Senin, 24 Oktober 2011

Jadi Diri Sendiri Itu Enak

Siang tadi waktu aku makan siang aku melihat dua anak kecil, yang kebetulan adalah anak pemilik warung, sedang asyiknya bercanda ria dengan hujan yang cukup lebat mengguyur Larantuka, kuperhatikan mereka sangat menikmati permainannya mulai dari berlari-lari, bergulung-gulung hingga berlagak mengeluarkan ilmu gaibnya (mungkin mau nahan biar hujannya berhenti), lama kuperhatikan hingga dalam hati ini sebenarnya ingin bergabung dengan mereka menikmati air hujan itu,  tapi masalahnya tadi aku masih memakai seragam dinasku jadi keinginan itu harus saya pendam dalam-dalam.
Sambil memperhatikan mereka aku jadi teringat masa kecilku, kebetulan aku juga termasuk anak yang agak bandel di bawah didikan keras kedua orang tuaku yang selalu melarangku untuk bermain hujan karena memang aku gampang sakit, apalagi kalau sudah kena air hujan, mulai dari batuk, pilek sampai demam pasti segera menyerangku, tapi bukan Odik  namanya kalau nggak nglawan. Segala cara dengan seluruh daya selalu aku gunakan untuk bisa kabur dari rumah untuk sekedar berlari-lari, membuat bendungan, menggunakan kulit kelapa untuk kapal,  menikmati hujan. Sungguh senang kurasakan saat itu, aku benar-benar bisa menikmati indahnya bermain hujan.  Bahkan tanpa ada suatu beban apapun walaupun aku tau kalau selepas bermain hujan aku harus bersiap-siap sakit dan ditambah bonus omelan dan sedikit bumbu cubitan dari Orang tuaku.
Waktu itu aku  sadar atas segala resiko yang akan aku hadapi di depan jika aku menuruti kemauanku, dan hasilnya aku sangat senang dan sangat menikmati masa itu, tetapi aku sangat senang dan bahagia, walaupun semua itu aku dapatkan dengan melawan, aku sering kabur  walau kedua Orang tuaku melarang, dan hasilnya adalah akhirnya aku dapat merasakan apa yang teman-teman di masa kecilku rasakan, aku tidak melompati masa kecilku dan aku pun bisa menikmati kehidupanku di masa kecil yang pastinya tidak akan bisa terulang kembali pada masa kini. Sungguh indahnya masa kecil, aku hanya bergerak saat itu tanpa aku memikirkan bagaimana esok,  aku memandang hanya sebatas apa yang bisa aku pandang didepanku tanpa mengawang-awang apa yang ada di jauh sana,  aku bisa bermain bebas aku tidak mau menabung untuk masa depanku kelak karena aku yakin apa yang aku makan hari ini cukup hari ini saja, esok pasti selalu ada rejeki untuk bisa aku makan, aku hanya berfikir bermain, bermain dan bermain. Aku tidak pernah takut sakit karena hujan aku tidak pernah takut dimarahi kedua orang tuaku karena bermain hujan
Aku sangat menikmati hidupku. Kini semua telah berubah aku yang dulu setiap suka bermain hujan sekarang malah berteduh saat hujan, tapi tadi aku sangat ingin sekali bermain hujan tapi kadang aku merasa malu, kadang merasa “masak seorang pegawai masih bermain hujan” sangat menyesakkan juga ternyata jadi orang dewasa, semua gerakku terbatasi status sosialku. Padahal dalam hati ini aku masih ingin bermain seperti dulu. Bahkan dalam jiwa ini masih tersimpan jiwa anak kecil yang masih selalu mau tahu selalu dan selalu ingin bermain. Tapi kenapa harus kupendam semua itu? kenapa aku harus terbatasi? Aku ingin bermain hujan aku ingin bebas tanpa ada sesuatu yang memagariku. Aku ingin senang, aku ingin menikmati hidup yang hanya sekali ini. Hujan datanglah lagi esok dan aku akan bercanda ria denganmu, biarpun tidak ada lagi teman-temanku yang mau aku ajak bermain dengan hujan, aku akan tetap bermain denganmu karena aku mau menikmati indahnya hujan. Terserah semua orang mau berkata aku masih seperti anak kecil, tapi aku akan memperoleh kepuasan cita rasa yang tidak bisa dinilai dengan materi ataupun status sosial, karena yang aku yakini nikmat itu tidak bisa dibayar dengan semua itu. Terima kasih hujan engaku telah memberiku inspirasi dalam menikmati hidup ini. Kini aku mau menjadi diriku sendiri bukan pribadi yang takut bergerak karena orang lain.

