transaksi pak Rizal dengan sedikit emosipun meninggalkan kami, lalu kamipun berembug lagi, setelah berembug dan mencoba mencari jalan lain namun tidak menemukannya juga akhirnya kamipun mencari kembali Pak Rizal, dan kami mencari dipelabuhan akhirnya disepakati harga Rp.800.000 untuk tiga trayek (Pulau Rinca, Pulau Kelor dan Pulau Bidadari) sebagai uang muka kamipun memberi  DP Kapal Pak Rizal 400.000 setelah selesai bertransaksi akhinya kami berjalan-jalan mengelilingi kota labuhan bajo. Setelah puas berkeliling-keliling ditambah rasa capek setelah perjalanan selama 2 hari kamipun beristirahat di Kamar Aji.


Tanggal 25 Desember 2011 waktu tidur yang sangat minim dan harus bangun pada pagi-pagi hari dan menjadi pagi yang sangat repot kami harus mempersiapkan segala sesuatu mulai dari mengumpulkan nyawa satu persatu, terus mempersiapkan perut untuk sarapan, mandi, persiapan dokumentasi hingga satu pekerjaan tambahan buat aku yaitu menjemur semua pakaianku yang tersiram rata dengan madu yang ku bawa, hingga menikmati hidangan sarapan nasi kuning dengan lauk ayam yang dibeli kang agung dengan harga Rp.50.000 untuk 10 porsi. Setelah beres semua kamipun diantarkan oleh Aji menuju pelabuhan setelah sampai di pelabuhan aku langsung membeli Rokok dan air minum Rp. 32.000 untuk bekal selama perjalanan setelah itu dilanjutkan dengan  melaksanakan  prinsip sekaligus motto hidup kami yaitu abadikan setiap moment, kamipun segera membuat dokumentasi awal yaitu berfoto di pelabuhan, dengan latar belakang kapal pesiar.



Selesai berfoto-foto kami segera naik kapal yang sudah kami sewa, petualangan menuju Pulau Rinca pun dimulai, kami di depan dan kru kapal di belakang,  fasilitas di kapal selain perjalanan,  juga disediakan kopi, tempat tidur, dan juga kamar mandi, dalam perjalanan selain mendapat fasilitas-fasilitas di kapal kami juga disuguhi pemandangan alam yang sangat luar biasa indahnya dan masih cukup terjaga keasriannya, selain itu kami juga bisa menyaksikan aksi Lumba-lumba yang bermain di alamnya sendiri, sungguh indah terasa perjalanan, walaupun membutuhkan biaya yang agak lumayan mahal tapi semua serasa terbayar lunas dengan pemandangan yang disuguhkan. Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 2 jam, akhirnya kami sampai di Pulau Rinca yang merupakan tujuan utama kami dalam perjalanan ini. Sesampainya di Pulau Rinca di depan gerbang masuk kami sudah ditunggu oleh para ranger yang siap memandu kami dalam berpetualang untuk mencari komodo yang berkeliaran, nah waktu itu kebetulan kami mendapatkan ranger seorang mahasiswa pariwisata dari bandung yang sedang magang kerja di Pulau Rinca, setelah berkenalan, akhirnya sang ranger mengantarkan kami menuju kantor adminsitrasi untuk mengurus segala adminstrasi saat berpetualang mengelilingi pulau Rinca, seluruh biaya administrasi untuk memasuki kawasan Pulau Rinca adalah Rp.  90.000,00- (untuk 3 orang) dan termasuk dalam biaya pemakaian jasa Ranger dan asuransi keselamatan jiwa, setelah selesai mengurus segala biaya administrasi, kami diberi penjelasan tentang rute yang kami pilih (ada tiga rute yaitu dekat, sedang dan jauh) dan kamipun memilih Rute Sak Madyo atau yang sedang-sedang saja, selain itu kami juga diberi penjelasan mengenai tata-tertib selama perjalanan. Setelah selesai semua akhirnya kamipun memulai perjalanan di Pulau Rinca ini terdapat dapur yang berbentuk rumah panggung, yang digunakan sebagai pusat tempat memasak makanan untuk para karyawan yang tinggal di pulau tersebut, nah di bawah rumah tersebut menjadi tempat Favorit para Komodo untuk berkumpul nongkrong menyaksikan para wisatawan manca negara maupun domestik berlalu-lalang, upsss salah ya,  tempat tersebut memang benar untuk berkumpul para komodo karena bau-bau daging atau amis dari sisa bahan makanan yang dibuang sehingga para komodo sering menunggu makanan di bawah dapur ini, waktu kami menyaksikan para komodo di bawah waktu itu kebetulan kami bareng sama bule satu keluarga nah pas dia berfoto-foto ria bersama komodo, tiba-tiba adalah satu komodo yang bereaksi dan menjadi agak agresif sambil berjalan menuju turis itu, spontan saja kami juga takut dan segera mengambil jarak dengan komodo, tapi para ranger yang sudah terlatih segera mengamankan kami dan segera mengusir komodo itu menjauh dari kami. Dari dapur kamipun melanjutkan perjalanan memasuki kawasan hutan perasaan takut juga ada tapi terobati dengan adanya ranger yang memberikan kepada kami pengawalan melekat, dan ditambah lagi pengalaman para ranger yang sudah terbiasa dan tahu tanda-tanda hadirnya para komodo, selama dalam perjalanan kami selalu bercanda dan bercerita-cerita tentang komodo, nah pas cerita-cerita tentang komodo muncul ide isengku untuk mengganggu ranger yang ada di depan, pas si Ranger lagi serius bercerita, pelan-pelan dari belakan aku mendekat sambil menunduk dan memegang kakinya dengan tanganku betapa kagetnya dia pas tanganku nyentuh betisnya, wah ternyata ranger juga bisa kaget ya langsung rasa takut bertambah naik deh... selain itu selama perjalanan kami banyak menemukan jejak-jejak kerbau berupa kotoran kerbau atau dalam bahasa jawa akrab disapa dengan sebutan Lethong Kebo, aku juga bisa memegan gigi komodo secara langsung eittzzz tapi jangan berprasangka baik dulu, aku pegang gigi komodo bukan langsung dari mulut komodo, tapi di kasih oleh ranger yang di ambil dari sisa makanan komodo.  Setelah kira-kira satu jam berjalan kaki di bawah terik sinar matahari yang amat sangat terlalu menyengat, Mas Chan langsung bilang sudah kita balik saja, waktu itu aku lihat keringat sudah turun sangat deras membasahi baju kami, ranger pun menjelaskan kira-kira 15 menit perjalanan lagi kita belok, karena di depan itu jalur untuk track terdekat, dalam bathin track dekat saja sudah kami rasa jauh banget apalagi trak jauhnya. Akhirnya kamipun melanjutkan perjalanan menuju pulang ketempat semula yaitu rumah makan di dekat dapur. Setelah menempuh kira-kira 1 jam perjalanan lagi kamipun akhirnya sampai ditempat semula. Dan kami beristirahat di rumah makan sekaligus toko cinderamata untuk sejenak melepas lelah setelah berjalan kaki selama lebih dari 2 jam, kamipun membeli minuman Rp. 40.000,  dan juga memberi tips tambahan untuk ranger Rp. 50.000. setelah beristirahat sejenak kami akhirnya kembali menuju kapal, diantarkan oleh sang Ranger. Karena sering bercanda selama mengantarkan kami waktu berjalan-jalan, akhirnya kami bertukar alamat jejaring social yaitu agar pertemanan tidak terputus. 
