Kamis, 31 Mei 2012

UANG = TUHAN

UANG sebuah benda yang terbuat dari kertas ataupun logam yang berfungsi sebagai sebuah alat tukar terhadap barang. Uang memegang peranan penting dalam berbagai sektor kehidupan. Dalam fungsinya, uang dapat memberikan kemudahan kepada kita semua untuk melakukan transaksi secara praktis sesuai dengan nilai tukar. Keberadaan uang saat ini bagiku menjadi pisau dengan dua mata. keberadaannya bisa membantu manusia namun juga bisa merugikan manusia itu sendiri.

Dewasa ini, aku melihat fenomena yang sangat luar biasa, di mana UANG sekarang mempunyai peran tambahan sebagai TUHAN. berikut ini beberapa contoh peran UANG sebagai TUHAN  menurutku  :

1. Uang dapat membuat orang menurut untuk berbuat jahat atau baik.

2. Uang dapat memberikan perbedaan derajat dan martabat dalam setiap individu manusia
 

3. Uang dapat menentukan apakah orang layak untuk hidup atau tidak?  

4. Uang dapat menentukan kapan seseorang harus mati.

5. Uang menjadi barang yang sangat dipuja-puja olaeh orang hingga orang berlomba berebut untuk   mendapatkan uang.

 hal-hal yang saya sebutkan seperti di atas itulah yang menurut saya membuat posisi UANG saat ini dapat menggantikan peran TUHAN.

-Jika suatu saat pohon-pohon itu habis, mungkin itulah saat yang tepat untuk manusia memakan uang-


Penjilat

Dunia ini dihiasi dengan berbagai sifat yang ada dalam diri setiap manusia. Beberapa sifat manusia itu ada yang posiif dan ada yang negatif. Kali ini aku mencoba mengupas tentang salah satu sifat manusia yang menurutku berbahaya dan cenderung merugikan orang lain yang dekat dengannya.

Dalam dunia kerja kita dihadapkan pada sebuah jenjang organisasi, mulai dari pekerja biasa hingga pucuk pimpinan. Posisi pimpinan dalam berbagai kantor biasanya memegang peran untuk peningkatan jenjang karir yang berdampak pada kesejahteraan para bawahannya, sehingga seringkali untuk beberapa pegawai yang tidak mempunyai kemampuan atau tidak berkompeten dalam bidangnya dan tidak mau belajar, seringkali mencoba melakukan berbagai upaya untuk peningkatan jenjang karir maupun pekerjaan, salah satunya dengan cara "menjilat" seorang atasan. Menurut beberapa orang mungkin cara-cara itu sah-sah saja, tapi menurutku cara itu adalah cara yang sangat hina dan tidak beradab.

Dan orang-orang seperti itulah yang menurutku termasuk dalam kategori orang yang mempunyai sifat atau watak penjilat.  Orang-orang seperti ini kebanyakan tipikal orang yang mau datang dan berbaik kepada orang lain jika mempunyai kepentingan yang menguntungkannya saja, tetapi ketika dia sudah mendapatkan apa yang dia inginkan kemudian dengan mudah melupakan kita begitu saja atau bahkan akan membunuh kita dari belakang. Dalam pergaulan, orang-orang seperti ini hanya, biasanya hanya bergaul dengan orang-orang yang hanya menguntungkan kepentingan pribadinya saja. 

Keberadaan orang-orang seperti ini tentu sangat membahayakan dalam berbagai sisi kehidupan, sehingga menurutku aku tidak perlu dan tidak mau bergaul dengan orang-orang dengan watak penjilat, karena suatu saat (cepat atau lambat) pasti dibalik kebaikkannya padaku, sebilah pisau siap menusukku dari belakang.   

Minggu, 27 Mei 2012

Berani Untuk Berkata dan Bertindak

gbr. Taiko dewi genderang perang 
Pada suatu hari, aku menghadap kepada atasanku untuk ijin tidak masuk ke kantor selama beberapa hari, dengan alasan kedukaan, sehingga aku harus pulang ke tanah leluhurku, di Kefamenanu Nusa Tenggara Timor. Selesai mengikuti upacara pemakaman Nenekku, akupun kembali ke kantor untuk bekerja seperti biasa lagi. Pada waktu aku melihat daftar kehadiran yang biasa kami isi setiap hari, aku melihat kolom absenku terisi coretan, dengan tulisan izin di kolom keterangan. Memang benar, selama beberapa hari aku memang tidak masuk kantor, sehingga aku merasa wajar jika dalam daftar hadir itu namaku dicoret, dan selama ini aku tidak pernah mempermasalahkan permasalahan itu.

Saat aku masuk, aku melihat beberapa orang di kantorku yang ternyata juga tidak masuk ke kantor, tapi yang menjadi kejanggalan untukku, adalah walaupun mereka tidak masuk ke kantor, tetapi aku melihat tanda paraf mereka selalu ada. Bahkan tidak ada satu orangpun yang mau mencoret namanya walaupun sudah jelas bahwa beberapa orang itu tidak masuk ke kantor. 

Kejadian dan pembedaan perlakuan yang aku alami ini tentu membuatku merasa emosi, karena aku merasa mendapat sebuah perlakuan yang tidak adil (diskriminasi). Aku merasa ada seseorang yang saat ini sedang sangat bersemangat untuk menjatuhkan aku. Pelan-pelan aku mencari siapakah  orang yang begitu bersemangat untuk menjatuhkanku, hingga dari beberapa obrolan-obrolan dengan beberapa temanku, aku akhirnya dapat  mengetahui siapa sebenarnya musuhku. 

Atas permasalahan ini aku langsung membuat sebuah komplain kepada kepala sub bagian yang menangani permasalahan ini. Tetapi di luar itu, aku menyimpan sebuah dendam dengan orang yang saat ini karena masih mempunyai tempat berlindung yang sangat aman, hingga membuatnya merasa sombong seolah dia yang paling berkuasa dan paling tahu tentang segala hal. Tapi aku memperingatkanmu saat ini!!! Dunia selalu berputar, ada saatnya benteng yang kau jadikan tempat berlindung itu jatuh, dan saat itu juga kita akan tahu seberapa besar kemampuanmu yang sebenarnya. Saat itulah itulah,  mari kita sebagai laki-laki bertarung habis-habisan!!! dan jangan pernah menyesal, jika kelak kita bertemu lagi dengan keadaan aku sebagai pemimpin, dan kau sebagai bawahanku!!!




Selasa, 22 Mei 2012

Catatan Singkat Sebuah Perjalanan

gbr. diambil dari sebuah situs website
Sehari setelah kepergian Nenekku (Hendrika Osi) untuk menghadap kepada yang Esa, aku dengan Bapakku harus pergi ke Atambua untuk sebuah tujuan yang menurutku baik. Kira-kira pukul 14.00 Wita, dengan menggunakan motor besar, kami berangkat menuju atambua. Dalam perjalanan menuju Atambua, kami menikmati indahnya alam dari Kaubele menuju Atambua. Hamparan padang ilalang berbukit, dihiasi areal sawah dengan hewan-hewan yang berlalu-lalang, memanjakan mata kami dengan sebuah keindahan yang sangat luar biasa, di tengah sebuah permasalahan yang sangat rumit. Kami sangat menikmati perjalanan itu, hingga akhirnya tanpa terasa, setelah menempuh 2 jam perjalanan, kamipun sampai di tempat tujuan kami di Atambua.  Sesampainya di Atambua, tanpa basa-basi kami langsung menyampaikan maksud dan tujuan kami, dan kami pun bersyukur, karena maksud dan tujuan kami akhirnya dapat diterima dengan baik. Setelah selesai menyampaikan maksud dan tujuan kami datang ke Atambua, akhirnya kamipun berpamitan untuk kembali ke Kaubele untuk menyampaikan sebuah kabar bahagia dari Atambua.

Kira-kira pukul 19.00 Wita, kami berangkat dari Atambua untuk membawa kabar bahagia ini. Tekad serta ketulusan hati, menjadi modal utama kami dalam perjalanan pulang menuju Kaubele. Pelan tapi pasti aku mulai memacu kendaraan. Perjalanan pada malam hari menjadi menarik karena dalam perjalanan aku mendapatkan sebuah pelajaran yang menurutku sangat berharga, untukku menjalani hidup ini. 