25 Oktober 2011

Minggu, 23 Oktober 2011

MAUNYA DAPET DAGING TAHUNYA BADAN ANCURrrr



Persiapan Pemberontakan Republik Timor Raya
Jam 7 malem aku masih asyik menikmati 2 buah mangga hasil kiriman dari Om Teus di rumah atas (rumah Ba’i), sambil jaga kios + nonton bola (pas Tim Garuda yang maen skor sementara 2-2, yang nonton sekampung (listrik belum masuk desa), maklumlah di Republik ini kan pemerataan pembangunan Cuma di Pidato Pejabat ama UUD 45 aja), nah pas babak dua, tiba-tiba Om Agus manggil Om Teus katanya ada yang nyari +nunggu di Rumah atas. Panggilan itupun langsung bersambut, Om Teus segera keluar dan menemui si Pencari. Setelah keluar nggak lama Om Teus masuk lagi  terus minta dompet yang notabene adalah gantungan kunci motor, setelah kukasih ternyata Om Teus cuma mau ngambil duit di dalam dompet (untung aku gag tau, coba aku tau langsung kusikat rata dah). Setelah  itu tiba-tiba Om Cipri pun ngomong ke Om Teus kalau jam segini, apalagi pas bulannya terang (bukan karena tanggal muda loo) tapi malam ini pas banget buat berburu musang, gag tau tumben telingaku malam ini peka banget hingga aku mendengar pembicaraan, akhirnya tanpa sebuah komando, rasa panasaran (selalu mau tahu) pun muncul, dengan rasa yang menggebu-gebu (bagaikan pahlawan waktu berperang melawan Belanda), akhirnya akupun memutuskan untuk ikut andil dalam perburuan.
Aku pun langsung bilang ke Om Teus untuk ikut berburu, mungkin karena melihat posturku yang agak kurang ideal (163/75) ditambah kegiatanku selama di Kaubele cuma makan + tidur (tuntutan cuaca) padahal yang di dalam kurung cuman alesan saja, tapi aku tetap memaksa untuk ikut. Akhirnya karena melihat keteguhanku Om Teus pun mengijinkan aku untuk ikut dalam perburuan itu. Setelah mendapat ijin, akupun segera mempersiapkan sesuatu untuk bekal dalam perburuan itu, mulai dari air mineral satu botol, jaket tebal dan berat, rokok surya 12, handphone, kamera segera aku masukkan dalam tas punggungku.  Pas aku menjinjing tas dari dalam kamar, Om Cipry menegurku “buat apa bawa tas itu??” dan aku pun menjawab dengan lantang “perbekalan berburu”. Begitu aku keluar rumah, sekegar ku-start motor dan menuju ke rumah Om Teus. Sesampainya disana ternyata Ferdi dan Om Kelemes sudah menunggu lengkap dengan senapan dan 3 ekor anjing pelacak.
Dalam Perjuangan Tetap Ada Senyum Pepsodent
Akhirnya kami 5 orang (Saya, Ferdy, Om Teus, Om Kelemes dan Om Endik) segera berangkat ke tempat perburuan, sebelum berangkat, Om Teus menanyakan kembali pertanyaan yang ditujukan kepadaku “kamu bisa tidak jalan di bukit??” dengan lantang lagi aku jawab “bisa”. Setelah itu kamipun berjalan menuju bukit yang ada di depan rumah, baru berjalan 3 menit (masih dipinggiran bukit) 3 anjing yang kami bawa dengan serempak berlari ke arah 1 pohon sambil menggonggong dengan keras dan galak dengan langkah seribu kamipun mengikuti ketiga anjing itu sambil dalam hati tegang mau dapet musang begitu sampai ditempat segera kami mengkokang senjata sembari mengarahkannya kepohon sedang 1 orang menyenter pohon itu setelah. Setelah agak lama mencari-cari dengan senter ternyata bukan musang yang nangkring di pohon tapi cuma kucing yang takut dikejar anjing... hemmmm... pupus harapan mendapatkan musang kecewa dah gag jadi makan, tapi tenang itu baru awal perjalanan. Setelah tahu salah buruan, kami pun melanjutkan perjalanan dan mulai menaiki bukit yang pertama, pas ngeliat medan langsung mental jadi nge-down bayangin aja bukitnya ternyata curam banget 60 derajat setinggi kira-kira 20 meter, mana tanahnya bukan tanah kuat ditambah sendal yang aku pake adalah sendal selop sungguh berat kurasa, tapi untungnya tertolong akar-akar yang sudah agak kering, tapi harus waspada karena kalo kita tarik akarnya agak kuat pasti langsung tercabut dan itu berarti mungkin tubuhku bagaikan bola yang menggelinding dari atas kebawah, tapi jangan salah tantangan pertama berhasil aku lalui dengan perjuangan super hardcore pokoknya tapi pas berhasil berada di puncak yang agak datar sebenernya aku pengen banget istirahat sejenak, eh ternyata yang laen udah pada turun lewat balik bukit waduh padahal tenggorokan ini rasanya dah kering banget, ditambah beban tas yang luar binasa beratnya bonus nafas yang rasanya dah hampir putus terpaksa harus tetap berjalan ngikutin mereka daripada ditinggalin mana ngga tau jalannya, ditambah gelap lagi, tapi aku agak sedikit bernafas lega karena jalannya menurun jadi nggak terlalu berat, cuman kakiku udah keder banget jadinya agak takut juga pas jalan menurun (takut gag kuat ngerem) setelah menuruni bukit akhirnya kami pun bertemu dengan sungai, tapi sungainya cuman sedikit airnya karena pas musim kering, padahal lebarnya kalo dibandingin ama bengawan solo kira-kira dua kali lipatnya, nah pas udah nyebrang, aku bertiga sama Om Kelemes dan Om Teus beristirahat sejenak, sedangkan Ferdy bersama Om Endik tetap setia menyusuri hutan di pinggiran kali (dalam bathinku gila nafas apa mereka nie), nah pas istirahat nggak aku sia-siakan begitu saja langsung air yang kubawa tapi aku keluarin dan langsung ngglek glek glegekkk... sampai sisa ¾ lega banget rasanya, tapi masalahnya perut ini rasanya jadi agak berat, tapi yang penting tenggorokanku terobati, eh belum selesai mengatur nafas yang udah satu-satu nariknya tiba-tiba anjing menggonggong langsung saja Om Teus bersama tiga orang yang lain berlari menuju tempat anjing menggonggong pas itu aku mau ikutan lari tapi kakiku masih keder terpaksa aku memilih diam beristirahat di kali. Tidak lama berselang ternyata buruan mereka sudah berpindah kepohon yang lain dan mereka pun sibuk mencari tanpa sadar ternyata jarak ku dengan ketiga orang yang lain udah agak jauh, wah ngeri juga nie mana gelap gag bawa senter lagi akhirnya mau tidak mau akhirnya aku harus memulai perjalananku lagi “mencari kitab suci” eh “mencari musang” sebelum jarak mereka semakin jauh, kali ini agak ringan karena jalannya datar dan emang jalan umumnya orang lewat tapi tetep aja ada yang bikin susah karena ternyata ada jalan yang terputus jadi harus menyebrang melalui akar pohon yang agak besar ya cukup membutuhkan perjuangan karena butuh keseimbangan badan ditambah pas turun ke akarnya juga membutuhkan tenaga buat nahan berat badan di pohon  tapi tetep berhasil pas udah nyebrang akhirnya kami pun bersama-lagi, nah mereka sedang berbicara dengan bahasa daerah yang sepenangkapanku mereka membicarakan rute perjalanan selanjutnya. Perasaanku udah bener-bener udah nggak enak sama sekali waktu itu karena aku melihat ferdi menunjuk satu bukit sambil memutar tangannya. Dan bener setelah selesai mereka ngobrol parjalanan pun dilanjutkan langsung dengan memasuki area perbukitan dan langsung mengarah ke ujung bukit lemes + nyesel kenapa ngga tidur aja di rumah sambil nunggu ntar kalo dapet pasti juga dikasih dagingnya tapi percuma aja nyesel udah sampe pertengahan kalo mundur juga nanggung.
Laskar Siap Nembak
Akhirnya akupun tetap mengikuti dan kali ini bukit yang kunaiki ternyata medannya lebih mengerikan udah curam dan medannya seperti bukit yang pertama, ditambah lagi bukit itu belum ada jalan yang dibuka ama penduduk jadi aku harus berjuang menerobos ranting-ranting pohon yang kering dan cukup lebat minta ampun rasanya dah, raga ini rasanya udah mau menyerah aja. Untungnya aku membawa tas yang bisa kupake buat tameng dari ranting-ranting itu, tapi biar udah pakai tameng tas tetep aja 
seluruh badan ku tercabik-cabik oleh keganasan ranting itu malah aku sampe terjebak di ranting-ranting itu mau mundur udah ngga bisa lagi mau maju sakitnya minta ampun. Pas di bukit ini kembali anjing menggonggong kembali dan mereka semua pun langsung berlari mengejar anjing itu. Yang aku heran adalah dalam posisi yang agak menanjak, ditambah tertutup ranting-ranting kering tetep aja mereka masih bisa berlari, dan akupun masih sibuk melepaskan diri dari jebakan –ranting itu, setelah berhasil lolos akhirnya akupun melanjutkan menaiki bukit itu dan ternyata di puncak bukit adalah areal pekuburan, tapi untungnya aku mempunyai mental yang nggak pernah takut ama barang yang begituan. Setelah sampai bergabung kembali, ternyata mereka tetap tidak mendapatkan buruan mereka, dari puncak itu akhirnya kami pun berjalan kembali menyusuri dari samping bukit jalurnya sangat miring sekali huftttttttt,,, rontok semua nie badan. Ditambah luka-luka di semua bagian tangan dan kakiku. Setelah mendapat tempat yang agak sedikit enak akhirnya kami pun beristirahat sejenak, lumayan dan waktu itu aku gunakan sebaik-baiknya untuk melepaskan dahaga di tenggorokan lagi. Setelah rasa dahaga terobati sekarang gantian perut serasa kram karena terlalu banyak minum air di tambah lagi rasa kebelet pipis menghantuiku terus. Setelah duduk sekitar 15 menit, akhirnya kamipun melanjutkan kembali perjalanan, satu bukit lagi sudah menanti sudah menanti dengan medan yang agak berbeda lagi yakni medan yang berbatu, sedikit ranting tapi banyak durinya dan tetap dengan kemiringan yang cukup mengerikan, akhirnya kami pun menaiki bukit itu kembali lagi-lagi aku  menjadi penjaga gawang paling belakang pas sampai di puncak bukit aku melihat hamparan dataran yang sangat luas dan banyak bukit-bukit menjulang lalu aku bertanya ke Om Kelemes, posisi kampung kita dimana, lalu Om Kelemes menunjuk barisan bukit yang keempat dan berkata “nah itu letak kampung kita” jadi kita berkeliling tadi. Aku melihat dengan seksama dan langsung berkata dengan spontan “gila jauh juga ya” owhhh man langsung berfikir ini belum berakhir ditambah lagi perjalanan pulang rasanya udah males banget pengen tidur disitu aja tapi tetep aja gag bisa karena yang lain tetep jalan, setelah membayangkan itu semua aku kemudian melihat kebawah, ternyata yang lain udah pada jalan sendiri-sendiri menyebar ke tiga arah. 
Hayo Pada Turun Ngga!!
Ada yang lihat penampakan ngga?
Aku pun memutuskan mengikuti On Endik yang memang jaraknya paling dekat denganku, kemudian aku melihat Om Endik berhenti dan memukul batang pohon dan terdengar suara burung terbang meninggalkan sarangnya, segera Om Kelemes menyusul Om Endik dengan cepatnya, sesampainya di pohon, mereka berdua berbicara entah apa maksudnya Cuma pada intinya mereka membicarakan bahwa ada anakan burung tekukur,lalu mereka pun mengambil sepotong kayu dan mencungkil sarang itu, otak-atik kulihat mereka mencoba menurunkan isi di dalam sarang itu, waktu itu aku gunakan sebaik-baiknya untuk beristirahat, tidak lama 2 ekor anak tekukur pun jatuh ke tanah segera saja Om Kelemes mengangkatnya, lalu akupun langsung berkata, itu harus dipelihara jangan langsung dimakan, heheheee dalam hatiku kasihan burungnya masih kecil dan imut-imut (memang ngga ada sama sekali jiwa pemburu di dada ini). Setelah itu kami pun melanjutkan perjalanan menuruni bukit kembali, setelah sampai di tengah bukit kami pun berkumpul kembali dengan 2 orang yang lain, setelah bertemu kami pun melanjutkan perjalanan. Karena belum juga mendapat buruan dan hari semakin mendekati pagi, akhirnya kamipun memutuskan untuk pulang, dalam bathin  ini serasa sangat lega sekali akhirnya kami pun berjalan pulang. tapi ternyata perjalanan pulang pun tak semudah kusangka ternyata kami juga tetap harus berjalan menaiki dan menuruni bukit lagi owhhh kaki ini serasa bergetar semua hanya yang membedakan, waktu kami pulang kami melewati jalan setapak yang sudah biasa di lewati orang jadi tidak terlalu banyak semak yang sudah merobek kulitku diperjalanan kembali anjing itu menggonggong owhh man dalam hati ini pasti pada lari nggak jelas lagi ini, bakalan lewat medan berat lagi ini, dan benar, kulihat Ferdy sudah menaiki tebing batu yang agak lebat semaknya, sementara aku masih berdiam di tengah jalan setapak itu. Tidak lama aku mendengar suara nggg nggg nggggggggg.... ternyata setelah aku cari-cari suara itu berada disampingku dalam jumlah yang cukup banyak, dan saat itulah aku menyadari kalau aku berdiri tepat disamping  sarang tawon yang berada di semak-semak, kontan saja walaupun nafas sudah hampir putus di tambah kaki yang gemataran aku langsung berlari dengan kencang (daripada dikejar ketangkep terus disengat), setelah berlari sampai di ujung jalan setapak itu akupun melihat batu-batuan yang menjulang tinggi dan ternyata jalan setapak itu habis sampai situ saja hufttttt.... pening kepala ini rasanya melihat medan itu tapi mau tidak mau harus tetep kulalui, nah pas naik batu –batu itu aku merayap sambil mencari pegangan ranting-ranting kecil eh pas megang salah satu ranting ternyata itu duri langsung saja duri itu menancap dengan gagahnya ditanganku owhhhhh sakitnya minta ampun kayak disengat tawon langsung saja aku melepas duri itu satu persatu sampai habis tapi ternyata durinya banyak banget, sakit banget rasanya telapak tangan ini. Sambil jalan aku melepaskan duri-duri itu. Setelah sampai di puncak aku melihat ada jalan setapak lagi untuk menuruni bukit, setelah itu kami pun berjalan turun, dipersimpangan bukit akhirnya kami memutuskan berpisah kami berdua ke arah kiri, dan mereka bertiga ke arah kanan, setlah kutanyakan ke Om Teus kenapa kita berpisah Om Teus pun menjawab “itu rumah di bawah” laga sekali rasanya, dan benar saja ternyata setelah berjalan menuruni bukit melalui jalan setapak kami pun langsung sampai di depan rumah, lega sekali rasanya kalo diibaratkan seperti menemukan Sumber Air ditengan padang gurun.
Sesampainya di rumah akupun duduk sejenak membasuh peluh yang ternyata sudah membasahi seluruh badan ini, setelah itu aku lanjutkan dengan tidur dan bisa ditebak, akhirnya akupun bangun pada sore hari (padahal yang lain pagi-pagi banget udah pada bangun). Itulah pengalaman pertama dan mungkin akan jadi yang terakhir aku berburu Musang, udah nggak dapat hasil, ditambah aku ternyata salah membawa peralatan (gag perlu bawa jaket) yang Cuma nambah beban aja, badanku tercabik-cabik ranting dan duri, nafas ku mau putus-putus, dan salah kostum tentunya (baju dan celana baru ditambah sandal selop) dan memang lengkaplah penderitaanku selama perburuan Musang berlangsung.  Owh mannnnnnnnnnnnn.........  

12 Oktober 2010





Biar lemes tetep narses






    

Rabu, 19 Oktober 2011

Hujan Pertama di Kota Reinha


Hari Selasa kemarin menjadi hari yang sangat istimewa buatku atau bahkan kami semua di Larantuka Nusa Tenggara Timur ini. Pada hari selasa ini aku memulai aktivitas seperti biasa pada hari-hari kantor, aku bangun jam enam pagi (takut kalo kesiangan ntar rejekinya dipatok ma ayam) diawali dengan meregangkan seluruh otot dalam bahasa jawanya "mulet" sambil membersihkan sisa-sisa proyek penggambaran peta semalam, lalu di lanjutkan dengan buang air kecil di kamar mandi sambil sedikit mencuci muka untuk memulihkan kesadaran ke titik 100%, setelah itu kemudian aku  membersihkan kamarku (maklum bujang hampir lapuk, jadi belum ada yang ngebersihin kamarku selain aku) yaitu mulai dari menata kasur, bantal dan guling, membersihkan televisi, laptop, lemari dan lain sebagainya kemudian dilanjutkan menyapu lantai kamar dan diakhiri dengan mandi, istirahat sejenak dan kemudian akupun segera men-start motor dan langsung meluncur menuju kantor untuk bekerja.
Sesampainya di kantor aku segera membersihkan meja kerjaku sendiri, lalu aku menyalakan komputer yang aku pakai di kantor, tidak lama aku memakai komputer tiba-tiba datang Pak Kasubag membawa tugas yang lumayan banyak yaitu SK (Surat Keputusan) sebanyak 12 biji owh mannn.. tapi tetap kukerjakan dengan penuh semangat. Langsung saja aku memulai pekerjaan itu. Pada jam 12 aku memutuskan untuk beristirahat sejenak untuk makan siang segera aku keluar kantor dan meluncur ke tempat makan tujuanku, yaitu rumah makan Jawa Barat yang terletak di dekat lampu traffic light di Pasar Baru Larantuka, dipertengahan jalan, tepatnya di lapangan lebau aku pun bertemu dengan mobil Avansa hitam plat "L" yang aku tau itu milik Pak Chandra, nah kebetulan udah 2 minggu nggak ketemu, akhirnya akupun menyembanginya. Wah pas banget ternyata Pak Chandra waktu itu pas bawa jeruk jadi langsung aku minta saja, apa lagi cuaca waktu itu pas puncak-puncaknya panas dan kering yang membuat kita serasa dehidrasi. Setelah ngobrol akhirnya kemudian Pak Chandra menanyakan tujuanku kemana, langsung saja aku menjawab aku mau mencari makan di kota, mendengar jawabanku Pak Chan mengajakku kerumah makan “Permata Ibu”  tempat kami biasa duduk nongkrong minum kopi bersama, tempatnya di dekat kosku. Akhirnya aku dengan motorku dan Pak Chan dengan mobilnya kembali untuk meluncur ke RM Permata Ibu, karena aku sudah lapar, kecepatan sepeda motor pun aku pacu sekencang-kencangnya. 
Sesampainya aku di RM Permata Ibu, Motorku aku parkir di Warnet yang kami namai "Warnet Swasembada", kebetulan kami sudah akrab dengan penjaga warnet itu yaitu Franco A Nalele. Setelah memarkir kendaraan aku berjalan menuju RM, waktu itu pas juga Pak Chan sampai di warung lalu aku menunggu sejenak untuk memarkir mobil dan kami berdua pun masuk kedalam. Begitu masuk kami pun langsung mendapat sambutan hangat dari sang pemilik RM yaitu Ibu Elizabeth. Lalu kami pun memesan makanan waktu itu Pak Chan hanya memesan Es Coffemix dan aku memesan makan dengan komposisi nasi sedikit (kira-kira 3 sendok makan)  dan sayur yang banyak, maklum sedang diet dan untuk minum aku memesan es teh yang segar. Setelah itu aku pun makan. Setelah selesai makan aku pun mengambil satu bungkus rokok surya 12 dan aku mengambil sendiri di etalase rokok (saking akrabnya dengan pemilik RM), setelah itu kamipun ngobrol sambil minum minum es teh sambil merokok, sambil duduk tiba-tiba datang seorang ibu-ibu dengan anaknya yang datang dengan maksud yang sama yaitu makan, ternyata ibu itu adalah orang yang mengelola rumah makan di ujung kota Larantuka yaitu Rumah Makan Ujung Aro kami pun sudah  sering kesana untuk makan dan berkaraoke ria jadi kami juga mengenal Ibu itu. Akhinya ibu merry namanya, ikut nimbrung ngobrol bersama kami. Pas kami ngobrol tiba-tiba AIR turun dari langit yang sangat Cerah bahkan panas, ternyata ada "Hujan Monyet" (di jawa kami menyebut seperti itu karena hujan berlangsung pada saat cuaca panas)  dengan serempak kami ditambah ibu pemilik warung pun langsung mengatakan kata “AKHIRNYA” hujan juga setelah lama tidak hujan karena pergeseran cuaca. Tapi hujan itu ternyata tidak berlangsung lama dan efek dari hujan yang terjadi sebentar saja adalah udara terasa semakin gerah luar biasa. Waktu itu pengennya Cuma minum es saja. Setelah hujan reda kamipun memutuskan untuk kembali kekantor, bersamaan itu juga Ibu merry juga pas pamit kepada kami untuk pulang juga tapi dia lebih duluan karena kami masih menata barang-barang bawan yang terhambur di meja makan. Setelah Ibu Merry keluar tidak lama Ibu Elizabeth (Pemilik Warung) menyampaikan kepada kami, cepet bilang terima kasih ke Ibu tadi, nie semua udah dibayarin. Kaget bercampur senang dalam hati, kami pun bergegas berlari untuk mengucapkan terima kasih, sambil berkata dalam hati wah besokk barengan lagi ah biar dibayarin lagi heheheee (maklum anak kos) setelah itu kamipun dengan perasaan senang kembali kekantor.
Pulang dari kantor aku  langsung tidur karena rasa ngantuk yang sudah tidak tertahankan lagi. Bangun tidur akupun kembali merapikan kamar, setelah merapikan kamar aku pun mandi. Setelah mandi aku melihat satu panggilan tak terjawab di Handphoneku, aku lihat ternyata Pak Chandra yang menelponku lalu aku pun menelpon balik, tapi ternyata telponnya sedang sibuk akhirnya aku mengirim pesan singkat menanyakan ada apa dan posisi dimana, karena lama tidak dibalas akhirnya aku memutuskan untuk membeli air galon dulu karena air minumku kebetulan sudah habis dua-duanya. Pas keluar, aku melihat Pak Chandra sedang duduk di RM Permata Ibu, lalu aku pun berteriak “sebentar aku beli galon dulu”. Selesai aku membeli 2 galon air, akhirnya Pak Chan mendatangaiku di kos. Karena merasa sepi dan tidak ada kerjaan, akhirnya Pak Chan mengajakku untuk sekedar santai Karaokean sambil minum es, karena cuaca yang sangat panas. Ahkirnya kamipun memutuskan pergi ke RM Ujung Aro. Di sana kami menggila bernyanyi sambil berjoget bersama, karena waktu itu kebetulan juga pas sedang tidak ada pengunjung lain selain kami di dalam RM. Pas seru-serunya bernyanyi tiba-tiba air turun dari langit dengan Derasnya Horay dalam hatiku langsung saja aku meng-update status via Facebook yang intinya mau nyampein kalau Larantuka mendapat Hujan untuk pertama kalinya setelah kemarau panjang. Serasa mendapat kelegaan yang sangat luar biasa akhirnya kamipun menikmati hujan kembali. Indahnya Hujan Pertama di Bumi Reinha, Tanah Lamaholot. Semoga hujan kemarin membawa kesejukkan dan menghapuskan dahaga pada bumi ini. Dan semoga Hujan ini membawa kebaikan bagi seluruh masyarakat Larantuka Flores Timur.

