Jumat, 15 November 2013

INI DIA

AKU BERHARAP DIA ADALAH YANG TERAKHIR UNTUKKU....
dengan segala kelebihan dan kekurangan dan kecocokan maupun ketidakcocokan ku dengannya, aku berharap dialah yang terakhir untukku.

Pas nyari-nyari rumahnya yang waktu itu masih menjadi sebuah "misterY" kata Spongebob karena "dirahasiakan" aku waktu itu cuma bernyanyi lagu Perahu kertas pas diliriknya tu bunyinya " Ku bahagia kau telah terlahir di dunia dan kau ada diantara milyaran manusia dan ku busa dengan radarku menemukanmu" dan beneran ajaib banget rasanya tanpa sengaja dan cuma satu kali bertanya, eh ternyata aku sudah ada pas di depan rumahnya...
yah dialah Theresia Ika Purwantiningsih / T27@
warga Klaten kelahiran 24 Juni 1990

hobinya sebenernya korea cuma ini pas adanya cuma baju jepang
dia adalah penggemar guk guk



nah habis ganti baju merah langsung pakai ini

nie kayaknya lagi mengungkapkan kekesalannya kepada pria paling menyebalkan di dunia dan itu aku


pose nie kayaknya lagi kebelet pips deh
liat nie kalau lagi senyum cantiknya minta ampun dah

nie pas lagi nunggu hidangan siang

Nah ini pas mas penyembuhan habis operasi gigi
Nie Dek Pacarku setelah operasi


yang ini agak ngeri sebenarnya

yang pasti ini bukan di Larantuka

Nie lagi bikin jus mengkudu buat sapi

Dek Pacarku rupa-rupa wajahnya

mringisss

yang pasti nie bukan sama lolo

mecucu, kayaknya gag kebagian jatah suguhan seminar :D

Nie  baru korea

ini juga korea

nie deket perempatan korea

ketahuan cuma akting

siap grak
mengutip Kata padi dia begitu indah
mengutip kata patrick usfal waoww aku mencintaimu
mengutip kata sheila on7 dia adalah anugerah terindah
mengutip kata dewa kamulah satu-satunya
mengutip kata iwan fals aku sayang kamu
 mengutip kata json miraz i'am yours

nie taringnya

pas Dek Pacar ulang tahun ke 11 kalo gag percaya liat lilinnya

pok ame -ame belalang kupu-kupu

ini pas wisuda/apa lamaran ya? :D

menyembunyikan kegendutan :D

ini bukan pake headset

nie ayunaya sempat bengkok lho

Dek Pacar merasa sakit di giginya

tu sama sapi perut bolong

liat, kuda saja sampai naksir

songgo wang

sakit gigi

nie jaman Dek Pacarku melawan penjajah Belanda di tahun 1890
aku sayang sama Dia... walaupun kami saat ini terpisah jarak (sekitar 15.000 km melewati pulau-pulau dan lautan) dan waktu (selisih 1 jam), namun aku selalu berdoa semoga suatu saat kami bisa dipersatukan. Amin

dalam setiap hubungan itu ada saatnya bersenang-senang, bersedih, marah, jengkel, bahagia tapi dengan satu kemauan dan kepercayaan aku yakin semua dapat kami nikmati berdua. :-*

mengutip liriknya bon  jovi aku ingin mengatakan Thank You For Loving me, serta menjadi sebuah harapanku agar hubungan ini menjadi sebuah teory dan praktek happy endingku.





Selasa, 08 Oktober 2013

IJINKAN - MARI MENYANYI

Pertama ku dengar suaramu

Kurasakan Sejuk Iramamu

Kau Mengisi Hariku Dengan Senyum Tawamu

Kau Ingatkan Kembali Semangat Hidupku

Biarkan Sang Mentari Hangatkanmu dalam Ceriamu

Biarkan Sang Rembulan Terangimu dalam Gelapmu

Ijinkan Aku Selalu jadi Mentarimu

Ijinkan Aku Selalu jadi Purnamamu

Ijinkan Aku Selalu Hangatkanmu

Ijinkan aku Selalu Terangimu

Hingga Akhir Hidupku

HIngga Akhir Hayatku

Selamanya.

Rabu, 19 Juni 2013

MENDADAK JADI BAPAK

Tiga hari sebelumnya....> Aku bersiap berangkat ke Kupang untuk mengikuti Diklat... selama tiga hari aku mengikuti sebuah Diklat yang menurutku cuma sekedar sebuah formalitas saja, gimana nggak kusebut cuma formalitas, dari sepuluh modul yang masing-masing modulnya mungkin ada 20 halaman lebih dan peraturan yang dibahas itu kira-kira ada 500 lembar (belum termasuk perubahan-perubahannya) diselesaikan dalam waktu kurang lebih 6 Jam!!! hmmm.. sia-sia dah jutaan uang habis untuk sebuah kegiatan yang tidak jelas... dan memang itulah sistem yang ada pada kita.. kalau formalnya kurang menguntungkan yang dipakae material begitu pula sebaliknya. eitsss malah curhat.. tapi gapapa kan cerita ini juga bagian rentetan cerita yang akhirnya membuatku menjadi Bapak Dadakan.

Kembali ke Tema Judul, setelah kegiatan itu selesai aku memutuskan untuk menengok kerabat/ saudaraku semua yag berada di Kampung Kelahiran Bapakku tepatnya di Kefamenanu NTT (disanalah berkumpul Gank Usfal terbesar di Dunia) seperti biasa, kalau ke Kampung Halaman aku pasti langsung menuju ke Rumah adikknya Bapakku paling bungsu yaitu Om Cipry sebelum aku melanjutkan berkeliling kerumah Adik dan Kakaknya Bapak yaitu Om Teus dan Om Sin...

Pas aku datang kebetulan Caesar (Anak pertama Om Cipry) atau tepatnya Adik Sepupuku sedang ada dirumah dalam rangka liburan kelulusan SMP.  Nah kebetulan aku pas dateng tiba-tiba entah muncul inspirasi darimana, Caesar menginginkan untuk melanjutkan sekolah menengahnya di Flores ikut dengan saya. Karena saya juga sendirian di Flores dan demi kemajuan Keluarga Besar Usfal di Kaubele, akupun sangat mendukung keinginan Caesar. tetapi tidak semulus itu, Om Cipry tidak begitu saja mengijinkan (rasa sayang yang berlebihan)  sehingga agak berat untuk melepas sang anak untuk tinggal jauh dengannya. Tetapi aku berhasil meyakinkan bahwa sang anak pasti akan mendapat sekolah yang bagus. Dan akhirnya malam sebelum aku pulang kembali ke Flores Om Cipry pun menyetujui keinginan Caesar untuk bersekolah dibawah pengawasanku di Flores.

Dengan persetujuan itu makanya mendadak aku jadi seorang bapak yang bertugas untuk menjaga, mengarahkan dan mengatur anak agar dapat berhasil dalam pendidikanya. #padahal ngatur diri sendiri saja masih merangkak-rangkak tapi ini bisa kujadikan satu motivasi sekaligus pembelajaran bagiku... kami bisa saling belajar tentang kehidupan... dan berkat pengalaman ini (walau baru seminggu) aku jadi tersadar betapa susahnya jadi orang tua yang harus bisa selalu terlihat baik dihadapan anak-anaknya walaupun mungkin begitu banyak masalah yang dihadapi diluar.. selain itu orang tua harus bisa menyembunyikan perasaan sayangnya kepada sang anak dengan bertindak tegas atau dalam bahasa kami selaku anak = Kejam tetapi semua itu karena rasa sayang orang tua yang menginginkan anaknya menjadi "manusia"... Semoga aku bisa mengambil peran itu.... dan aku akan berusaha untuk itu... dan inilah ujian hidup sesungguhnya bukan hanya sekedar mengisi titik-titik lingkaran dalam lembar jawaban....

kira-kira seperti itu ceritanya :D


Selasa, 07 Mei 2013

Kencan Pertama dan Terakhir Di Hari Sabtu

Hari Sabtu yang agak mendung sore itu, tiba-tiba aku mendapatkan sebuah pesan dari Aysanti, mengajakku untuk bertemu diTaman Kota, tanpa mandi aku langsung bergegas menuju Taman Kota. sesampainya di sana ternyata Santi sudah menunggu mungkin agak lama, dia membawa sebuah makanan ringan. akupun duduk ngobrol dengan dia.
dalam hatiku memang bertanya-tanya tidak biasanya seperti ini, apakah ada masalah atau ada apa, tetapi itu kusimpan saja karena aku sangat menikmati moment kami berdua di alam luar, sambil duduk berdua. dan ini adalah pertama kali dihari sabtu sore kami bisa duduk berdua. tidak lama Santi pun membuka pembicaraan dan yang pertama adalah tentang keinginannya untuk menlanjutkan S-2 di Semarang, tetapi pembicaraan kedua yang membuat perasaan ini menjadi berkecamuk, Santi menyampaikan bahwa hubungan kami berdua tidak mendapatkan restu dari Ibunya.
Pekerjaanku yang merupakan pagawai pada instansi vertikal menjadi satu pertimbangan karena suatu saat mungkin aku akan dipindah-pindah dan itu yang tidak diinginkan oleh Ibunda.
Berat kurasakan, tetapi aku mencoba untuk meneguhkan Santi, apakah mau mempertahankanku? Hasilnya tetap walau kulihat berat Santi memilih untuk kami menjalani hubungan kami cukup sebatas teman saja. kecewa pasti, sedih juga. tapi aku tidak mau berlarut-larut dalam keadaan ini, aku yakin pasti suatu saat aku akan dipertemukan jodohku oleh Tuhan. Terima kasih sudah pernah menghias warna dalam hidupku. jika Tuhan berkehendak biarlah terjadi menurut kehendaknya, bukan kehendak kita.
Pagi ini aku mendapat pesan dari Mamanya Santi yang memberiku dorongan motivasi dengan kata-kata “Jangan kau sesali mereka yang menghampiri hidupmu lalu memilih untuk pergi, karena mereka mengajarkanmu bagaimana cara untuk melepas”. Renunganku, dalam hidup ini Tuhan memberikan kepada kita sebuah kepastian dalam hidup bukan harapan, sehingga sebagai manusia kita harus selalu siap dengan kehilangan, apapun itu.