Dari Pulau Rinca tujuan kami selanjutnya adalah menuju Pulau Kelor yang berada dalam satu jalur dengan Pulau Rinca,  dalam perjalan menuju Pulau Rinca kami sering bertemu kapal-kapal pesiar lain yang sedang menuju Pulau Rinca atau pulau-pulau lainnya disekitar Pulau Rinca, saat berpapasan dengan kapal itu kami pun saling melambaikan tangan dan menyapa dengan berteriak halo-halo bandung, selama perjalanan kamipun bercanda dan merekam kejadian-kejadian selama dalam perjalanan. Setelah perjalanan sekitar 1 jam akhirnya kami sampai juga di Pulau Kelor,  begitu sampai  tanpa pikir panjang lagi langsung dah aku nyebur saja, hmmm segarnya minta ampun berenang setelah kapal merapat Mas Chandra dan Kang Agung akhirnya ikut turun dari kapal juga dan dasar cowo terlalu sering nonton Vivid Production, kebawa juga deh waktu piknik gag bisa diem-diem aja kalo liat yang namanya bule pake bikini, tapi selain itu kami juga bersnorkling ria menikmati alam dasar disekitar pantai yang juga ngga kalah indahnya sama bule yang pake bikini. Setelah merasa cukup menikmati pemandangan di Pulau Kelor, kamipun segera naik kapal kembali untuk menuju ke pulau berikut yaitu Pulau Bidadari, nah pas naik kapal ini kami agak kesulitan karena postur badan yang ngga terlalu ideal ditambah tangga yang disiapkan untuk menaiki kapal adalah tangga tali kamipun kesulitan dan nampak konyol + lucu waktu mau naik kembali ke kapal apa lagi Mas Chan dengan berat badan yang hampir mencapai 1 kuintal, akhirnya berhasil merontokkan tangga yang disiapkan walaupun dengan semangat perjuangan yang begitu gigihnya laksana para Pejuang Tahun 45, hingga akhirnya bisa menaiki tangga kapal.
Pulau Bidadari. Selepas dari Pulau Kelor kami agak bingung untuk menentukan tujuan kami selanjutnya yaitu apakah kami akan menuju Pulau Bidadari atau Pulau Kambing, karena rasa penasaran kami dengan yang Namanya Pulau Bidadari karena sering keluar dalam acara dibeberapa stasiun televisi,  akhirnya kami menentukan Pulau Bidadari sebagai tujuan selajutnya skaligus menjadi pulau terakhir dalam wisata kami hari ini. Karena lelah setelah seharian berwisata akhirnya selama perjalanan menuju Pulau Bidadari kamipun tidur di atas kapal, pas di sini aku kena jebakan dari Mas Chan, pas aku tiduran tiba-tiba Mas Chan menyuruhku berpose untuk sesi pemotretan, bersambut dengan naluri narsis tawaran itu pun aku terima, segera aku berpose di anjungan kapan, eh baru dua kali jepret tempat tidurku langsung dikudeta. Yawhh terpaksa deh nggak bisa tidur lagi. Pas perjalanan di Pulau Bidadari ini aku takjub sama pemandangan pulau-pulau kecil yang berjajar laksana gerbang alam, sungguh luar biasa. Tidak beberapa lama dari pulau itu akhirnya samapi juga kami di Pulau Bidadari, sama seperti waktu di Pulau Kelor tadi kapal belum seratus persen berhenti, dengan pasti aku loncat dari atas kapal, ternyata sore itu arus lautnya lumayan deres akupun sempat terbawa arus air, tapi dengan perjuangan keras akupun segera menepi ke arah pantai. Di Pulau Bidadari kami agak kecewa karena ternyata sebagian dari Pulau Bidadari sudah dikontrak oleh orang asing untuk dijadikan resort, sehingga kami tidak bisa menikmati Keindahan Sang Bidadari secara utuh. Ditambah waktu kami berenang terasa kami digigit atu disengat oleh mahkluk laut yang hingga kini masih misterius, yang pasti hasil gigitannya adalah gatal dan serasa dicubit-cubit kalo dalam bahasa Irlandia “Pating Clekit” tidak terlalu lama kami berada di Pulau Bidadari kami akhirnya memutuskan untuk kembali ke Pelabuhan Labuhan Bajo, dalam Perjalanan kami bertemu kembali dengan 3 ekor Lumba-Lumba yang bermain, pas kami lihat ikan itu, kapten kapal berputar kembali untuk melihat Lumba-Lumba itu, tetapi pas kami berputar ternyata gerakan Sang Dolphin lebih cepat sehingga kami melihat mereka sudah dalam posisi yang sangat jauh, dan kamipun melanjutkan pulang capek, senang, puas bercampur-campur menjadi satu sekitar pukul 5 sore kamipun sampai di Pelabuhan, setelah sampai kami pun melunasi biaya kapal Rp. 400.000 untuk perjalanan sehari penuh.