Larantuka 20 Oktober 2011 
      

Senin, 17 Oktober 2011

Nikmatnya Naek Kapal Laut


Pertama kali aku ngebuktiin kalo apa yang digambar di peta adalah sebuah kebenaran, yaitu waktu tahun 1999 tepatnya pas aku masih kelas 3 SMP, waktu itu aku adalah anak SMP yang polos, lugu dan cukup ndeso, tapi punya hasrat buat bisa naek alat transportasi selain sepeda, motor, atau mobil aku pengen jalan-jalan tapi di tempat yang jauh (gag Cuma Solo-Jogja-Klaten itu aja belom tentu setahun sekali), tapi aku cukup bersyukur dengan ke-ndesoan-ku karena berkat itu aku punya rasa penasaran yang sangat luar biasa sehingga selalu muncul gejolak nafsu yang sangat luar biasa untuk menjawab rasa penasaranku. Kembali lagi ke penasaran tentang pembuktian apakah peta itu bener atau ngga, akhirnya  hampir tiap hari aku memaksa Bapakku biar mau ngajak aku pulang kampung halamannya yang sangat jauh dari perkiraanku (bayanganku adalah java khususnya klaten-solo-jogja), oh ya sebelumnya biar nggak rancu aku kasih bocoran dikit dah kenapa aku selalu maksain Bapak, kebetulan oleh kehendak yang Maha Kuasa, Esa sekaligus bijaksana, aku diberi anugerah berupa Bapak yang berasal dari sebuah pulau di luar jawa di daerah terpencil yang konon belum terdapat listrik disana (sampe sekarang dan mungkin selamanya pun listrik gag berminat buat kesana!!!) begitu kuatnya desakanku ditambah lagi dukungan dari koalisi (sodara dari Bapak) akhirnya meluluhkan hati Bapak buat memberangkatkan ku ke tempat kelahiran Bapakku. 

Seperti informasi dari informan di atas akhirnya keturutan juga aku berangkat ke NTT waktu itu aku berangkat sama Omku namanya Om Maksi, sebelum berangkat ke NTT aku diajak terlebih dahulu di Mess tempat Om ku di Malang dan ini adalah kali pertama aku keluar dari Provinsi Jawa Tengah. setelah menginap di Malang kami akhirnya berangkat menuju Bali tepatnya Tanjung Benoa Bali, Pelabuhan besar di Bali pas berangkat menuju bali dan itu pertama kali aku keluar dari Pulau Jawa dan pertama kalinya aku naik alat transportasi yang cukup besar yaitu Kapal Feri pertama aku melakukan perjalanan ini tiap malam aku nggak pernah  bisa tidur membayangkan besok mau naik kapal sekaligus berharap cepat-cepat hari berganti dan aku bisa merasakan naik kapal. tidak pernah sedikitpun aku merasa takut pertama kali aku naik kapal karena aku bisa berenang tapi ternyata laut gag seperti bayanganku (karena seringya ngeliat jolotundo/kolam pemandian) tapi walau melihat laut begitu luas rasa takut juga tak kunjung muncul karena kebahagianku menikmati perjalanan ini. setelah naik kapal feri menyebrangi selat bali akhirnya tibalah kami di Bali, hmm pulau yang sangat mistik menurutku (karena kulihat setiap pohon besar pasti disarungin). setelah perjalanan darat lagi akhirnya sampailah kami di Pelabuhan Tanjung Benoa Bali yang aku lihat di Peta letaknya di sebelah timur selatan bali. sesampainya di Pelabuhan, kami pun menginap 1 hari di Bali karena kapal yang akan kita tumpangi baru dijadwalkan besoknya baru tiba, saat itu kami menunggu dan tidur di Pelabuhan Bali. hati ini rasanya semakin tidak tenang ingin segera menaiki kapal yang akan kita tumpangi besok untuk perjalanan menuju NTT, dari mulai  ngga bisa tidur, nggak tenang saat makan (takut kebelet) sampe ngga bisa buang air besar (aer di bak pelabuhan gag ada ntar kalo nekat cebok pake apa coba?)  menjadi bentuk nyata dari kegelisahan itu. Hari pun akhirnya berganti dan matarahari keluar dari sarangnya lagi, sekarang tibalah saatnya kapal itu datang pada sore hari, sangat besar sekali kataku dalam hati dengan polosnya sambil berkata wah kalo punya rumah segede kapal ini nyapunya gimana ya? pas mau naik ke kapal, aku sangat kaget karena naik kapal nggak seperti kita kalo mau naik angkot atau bis kota, antri yang sangat luar biasa (bisa nyampe ribuan orang) apalagi jaman dulu naik orang masih jarang banget naik yang namanya pesawat karena harga tiket pesawat lumayan mahal + aku naiknya kelas ekonomi jadi harus rebutan buat dapetin tempat tidur di atas kapal (waktu itu belum tau sikon di atas kapal) mau tidak mau akhirnya aku pun segera membaur dalam antiran itu. Rasa panas, berat (karena bawaan kaya orang mau pindahan), desak-desakan, sesak menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain tapi semua itu dapat kulawan karena waktu itu badanku tak segemuk sekarang, dengan perjuangan yang sangat keras ditambah bantuan kebersamaan dari teman-teman Om Maksi, akhirnya aku pun berhasil melewati antrian itu. sesampainya di atas Om Maksi menanyakanku "adit kamu mabuk laut tidak?? nanti istirahat di dek kapal saja"aku pun menjawab "ndak tau Om saya belum pernah mabuk jadi ndak tau", "okelah kalau begitu" jawab Om Maksi. Rasa desak-desakan dan sebagainya ternyata tidak berhenti sampai di atas kapal saja, ternyata setelah naik di atas kapal kita juga harus berpacu dengan penumpang-penumpang yang lain untuk mendapatkan tempat di dalam deck kapal, mulai dari deck 5 sampai deck 3 kami susuri untuk mendapatkan tempat yang masih kosong, nah ada yang berbeda dalam perburan tempat ini, karena biasanya para penumpang sudah memesan tempat dari orang (entah saudara atau teman) penumpang yang mau turun untuk memakai tempatnya, selain itu para ABK juga sering menyewakan matras untuk tidur (padahal seharusnya itu fasilitas kapal tapi maklumlah Indonesia) nah setelah berkeliling akhirnya kami pun mendapatkan tempat di deck 3 setelah mendapatkan tempat kami pun segera mengatur posisi, nah kalau sudah dapat tempat, nanti biasanya kalau ada yang tanya "masih ada yang kosong ko?" pasti selalu dijawab "sudah penuh" walaupun tempat itu masih ada 1 atau 2 tempat yang masih kosong (tempat tidur di kapal kelas ekonomi seperti barak tentara) memang sifat individualisme manusia kentara sekali disini. setelah kami selesai menata posisi, akhirnya terdengar pengumuman yang bunyinya kira-kira seperti ini "Selamat datang para penumpang KM Awu, diberitahukan bahwa sesaat lagi KM Awu akan segera di berangkatkan kepada para pengantar dimohon segera meninggalkan kapal karena kapal sebentar lagi akan diberangkatkan" saat ini suasana menjadi ramai kembali banyak orang-orang di dalam kapal yang ternyata adalah pengantar penumpang saja, para pengantar ini pun segera berlari-lari mencari pintu keluar karena takut terbawa kapal, nah begitu para pengantar ini turun, ternyata jumlah penumpang jadi menyusut lumayan banyak sehingga kapal pun menjadi agak longgar. begitu kapal akan diberangkatkan, dalam diriku muncul rasa penasaran dan langsung aku pamit ke Om Maksi untuk keluar dari deck untuk melihat keberangkatan kapal aku pun keluar di sisi samping.
Akhirnya kapal pun diberangkatkan, lambaian tangan dari pengantar yang masih berada di pelabuhan yang di balas lambaian tangan dari para penumpang di atas kapal pun mengiringi keberangkatan kapal, aku pun tak mau kalah, biar nggak ada yang ngantar aku juga ikut melambaikan tangan sambil berteriak-teriak histeris manggil dari Eyang sampai cucu. setelah kapal agak manjauh dari pelabuhan akupun berjalan-jalan menyusuri tiap bagian kapal dari ujung sampai ujung, dan ternyata cukup menguras energi karena memang alat transportasi yang satu ini sangat besar sekali. setelah berjalan-jalan akhirnya aku menemukan tempat paling favorit di atas kapal yaitu kafe/kantin kapal yang umumnya terletak di belakang atas bagian kapal, tempat ini paling menyenangkan menurutku karena dari sini kita bisa duduk sambil melihat pamandangan sambil mendengarkan musik dan ngobrol-ngobrol dengan sesama penumpang. Naik kapal laut membutuhkan waktu yang sangat lama sehingga karena itu membuat berada dalam alat transportasi kapal ini sering kali menjadi menjadi ajang perkenalan bahkan tidak jarang juga yang ketemu jodohnya di atas kapal (kalo gag salah tanteku adalah bukti nyata-nya) dan disinilah letak seni menggunakan alat transportasi ini, karena di dalam kapal kita dapat bertemu, bertukar pikiran dalam bidang  apa saja dengan siapa saja dari berbagai suku bangsa di Indonesia atau bahkan dengan turis asing yang tak jarang juga menggunakan alat transportasi ini.