Selamat tinggal, dan saatnya menatap hidup baru. semoga jalan ini menjadi yang terbaik untuk kita semua. Amin.

Rabu, 01 Mei 2013

ANTARA HIDUP DAN MATI

Pada hari Sabtu, memang aku sedang merasa bimbang dan gelisah karena satu permasalahan yang membuatkuu tergoncang secara hati dan perasaan, sebagai satu "pelarian" sambil merenung memikirkan jalan yang terbaik untuk masalah ini, akhirnya aku memutuskan untuk pergi memancing sekalian menghilangkan penat setelah disibukkan dengan urusan kantor yang cukup padat pada waktu itu.
Siang-siang sekitar jam 11 Wita, aku membaca sebuah pesan dalam group ternyata ada yang mengajak memancing ke sebuah pulau di tepatnya di Pulau Tiga daerah Ilebura Flores Timur, kebetulan pas hari libur dan sedang banyak pikiran yang harus segera "didinginkan" akhirnya aku menyambut pesan itu. Tanpa menunggu lama-lama aku langsung bergegas untuk mencari si-pengirim pesan yaitu Jeffa pemancing dari Ekasapta. Waktu itu aku tidak ketemu langsung dengan orangnya tetapi ketemu dengan Samsi. Ketika aku sampaikan maksud kedatanganku ke Kampung Baru, Samsi pun langsung tanggap dan menghubungi Jeffa untuk menjemputku. Tidak lama kemudian Jeffa-pun datang menghampiriku dan menyuruh untuk segera bersiap-siap, aku pun segera bergegas mempersiapkan segala sesuatu, mulai dari peralatan mancing sampai bekal selama memancing.
Kira-kira jam 5 sore kamipun berangkat, rencana berubah dari tujuan awal ke Pulau Tiga berubah menuju ke Pulau Mas. Didalam kapal terdapat delapan orang yang siap merasakan sensasi Strike di Pulau Mas. Karena berangkat sore hari biasanya arus laut di Selat Larantuka sangat deras sehingga kapal pun menjadi lamban, Sang Kapten Kapal (Pak Hasan) pun segera mengambil langkah taktis dengan menjalankan kapal secara zig-zag dan mencari jalan untuk menghindari arus, dari jalur kiri menuju ke jalur kanan, setelah melewati arus (kira-kira jam 8 malam malam) Sang Kapten-pun beristirahat dan menyerahkan kemudi ke asisten-nya (Pak Anwar), karena gelap dan lupa pemandu di haluan kapal tanpa diduga dan begitu cepatnya, kapal kami pun menabrak karang dan terdampar di tempat dangkal tengah laut. Suasana santai, seketika itu juga berubah menjadi kepanikan.
Kapal tidak bisa lagi bergerak maju atau mundur karena terjebak diantara karang-karang. kondisi ini diperparah dengan ombak yang kerang menghantam badan kapal dari sisi kiri badan kapal sehingga kapal pun menjadi sangat oleng mengikuti irama ombak yang datang. Dalam setiap hempasan ombak yang datang selalu membat benturan antara badan kapal dengan karang dan benturan ini sangat keras dan berulang-ulang dan jika keadaan ini tidak segera teratasi maka pecahnya kapal-pun hanya tinggal menunggu waktu saja.
Pada saat kejadian semua awak yang sudah berpengalaman-pun sigap untuk menormalkan keadaan, Jangkar segera dilemparkan searah ombak supaya haluan kapal berhadapan dengan ombak, sehingga ombak tidak menghantam kapal, tetapi karena goncangan yang sangat keras tidak bisa dilemparkan  karena di atas kapal kita tidak bisa berdiri dengan baik sehingga salah satu dari kami harus membawa jangkar secara langsung, Jeffa pun meloncat ke Laut untuk menancapkan Jangkar, dua orang lain turun untuk menahan bodi kapal, satu orang menahan kapal dengan menuaskan bambu, satu orang menahan tali jangkar sedangkan aku tetap berada di dalam kapal untuk memegangi dua anak kecil (anaknya Pak Hasan)yang juga ikut bersama kami dan masih tertidur, karena goncangan semakin kuat akhirnya mereka berdua pun terbangun. Setelah mereka terbangun aku pun menyuruh mereka untuk pegang kuat-kuat, karena saya mau membantu yang lain. akupun segera membantu menahan tali jangkar karena sangat berat sekali. Pas sedang menahan tali jangkar tiba-tiba bambu yang digunakan untuk menahan kapak dari atas terjatuh hingga goncangan kapal semakin kuat membentur karang. akupun melihat bambu itu ada didekatku, pada saat aku berdiri untuk berusaha meraih bambu, tiba-tiba satu hempasan ombak yang besar membuatku terhempas terlempar di karang. Keadaan menjadi sangat buruk untukku karena aku terjatuh diantara karang dan sisi kana badan kapal  kapal, ditambah lagi ombak selalu datang ditambah ombak selalu menghantam kapal dari sisi kiri, sehingga membuat posisiku semakin terjepit. Saat itu terlintas dalam pikiranku bahwa aku akan mati karena pada saat itu jarak antara kepalaku dengan bibir kapal hanya sekitar satu jengkal saja, sedang aku tidak bisa mundur karena bagian belakang tubuhku sudah menempel dengan batu karang yang besar, ditambah ombak yang datang terus menerus membuatku susah untuk bergerak.
