Minggu, 29 April 2012

Tour Flores - Jawa Part III Sapeh-Tano

Tanggal 26 Desember 2012

Pelabuhan Sapeh...


Bangun pagi setelah semalam kami tidur di atas kapal, akhirnya kami sampai juga di pelabuhan Sapeh, Bima Nusa Tenggara Barat. Dari jauh kami melihat begitu banyak aparat bersenjata lengkap melakukan penjagaan di Pelabuhan Sapeh, bukan untuk melakukan pengawalan pribadi kepada kami, tapi memang untuk menjaga pelabuhan Sapeh, yang pada waktu itu terjadi aksi massa untuk menolak kebijakan tidak populis yang diambil oleh kepala daerah setempat.











Menikmati pemandangan sebelum turun ke Pelabuhan Sapeh, aku merasakan keindahan yang luar biasa dan saya yakin orang lain juga akan setuju dengan pendapatku ini. Begitu banyak kapal-kapal nelayan dipinggiran laut, ditambah pencahayaan dari alam yang menampakkan warna jingga semburat melengkapi keindahan sudut pandang ini. Sambil menikmati pemandangan itu tidak terasa akhirnya kapal yang kami tumpangi pun merapat di pelabuhan. Pada waktu turun kami sempat mengambil beberapa gambar aparat kepolisian yang sedang berjaga-jaga di Pelabuhan Sapeh. Mungkin dalam benak mereka, kami adalah utusan dari tim investigasi atau apapun yang akan melakukan penyelidikan atau meninjau lokasi, setelah terjadi kasus pembubaran aksi massa secara paksa oleh aparat yang terjadi di Sapeh waktu itu. Padahal sebenarnya kami adalah Trio Zebra yang sedang menikmati liburan mudik melintasi separo selatan tenggara Indonesia, yang pura-pura menyamar sebagai tim investigasi.







Keluar dari Pelabuhan Sapeh kamipun langsung masuk ke sebuah rumah makan di Padang yang tempatnya didekat gapura keluar masuk pelabuhan sapeh, dan kamipun langsung bersarapan pagi menikmati kopi, sambil bertanya-tanya tentang kejadian pada waktu terjadi pembubaran aksi massa. 

Pemilik Warungpun bercerita sampai hampir menangis. Kata Ibu itu, kejadiannya berlangsung mulai pukul 4 pagi, waktu itu massa yang jumlahnya ribuan menunggu datangnya aparat yang rencananya akan datang pada dini  hari atau tengah malam, tetapi hingga sekitar pukul 3 dini hari ternyata aparat tak kunjung datang juga, akhirnya ribuan warga pun pulang kerumahnya masing-masing untuk beribadah dan hanya disisakan sekitar 300-an orang warga yang tetap berjaga di Pelabuhan. Tidak lama setelah warga meninggalkan lokasi pelabuhan, aparat pun bergerak menuju pelabuhan, menurut sang pemilik warung, aparat bergerak sangat rapi tidak menimbulkan kegaduhan sama sekali, hingga para warga yang masih tinggal di pelabuhan pun tidak tahu kedatangan aparat gabungan ini. Begitu sampai di Pelabuhan aparat pun langsung membubarkan massa dengan tembakan dan pentungan, banyak dari warga yang tertangkap waktu itu diseret kemudian didudukkan di pinggir-pinggir kios jalan masuk pelabuhan kemudian ditendang dan dipukuli dengan sepatu maupun popor senjata, bahkan ibu yang menyaksikan kejadianpun itupun tak kuasa menahan tangis. Setelah selesai makan dan mendengarkan cerita itu kami pun membayar Rp. 35.000.

Selesai makan kami pun langsung keluar, dan kami melihat banyak Benhur (alat transportasi sejenis kereta yang ditarik kuda),  kami pun tertarik untuk  naik Benhur  berjalan-jalan  keliling menikmati Kota Sapeh. Aku pun bertanya biaya untuk menyewa Benhur tersebut, setelah tawar-menawar akhirnya disepakati Rp. 30.000 untuk berkeliling kota Sapeh.
 Nah pas kami naik Benhur ini (mungkin karena kudanya habis makan sehingga tenaganya pun masih utuh), si kuda pun seperti mengamuk atau dalam bahasa Yunani “Njondhel-Njondhel” hampir menubruk bagian belakang mobil kami. Aku yang sudah naik pun terpaksa harus meloncat turun kembali karena takut. Untung sang kusir sudah lihai dalam menjinakkan Benhur, sehingga tidak sampai menabrak mobil kami. Setelah Sang Kuda agak tenang, kemudian kami naik kembali ke Benhur. Waktu itu Mas Chan terpilih untu lebih dahulu naik (muatan paling berat), setelah itu aku dan Sang Kuda langsung berlari dengan gagah. Setelah kuda mulai berlari ternyata ada satu kru kami yang tertinggal, yaitu Kang Agung. Dia pun berteriak-teriak histeris hampir menangis karena ditinggal Benhur, tapi kuda ini adalah tipikal kuda yang agak cuek, jadi biar Kang Agung berteriak-teriak minta di tunggu, si kuda tetep saja jalan tidak mau tahu, dan terus melaju. Melihat situasi ini Kang Agung pun akhirnya mengalah untuk berlari dan loncat untuk menaiki Benhur itu.






 Setelah Kang Agung berhasil menaiki benhur itu, kemudian kami menuju ke Pasar Sapeh. Terlihat aktivitas di pasar itu sangat ramai, karena kami datang pada saat jam biasanya orang-orang mulai berbelanja.