Kembali ke cerita ku di awal, setelah menemukan tempat favoritku aku pun duduk dan memesan minuman di kafe itu (harga makanan di atas kapal ternyata miring tapi naik) setelah itu pelan-pelan akhirnya aku mendapat seorang kenalan  penumpang dari Waingapu Sumba, kami pun  ngobrol tentang daerah masing-masing dan dilanjutkan obrolan kana kiri yang tidak jelas arah juntrungannya, setelah itupun aku mulai semakin berani membuka perkenalan-perkenalan yang lain hingga waktu itu hampir di setiap bagian kapal aku mempunyai kenalan (serasa jadi artis ueyy) dan setiap lewat pasti ada yang manggil namaku, setelah ngobrol, kira-kira jam 7 sore terdengar pengumuman bahwa akan diadakan pemeriksaan tiket kepada penumpang, dan untuk memperlancar jalannya pemeriksaan untuk sementara semua pintu akan ditutup dan penumpang dilarang mondar-mandir, kaget dan takut akhirnya akupun segera bergegas turun untuk mencari Om Ku, tapi terlambat ternyata pintu sudah terkunci sehingga aku pun ngga bisa masuk lagi tapi aku agak merasa tenang karena tiket kapal waktu itu kubawa sendiri tapi yang menjadi masalah berikutnya adalah aku udah nahan kencing agak lama dan diluar ngga ada tolietnya hmmmmmm bayang pun.. mau ngga mau aku pun berusaha menahan rasa itu dengan sekuat tenaga, setelah tau terkunci akupun segera kembali ke posisi awal yaitu di kafe kapal dalam pikiranku wah ini sampai kapan pintunya dikunci kalau sampai besok parah dah. Kira-kira setelah setengah jam berlalu datanglah beberapa orang berseragam Putih-putih datang dan meminta karcis kami, akhirnya karcis itu saya berikan tapi kemudian setelah di cek sebentar karcis itu di berikan kembali padaku, eitzzz tapi jangan di buang lansung tiketnya karena ternyata dalam tiket itu terdapat doorprize berupa jatah makan di pantri. setelah petugas itu berlalu tidak lama kemudian di umumkan bahwa pemeriksaan tiket sudah berakhir, akhirnya akupun mencoba kembali turun untuk masuk dalam deck dan ternyata amin, pintunya sudah terbuka segera aku berlari mencari toilet untuk segera membuang air yang sudah lumayan lama aku tahan. setelah selesai membuang hajat ternyata masalah baru muncul yaitu aku lupa dimana tempat Om Ku, wah yang satu ini membuatku agak bingung bukan main aku terpaksa menyusuri kembali deck demi deck yang mambutuhkan waktu sekaligus tenaga extra karena hampir semua deck bentuknya sama, setelah kira-kira 1 jam akhirnya aku menemukan posisi Om Ku di dalam Deck. karena sudah sore semua penumpang pada sibuk untuk mandi dan membersihkan badan, melihat antrian kamar mandi yang cukup panjang akhirnya aku memutuskan untuk menunda waktu mandiku, dan akupun menanti sambil mengobrol dengan Om Maksi dan teman-temannya. Kira-kira pukul 21.00 WITA aku melihat kamar mandi sudah kosong, aku pun memutuskan untuk mandi sekaligus menghilangkan keringat yang membuat lengket badan ini. setelah mengambil semua alat mandi aku pun segera menuju ke kamar mandi. dengan percaya diri aku segera mengalirkan shower dalam kamar mandi segar rasanya, walaupun air di kapal ngga seperti air di darat tapi tetap serasa segar. setelah mengguyur badan dengan shower  segera aku matikan shower untuk mengelap badan ku dengan sabun, segera usap seluruh badanku, lekuk demi lekuk tubuhku aku usap dengan sabun hingga berbusa dari ujung kepala sampai dengan ujung kaki hingga mata pun susah melek, dengan meraba-raba akhirnya aku menemukan kran shower nah pas aku putar eh aernya udah ngga ngalir lagi, hmmmmmmmm dalam hati alamat dahhh dengan setia aku menunggu hingga setengah jam, tapi tetap tidak ada tanda-tanda air akan mengalir kembali, aku pun hanya bisa pasrah sambil ngedumel dalam hati "tau gitu tadi nggak usah mandi malah aman" dan selanjutnya itu aku gunakan waktuku terkurung dalam rasa dingin untuk merenung menyesali dosa-dosa masa laluku, satu jam berjalan akhirnya ada tanda-tanda air dengan tetes demi tetes air yang turun dari shower satu tets berarti untuk semua ini kurasakan betul saat terkurung di dalam kamar mandi kapal, tetes demi tetes  yang turun aku ratakan ke semua badanku hingga tak terasa 2 jam berlalu dan akhinya busa pun hanya tersisa sedikit tapi masih terasa agak lengket, dan setelah itu aku pun langsung keluar dari kamar mandi, seluruh badanku menjadi mengkerut. dan sejak saat itu aku berjanji untuk tidak lagi mandi dalam kapal. dan dari peristiwa itu akhirnya membuatku trauma dan ngga berani makan dikapal takut nanti pas buang air besar tiba-tiba macet bisa jongkok sampe 2 jam aku. setelah selesai menghadapi cobaan bertubi-tubi itu akhirnya cukup membuatku trauma untuk melakukan beberapa kegiatan di atas Kapal. 
 
Banyak kejadian unik lainnya yang kulalui saat aku menikmati perjalanan di atas Kapal, pernah suatu malam waktu itu aku naik kapal  Dobonsolo dari Kupang tujuan Surabaya, waktu itu sore hari kau berkenalan dan sempat sedikit ngobrol dengan Orang dari Papua di Luar deck kapal tepatnya di atas pelampung keselamatan kapal orangnya tinggi kekar dan sangar tapi baik, nah pada malam harinya aku tidur sendirian di bangku samping di luar deck karena aku memang malas untuk tidur di dalam deck, pas lelap-lelapnya tidur tiba-tiba ada yang meraih kerah bajuku dan mengangkatku dalam posisi berdiri di atas kursi sayup-sayup mata ditambah kesadaran yang baru naik sekitar 5 watt, aku perhatikan ternyata orang yang berkenalan dan ngobrol sama aku tadi sore. dalam posisi berdiri di atas kursi dan dia di bawah saja tinggi badan kami sama. setelah agak sadar akhirnya betapa kagetnya aku ternyata dia dalam keadaan mabuk parah sambil menanyakan dompetnya yang hilang kepadaku dengan sangat emosi. takut ngeri, bingung kenapa nanya dompet ke aku padahal waktu itu perasaan ngga ada sama sekali potongan  copet, belum menurunkan kerah bajuku tiba-tiba dari ujung kapal muncul lagi segerombolan teman-temannya berteriak (entah teriak apa) sambil berlari kepadanya, dalam bathin ini langsung berkata matilah aku malam ini. sesampainya gerombolan itu di tempat kami satu orang langsung menariknya dan bilang bukan-bukan ini kawan kita langsung serasa mendapat setetes air di tengah hamparan padang pasir, legaaa plong akhirnya aku nggak jadi malam itu, kejadian ini memberikanku pelajaran bahwa berbuat baiklah kepada setiap orang maka di dalam situasi yang sangat sulit pasti akan ada orang yang menolongku.
Di kapal juga aku berkenalan dengan seorang dari Belanda bernama Sam Van Vliet atau akrab kupanggil dengan nama Samuel pas dengan dia juga banyak cerita seru di atas kapal mulai dari diuber-uber orang gag jelas yang cukup membuat dia risih sehingga kamipun membantu untuk melarikannya dari uberan orang tak dikenal itu, pas waktu itu kebetulan ada penumpang cewe bule juga dari german, bermodalkan nekat akhirnya akupun mengajak berkenalan sebelum berkenalan aku tanya sedikit dulu ke Samuel tentang cara pendekatan awal, nah waktu itu pas mau tenggelam mataharinya lalu aku dengan sok tau dan pedenya aku pun menghampirinya dan berkata "would u want to look sunset? but we must wait for one a clock" mendengarku itu cewe bule kebingungan aku pun juga jadi ikutan  bingung kenapa ini orang bingung, tapi melihat dia kebingungan aku pun gag kehabisan akal aku coba menambahkan dengan bahasa isyarat tapi ternyata dia tetap bingung, melihat situasi ini Samuel pun tanggap dan langsung menyambung pembicaraan kami akhirnya akupun tertolong malu-maluin sih tapi pede aja kali besok juga udah nggak ketemu lagi. dari perkenalan itu akhirnya Samuel pun mengikuti kau hingga sempat 3 hari menginap di kosan di malang dan satu minggu di rumah Klaten.
Pernah juga aku mengalami berdiri terus saat perjalanan dari Kupang menuju Makasar dengan Kapal Dorolonda, waktu itu aku berkenalan dengan mahasiswi dari Makasar nah dari perkenalan itu kamipun bermain kartu untuk mengusir kebosanan  selama di Kapal kami waktu itu bermain permainan Jenderal, yang sebelumnya aku nggak tau gimana pola permainan itu tapi tetap aja aku nekat buat ikut dalam permainan itu (di jawa kan biasanya main 4-1, minuman, malingan dan remi saja), padahal sebelum bermain aku udah dikasih tau kalau peraturannya kalau kalah maka hukumannya berdiri sampai bisa menang, memang sebelum bermain aku sempat diajari sedikit cara bermain dalam permaianan ini walaupun belum terlalu paham tapi tetep akhirnya aku bergabung untuk bermain, nah parahnya selama dalam permainan nggak satu kalipun aku menang dalam permainan itu dan buset konsekuensi yang haru aku tanggung adalah berdiri selama perjalanan dari Kupang sampai Makasar owh man karena inilah akhirnya betisku menjadi besar sekali (padahal emang udah bawaan lahir). selain itu masih banyak pengalaman-pengalaman yang menurutku menarik selama aku menggunakan alat transportasi massal ini.
selain itu dari sini aku bisa mendapatkan banyak pelajaran berharga dalam hidupku yang tak akan pernah terlupakan mulai dari pentingnya teman, keankaragaman manusia, kewaspadaan dan masih banyak hal-hal yang lain lagi. itulah sedikit pengalamanku yang membuat aku begitu menikmati perjalan di atas kapal. 

