Pulang dari pelabuhan kami langsung kembali menuju rumah dinas Aji tapi sebelumnya kami sempat mampir ke toko cinderamata untuk sekedar mencari oleh-oleh. Sesampai di rumah Aji, kami langsung mempersiapkan diri untuk makan malam, waktu itu kebetulan kami diundang oleh Kasi Intel Kejari Labuhan Bajo (Mas Indie) untuk makan bersama di Rumah Makan Padang. Selesai makan kami berfikir untuk bisa menyeberang menuju Pelabuhan Sapeh di Bima, Mas Indi pun akhirnya berinisiatif untuk mencarikan jalan, akhinya Mas Indie menghubungi Komandan Angkatan Laut untuk meminta bantuan supaya mobil yang kami bawa bisa menyeberang. Malam itu akhirnya Mas Chandra bersama dengan Mas Indie menghadap ke Dan Lanal, setelah itu Mas Chan langsung memasukkan Mobil ke dalam Kapal lebih dulu, baru Mas Chan pulang ke tempat Aji untuk beristirahat. Skenario berubah, karena ternyata kapal yang kami tumpangi langsung berangkat malam itu juga, kamipun kerepotan karena kami belum sempat mengemasi barang-barang bawaan kami, malam itupun segera kami mengemasi barang-barang bawaan dan segera berangkat menuju pelabuhan, tapi pas barang sudah siap, pas Kang Agung sama aku keluar, teman-teman di luar ternyata sudah berkumpul dan memberitahu kalo kapal tidak jadi berangkat, kamipun aku dan Kang Agung pun jadi bingung lagi, tapi aku merasa agak curiga, kalau kapal tidak jadi berangkat kenapa Mas Chandra ngga balik ke Rumah Aji, dan ternyata benar kami berdua dibohongi (sialllll dehhh). Setelah bercerita-cerita sebentar dan memastikan barang bawaan sudah terbawa semua, kami berdua pun berpamitan dan diantarkan oleh Aji dan Bahar menuju Pelabuhan, sesampai dipelabuhan, aku pun bergegas langsung naik ke atas kapal. Ternyata kapal tidak langsung berangkat kami masih harus menunggu,  di atas kapal kami segera mempersiapkan keperluan selama di atas kapal kami membeli minuman dan makanan ringan  Rp.  30.000 dan menyewa matras untuk tidur Rp. 45.000, sedang untuk biaya kapal sudah dibayar oleh Mas Chan Rp. 837.000. setelah semua beres kamipun beristirahat untuk persiapan perjalanan esok pagi, tidak lama berselang tiba-tiba Aji menelponku dan bilang kalau sarung sama handuk dia terbawa oleh kami (wah beres-beresnya terlalu berlebihan sampai barang-barang dikamarnya Aji juga ikut terberskan), lalu aku bilang ke Aji “kalau Kapalnya masih nunggu lama, jadi diambil saja sarung sama handuknya” akhirnya Aji pun kembali ke Pelabuhan untuk mengambil handuk dan sarungnya yang terbawa. Setelah Aji Pulang kami bertigapun beristirahat. Selama tidur,  mungkin karena efek kecapekan kamipun mengigau tidak jelas selama tidur.





























Entri Populer