Pada suatu hari di kelasku, waktu aku masih sekolah dasar, ramai diadakan acara pemilihan untuk ketua kelas, waktu itu ada seorang temanku namanya Andri, yang langsung mencalonkan diri sebagai ketua, lalu ada temanku yang satu lagi namanya Antok yang sebenarnya menginginkan menjadi ketua kelas, tetapi dia menunggu teman-teman untuk mengusulkan dia sebagai ketua kelas.
Walaupun masih duduk dibangku sekolah dasar, murid-murid di SD kami sudah bisa berfikir dengan demokratis, jadi dalam pemilihan ketua pun kami sudah mempunyai mekanisme tersendiri, walaupun masih sederhana. Pemilihan ketua kelas ini dibagi menjadi empat tahap yakni : Tahap pertama, adalah dengan pengajuan diri, dan apabila yang mengajukan diri lebih dari satu orang maka, dilanjutkan dengan mekanisme tahap kedua yaitu kampanye, setelah itu dilanjutkan dengan tahap ketiga yaitu voting dan terakhi, tahap keempat adalah penghitungan suara. Antok adalah seorang yang sangat populer dibandingkan dengan Andri pada waktu itu dan banyak dari teman-teman menginginkan dia sebagai ketua kelas.
Tiba waktu pemilihan ketua kelas, akhirnya ada dua orang yang mengajukan diri sebagai ketua kelas dan satu orang yang malu-malu untuk mengajukan diri sebagai ketua kelas hingga berdalih karena disuruh teman-teman akhirnya ikut mengajukan diri. Karena jumlah calon yang mengajukan diri lebih dari satu orang, maka digunakan mekanisme lanjutan yaitu kampanye.
Pada masa kampanye terlihat sekali Antok mengumpulkan teman-temannya untuk memilih dia sebagai ketua kelas. segala cara dia lakukan agar teman-teman mau memilih dia bahkan walaupun dia harus merogoh uang sakunya untuk sekedar mentraktir teman-teman termasuk aku, dengan harapan aku dan teman-teman akan memilih dia. Antok yang terlihat malu-malu saat pengajuan diri sebagai ketua hilang dalam sekejap berubah menjadi sebuah hasrat dan obsesi untuk menjadi ketua kelas kami.
Masa kampanye pun telah usai kini saatnya aku dan teman-teman memilih salah satu dari tiga calon untuk menjadi ketua kelas, pada saat memilih tiba-tiba aku berfikir untuk memilih Antok sebagai ketua kelas karena pilihanku pada waktu itu tertuju pada Andri, yang menurutku dia walaupun bukan sosok yang populer tapi aku melihat keberanian dia dalam mengajukan diri sebagai ketua kelas, di sini aku melihat bahwa dia orang yang tegas dalam mengambil keputusan dan siap dengan segala resiko.
Tiba saat penghitungan suara ternyata, jumlah pendukung Andri hanya sedikit dan Antok memperoleh suara paling banyak yaitu 20 suara dari 30 pemilih. dengan perolehan itu maka Antok pun secara resmi diangkat sebagai ketua kelas kami yang baru.
Hari berganti hari, saat itu tiba-tiba ada suatu permasalahan yang harus diselesaikan oleh seorang ketua kelas, akan tetapi ternyata Antok tidak mampu menyelesaikan, karena permasalahan itu, akhirnya sikap dan pandangan teman-teman kepada Antok pun berubah drastis, hingga akhirnya Antok merasa sangat terpojok. Karena merasa terpojok, akhirnya keluarlah sebuah bahasa yang menurut saya sebagai upaya Antok untuk menghindar sekaligus melakukan pembalaan diri seorang Antok, kira-kira sepert ini bahasanya "kalian sendiri yang menyuruh aku untuk maju sebagai ketua kelas, padahal aku kan ngga berniat mencalonkan diri".
Kalau sudah begini mau bagaimana.
Untuk para pemilih dan terpilih

Tidak ada komentar:
Posting Komentar