Saat itu aku merasa sangat dekat sekali dengan kematian aku tidak bisa melawan sang ombak, badanku terjepit antara diantara badan kapal dan karang hingga aku harus siap ketika mau-tidak mau, suka atau tidak suka badan kapal akan menindis tubuhku. Terlintas dalam pikiranku aku pasrah dan akan mati sebagai seorang pelaut. tetapi dalam kepasrahanku aku tetap berusaha untuk keluar dari jepitan kapal dan karang itu, dengan menggunakan tangan kiriku aku berusaha meraih apapun untuk bisa aku gunakan sebagai pegangan dan mengeluarkan tubuhku dari antara kapal dan karang. Hingga akhirnya ada satu ombak yang datang hampir membunuhku sekaligus menyelamatkanku. Berkat hempasannya dibantu dayungan tangan kiriku mengeluarkanku dari jepitan kapal dan karang, dalam hati ini langsung berkata aku selamat, walaupun dalam situasi itu masih ada kemungkinan badan kapal akan menghantamku karena hempasan itu hanya membuatku bergeser keluar dari jepitan saja tetapi tidak membuatku menjauh dari badan kapal, tetapi aku sangat yakin aku akan selamat, dan menurutku Tuhan meneguhkan keyakinanku ketika datang ombak lagi dan akupun terhempas sekitar 3 meter menjauh dari badan kapal dan saat itulah aku mempunyai ruang gerak yang bebas untuk bisa bangkit kembali mengatur badanku untuk ikut menyelamatkan kapal. segera aku berusaha untuk kembali naik kekapal untuk menahan tali kembali akhirnya pelan tapi pasti, haluan kapal bisa diarahkan kembali dengan dorongan dari berbagai sisi kapal dan jangkar yang sudah dipasang dengan benar searah ombak dan aku menahan tali jangkar kembali dengan sekuat tenaga. Sambil mengikuti irama ombak yang  datang membantu kapak kita untuk bergerak pelan-pelan keluar dari karang.
Akhirnya kapal-pun bisa keluar dari karang-karang. tanpa menunggu lama Kaptenpun segera menghidupkan mesin kembali dan dengan pelan-pelan kami bergerak kembali hingga benar-benar keluar dari hamparan karang. Tidak ada sedikitpun pikiran dari kami untuk pulang kembali karena hambatan itu, tetapi kami tetap melanjutkan perjalanan kami, hingga akhirnya sekitar pukul 11 Wita, kamipun sampai ke tujuan dan memancing.
Kami memancing hingga siang hari dan tidak sia-sia perjuangan kami, karena kami pulang dengan membawa hasil yang cukup lumayan untuk dapat dinikmati, dan nikmatnya sungguh berbeda, ada sebuah rasa bangga dan nikmat yang tidak bisa terukur ketika aku menikmati hasil pancinganku setelah perjuangan yang menurutku sangat luar biasa. bahkan rasa sakit karena luka akibat benturan dan gesekan dengan kokoh dan tajamnya karangpun seolah menjadi tidak terasa sakit sama sekali.
Pengalaman ini memberiku pelajaran yang sangat berharga dalam hidupku. Dalam setiap perhentian masalah ada kalanya kita sebagai manusia biasa tidak mampu untuk berbuat apa-apa di saat itulah kita harus menyerahkan semuanya kepada Tuhan, dalam satu ayat dijelaskan "terjadilah sesuai kehendak-Mu bukan kehendak-Ku" jika memang kehendak-Nya nafasku haru berhenti pada saat itu maka aku tidak akan bisa mengelak lagi tetapi Tuhan berkata lain Ia masih tetap menginginkan dan memberiku satu kesempatan agar aku dapat memperbaiki diri dan bertobat inilah pelajaran pertama yang aku dapat. aku-pun yakin bahwa jalan Tuhan adalah jalan yang terbaik. yang aku ingat pada saat kejadian itu adalah Sabda Yesus ketika para muridnya merasa ketakutan saat terjebak di tengah badai kata-Nya kepada mereka“Mengapa kamu takut, hai kamu yang kurang percaya?" hingga membuatku merasa tidak takut sama sekali dalam kondisi itu, dan dengan kejadian ini semakin meneguhkanku untuk percaya dan beriman kepada-Nya karena Ia selalu membimbing jalanku. Semoga Tuhan menerima pertobatanku yang pernah menyangkal-Nya.
aku juga mendapatkan satu pelajaran lagi
sesederhana atau sekekurangan seperti apapun ketika itu kita dapatkan dengan sebuah perjuangan murni akan menjadi sebuah kenikmatan yang sangat luar biasa.  
      

