dalam hatiku memang bertanya-tanya tidak biasanya seperti ini, apakah ada masalah atau ada apa, tetapi itu kusimpan saja karena aku sangat menikmati moment kami berdua di alam luar, sambil duduk berdua. dan ini adalah pertama kali dihari sabtu sore kami bisa duduk berdua. tidak lama Santi pun membuka pembicaraan dan yang pertama adalah tentang keinginannya untuk menlanjutkan S-2 di Semarang, tetapi pembicaraan kedua yang membuat perasaan ini menjadi berkecamuk, Santi menyampaikan bahwa hubungan kami berdua tidak mendapatkan restu dari Ibunya.
Pekerjaanku yang merupakan pagawai pada instansi vertikal menjadi satu pertimbangan karena suatu saat mungkin aku akan dipindah-pindah dan itu yang tidak diinginkan oleh Ibunda.
Berat kurasakan, tetapi aku mencoba untuk meneguhkan Santi, apakah mau mempertahankanku? Hasilnya tetap walau kulihat berat Santi memilih untuk kami menjalani hubungan kami cukup sebatas teman saja. kecewa pasti, sedih juga. tapi aku tidak mau berlarut-larut dalam keadaan ini, aku yakin pasti suatu saat aku akan dipertemukan jodohku oleh Tuhan. Terima kasih sudah pernah menghias warna dalam hidupku. jika Tuhan berkehendak biarlah terjadi menurut kehendaknya, bukan kehendak kita.
Pagi ini aku mendapat pesan dari Mamanya Santi yang memberiku dorongan motivasi dengan kata-kata “Jangan kau sesali mereka yang menghampiri hidupmu lalu memilih untuk pergi, karena mereka mengajarkanmu bagaimana cara untuk melepas”. Renunganku, dalam hidup ini Tuhan memberikan kepada kita sebuah kepastian dalam hidup bukan harapan, sehingga sebagai manusia kita harus selalu siap dengan kehilangan, apapun itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar