Kamis, 08 Maret 2012

Membaca Isi Buku Dari Judulnya!!!

Tentang yang satu ini aku punya pengalaman cukup menarik, waktu itu aku berada dalam sebuah tim dalam kampusku yaitu MCC atau Peradilan semu, sebuah tim di Fakultas Hukum  yang dipersiapkan untuk mengikuti sebuah kompetisi Peragaan Acara Persidangan,  sekaligus dalam hal  pemberkasan. untuk kepentingan persidangan. 

Kegiatan MCC secara garis besar dibagi menjadi 2 bagian yaitu bagian Pemberkasan dan bagian Persidangan. Pertama, Kegiatan  Pemberkasan adalah kegiatan dalam rangka membuat berkas-berkas yang berkaitan dengan persidangan dalam suatu "kasus posisi" yang merupakan permasalahan yang diberikan oleh penyelenggara kompetisi, pemberkasan ini meliputi berkas dari Kepolisian, kejaksaan, pengacara dan pengadilan (berkas hakim dan berkas panitera) yang masing-masing berkas tersebut dipilih satu orang sebagai penanggung jawab. Saat melakukan kegiatan pemberkasan ini biasanya diikuti oleh banyak personel yaitu rata-rata 30 mahasiswa fakultas hukum yang telah lolos dalam tahapan seleksi yang diadakan oleh kakak senior yang lebih berpengalaman dalam kompetisi, kegiatan pemberkasan ini biasanya membutuhkan waktu kurang lebih 3 bulan. 

Kedua, Kegiatan Persidangan Semu adalah kegiatan lanjutan setelah pemberkasan yaitu melakukan adegan persidangan semu dengan menggunakan hasil pemberkasan sebagai skenario dalam persidangan itu. Kegiatan Latihan Persidangan semu ini biasanya dimulai saat berkas berita acara pemeriksaan hampir selesai karena menyangkut dengan skenario dalam persidangan.  Kegiatan persidangan semu ini biasanya diikuti oleh 18-20 Mahasiswa  sesuai dengan permintaan dari penyelenggara MCC yang nantinya akan berperan sebagai Hakim, Panitera, Terdakwa, Jaksa, Penasehat Hukum, Petugas Kejaksaan, Petugas Pengadilan, serta saksi-saksi . Karena jumlah personel yang dibutuhkan pada saat pelaksanaan persidangan semu tidak sesuai dengan jumlah personel pemberkasan maka diperlukan 1 kali tahapan penyeleksian lagi.

Masalah klasik yang selalu muncul dalam setiap event MCC utamanya di kampusku yaitu Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret, adalah ketika memasuki tahapan seleksi untuk mempersiapkan personel-personel yang akan diberangkatkan untuk mengikuti kompetisi sidang semu di universitas penyelenggara. dikarenakan jumlah personel pemberkasan biasanya lebih banyak dari personel tim sidang maka tidak semua personel pemberkasan dapat diberangkatkan dalam kompetisi, yang menjadi permasalahan adalah perbedaan kemampuan kadang personel yang lihai dalam hal pemberkasan belum tentu mahir dalam persidangan, atau sebaliknya, nah permasalahan ini sering kali memicu perselisihan dalam Tim, selain itu pemilihan koordinator dalam tim juga sering kali menimbulkan konflik yang berujung pada terbentuknya blok-blok dalam suatu tim.

Pada suatu kali pernah muncul konflik yang sangat luar biasa hingga menyebabkan perpecahan, puncak dari perpecahan itu adalah terbentuknya dua blok yang secara terbuka mempunyai jalan sendiri-sendiri untuk saling mematahkan, dan hal tersebut akan sangat merugikan secara internal Tim, karena Tim tidak akan bisa berjalan searah dan kompak, nah untuk meredakan konflik itu akhirnya disepakati untuk melakukan pertemuan guna mencari jalan tengah dalam menyelesaikan permasalahan yang ada. waktu itu semua mendapat kesempatan yang sama untuk mengutarakan permasalahan, pendapat dan argumentasinya hingga akhirnya didapat satu kesepakatan hingga akhirnya dibuat satu nota perdamaian, nah sebelum acara bersalam-salaman tanda perdamaian dilakukan tidak sengaja aku membaca sebuah judul buku waktu itu seingat ku pada intinya judul dari buku itu adalah menunjukkan tentang bahasa tubuh yang tidak bisa ditipu, setelah aku membaca kemudian aku melihat bahwa perdamaian secara jasmani yang dilakukan oleh kedua pihak nampaknya tidak sesuai dengan bathiniahnya, aku menyimpulkan itu dari raut muka yang aku lihat. Setelah melihat dan memperhatikan hal tersebut ditambah dukungan dari judul buku yang kubaca secara sekilas, akhirnya aku mengangkat permasalahan itu, waktu itu aku mengatakan yang pada intinya mungkin saat ini kita sudah berdamai atau berbaikan, tetapi yang namanya bahasa tubuh tidak bisa ditipu mungkin secara raga kita sudah saling memaafkan tapi secara bathin saya melihat belum selesai sambil aku mengambil satu buah referensi buku yang sama sekali belum aku baca isinya dan buku itu adalah buku yang dibawa oleh salah satu temanku dan aku hanya sekilas membaca buku itu. Tapi untungnya ternyata apa yang kusampaikan itu memang benar dirasakan oleh kedua pihak nah setelah itu kembali mereka mengutarakan permasalahan kembali, maksudku waktu itu adalah agar masalah yang ada benar-benar selesai tanpa ada embel-embel. Owwhh Man, waktu itu aku kelihatan sangat bijaksana sekali tapi aku juga tertawa dalam hati karena itu muncul secara spontan dengan hanya membaca judul dari sebuah buku. Benar saja, setelah pertemuan itu teman-temanku langsung menebak dengan benar kalau aku belum pernah membaca buku yang kujadikan sebagai referensiku, bahkan hingga saat ini akupun belum pernah membaca isi buku itu.

Pesan Moral, dalam kondisi terdesak, demi kepentingan umum kadang kita harus mampu memahami isi/ substansi dengan melihat kulit luarnya saja :D ngeles ahh.....


Salam Woyooo.........

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Entri Populer