Rabu, 03 April 2013

Aku Percaya

Sempat belajar sedikit-sedikit tentang Atheisme yang intinya meniadakan sosok "Tuhan" akhirnya aku memutuskan untuk kembali kepada Jalan-Nya, bukan tanpa sebuah alasan atau pengalaman. Menjadi manusia yang tidak mempunyai Tuhan membentukku menjadi seorang yang bergerak seperti Robot yang tidak mampunyai rasa dan berfikir seolah semua itu wajar tanpa harus dikasihani ataupun diberi penghormatan. Nuraniku menjadi mati, walaupun dalam hati aku juga memikirkan tentang bagaimana sebaiknya hidup di Bumi ini, tetapi dalam perjalanan aku sama sekali kehilangan rasa belas kasih terhadap sesama, aku selalu menyalahkan "orang" karena tidak mau bergerak untuk merubah nasibnya bahkan lebih jauh aku berfikir kematian adalah akhir dari sebuah cerita, tidak ada jiwa ataupun ruh.

memang dalam Alkitabpun dijelaskan bahwa kebanyakan dari mereka yang tidak percaya akan adanya Tuhan rata-rata adalah orang baik. tetapi pada saat aku menyangkal sosok Tuhan aku seperti kehilangan arah, dan rasa sombongku menjadi tumbuh dalam diri ini, aku menganggap apa yang aku lakukan selalu paling benar, dan setiap aku melakukan sebuah kesalahan atau dosa-dosa selalu ada sebuah pembenaran-pembenaran yang membuatku semakin arogan.

memang secara logika berfikir manusia, kita tidak akan pernah dapat menemukan sosok Tuhan, hampir semua dapat dijelaskan secara ilmiah dan logis. Tetapi dalam keilmiahan dan kelogisan tentang terciptanya alam ini, jika disandingkan dengan pemahaman akan keTuhan-nan  akan terdapat sebuah titik temu yang sama-sama tidak dapat terjangkau oleh pikiran manusia, dalam penjelasan logika manusia, terdapat sebuah hal yang tidak dapat dijelaskan dan diuraikan dengan berbagai teori, yaitu "rasa" tentang adanya rasa inilah yang tidak dapat dijelaskan oleh ilmu pengetahuan.

Memang dalam sebuah perdebatan ilmiah orang yang mempunyai keimanan akan cenderung kalah dengan mereka yang mendasarkan pada sebuah ilmu pengetahuan, tetapi ketika "rasa" berbicara maka ilmu pengetahuan akan dengan sendiri mengakui. Dahulu aku sempat tersesat dalam pencarian hidupku, aku manfikkan adanya sosok Tuhan Sang Maha Esa, dan aku terantuk dengan berbagai kesalahan-kesalahan tanpa atau aku sadari. Saat ini aku bersyukur dengan pengalaman-pengalaman hidup yang aku jalani aku kembali lagi kejalan Tuhan aku ingin menggabungkan sebuah logika dengan rasa, aku tetap berusaha sambil tetap berdoa, buah dari usaha dan doa ini Tuhan yang akan menentukan.


aku yakin sosok "Tuhan" yang Empunya jagat alam semesta ini  nyata dan benar-benar ada!!! dan aku mengimaninya.!!!



Menulis

Beberapa hari ini nggak tahu kenapa aku pengen banget menulis tentang sesuatu, apa saja dan parahnya aku juga nggak tahu mau nulis apa. Aku berusaha menelusuri mengapa aku pengen banget menulis, apa karena ada sesuatu masalah dalam diriku yang tidak bisa aku ungkapkan secara lisan, atau hanya karena sudah lumayan lama aku tidak menulis lagi di Blog ini atau malah karena aku lagi pengen ngetik-ngetik saja. Aneh rasanya, seperti tidak punya arah.
Yah melihat situasi dan kondisi seperti yang sudah aku ungkapkan di atas, akupun memutuskan untuk memuaskan hasratku untuk menulis tulisan ini, selain untuk memuaskan hasrat tulisan coretan yang tidak terlalu jelas maknanya ini paling tidak bisa menumbuhkan gairah maupun ide-ide segar bagiku untuk memulai kembali aktivitas menulisku yang sudah lumayan lama agak terbengkelai karena kesibukan yang luar biasa hingga aku tidak mampu untuk membagi pikiran dan tenagaku untuk bercerita lewat tulisan dengan aktivitas pekerjaanku.
Setelah bergelut dengan pekerjaanku, saat ini ada setitik ruang kosong yang dapat aku manfaatkan untuk dapat memuaskan dahaga ini dan inilah sedikit paragaraf, untuk sekedar mengobati kerinduanku pada Blogku.... Chiayooooo...... 

Selasa, 26 Februari 2013

Bapakku aja bisa aku juga harus bisa donk!!!

Pas lagi browsing-browsing di Internet tanpa sengaja aku menemukan sebuah tulisan ini :

Yovita preserving Timorese heritage
The Jakarta Post ,  Jakarta   |  Tue, 12/16/2003 8:31 AM  |  Life

Yemris Fointuna, The Jakarta Post, Kupang, Nusa Tenggara Timur

Yovita Meta is a hard worker and does not easily back down from challenges, especially in her efforts to empower the people in North Central Timor regency in East Nusa Tenggara. The low profile, 48-year-old woman is pioneering an effort to raise the living standard of Timorese weavers by establishing an organization that promotes and markets the famous Timor fabric.
When The Jakarta Post met her in her residence in Jl. Seroja, Kefamenanu, in the capital of North Central Timor, some 200 kilometers from the provincial capital city of Kupang, her face was as radiant as her brilliant ideas.
She is now enjoying the fruits of her endeavors, particularly in helping the lives of Timorese women. She believes that everyone has a talent to contribute to the good of the community. She has proven the veracity of this belief with her hard work, which she began in July 1989, to preserve the culture of her birthplace, particularly weaving and tie-dyeing craftsmanship, with the help of some innovation and modern technology.
She felt called upon to dedicate herself to the rural people after noticing the low level of her people's working ethos.
""I often visited the villages and found how my people lived in great poverty. Later I devised a plan to mobilize these people so that they could improve their living standards. It struck me, then, that the Timorese woven cloth, which was usually used in garments, could actually be developed into a valuable commodity,"" she said.

Timorese woven cloth, she said, has a high cultural value among the Timorese. However, before it was developed into a valuable commodity, it was usually used only for traditional costumes worn on special occasions like weddings, funerals, house-warming ceremonies and for the traditional likurai, bonet and gong dances.
For the Timorese, this tie-dyed woven material, scarcely had any economic value. As she believed something could be done to improve the usefulness of this woven material, she set up a group of Timorese weavers. At first her group was made up of only eight people from Matabesi village, South Biboki district.
Tned out that this effort received an enthusiastic response. In a matter of only a few years, as many as 406 weavers were grouped into 25 units. They came from 1,779 farming families in 12 villages including Sapaen Boronubaen, Kuluan, Makun and Manumean (North Biboki district), Matabesi, Luniup, Tun besi, Tunbaen, Sainiup and Pantae (South Biboki district) and Taensala (Insana district).
Then in August 1990, at the initiative of the late Anderias J. Meta, Lambertus Diaz, the late Fernandes, the late Yoseph Tulasi, Pius Usfal, Silivester Soma and Yovita herself, these groups were merged into an institute called Sanggar Biboki (Biboki Workshop) under the auspices of Tafean Pah, a foundation led by Yovita. In the Dawan language in the western part of Timor, tafean pah means to develop one's land.
Yovita's mobilization of local weavers has boosted the economic growth of her people. The products are sold on a consignment and fair trade basis.
The price of a piece of a woven cotton fabric has increased from an initial Rp 40,000 (US$5) to Rp 85,000 and later Rp 330,000. A piece of woven fabric made of traditional cotton cost only Rp 250,000 in 1989 but now this product, which is sold both domestically and abroad, costs between Rp 1 million and Rp 3 million a piece.
Each group of weavers can earn a profit of between Rp 17 million and Rp 20 million. Members of the group also have their ""bamboo savings"" and enjoy a loan to buy cows. The profit is distributed to all group members every year.
""Before the establishment of these weavers' groups, the people in these 12 villages could hardly afford to send their children to school. Now, most of their children go to junior and senior highschools and even to university. ""They earn enough from the sales of the woven products to pay for their children's formal education. This means that these people have raised their living standards,"" Yovita said.
Another improvement in the lives of these people is that they have now developed their home industry and have the courage to voice their opinions in public. Their houses, formerly in bad repair with bamboo walls and dirt floors, have now been renovated and provide a healthy living environment.
Yovita's activities have captured the attention of the Indonesian government and international cultural observers.
In 1992, for example, the Indonesian government awarded her with the UPAKARTA citation in recognition of her hard work in developing home industry in her birthplace.
Her weavers' group has also received A$1,000 from Australia's Northern Territory administration. This money was spent on the production of woven cotton fabrics for an exhibition at the Northern Territory Museum of Arts and Sciences in Bulocky Point, Fannie Bay, Darwin, Australia, which was inaugurated on Nov. 22, 1990.
Last Wednesday, Yovita received an international citation, this time from the director of Prince Claus Award, Els van de Plass of Amsterdam, the Netherlands and a cash prize of 25,000 euros. **

Gila JAKARTA POST, secara tulisan ini ditulis dalam Bahasa inggris yang artinya apa aku sendiri nggak ngerti sama sekali, cuman yang bikin aku hati ini tercambuk adalah ada nama Bapakku di situ. Pius Usfal atau yang paling bener Usfal Pius, nggak nyangka juga ternyata Bapakku adalah salah satu pelopor pendiri sebuah yayasan yang menurutku sangat luar biasa. Salut tapi sekaligus menjadi satu cambuk buat saya KALAU BAPAKKU SAJA BISA AKU HARUS BISA DONK!!! SYUKUR-SYUKUR LEBIH!!! Semangat-Semangat 


Jumat, 01 Februari 2013

Sang Pendekar KO Juga

Sekuat-kuatnya Fisik ini akhirnya tepar juga, nggak tahu salah siapa nie sabtu sore kira-kira jam 5 aku di telpon sama teman kosku (Om Arief) ditanya mancing tidak? ibarat tumbu ketemu tutupan, langsung kujawab saja berangkat, dari pertokoan kota dengan masih membondot belanjaan 3 kresek langsung aku bilang "sebentar lagi, ini saya masih sekalian nyari umpannya". tidak tahu kenapa aku menyiapkan bekal untuk memancing lebih banyak dari pada alat-alat pancingnya, mungkin pikirku banyak yang ikut mancing jadi klo beli sedikit nanti cepat habis.
Pulang dari belanja aku langsung menuju ke Kos, tetapi aku lihat kosong pikirku mereka sudah berangkat dahulu, tetapi dalam anganku tidak mungkin mereka ninggalin aku, kan aku yang bikin kompetisi mancingnya akhirnya tidak lama Om Arif datang, tampak dia sangat sibuk mempersiapkan alat-alat pancing dari kamarku, tetapi aku cuek saja aku cuma nunjukkin di sana di sini tempatnya dengan rajin mereka menyiapkan alat pancingnya.
setelah selesai kami meluncur menuju kerumah Om Charles pemilik kapal yang mau kita pakai untuk mancing, nah pas sampai di rumah Om Charles, tidak berselang lama setelah  kami duduk, hujan pun tiba-tiba turun dengan derasnya yah setengah pesimis jadi berangkat mancing atau tidak, tetapi aku yakin kalau hujannya pasti tidak akan terlalu lama. dengan sabar kami menunggu hujan reda, benar kataku, setelah kira-kira setengah jam, hujan akhirnya reda juga dan kamipun berangkat. selama mancing aku merasa sial terus menerus, dari awal aku sama sekali tidak merasakan totokan ikan yang menyambar umpanku. Lebih parah lagi aku harus rela kehilangan tali pancingku 1 roll gara-gara ada kapal yang bercanda bodoh.
dari semalaman duduk dibawah langit dengan hembusan angin yang menerpa badan, akhirnya aku harus pulang dengan tangan hampa tidak 1 ekor ikanpun aku dapat.
Sepulang mancing aku merasa jengkel karena air yang baru terisi dibak penampung tiba-tiba habis. betapa jengkellnya aku. lalu akupun membereskan kamarku, tidak lama kemudia terdengar gemericik air, pikirku wah lebih baik sekalian aku membereskan semuanya dan lalu mengisi air hingga penuh, akhirnya akupun tidak langsung istirahat tidur, aku masih sibuk kiri-kanan membereskan kamar dan menutupnya dengan mandi dan keramas.
selesai aktivitas itu aku langsung tidur dan mengarahkan kipas angin tepat ditubuhku. siang sekitar jam 1 aku terbangun badan ini terasa sangat lemas dan kaku, akhirnya akupun kewarung untuk mengisi perut yang masih kosong, tidak lupa aku minum To**K An*in, minuman yang biasa aku minum kala badan ini terasa kurang sehat. Sepulang makan aku melanjutkan lagi tidurku tapi tiba-tiba badanku menjadi panas hingga aku tidak bisa bergerak sama sekali dan akupun Tumbang. selama di Larantuka baru kali ini aku merasakan panas tubuh yang seperti ini yang akhirnya menumbangkanku. 