KMAwu, 
KM Dobonsolo, KM Dorolonda, KM Sirimau telah memberikanku kenangan yang begitu indah, unik dan tak terlupakan. Terima Kasih. Ayo Semua Kita Naik Kapal.....           

Senin, 03 Oktober 2011

PANITIA 8 FOR ME


 The Real Generasi Penerus Perjuangan 45 Panitia 8

 Pada awal perkuliahan aku adalah anak yang cukup aktif dalam berbagai kegiatan di luar kampus, entah kenapa tetapi menurutku pada waktu itu aku merasa kegiatan di luar adalah sesuai dengan idealismeku sebagai seorang mahasiswa. Seiring dengan berjalannya waktu,  karena ada suatu permasalahan yang menurutku sangat prinsipil, akhirnya aku memutuskan untuk keluar dan kembali lagi ke dunia kampus, dengan niat sekalian untuk menyelesaikan kuliahku. Baru sekitar 3 bulan berselang aku melihat ada sekumpulan mahasiswa duduk di belakang sebuah meja  kecil di depan pintu perpustakaan kampus. Karena penasaran akhirnya aku pun mendatangi stan tersebut dan aku membaca istillah MCC tapi waktu itu aku belum tahu sama sekali apa itu MCC, yang aku tahu waktu itu hanyalah sidang semu yang diadakan untuk mata kuliah praktek hukum. Setelah aku datang dan membaca akhirnya tanpa sengaja aku ketemu dengan kakak angkatanku tahun 2003 yaitu Iman Khilman mendengar sedikit cerita tentang MCC dari Iman dan undangan untuk mengikuti perkenalan tentang MCC, akhirnya aku merasa tertarik dengan yang namanya MCC hanya waktu itu, masih juga aku kepikiran tentang apa itu kepanjangan dari MCC, karena susahnya menulis Mooth Court kata Mood atau Moot menjadi susah aku pilih mana yang paling benar, kembali lagi ke cerita singkat kata, ketertarikannku di MCC tersebut lebih lanjut aku lakukan dengan mengikuti perkenalan yang diadakan pada sore hari waktu itu kulihat sangat banyak mahasiswa angkatanku dan beberapa angkatan di bawahku mengikuti kegiatan perkenalan itu dengan antusiasme yang sangat tinggi tapi ternyata itu tidak berlangsung lama seleksi alam akhirnya membuat para mahasiswa ini pergi meninggalkan MCC. Waktu itu rekruitmen MCC diadakan untuk mempersiapkan tim yang akan diberangkatkan ke Bandung untuk bertanding di ajang kompetisi piala KOMNASHAM (inilah salah satu alasan kenapa aku tertarik dengan yang namanya MCC aku bisa jalan-jalan gratis dari kampus ke kampus).
MCC Bandung inilah menjadi tonggal awal sebuah ikatan kegiatan, persahabatan sekaligus  persaudaraan yang terjadi diantara 8 orang Mahasiswa Fakultas Hukum UNS yang kebetulan semuanya bersala dari angkatan 2004. Walapun gagal di Bandung karena waktu itu hanya mendapat peringkat 4 setelah UGM kami tidak patah arang berbagai seleksi alam yang semakin menyusutkan keanggotaan MCC tidak lantas membuat kami lari dari MCC. Setelah MCC Bandung akhirnya tiba saatnya menghadapi kompetisi lain yang diadakan oleh Universitas Diponegoro Semarang yang setahuku baru pertama kali menyelenggarakan kompetisi yang dinamai Piala Profesor Sudarto, berproses di semarang membuat ikatan diantara kami semakin erat, hampir setiap hari kami tidur, makan, jalan-jalan kemana saja dimana saja bersama-sama (cuma mandi saja yang tidak sama-sama) dan ini dilakukan hampir selama 3 bulan penuh sebelum menghadapi perlombaan. Akhirnya tiba saatnya bertanding dan kami mendapatkan Juara II kalah dengan UI yang menduduki Juara I, walaupun kecewa tapi kami cukup senang dengan hasil itu karena untuk beberapa teman-temanku ini adalah even pertama kami meraih gelar dalam kompetisi peradilan semu antar kampus ini. Euforia kemenangan ini tidak berlangsung lama karena setelah MCC UNDIP, MCC ALSA UGM siap diselenggarakan di Jogja. Seleksi alam lagi-lagi menyusutkan jumlah kami angkatan 2004. Nah sekarang  adalah saat-saat paling bersejarah bagi lahirnya nama panitia 8. Dalam rangka menghadapi even ALSA UGM, para senior 2003 dan beberapa dari Angkatan 2004 telah bersepat untuk melakukan peng-eratan tim sekaligus ujian rekruitmen di Tawang Mangu (obyek wisata pegunungan di Karanganyar) waktu itu seingatku pada waktu pas hari H di Tawang Mangu aku tidak bisa datang tepat waktu dikarenakan masih ada kegiatan lain diluar MCC yang cukup penting (kayaknya menyangkut urusan dompet) tapi akhirnya pada sore hari sekitar jam 5 setelah aku selesai dengan urusanku akhirnya si Black pun aku ajak berangkat ke Tawangmangu dengan semangat rock untuk segera meluncur ke Tawangmangu sesampainya di TKP semua teman-temanku pada heboh bak menyambut datangnya seorang Presiden (Lebay dikit nggak apa-apalah) dan menceritakan kalau mereka mau buat tim dengan nama Super On 7 (hmmm yang ini kayaknya plagiat dari SOS 7)  tapi karena kedatanganku akhirnya semua menjadi berubah nama Super On 7 pun akhirnya batal digunakan karena personelnya menjadi 8 orang. Dengan perdebatan yang cukup sengit dan sangat menguras tenaga (tapi badan tetap dingin karena di pegunungan) sampai hampir seluruh bahasa atau istilah hukum dikeluarkan termasuk  azas-azasnya, akhirnya disepakati nama Panitia 8 sebagai nama pengikat diantara kami 8 Mahasiswa Fakultas Hukum UNS Angkatan 2004 yang sangat cerdas dan berprestasi (sombong dikit ngga papa-lah) nama-nama itu adalah :
Adityo Danukusumo Usfal, SH.  Klaten, 8 Juli 1986.
Awas Jam Kuliah
Sosok yang satu ini adalah aku sendiri. Nah biar terkesan sportif, aku menjabarkan diriku dalam  Panitia 8 dengan meng-copas tulisan temanku Fadly Alfarisi,
“Adityo D.Usfal aka Odix aka Oday aka Cuplis aka Jin Botol. Sbnry byk yg bs ku tulis ttg Pria 1 ini (bs sampai berlembar2). Krn byk kegiatan yg ku lalui bersamanya.baik d MCC,Magang n tmpt curhat seputar percintaannya. yg Jls pria satu ini sgt LEBAY..terutama dgn gadis2..oh man..pembawaannya yg supel n kdg cenderung sok tw m'bwt dia selalu d kangenin keberadaannya. yg khas dr odix adl.komunikasiny yg bs menembus semua golongan (dr RRI sampai dekanat). bnr2 master of communication. kemudian dia jg tahan banting n care ma adik2 MCC. odix mrpk pemain Legendaris d MCC FH UNS krn partisipasinya d berbagai even blm ada yg menandingi. odix spesialisa hadir d TM dan u/ penggarapan berkas dia suka2 aj. mau dmana aj terserah.sepanjang ga bikin mawut berkas TIM..hahaha klo Tmn2 garap berkas biasanya odix gitaran d luar (mesti nyanyi shaggy dog). d dlm sidang Odix spesialisasiny m'jd Terdakwa (pernah m;jd terdakwa terbaik) dan dia sgt sulit sekali menghapal skenario terdakwa. tp untungny u/ improvisasi dia sgh luar biasa (pernah action pingsan sgala...persis Karung beras jatoh..hahaha). karier terakhirny adl.sbg petugas pengadilan.odix jg mrpkn ank kesayangan pembimbing MCC FH UNS. khasny odix adl..."Oh man...Fuk man".."Wooyooooo"..."Ohh,,,,Yaya"..selain itu Odix jg gemar menyambangi RRI (entah 7anny apa)..1 hal ingatan saya yg berkesan ttg odix adl.pd saat menghadap k dekanat u/ memperjuangkan uang HAM Unpad 2008.” Kira-kira kira seperti inilah penilaian teman, sahabat sekaligus saudaraku tentang aku ya hampir mirip walaupun masih banyak yang kurang (kurang baiknya), tapi menurutku dalam MCC aku lebih sering menjadi pendingin suasana yang lagi panas mungkin karena kebijaksanaanku dalam menghadapi segala masalah ditambah lagi dengan naluriku sebagai mediator yang baik (biar nambah kebaikkannya) :D.
Anita Tiar, SH. Magelang, 28 September 1986