 Sesampainya di pasar, kamipun langsung berkeliling pasar untuk mencari makanan-makanan khas yang ada di dalam pasar itu. Sampai di tengah pasar, kami menemukan salah satu makanan khas di Sapeh yaitu Bingka (jajanan khas sapeh yang terbuat dari kelapa yang diparut dicampur beras yang ditumbuk kemudian di kukus hingga mengeras dan berbentuk kotak-kotak). Harga  Bingka ini sangat murah, hingga kami memutuskan untuk membeli 4 kotak bingka dengan harga Rp. 8000. Setelah puas berkeliling di dalam pasar, akhirnya kamipun kembali menuju mobil kami yang di parkir di depan pintu masuk pelabuhan. Dalam perjalanan lagi-lagi kami dibuat ketakutan oleh Benhur, apalagi saat sebuah truk melambung dari sebelah kanan kami, sang kuda menjauh dari truk ke arah kiri, tetapi tetap dengan kecepatan maksimal, tanpa memikirkan keseimbangan hingga kamipun hampir keluar dari bahu jalan. Bukan hanya itu saja, karena terbiasa dengan jalurnya, ketika melihat salah satu pasar di sebelah kiri, dengan sok tahunya sang kuda berinisiatif sendiri untuk belok ke kiri masuk pasar tanpa diperintah pilotnya. Dengan sigap sang pilot pun membelokkan benhur hingga kami kembali menuju jalur yang benar.

Sesampai di tempat mobil kami di parkir, kami pun kembali berfoto-foto di depan gapura pelabuhan sapeh, tak ketinggalan sang pilot benhur juga meminta untuk di foto bersama dengan benhur tercintanya. Akhirnya kami pun melanjutkan perjalanan menuju Bima, sebelum itu kami menyempatkan untuk membeli salah satu makanan khas kota Sapeh yang lain yaitu Ayam Panggang dengan harga Rp. 70.000 untuk satu ekor ayam.

 Setelah membeli ayam panggang, kamipun melanjutkan perjalanan, selama perjalanan kami melihat pemandangan yang sangat indah hamparan bukit yang berpadu dengan sawah dan sungai menghiasi perjalanan kami. Di tengah perjalanan menuju Bima kami berhenti sejenak untuk menikmati pemandangan sekaligus menyantap ayam panggang yang sudah kami beli tadi.



 Sungguh luar biasa rasanya, kami duduk di atas gubuk yang kosong di dekat sungai, dan menikmati gurihnya ayam panggang yang rasanya sangat nendang di tenggorokan hingga rasanya aku ingin balas menendang ayam itu. Selesai menikmati ayam panggang kami pun  melanjutkan perjalanan menuju Bima.








Perjalanan dari Sapeh menuju kota Bima kira-kira kami tempuh selama kurang lebih tiga jam dengan jalan yang cukup berkelok-kelok naik turun. Sesampainya di Bima, Kang Agung segera mengontak temannya pada waktu kuliah, yang bernama Iwan. Tidak berselang lama kami pun dijemput oleh Iwan, dan kamipun langsung menuju ke Rumah Iwan untuk menumpang mandi, makan sekaligus beristirahat. Dirumah Iwan kami disuguhi makanan khas Bima yang terkenal dengan ikan bandengnya. Bandeng itu dibuat dalam beberapa macam masakan, disertai dengan aneka lalapan dan sambal khas Bima dengan cita rasa asam. Selesai beristirahat,  kamipun melanjutkan perjalanan menuju Sumbawa.

Pukul 17.00 kami bergerak menuju Sumbawa melalui Dompu. Dari seluruh rute yang kami lewati, jalan Bima-Dompu-Sumbawa adalah jalan dengan medan paling berat dan sangat melelahkan. Jauhnya jarak yang dilengkapi dengan keadaan jalan yang amat sangat rusak berat, membuatku sangat tersiksa. apalagi saat itu aku sebagai jokinya. Banyak tikungan yang kami temui. Jalan berlumpur memaksaku untuk belajar menyetir mobil, layaknya para offroader beraksi. Bahkan  di salah satu tikungan, kami berpapasan dengan sebuah bus naas, yang baru berhenti di tengah jalan karena as rodanya patah. Dibelakang bus itu, terdapat truk yang berhadap-hadapan dan ikut terjebak, hingga jalan yang tersisa hanya cukup untuk 1 mobil saja. Dengan keadaan sangat mepet, rawan longsor, ditambah dengan adanya galian sedalam sekitar 1 meter di samping jurang yang dasarnya pun kami tidak bisa melihat, akhirnya dengan bermodal kenekatan dan dibantu oleh Mas Chandra yang memberi aba-aba dari samping depan, serta kang Agung dari belakang, aku pun dengan hati-hati membawa mobil maju melewati bus itu. Sebelum maju tak lupa aku melipat kaca spion kanan agar aku mendapat ruang yang sedikit lebih longgar. Waktu berada tepat disamping truck, aku merasa ada sebuah batu yang jatuh kebawah karena bergesekan dengan ban mobil, dag di dug rasanya karena takut mobil serasa akan terbalik ke sebelah kiri. Tetapi untungnya dengan keadaan itu, aku masih bisa tenang dan tidak panik, dengan segera aku membelokkan stir ke kanan dan sedikit membalasnya ke kiri, agar mobil bisa lebih rapat ke kanan. Aku pun tidak peduli walau ternyata mobil sudah sedikit menyerempet dengan truk yang ada disamping kanan. Dengan pelan tapi pasti kupacu mobil pelan-pelan, alhasil dengan ketenangan, kesabaran, kerjasama serta pikiran yang jernih, kamipun berhasil melawati tikungan itu.