Minggu, 20 Januari 2013

KETIKA SAATNYA TIBA


Selamat Jalan Mbak Tipluk, semua kenangan dan  jasamu  tidak akan pernah terlupa (RIP 21 Januari 2013 08 : 00)

Tidak menangis bukan berarti aku tidak bersedih atau tidak mempunyai perasaan sama sekali, dalam beberapa kali saat keluargaku mendapatkan musibah aku sama sekali tidak menangis atau lebih tepatnya menangisinya. Saat itu aku hanya berfikir bahwa itu hal yang biasa, setiap orang pasti akan mengalaminya ketika ia dilahirkan kedunia. Ada waktunya seorang akan hidup dan mewarnai dunia tetapi ada saatnya ia akan mati.
Rasa sedih jelas ada karena walaupun bagaimana terhadap orang yang pernah memberi warna dalam hidup kita masing-masing pasti kita akan merasa kehilangan jika orang itu lebih dahulu meninggalkan kita. Ada beberapa cara yang dilakukan kita sebagai manusia untuk mengungkapkan rasa sedih itu ada dengan menangis ada yang dengan diam ataupun yang lainnya. Tetapi bagiku menangis adalah satu hal yang tidak ada gunanya ketika waktunya sudah tiba, karena saat waktu itu tiba kita tidak ada kesempatan sama sekali untuk merubahnya, inilah yang membuatku berprinsip bahwa aku tidak akan menangis ketika ada keluarga atau sahabatku lebih dahulu meninggalkan dunia ini.
Dengan menangis membuatku merasa bahwa kita tidak, atau belum rela orang yang mendahului kita, menemukan jawaban atas hidup dia dunia, untuk apa dia hidup atau mengapa dia harus hidup. Saat ini aku berfikir bahwa jawaban atas semua pertanyaan-pertanyaan kita  selama hidup ini adalah pada saat mati. Dia akan mendapatkan satu nilai kebenaran yang hakiki kebenaran yang bukan hanya menurut versi sebagian besar atau sebagian kecil manusia, kebenaran yang bukan hanya berdasarkan sudut pandang manusia, tetapi kebenaran hakiki tentang makna dari sebuah kehidupan, yang sampai saat inipun aku sendiri juga belum tahu darimana hidup ini.
Saat ini aku berkeyakinan bahwa Kematian adalah jalan terbaik ketika dalam kehidupan kita sudah tidak mampu untuk menjalaninya lagi, ketika seluruh tenaga dalam jasad ini sudah tidak mampu untuk bergerak kembali. Keyakinanku ini bukan merupakan suatu pilihan menyerah atas hidup dengan jalan mengakhiri sendiri, tetapi hanya merupakan kepasrahanku sebagai manusia yang memang sudah diberikan garis ataupun jangka waktu di bumi ini. Sekuat apapun tenaga kita sehebat apapun teknologi kita manusia untuk memperbaiki segala kerusakan yang ada dalam jasad ini, ketika sang pencipta hidup ini mengatakan bahwa waktu kita di bumi ini sudah habis maka kita tidak akan mampu menghindarinya.
Aku menulis tulisan ini untuk seorang keluargaku, tanteku yang saat ini sedang mengalami sakit, yang secara ilmu kedokteran manusiamungkin  tidak akan bisa disembuhkan lagi, apalagi saat ini aku mendapatkan kabar bahwa Tanteku sedang mengalami saat dalam bahasa jawa “lelaku-nya” yang artinya jalan menuju kematian, aku sangat bersedih ketika tanteku sakit aku tidak bisa pulang untuk menjenguknya tetapi walaupun begitu aku mempunyai keyakinan bahwa jalan kehidupan setiap manusia sudah ada yang mengaturnya, saat-saat yang akan terjadi, tidak ada satupun manusia yang mengetahuinya bahkan sampai saat inipun aku mempunyai keyakinan bila memang belum tiba saatnya pasti Tanteku akan sembuh tetapi bila memang sudah saatnya aku memohon kepada Sang Kuasa kepada Sang Pencipta  alam semesta ini untuk memberi kelancaran jalan.
Ada secercah cerita yang pernah aku alami antara aku dengan Tanteku ini, sebagai manusia kami pernah mengalami masa senang bersama, masa duka bersama, ada kalanya kami berbeda pendapat ada kalanya kami mempunyai kesamaan pendapat dan itu sangat wajar sekali sebagai manusia yang hidup dan mempunyai pikiran masing-masing. Aku sangat menyayangi Tanteku ini, bahkan aku juga harus mengakui bahwa langkah hidupku hingga saat ini juga tidak terlepas dari peran Tanteku, dan saat ini aku tidak bisa menemani tanteku yang sedang berjuang untuk sembuh dari penyakit yang dia derita atau sedang berjuang untuk menyelesaikan tugasnya sebagai manusia di bumi ini. Aku memohon dengan tulus kepada Sang Pencipta Alam ini, berikanlah yang terbaik menurut kehendakMu  untuk tenteku ini.
Larantuka, 21 Januari 2013 00:41 teruntuk Tanteku Ermawati Rahayu “Mbak Tipluk”

Entri Populer