Mbak Mbem Bubu Manis

Hal yang paling khas dan sangat berkesan dalam hidupku terkait dengan sosok Nita adalah Pipinya yang ngga bisa sembuh setelah disengat tawon, pipi tembem itulah hal yang pertama kuingat dari sosok Anita, hingga aku dengan senang menjulukinya dengan nama Mbak Mbem, sosok Anita sebenarnya aku sudah mengenal agak dekat dengannya pada waktu awal kuliah dulu kadang aku main ke kos dia (karena jarak kos kami berdekatan) untuk meminjam catatan (akibat dari memperhatikan dosen terlalu serius akhirnya lupa nyatet) ditambah lagi ternyata ibuku dan ibunya pernah berteman pada masa SMA-nya. Mbak Mbem menurutku adalah sosok yang agak misterius sok cool (peace) dengan ketergantungan luar biasa (setahuku yang digantungi adalah daning) tapi Anita adalah termasuk anak yang sangat tekun dan pintar (kalau ngga percaya lihat saja IPK-nya) dalam Panitia 8. Mbak Mbem  sangat rajin menggarap berkas sidang terutama berkas hakim, di mana ada Mbak Mbem pasti disitu ada daning kalau ada daning nggak ada Mbak Mbem berarti bisa diindikasikan kalo Mbak Mbem lagi cemberut dan pipinya semakin membesar, gaya tidurnya pun luar biasa (bisa dilihat di foto hasil jepretan tersembunyi) dalam MCC Mbak Mbem berperan sebagai Hakim Anggota, tapi yang satu ini kalo ngambek agak susah dijinakkin karena Mabk Mbem menurutku adalah sosok yang agak tertutup kecuali waktu tidur b***rnya pasti terbuka (pisss lagi)  dialek yang paling kuingat dari Mbak Mbem adalah “lha nek kwe kie pie to Day??” kurang lebih seperti itulah sosok Mbak Mbem. Saat ini Anita menjadi pelopor dalam panitia 8 untuk urusan Jodoh karena Anita adalah anggota Panitia 8 yang sudah menikah (sejarah pertama kali) dan bahkan sudah memberikan ponakan buat Om dan Tante di Panitia 8, yang lainnya nggak tahu sampai kapan baru nyusul. Sekarang Mbak Mbem sudah  bekerja di Pemerintahan Daerah di Magelang sebagai Abdi Negara. Semoga selanjutnya semakin sehat, bahagia dan sukses selalu. Amin.
Eka Yudiarto, SH, Karanganyar 21 Desember 1985
Playboy Cap Nasgor Tempe
Sosok yang satu ini adalah sosok yang paling misterius dalam Panitia 8 sosok yang sangat pendiam, teliti, tertutup, pemalu dan lain-lain tetapi dalam hal ketelitian dan kedetailan belum ada yang mengalahkan Eka Yudiarto koreksi dalam setiap berkas setebal ratusan bahkan ribuan lembar dengan total jutaan kata pun dia koreksi satu persatu bahkan detail tentang scenario pun ia perdebatkan yang paling terparti dalam ingatanku adalah dalam kasus di Polsek Abuba (dalam scenario), waktu itu ada saksi Ibu- ibu yang selamat dari pembakaran di Rukonya oleh gerombolan nah disini terjadi perdebatan yang cikup seru antara Eka dengan Pethonk ’03 pertanyaannya adalah “lha ini saksinya kok bisa selamat? Kan rukonya terbakar dia kaburnya lewat mana?“  hal kedua yang paling aku ingat adalah  waktu makan malam sama-sama tepatnya di warung nasi goreng depan Tiong Thing kita sudah pada mesan ada yang nasi goreng telor atau nasi goreng ayam tapi ternyata Eka mempunyai pilihan yang lain yaitu “Nasi Goreng Tempe”. Saking misteriusnya bahkan Eka-pun nggak mau ngajak kita kerumahnya entah kenapa?? Yang pasti setelah beberapa even selesai ternyata baru aku tahu walaupun hanya kabar burung saja kalau Eka pergi untuk bertanding pasti ijinnya tidur di kos-san teman. Dalam MCC Eka berperan sebagai pengoreksi dan berperan sebagai Hakim Anggota, Saksi dan Petugas Penyumpah. Begitulah kurang lebihnya tentang Eka, saat ini Eka bekerja sebagai Abdi Negara di Lembaga Penelitian, sangat cocok dengan karakteristik Eka yang sangat teliti dan sering memunculkan pertanyaan-pertanyaan diluar dugaan kita. Semoga selanjutnya semakin sehat, bahagia dan sukses selalu. Amin.
 Fadli Alfarisi, SH. Bekasi, 28 Desember 1985
Fadli bersama pujaan hati
 Sosok yang akrab dipanggil sama Daning dengan sebutan Bo ini terlihat wibawa, jaim, mau bilang ganteng tapi aku bukan homo, tapi menurut banyak wanita fadli adalah sosok yang ganteng 11-12 sama gading marthen lah… hanya yang menjadi masalah adalah Fadli berpacaran dengan wanita hanya sebagai kedok saja biar dikatakan normal (pissssssss) yah sebelum mengenal Fadli lebih jauh, aku sangat segan dengan Fadli karena sifat pendiamnya dan cenderung kelihatan cerdas, tapi lama kelamaan baru keliatan aslinya yang hobi misuh juga hahahahaaaa… apalagi setelah kami magang bersama di sebuah Instansi Bagian Hukum di Pemerintah Daerah Kabupaten Sragen Fadly memunculkan aslinya dan keluar dari topengnya (pissssssss) dibalik jaimnya ternyata menyimpan hal-hal yang sangat luar biasa mulai dari buaya sampai tukang bolos dan tidur waktu magang :D, setiap hari aku dan fadli berangkat bersama waktu magang disaat magang kebetulan ada staff yang sangat baik pada kami Bu  Diah  namanya, setiap hari fadli sangat bersemangat untuk ditraktir bahkan malah sengaja memilih jam makan yang bersamaan dengan beliau (lumayan bisa gratis), pengalaman terbaik dengan Fadli adalah saat kami pulang magang dan membeli Kelapa Muda Bakar yang rasa dan harganya luar binasa. Fadli paling takut kalau si Daning sedang ngambek karena konsekuensinya adalah harus membelikan cemilan, kalau digoda sama Feri muka bahkan seluruh badannya menjadi merah semua, selain itu waktu Lomba Fadli paling hobi dengan LO atau pendamping tim yang disiapkan oleh panitia (kalau aku dengan sesama peserta lomba) dalam MCC Fadli berperan sebagai PU, PH, Saksi dan Hakim Ketua. Begitulah kurang lebihnya cerita tentang Fadli, sekarang Fadli bekerja sebagai Abdi Negara pada Kantor Kejaksaan. Semoga selanjutnya semakin sehat, bahagia dan sukses selalu. Amin.
Feri Irina Rachmani, SH. Gresik, 17 Februari 1986
Sedang Merayu
Sosok yang satu ini didaulat sebagi Bos Genk di Panitia 8 karena memang dia adalah koordinator Panitia 8, Keras tapi dalamnya agak rapuh, suka kentut sembarangan, cewawakan, genit adalah cirri khas dari Feri. Banyak cerita tentang Feri termasuk dalam hal asmara (pernah terjebak kisah cinta mahasiswa denganku)  pembawaanya agak keras tapi cukup humoris ini memberikan warna tersendiri dalam Panitia 8 cengkok dangdut yang sangat kentara pun membuatnya dipercaya terus menerus dipercaya sebagai Penuntut Umum dalam MCC, selain itu kebiasaan mengupilnya juga tidak kalah menarik dan cukup menjijikkan peace moment yang sangat teringat dalam ingatanku dengan Feri sebagai Panitia 8 adalah saat kita mengerjakan berkas dan kemudian ada malasah dalam tim kemudian aku mengajakknya keluar untuk sekedar merefresh  pikiran agar segar kembali, waktu itu aku mengajaknya di Stadion Manahan, sepanjang perjalanan Feri menangis bahkan berniat mundur dari kompetisi dan mungkin dari MCC tapi aku memberi dia motivasi untuk maju dan akhirnya berhasil, feri selalu memanggilku bantet, jin botol dll tapi ternyata dibalik itu tersimpan rasa karena mungkin wajahku memang tampan :D tapi kisah kami akhirnya berakhir tetapi Feri tetap menjadi sahabat terbaik. Dalam MCC Feri selalu dipercaya sebagai Penuntut Umum. Sekarang Feri bekerja pada sebuah perusahaan kontraktor dan membuka usaha wedangan di Kota Gresik. Semoga selanjutnya semakin sehat, bahagia dan sukses selalu. Amin.
Junaidi Arief, SH. Kudus, 25 April 1986
John Teler
 Sosok yang satu ini adalah pribadi yang cerdas, tekun, bertanggung jawab, suk kentut juga, dan suka mengeluarkan istilah konyol yang menarik dan sangat cerdas sosok ini menjadi tulang punggung dalam pengerjaan berkas Penasihat Hukum dan bagian teknis terkait dengan persiapan MCC “Tak ada pantat yang rapat” adalh cirri khasnya, alergi sama telor karena takut berjerawat dan rambutnya jadi gatal (padahal karena nggak pernah keramas) melekat dalam pribadinya. Santai tapi serius dalam menghadapi masalah dan gampang terlihat frustasi untuk beberapa hal, agak pendiam tapi selalu berusaha memberikan argumentasi, berani mengungkapkan sesuatu yang tidak cocok dengannya dengan  caranya sendiri itulah Juned atau akrab aku panggil dengan sapaan John hal paling berkesan dengan dia adalah pada saat kami mengantarkan berkas lomba Di UNDIP walaupun 2 hari sebelumnya kami berdua sama-sama tidak tidur untuk menyelesaiakan berkas akhirnya tiba dateline waktu pengumpulan maka kami harus segera mengantarkan berkas ke UNDIP saya ingat betul waktu itu bersamaan dengan ulang tahun tahun phillow jadi kami mendapat syukuran nasi kuning. Waktu yang mendesak memaksa kami untuk tidak beristirahat sama sekali dengan semangat menggebu-gebu motor pun di start pada pukul 9 malam lebih dan kami pun berangkat dari solo dengan bekal Nasi Kuning syukuran dari Phillow. Dengan kecepatan penuh 90-100 km/jam bak Max Biaggi  yang memacu Motor GPnya sambil berharap berkas yang kami bawa tidak terlambat sampai pada tempatnya. Dijalan  pun kami sempat menabrak musang yang sedang melintas tapi tetap tidak kami hiraukan karena waktu yang mendesak. Akhinya pada tengah malam tepatnya pada Pukul 00:01:01 kami sampai di komplek Kampus Undip tapi sial ban motor yang kami kendarai pun mengalami kebocoran. Akhirnya kami pun mencari tukang tambal ban terdekat sambil menelpon menghubungi Panitia dari UNDIP. Sambil menanti tukang tambal ban akhirnya dari panitia UNDIP menjemput kami dan kami pun bersama-sama menuju sekretariat panitia. Disana kami bertemu dengan peserta dari UKSW yang waktu itu membawa mobil (pengen bawa mobil benernya). Setelah menyerahkan berkas akhirnya kami memutuskan untuk pulang, tapi sebelum perjalanan pulang, kami pun memutuskan untuk sejenak berkeliling tugu muda dan sekalian menyantap Nasi Kuning yang kami bawa di trotoar dekat simpang lima begitu lahap sampai-sampai bungkusnya pun hamrpir dimaka juga. Setelah itu barulah kami melanjutkan perjalanan dalam perjalanan kami sempatkan berfoto di tempat yang agak tinggi disemarang di dekat cofe rest karena disana pemandanganya sangat indah kemudian kami melanjutkan perjalanan lagi, karena sangat mengantuk akhirnya kami memutuskan untuk berhenti di sebuah Pompa Bensin dan tidur hingga pukul 9 siang untuk melanjutkan perjalanan. Juned adalah sahabat yang benar-benar bisa diajak untuk bersenang-senang maupun bekerja berat. Dan sehabat yang paling ringan tangan untuk dimintai bantuan. Dalam MCC John berperan sebagai Hakim Anggota, Saksi, dan Petugas Pengambil Sumpah. Saat ini John terdampar di Belantara Kalimantan untuk mengadu nasib di perusahaan Batu-bara sambil menyelesaikan S2-nya di UGM. Semoga selanjutnya semakin sehat, bahagia dan sukses selalu. Amin.
Nasyiatun Fadillah, SH. Boyolali, 24 Maret 1985
Mikir Nasib Masa Depan
Sosok yang satu ini bersedia berkorban demi MCC hingga menjadi Tante Toyib yang ngga pulang-pulang dan seorang Bigos (paling cocok kerja di Infotainment) Dilla Ndul adalah patnerku dalam mengerjakan berkas Panitera (tapi banyakan Dila semua yang ngerjain) pribadi yang jarang marah tapi suka keceplosan hal-hal yang sangat rahasia, jadi harus hati-hati apabila bercerita tentang hal-hal yang sifatnya rahasia sama yang satu ini. Hal yang kuingat dari dia adalah pengorbanan yang sangat luar biasa yaitu dari anak rumahan yang dipingit orang tuanya yang tinggal di daerah pedalaman di Jawa Tengah hingga rela menjadi Ibu toyib demi Panitia 8. hal yang paling berkesan dengan Dilla adalah ketika kami mengingat pertemuan pertama, ternyata Dila melihatku pada waktu pemilihan dekan fakultas (waktu itu saya jadi tim sukses pak Jamal) dia berfikir aku sangat menyeramkan tapi tampan (yang ini murni tambahan saya )mungkin karena brewok tapi setelah mengenalku semua pikiran itu ternyata berubah total kata Dilla katanya Wajah Preman hati Beriman. Dalam MCC Dilla Berperan sebagai Panitera dan selalu menjadi Panitera Terbaik dalam setiap even MCC dan hal itu ternyata berlanjut dalam dunia kerja, Dila pun menjadi Abdi Negara Sebagai Panitera.  Semoga selanjutnya semakin sehat, bahagia dan sukses selalu. Amin.
Sekar Dianing, SH. Magelang 25 April 1986
Padahal Kolongnya Kecil Banget