Kami pun melanjutkan kembali perjalanan. Namun perjalanan belum mulus, jalan bergelombang sepanjang kurang lebih 40 km memperlambat perjalanan kami.  Karena sudah merasa kelelahan, dan memang jam menunjukkan jadwal orang untuk menikmati makan malam, kamipun berhenti di sebuah warung di daerah Empang. Saat itu Mas Chandra kelihatan sakit, sehingga dia memilih untuk tidur di dalam mobil. Aku dengan kang Agung pun berdua turun untuk makan Rp. 32.000.  Selesai makan (Pukul 21.30 Wita) kami pun melanjutkan perjalanan menuju Sumbawa. Jalan yang kami lalui sudah lumayan bagus, tidak naik turun, tetapi banyaknya tikungan dan keadaan jalan yang sangat sepi, membuat aku memutuskan untuk  memacu mobi lebih kencang. Ditengah perjalanan kami sempat mengisi bensin Rp. 72.000.

Kira-kira pukul 02.00, kami pun sampai di depan RSUD Provinsi di Sumbawa. Waktu sampai di RSUD Sumbawa, kami mengalami sedikit insiden. Waktu itu aku menyalakan AC dan menutup rapat semua jendela mobil, tiba-tiba kang Agung yang sedang tidur, tiba-tiba tersadar dan dengan sigap menurukan kaca mobil dan langsung memuntahkan makanan yang ada di dalam perutnya. Melihat kejadian itu aku segera memperlambat laju mobil, tetapi anehnya Kang Agung malah menyuruhku untuk tetap memacu mobil, baru selang beberapa detik, sesuatu yang membuat kang Agung muntah akhirnya tercium juga oleh hidungku. Aroma nerakawi yang sangat busuk, yang keluar dari sebuah perut orang yang sedang sakit di belakang, ternyata menjadi penyebab utamanya. Begitu tahu penyebab utamanya,  aku segera menghentikan mobil dan membuka pintu untuk segera keluar menghilangkan bau, sekaligus beristirahat untuk melakukan pergantian Nahkoda.

Sampai di pintu masuk kota Sumbawa, kami memutuskan untuk tidak berkeliling di kota Sumbawa karena waktu yang tidak tepat. Kamipun langsung menuju pelabuhan feri di Tano. Dalam perjalanan menuju Pelabuhan Tano, kami sempat membeli telur dan minuman Rp. 25.000, untuk menambah tenaga agar tidak mengantuk. Aku pikir perjalanan ke Tano cukup dekat, tetapi setelah berjalan, ternyata dari pintu masuk Kota Sumbawa menuju Pelabuhan Tano cukup jauh, kira-kira membutuhkan waktu sekitar 3 jam perjalanan. Sesampai di Pelabuhan Tano kami langsung membawa mobil kami naik ke kapal. Biaya Penyeberangan dari Tano- Lembar Lombok Rp. 380.000. Waktu di atas kapal pun kami gunakan untuk sejenak beristirahat. 

PRASOJO


Dalam kehidupan percintaan, ketika seorang pria merasa tertarik dengan seorang wanita, atau seorang wanita tertarik dengan seorang pria, lalu kemudian mereka tertarik untuk mendekati seseorang yang telah memikatnya, dalam masa pendekatan biasanya ia akan melakukan apa saja untuk mendapatkan incarannya itu. Aku mempunyai seorang teman pada waktu duduk dibangku kuliah, ia tertarik dengan seorang wanita. Karena tidak merasa percaya diri waktu melakukan pendekatan, ia pun berusaha dengan cara apapun. Mulai dari merubah sifat hingga merubah penampilan di luar kebiasaannya. Semua itu dilakukan hanya untuk membuat wanita yang ingin didekatinya tertarik kepadanya. Melihat semua yang ada pada temanku begitu sempurna, akhirnya sang wanita pun menerima permohonan temanku untuk menjalin sebuah hubungan spesial. Setelah beberapa lama menjalin hubungan, akhirnya pelan tapi pasti sifat-sifat aslinya mulai terbuka. Dia yang biasanya mempunyai perhatian yang lebih untuk pasangannya kini mulai berkurang bahkan cenderung menghilang, semua barang-barang mulai dari kendaraan, baju, hingga handphone yang selalu ia gunakan tidak pernah nampak lagi. Saat itu si wanita pun tersadar bahwa ternyata apa yang ia bayangkan dan harapkan ternyata tidak ada sama sekali dalam temanku itu. Semuanya berbeda sama sekali pada waktu masa pendekatan. Ia tersadar bahwa apa yang didapatkannya pada waktu itu hanyalah semu. Merasa dibohongi, akhirnya wanita itu meninggalkan temanku.

Bukan hanya dalam kisah percintaan, dalam kehidupan bermasyarakatpun seringkali terjadi “pemalsuan” seperti itu. Pada suatu hari, ada seorang tetangga saya meminjam uang kepada saya sebesar setengah juta rupiah. Ketika aku tanya untuk kepentingan apa, ia pun menjawab untuk mengadakan pesta sambut baru (kebiasaan masyarakat Larantuka atau Nusa Tenggara Timur pada umumnya untuk mengadakan pesta perayaan, untuk umat Katholik yang baru menerima komuni pertama) untuk anaknya. Secara ekonomi tetanggaku bisa dibilang pas-pasan saja bahkan cenderung kekurangan. Tetapi karena kebiasaan yang berlaku di masyarakat sini, dan dengan alasan demi anak tetapi juga mungkin terselip di dalamnya adalah demi prestise atau gengsi keluarga, akhirnya ia tetap mengadakan pesta tersebut walau harus dengan cara apapun. Kemudian yang terjadi setelah pesta usai,  dia pun sibuk dan bingung untuk melunasi hutang-hutang yang dia gunakan membiayai pesta itu, dan pendidikan formal si anak pun menjadi terbengkelai.

Dua Contoh cerita di atas membuatku berkesimpulan bahwa sering kali demi mengejar sesuatu untuk memuaskan nafsu duniawi,  banyak orang yang kemudian mengadakan apa yang biasanya tidak ada, atau selalu menonjolkan kebaikan diri dan menutupi kekurangan yang dimiliki. Dengan bersikap seperti  itu, secara tidak sadar, sebenarnya orang itu telah melakukan sebuah penipuan atau kebohongan terhadap orang lain atau diri sendiri. Memang dengan melakukan itu dia dapat meraih sebuah kebahagian, tetapi kebahagian yang diraihnya adalah sesuatu yang semu. Lebih parah lagi kebahagian atau kepuasaan itu juga bisa hilang dalam sekejap mata, atau bahkan bisa menjadi  sebuah petaka yang merugikan dirinya sendiri dan mungkin juga orang lain. Hal ini dikarenakan apa yang dia lakukan adalah sebuah kepalsuan, dan dengan yang ia lakukan itu, secara tidak sadar sebenarnya dia juga menerima sebuah kepalsuan.

Dalam Bahasa Jawa aku mengenal kata yang menurutku mempunyai makna sangat dalam. “Prasojo”. "Prasojo" Dalam Bahasa Indonesia berarti apa adanya, atau sesuai dengan apa adanya, tidak dilebih-lebihkan dan tidak dikurang-kurangkan.  Apa yang diberikan adalah sesuatu yang asli, maka apa yang dia terima pun adalah sesuatu yang asli. Entah dia dengan keasliannya itu dia akan menerima sesuatu yang buruk atau baik, tetapi semuanya asli tanpa ada sebuah kepalsuan. Dengan begitu dalam hal berteman ia akan mendapatkan teman yang benar-benar merupakan teman, dalam hal percintaan ia akan mendapatkan pasangan yang benar-benar mau menerima segala kekurangan dan kelebihannya dan dalam aspek kehidupan yang lain ia akan mendapat sesuatu yang asli bukan palsu. Seorang Jawa Bijaksana berkata “dadio uwong sing prasojo” artinya mengajak menyuruh kita supaya dalam kehidupan sehari hari kita menjadi orang yang apa adanya atau tidak memalsukan diri kita sendiri. 
Jadi silahkan memilih apakah ingin yang “Asli” atau “Palsu” ??
Semuanya terserah anda.

Kamis, 26 April 2012

Antara Rasa dan Logika


Setiap orang terlahir di dunia ini dengan sebuah karunia yang sangat luar biasa dari Sang pencipta,  dan anugerah itu adalah perasaan dan logika/ akal.  Menurutku kedua Anugerah itu akan menjadi sebuah kekuatan yang sangat dahsyat apabila dapat dijalankan secara berimbang dan membuat keduanya tidak saling mematikan satu sama lain.

Kehidupan percintaan memang sebuah hal yang sangat rumit, banyak orang yang bahagia karena “cinta”, tetapi tidak sedikit pula yang hancur karena cinta. Ada sebuah permasalahan dalam percintaan yang akhirnya membuat dua Anugerah itu tidak dapat berjalan berdampingan, bahkan cenderung saling  membunuh. 

Suatu hari ada seorang teman berbagi cerita denganku, dia menceritakan sebuah pengalaman percintaannya di masa lalunya, hingga akhirnya membuat penyesalan yang sangat dalam pada dirinya. Sebut saja Bunga. Bunga adalah seorang mahasiswa di sebuah perguruan tinggi negeri  di Solo. Saat duduk di bangku kuliah, dia mempunyai seorang asisten dosen yang sangat baik dan perhatian dengannya. Singkat cerita, karena kedekatan dan perhatian yang diberikan oleh sang asisten dosen, akhirnya muncul benih-benih cinta hingga akhirnya keduanya pun bersepakat untuk menjalin sebuah hubungan spesial. Hubungan keduanya sangat harmonis penuh dengan warna, hingga suatu saat ketika Bunga sudah menyelesaikan studinya S1-nya, ia diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halamannya mengikuti ujian negara, untuk mendapatkan pekerjaan. Akhirnya Bunga pun memutuskan untuk pulang sesuai dengan permintaan keluarganya. Setelah pulang dan mencari pekerjaan. Nasib baik bersambut, dan ia pun diterima untuk bekerja sebagai salah satu karyawan di sebuah Kantor BUMN di Kota Kelahirannya.

Namun selang waktu berjalan, ternyata kesuksesannya dalam karier pekerjaannya tidak diiringi dalam kisah percintaannnya dengan Mantan Asisten Dosennya. Jarak dan waktu yang terpisah jauh, menjadi penyebab kerenggangan hubungan mereka berdua. Karena sering terjadi percekcokan dan merasa sudah tidak menemukan kecocokan lagi, akhirnya mereka pun memutuskan untuk mengakhiri hubungan yang telah mereka bina selama hampir 4 tahun.  Setelah perpisahan itu, akhirnya Sang Mantan Asisten Dosen pun memutuskan untuk menikah dengan wanita lain pilihan hatinya. 

Namun tidak begitu dengan Bunga, Penyesalan yang sangat dalam muncul sesaat setelah perpisahan itu. Bunga merasa sangat kehilangan sosok yang mampu membuatnya merasa sangat nyaman. Pengalaman kisah cintanya itu membuat Bunga terpuruk oleh masa lalu, hingga sejak saat itu ia memutuskan untuk fokus terhadap pekerjaannya, dan lebih memilih untuk menutup diri untuk membuat sebuah cerita baru dengan orang lain. Bunga merasa bahwa tidak ada sosok pria lain yang mampu membuatnya nyaman seperti mantan kekasihnya itu.   Tetapi waktu terus berjalan, umur dan tekanan dari keluarga untuk segera menikah, membuat sebuah tekanan yang sangat luar biasa terhadapnya. Namun  hingga saat ini, ternyata Bunga belum mampu untuk melepas masa lalunya, hingga ia selalu menutup diri terhadap pria yang ingin mencoba untuk mendekatinya. Bunga pun sebenarnya sangat menyadari bahwa dengan keadaan seperti ini, sebenarnya sangat menyiksanya.

Inilah yang terjadi ketika rasa dibutakan oleh cinta hingga membunuh logika. Akibatnya adalah penyiksaan terhadap diri sendiri, seseorang tidak lagi dapat berfikir secara jernih karena terkungkung oleh pengalaman masa lalu.  Rasa penyesalan terhadap masa lalu yang terbangun sangat kuat, hingga akhirnya ia mematikan kebahagiaannya sendiri dengan bersikap acuh tak acuh dan menutup diri. Logika yang ia miliki telah dimatikan oleh perasaannya sendiri. Akhirnya rasa itu perlahan-lahan akan menyiksa badannya, karena logika sudah tidak mampu lagi membendung rasa yang ada. Ketika ini dibiarkan secara terus menerus bukan suatu keniscayaan keadaan ini akan menghancurkan dirinya sendiri.

Dalam kehidupan dalam hal apapun diperlukan sebuah keseimbangan di dalamnya semuanya harus dapat berjalan beriring satu sama lain, tidak boleh ada salah satu yang dibiarkan terlalu kuat hingga mengintervensi yang lain, karena itu akan membawa sebuah kehancuran yang akan merugikan diri kita sendiri.  Begitu juga dalam menggunakan perasaan dan logika kita. Jika salah satu lebih kuat, maka satunya akan menjadi tumpul dan mati. Seperti contoh kisah di atas, Bunga membiarkan rasa yang dia miliki terlalu kuat mengintervensi logikanya, hingga ia selalu terjebak dengan pengalaman masa lalunya yang menyakiti dirinya sendiri. Ketika  itu terjadi, akhirnya seluruh logika berpikir Bunga pun mati. Bunga masih tetap mengharapkan sosok mantan kekasihnya, yang kini sudah membangun kisah dengan keluarga yang sudah dibangunnya. Keadaan ini membuat Bunga benar-benar merasa terpuruk dan tersiksa. Pada satu isi ia masih mengharap mantan kekasihnya kembali, tetapi di sisi lain Ia sadar dan tahu benar bahwa mantan kekasinya itu tidak mungkin kembali lagi. Dengan realitas yang ada, seharusnya Bunga menyadari bahwa sebuah kehidupan tidak berhenti selama nafas belum berhenti. Banyak orang selain mantan kekasihnya itu, yang bisa membuat dirinya nyaman dengan cara yang lain. Tapi pilihan itu tidak diambilnya, ia memilih untuk mengedepankan rasa yang ia miliki, dengan mengabaikan logikanya, hingga ia hanya bisa menyesal dan menyesal, tanpa bisa berfikir bahwa masa lalu hanyalah sebuah sejarah dan masa depan masih suci. Masa depan masih bisa dibangun dengan baik, hingga kelak ia akan menemukan tambatan hatinya.

Sebuah pesan di sini adalah jangan biarkan rasa yang kita miliki membunuh logika kita, atau sebaliknya jangan biarkan logika kita membunuh rasa yang kita miliki, keduanya harus berjalan beriring dalam menghadapi permasalahan yang ada, hingga ketika rasa sudah tidak mampu menyelesaikan masalah, logika mampu menopangnya, atau sebaliknya jika logika sudah tidak mampu menyelesaikan permasalahannya maka rasa dapat menopangnya. Ketika ini terjadi maka kita pun dapat menjalani kehidupan ini dengan selaras dan seimbang. 

Selasa, 24 April 2012

Dua Sisi Loyalitas

Loyalitas sepengertianku adalah sebuah kesetiaan terhadap sesuatu, dan aku adalah salah satu orang yang mempunyai sifat loyal terutama dalam hal pertemanan. Loyalitas yang aku miliki ini bisa menjadi sebuah kekuatan bagiku, tetapi di sisi lain, loyalitas yang aku miliki ternyata dapat juga menjadi sebuah kelemahan yang hebat terhadapku.

Suatu hari ada tetanggaku meminjam uang untuk merayakan pesta anakknya, dan untuk keperluan itu aku tahu dia sangat membutuhkan uang itu. Walaupun  pada saat itu aku sebenarnya  membutuhkan uang, tetapi aku lebih memilih untuk meminjamkannya terlebih dahulu kepadanya karena aku berfikir kebutuhanku juga belum terlalu mendesak. Aku tidak bisa untuk mengatakan tidak punya jika sebenarnya aku masih mempunyai. Hari berganti akhirnya aku benar-benar membutuhkan uang itu, tetapi aku tidak berfikir untuk aku meminta kembali uangku tetapi aku lebih memilih untuk mencari jalan lain dengan meminjam ke orang lain, karena aku berfikir dia lebih membutuhkan uang itu.

Saat aku masih duduk dibangku sekolah dasar, aku pernah mengantarkan temanku yang  mempunyai masalah dengan orang dari tetangga sebelah. Aku datang untuk menyelesaikan masalah itu  dengan cara berkelahi satu lawan satu. Sebenarnya waktu itu sebenarnya aku hanya pergi untuk mengantar, menyaksikan sekaligus menjadi juri saja, karena aku memang  tidak mempunyai masalah dengan orang itu. Tetapi pada saat berkelahi, temanku dengan lawannya meminta aku untuk berkelahi dengan teman lawannya. Sebenarnya aku merasa aneh, karena aku sama sekali tidak mempunyai masalah dengan mereka. Akhirnya muncul sebuah ide, aku mendekati temannya dan mengatakan, biarlah kita berkelahi tapi tidak usah serius hanya berakting saja, dan dia langsung setuju.  Syukurlah dalam hati ini sehingga aku tidak perlu menambah musuh, sekaligus tetap bisa memuaskan temanku. Akhirnya perkelahian temanku dengan lawanya, dan sandiwara perkelaihan antara aku dengan teman dari lawan temanku pun juga dimulai. Tiba-tiba di tengah perkelaihan itu, lawan dari temanku meminta berhenti, karena tahu kalau kami tidak serius waktu berkelahi. Akhirnya dia meminta untuk berganti lawan. Sebenarnya aku tidak mau, tetapi demi teman akhirnya aku mau melakukannya dan akhirnya pertarungan dilanjutkan hingga salah satu dari kami menyerah. Dan aku melakukan itu demi teman.

Saat pertama kali aku mendapatkan pekerjaan di sebuah instansi pemerintah, kebetulan waktu itu aku langsung dihadapkan dengan sebuah permasalahan yang sesungguhnya dalam kerjaku, permasalahan yang berhubungan dengan pihak luar sekaligus dengan instasi lebih atas. Setelah aku mendapat penjelasan dari teman kantorku dan aku memahami permasalahan itu, akhirnya aku memutuskan untuk membela teman sekaligus instansiku. Pada waktu itu sebenarnya posisiku tidak mendukung untuk bersinggungan dengan permasalahan itu, bahkan lebih jauh, itu bisa membahayakan diriku sendiri. Tetapi jiwa loyalitasku tidak bisa terbendung dan aku memutuskan untuk membantu teman dan instansiku secara totalitas, dengan cara apapun dan dengan segala resiko terburuk yang mungkin akan aku terima. 

Sifat loyalitas yang ada dalam diriku ini bisa menjadi sebuah kekuatan bagiku dalam hal penguatan pertemanan, ini terbukti hingga saat ini aku belum pernah merasa susah jika pergi entah kemana, karena aku merasa mempunyai teman atau saudara dimanapun aku akan pergi. Namun Sifat loyalitas ini juga bisa menjadi sebuah kelemahan utama untukku, karena tidak jarang aku mengabaikan kepentingan pribadiku demi teman-temanku. Aku selalu berfikiran teman  adalah segalanya hingga  seringkali aku harus mengabaikan kepentingan diriku sendiri. 

Hingga saat ini aku merasa masih belum bisa untuk mapan sebagai pribadi, karena aku terlalu sering mengabaikan kepentinganku sendiri demi orang lain, hingga membuat aku lupa bahwa aku juga punya wilayah kehidupan pribadi, yang harus aku bangun untuk persiapanku kedepan. aku tidak boleh egois untuk memenuhi kepuasanku dengan loyalitas ini, tetapi aku juga harus memikirkan sisi-sisi pribadi untuk diriku sendiri ke depan.

Hal-hal yang aku sampaikan di atas menyadarkanku bahwa  aku harus berfikir ulang lagi dalam memaknai sebuah loyalitas. menurutku loyalitas adalah satu hal yang baik, tetapi loyalitas tidak boleh mengesampingkan  sisi pribadi dalam hidupku. Loyalitas tidak boleh dilakukan secara membabi buta karena itu dapat merugikan diri sendiri, apalagi aku hidup dalam diantara manusia yang cerdik yang mungkin hanya memanfaatkan loyalitasku hanya untuk memenuhi kepentingannya saja.

Loyalitas Itu Baik, Tetapi Loyalitas Tanpa Batas Membuat Kita Mengabaikan Diri Sendiri.






Selasa, 17 April 2012

Ketamakan = Bunuh Diri


Sejak tinggal di Flores Timur, aku menjadi orang yang selalu dekat dengan laut. Hal ini memang karena keadaan geografis wilayah Flores Timur  dikelilingi oleh laut. Kondisi alam seperti itu membuat mayoritas masyarakat Flores Timur, mengandalkan laut sebagai sumber utama dalam memenuhi kebutuhan hidup. Kekayaan laut di wilayah Flores Timur juga dapat dikatakan sangat besar, beragam jenis ikan ataupun terumbu karang, sangat luar biasa besar dan beragam hingga mampu mencukupi kebutuhan pangan ataupun ekonomi  masyarakat Flores Timur.


Sebagai salah satu orang yang suka menikmati keindahan alam, aku mempunyai keinginan untuk melihat keindahan alam secara langsung, dan salah satu keindahan alam yang ingin kunikmati adalah alam dasar laut. Pada suatu hari aku dengan teman-teman, melakukan wisata dasar laut di salah satu daerah di Flores Timur tepatnya di sekitaran Pulau Waibalun. Pada saat aku menyelam, betapa takjubnya melihat keindahan alam laut yang sangat luar biasa indahnya, mungkin memang karena aku baru pertama kali menikmati keindahan alam dasar laut. Begitu banyak aneka jenis ikan dan terumbu karang yang bisa kunikmati walau sekedar untuk memuaskan mata ini. Aku melihat dengan hidupnya terumbu karang ini, banyak ikan-ikan yang berkumpul disekitaran terumbu karang entah untuk bertahan hidup, mencari makan atau memang terumbu karang adalah tempat yang nyaman untuk ikan tinggal dan berkumpul. 

Selesai menikmati keindahan alam dasar laut di Waibalun, akhirnya aku tertarik untuk menjadikan aktivitas menyelam sebagai salah satu hobi, sehingga aku selalu mencoba tempat-tempat lain untuk bisa aku jadikan tempat memuaskan mata dan bathun dengan keindahan-keindahan alam dasar laut di tempat yang lain. Setelah aku melakukan penyelaman dibeberapa tempat, kemudian aku membuat satu perbandingan antara satu tempat dengan tempat yang lain sehingga aku bisa membuat satu kesimpulan bahwa ikan-ikan lebih senang tinggal di antara  terumbu karang. Kesimpulan ini karena, aku melihat di tempat-tempat yang terdapat banyak terumbu karang hidup, pasti banyak terdapat ikan-ikan di sekitarnya, sedangkan di tempat yang terdapat sedikit atau tidak ada sama sekali terumbu karang, sangat jarang aku menemui ikan-ikan.  Pengalaman ini akhirnya yang membuatku berfikir bahwa sama dengan mahkluk-mahkluk lain di alam ini, mereka akan berkumpul jika mereka nyaman dengan tempat tinggal mereka.

Aku mempunyai satu kebiasaan menceritakan pengalaman menarikku kepada setiap orang, pada saat mengobrol atau berkumpul dengan orang-orang.  Pengalamanku pada saat menyelam adalah salah satu pengalaman yang kuceritakan. Pada saat bercerita kepada penduduk lokal, aku mendapat berbagai tanggapan, ada yang memberi saran tempat-tempat yang bagus, ada yang ingin mengajak ke suatu tempat, tetapi yang paling banyak aku terima adalah cerita mereka tentang keadaan alam dasar laut saat ini, yang  sangat jauh berbeda dengan keadaan dulu, dan perbedaan itu cenderung bersifat negatif. Kebanyakan dari mereka berkata bahwa dasar laut saat dulu, jauh sangat indah dari saat ini. Mendengar cerita itu kemudian aku tertarik untuk sekedar mengorek informasi tentang penyebab penurunan kualitas kondisi alam dasar laut di Larantuka. Dengan polos merekapun menceritakan bahwa kebiasaan beberapa nelayan yang mempunyai kebiasaan mencari ikan dengan menggunakan BOM adalah penyebab utamanya.


Jengkel, sedih dan marah bercampur menjadi satu, ketika aku mendengar cerita itu. Dalam hati ini bergejolak dan menggumam dasar orang bodoh, tamak, rakus, hanya berfikir untuk kesenangan sesaat, tetapi akhirnya mematikan atau membuntu rezeki tempat mereka mencari makan. Akibat penggunaan BOM IKAN untuk mendapatkan hasil yang banyak dengan cara yang mudah atau instant akan menyebabkan rusaknya habitat tempat ikan tinggal. Hal ini dikarenakan BOM tidak hanya membunuh ikan saja, tetapi juga menghancurkan bibit ikan, sekaligus dengan habitat tempat  ikan tinggal. Ketika itu terjadi secara terus menerus, maka yang akan terjadi adalah ikan menjadi tidak nyaman untuk tinggal di daerah itu lagi. Sama dengan manhluk lain, secara naluri mereka akan mencari tempat yang lebih aman dan nyaman untuk mereka tinggal, begitu juga ikan-ikan di laut. Akhirnya yang terjadi adalah populasi ikan-ikan di daerah itu akan berkurang atau bahkan akan habis, dan jika itu terjadi, maka bukan suatu keniscayaan bahwa kelak tidak akan ada lagi ikan yang datang berkumpul dan tinggal di situ. Ketika ini terjadi maka yang akan dirugikan adalah para nelayan sendiri, dan semua ini terbukti dengan nyata. Dahulu mereka tidak perlu pergi jauh-jauh menghabiskan sekian liter bahan bakar, menghabiskan tenaga dan waktu untuk mendapatkan ikan, tetapi sekarang nelayan harus keluar agak jauh untuk mendapatkan ikan. Bahkan tidak jarang mereka pulang dengan hampa karena tidak mendapatkan ikan, ataupun karena tidak mendapatkan umpan, dan itu terjadi karena ulah mereka sendiri yang karena ketamakan mereka akhirnya menutup jalan rezeki mereka sendiri.

Pengalaman dan perbandingan keadaan masa lalu dengan saat ini seharusnya menjadi pelajaran yang sangat berharga untuk mereka. Saat ini banyak dari mereka yang mengeluh karena berkurangnya hasil laut karena jumlah populasi ikan di sekitar daerah menurun. Tetapi ibarat sebuah teori tanpa ada pelaksanaan, banyaj dari mereka yang masih tetap memilih menggunakan BOM untuk mencari ikan dengan mudah. Jika kita memilih jalan seperti ini, maka jangan pernah menyesal jika kelak kita tidak bisa lagi mengandalkan alam laut untuk mengais rezeki dan memenuhi kehidupan, karena kita sendiri yang telah menutup rezeki kita.  

   
 

Kamis, 12 April 2012

Hijau Tanahku Damai Rasaku

 
Kurang lebih satu tahun yang lalu, saat sedang musim kering, karena hujan tak kunjung datang, aku pergi ke Kefa untuk menjenguk Eyangku. Aku melewati hamparan gurun yang sangat tandus dan gersang. Panas sangat menyengat yang kurasakan saat itu. Bagi orang yang tinggal di situ mungkin sudah biasa, tapi walau terbiasa, aku tidak melihat orang yang berjalan ataupun sengaja berjemur diterik matahari yang sangat membakar itu. Bahkan mereka yang sudah terbiasa dengan keadaan seperti itupun tetap berlindung di bawah naungan pohon-pohon yang masih bisa bertahan hidup di tengah padang gurun itu.

Dari sini aku melihat ternyata manusia adalah mahkluk yang tidak tahan dengan panas yang sangat menyengat. Bahkan menurutku manusia menginginkan suasana yang  sejuk dan segar, tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin. Masalahnya adalah kebiasaan kita sebagai manusia yang selalu menginginkan semua itu, tanpa mau bersusah payah untuk menciptakan suasana dingin yang alami dan nikmat. Kebanyakan dari kita cenderung untuk mencari jalan pintas dengan menggunakan AC ataupun dengan sebuah kipas angin untuk menghilangkan rasa gerah, yang akhirnya membuat badan ini terasa berat, dan tulang menjadi sakit. Yah itulah resiko yang harus diambil jika kita memilih sebuah jalan pintas untuk mendapat kelegaan sesaat untuk kita.