Sosok yang akrab dipanggil dengan sebutan kecil ini memang pas karena postur badannya yang mini (dikarenakan makan sedikit) tapi banyak ngemil dan walaupun posturnya kecil, tapi Otaknya luar biasa bisa dikatakan jenius tingakt tinggi, selain itu dia seorang yang sangat periang dan bersemangat sekaligus menjadi kas bulanan kita kalau kita baru dalam keadaan kosong blong tapi jangan salah dibalik periangnya itu, seperti yang dibilang Fadli, kalau yang satu ini ngambek wah bakalan kacau semuanya karena dia memang tulang punggungnya semua berkas di MCC Sosok kecil Daning memang kecil tapi sering kali dia sebenarnya pengen besar :D (pisss) dia sosok yang sering minta dibeliin makanan kalo kosnya sudah dikunci, sangat cerdas Daning menjadi sosok yang sangat unik kecil dan menggemaskan dia juga yang memberiku julukan Cupliz padahal orangnya besar kayak gini, banyak kenangan bersama Kecil yang kualami selama di MCC selain tour traveling Solo-Wonogiri-Jogja-Magelang-Dieng, kejogja hujan-hujanan bawa Mobil Kerupuk milik universitas, tapi yang paling mengesankan adalah pas kita lagi curhat bersama tiba-tiba aku melihat raut muka Keci agak berubah dalam hatiku langsung berkata wah siaga 1 ini si-Kecil mau ngambek dan benar saja aku langsung berinisiatif untuk mengirim sms penghibur buat dia dan ternyata benar setelah itu dia minta untuk break sejenak dan mau tidak mau akhirnya kita pun break sesaat sebelum melanjutkan, selain itu pas sidang di UNPAD saking menikmati sidangnya kebetulan aku terdakwa, Kecil dan Fadli sebagai PH aku asyik ngobrol dari utara sampai selatan timur ampe barat sama si Fadli karena kecil ikutan bersemangat dia pu bergaya menyambung pembicaraan pria kami (padahal sebenarnya kecil gag tau kita lagi ngobrolin masalah cewe UNPAD yang gag jelas) heheheeeee pissssss….  Dan kami hanya meng-iyakan setiap sambungan kecil xixixixiiii… pisss…. Dalam MCC Daning selalu dipercaya sebagai PH dan tulang punggung pemberkasan, saat ini Kecil bekerja sebagai Abdi Negara dikantor Kejaksaan. Semoga selanjutnya semakin sehat, bahagia dan sukses selalu. Amin.
Itulah profil dari 8 orang anggota Panitia 8, banyak permsalahan yang sudah kami hadapi bersama mulai dari hal yang buruk hingga hal yang baik, semua proses yang kami jalani itu akhirnya membuat kami semakin dewasa dan mengerti akan makna persahabatan, proses yang kami lalui telah mempererat tali persaudaraan kami bahkan hingga saat ini walaupun terpisahkan jarak dan waktu. 8 pribadi yang berberbeda disutukan dalam satu wadah yang dinamai dengan MCC, sungguh satu kebanggaan aku bisa bersahabat dan bersaudara dengan Para Panitia 8. Delapan Pribadi yang bisa saling mengingatkan disaat kita terlupa sesuatu, saling mendukung disaat salah satu dari kita jatuh, saling memberikan semangat, saling memaafkan jika ada yang membuat salah selalu kompak dalam merapatkan barisan, bahkan Panitia 8 menjadi inspirasi dari beberapa Adik-adik angkatan kami yang menjadi penerus dari generasi kami. Banyak hal yang sudah aku dapatkan dari Panitia 8 Mulai dari menangis hingga tertawa. Semua ini tidak akan bisa aku dapatkan tanpa kalian. Aku sayang kalian semua saudaraku Panitia 8  dan dalam keyakinanku kelak kita akan mewarnai Indonesia ini dengan warna yang cerah. Dan akhirnya semoga persahabatan ini tetap terbawa sebagai kenangan terindah dalam hidup ini. Semoga dalam tugas sebagai pribadi masing-masing kita senantiasa sehat, bahagia dan sukses selalu. Chiayooooooo Pan 8 woyooooooooooooooooo……
Piala yg sudah dipersembahkan oleh Panitia 8 untuk Universitas Sebelas Maret Surakarta :
1.      Juara I  MCC  Money Laundering Tingkat. Nasional tahun 2007 di Universitas Trisakti  (Kecil & Feri)
2.      Juara IV MCC Tingkat Nasional oleh KOMNASHAM Tahun 2007 di Universitas Padjajaran Bandung  2007 (full pan.8)
3.      Juara II MCC dengan Tema Korupsi Piala Prof Sudarto I Tingkat Nasional di Universitas Diponegoro Semarang  (full pan.8)
4.      Juara I MCC HAM Tingkat Nasional di Universitas Padjajaran Bandung  tahun 2008 (Fadli, Juned dan Odix)

Woyoooooooo
 Terima kasih buat persaudaraan dan persahabatan sejati, selain itu tak lupa juga aku ucapkan  Terima kasih juga buat Teman ku angkatan 2004 yang telah mendukung kami, Wieryo, Danang dll, terima kasih kakak-kakak angkatanku 2003, adik-adikku penerus MCC FH UNS, official, dan semua orang yg mensupport MCC FH UNS semangat semangat di MCC kita bisa menemukan makna persahabatan dan persaudaraan sejati.



  -3 Oktober 2011-

Entri Populer