Kemarin karena aku mendapat sebuah pesan dari Bapak dan Ibu yang akan datang ke Kefa Untuk menjenguk Eyangku yang sedang sakit, akhirnya akupun memutuskan untuk ikut menjemput Bapak Ibu sekalian menjenguk Nenek. Dengan uang saku seadanya akhirnya aku berangkat menuju ke Kefa. Sepulang dari Rumah Eyang, akupun melewati gurun yang dahulu pernah kulewati dalam keadaan gersang tanpa ada naungan. Betapa kagetnya aku ketika aku lewat lagi padang yang dulu sangat gersang berubah menjadi areal persawahan dengan pohon-pohon yang sangat hijau dan memberikan warna keteduhan di daerah itu.  

Tetapi sayang keadaan seperti ini hanya terjadi pada waktu musim hujan saja, padahal aku yakin jika warga di sana mau lebih giat berusaha, bukan satu keniscayaan gurun itu akan menjadi hijau sepanjang tahun, dan merekapun akan bisa hidup lebih baik di atas tanah mereka. Pikiran ini bukan tanpa sebuah alasan, karena aku melihat di sana banyak terdapat mata air yang sangat besar, yang bisa memberikan kehidupan pada pohon untuk memberi warna kesejukan di alam ini.  Sejak saat itu, walaupun sebelumnya sudah kulakukan, kini aku berusaha merintis  sebuah tindakan nyata dengan menciptakan kesejukan alami dari alam. aku akan berusaha dengan hal-hal yang sangat mudah yaitu dengan menanam pohon, lalu kemudian menyiramnya secara rutin dengan air. Aku berharap dari gerak nyataku ini.,walaupun sedikit demi sedikit, kelak aku dapat menciptakan sebuah kesejukan alam yang bisa dinikmati oleh semua orang.


                                                                            Mari Menanam Pohon

Selasa, 10 April 2012

Sak Madyo "Belajar dari Kehidupan Makhluk Lain"

Karena sering bergaul dengan seorang pemuda bernama Agung Susanto yang hingga saat ini selalu berusaha mempertahankan kebudayaan bangsa ini, akhirnya aku selalu tengiang-ngiang dengan sebuah kata yang sering Ia ucapkan, kata itu adalah "Sak Madyo" dalam bahasa Indonesia, sepengetahuanku kata "Sak Madyo" bisa diartikan "tidak kurang dan tidak lebih atau bisa dikatakan dengan sewajarnya atau secukupnya saja".

Kata "sak madyo" sering muncul pada waktu orang mengambilkan makanan untuk Kang Agung dan bertanya seberapa banyak porsi makanan untuknya, dan selalu dia manjawab "sak madyo". dan ini yang membuatku tertarik untuk mengulas sebuah makna yang tersembunyi di dalam kata "sak madyo" ini.  Melihat acara di televisi tentang kehidupan hewan dan tumbuh-tumbuhan di alam liar, membuatku sedikit lebih memahami tentang arti kata sak madyo dalam sebuah tindakan nyata. 

Kebanyakan manusia bisa membuat atau merangkai dan mengucapkan kata yang menurutku sangat indah dan tinggi maknanya, tetapi sangat sulit untuk menjalankannya. Terlebih untuk menjalankan kata "sak madyo" dalam kehidupan ini. Aku malah menilai binatang dan tumbuhanlah yang bisa mengamalkan kata "sak madyo" dengan sempurna. Pernyataanku tadi akan aku buktikan dengan melihat kehidupan makhluk secara langsung. Pertama, mengamati pola makan mereka, semua jenis binatang selalu makan-makanan dengan secukupnya. Ketika mereka makan, mereka akan makan sesuai dengan daya tampung perut mereka, jika belum cukup mereka akan terus makan, tetapi jika sudah merasa kenyang maka mereka akan berhenti makan, begitu juga tumbuhan. Kedua, cara mereka beristirahat, binatang maupun tumbuh-tumbuhan mempunyai pola istirahat yang rutin dan secukupnya, setelah lelah  mencari makanan dan berinteraksi dengan sesamanya, merekapun kemudian beristirahat secukupnya, sesuai dengan kebiasaan mereka.

Mengamati dua hal kebiasaan mereka inilah, aku berani mengatakan bahwa mereka melakukan segala hal dalam kehidupan mereka, sesuai dengan kata "sak madyo". Dengan perilaku sepeti itu, ternyata mereka bisa benar-benar menjaga keselarasan alam, tidak ada eksploitasi besar-besaran, tidak ada perusakan alam, dan lain-lain, karena mereka melakukan sesuatu hanya secukup dan sewajarnya  saja, tidak lebih dan tidak kurang.

Sebagai manusia yang notabene selalu membuat klaim bahwa kita adalah mahkluk yang sempurna karena memiliki akal dan budi, seharusnya kita malu terhadap mereka mahkluk selain kita, karena aku merasa kita tidak mampu belajar dari mereka. Kita mampu membuat sebuah tekhnologi yang sangat luar biasa canggih, tapi di sisi lain kita merusak anugerah yang sangat indah, yang tercipta untuk kita. Bahkan untuk mempertahankan keberadaan dan keasrian alam ini pun, kita tidak mampu. Mungkin sebagai manusia tidak ada salahnya kita, untuk sedikit menunduk dan berfikir kembali, untuk mau belajar tentang kehidupan, kepada makhluk selain kita, yang bisa mengamalkan kata "sak madyo" dengan benar, sehingga kelak kita tidak kehilangan alam ini.  

-Hilangkan kata serakah dan amalkan kata "SAK MADYO" Jangan Pernah Takut akan hari Esok-









Entri Populer