Perjalanan diawali dengan jalan yang cukup mulus, dengan lampu-lampu jalan membantu memberikan pencahayaan di malam hari itu. Keluar dari kota Atambua, kami mulai menemukan jalan-jalan yang berkelok-kelok dan naik turun. Di setiap tikungan, aku harus mampu untuk mendengar suara  dan melihat lampu sorot dari kendaraan lain yang ada dibalik tikungan, agar aku tahu apa yang harus aku lakukan dengan kendaraanku. Setelah melewati jalan berkelok-kelok, kemudian kami kembali memasuki sebuah perkampungan. Lampu di perkampungan mulai membantuku dalam melihat, tetapi aku harus tetap waspada  karena banyak sekali orang yang berjalan-jalan dipinggir ataupun ditengah jalan, hingga aku harus menggunakan mataku dengan baik.  Keluar dari perkampungan itu aku mulai menemukan jalan yang sepi, gelap, berlubang serta berbatu. Dalam perjalanan ini aku menemukan banyak ular yang berlalu lalang hingga aku harus berhati-hati, jangan sampai ular itu terbawa kendaraanku dan mematokku dari belakang. Di tempat sepi itu aku sejenak berhenti untuk sekedar buang air kecil, lalu melanjutkan perjalanan kembali. Tiba-tiba ditengah gelap malam, lampu kendaraan kami mati. Ketakutan luar biasa muncul dalam diriku, aku tidak mempunyai jarak pandang yang cukup untuk melanjutkan perjalanan, ditambah begitu banyak bahaya hambatan dan rintangan di depan, yang tidak mampu aku lihat dengan baik. Akhirnya aku memutuskan untuk berhenti sejenak dan berusaha untuk memperbaiki lampu itu. Akhirnya dengan kesungguhan dan tetap fokus pada tujuan, lampu itupun bisa aku perbaiki, hingga itu aku melanjutkan perjalanan kembali. Saat itu aku melihat ular yang mati ditengah jalan, jalan yang kulewati pun sudah mulai baik kembali. Pada waktu itu sejenak kami memutuskan untuk beristirahat di sebuah warung kecil. Selesai beristirahat, kami melanjutkan perjalanan hingga kami sampai di tujuan untuk memberikan sebuah kabar bahagia.

Dari sebuah perjalanan singkat itu, aku sedikit memetik sebuah perjalanan berharga, dalamku merangkum perjalanan hidup hingga saat ini, untukku gunakan sebagai pedoman, dalam melanjutkan perjalanan hidupku. Dalam mengarungi perjalanan hidup ini, aku perlu membuat sebuah tujuan hidup yang pasti, untuk kugunakan sebagai patokan kemana dan bagaimana aku harus melangkah. Setelah menentukan sebuah tujuan,  aku harus mempersiapkan segala sesuatu yang akan aku butuhkan untuk mencapainya, sehingga aku perlu membuat sebuah perencanaan yang baik. Ketika aku merasa perencanaanku sudah matang, aku harus mempunyai sebuah keberanian untuk melangkah menuju tujuan hidupku.  Aku harus yakin bahwa aku mampu untuk memulai sebuah perjalanan demi tujuan. Jangan pernah ragu atau takut untuk perjalanan itu walaupun kita tidak tahu medan dan keadaan di depan sana, karena semua petunjuk telah disediakan di depan sana.

Dalam sebuah perjalanan hidup untuk meraih sebuah tujuan, kita tidak melulu melalui jalan yang mulus dan lurus. Hambatan, rintangan, godaan dan segala bahaya di depan, begitu banyak dan siap menyertai perjalanan kita, hingga perlu kewaspadaan dalam melangkah. Pengaturan ritme dalam perjalanan sesuai dengan apa yang kita dengar, lihat dan fikirkan sangat diperlukan untuk memutuskan bagaimana kita menggerakkan seluruh bagian tubuh kita dengan tepat. Fokus pada tujuan, memaksimalkan seluruh daya yang ada, serta berani untuk melanjutkan perjalanan disaat kita kehilangan arah, adalah sebuah kekuataan untuk kita disaat kita merasa gagal dan harus berhenti. Disaat alat bantu kita hilang, hingga memunculkan rasa takut dalam diri  kita untuk melanjutkan perjalanan, tidak ada salahnya untuk sejenak berhenti untuk memperbaikinya, dengan tetap fokus untuk bisa melanjutkan perjalanan. Disaat kita berada disebuah persimpangan, kita harus mampu membaca petunjuk untuk dapat menentukan kearah mana kita harus berjalan. Jika kita mampu melewati itu semua maka terang akan kita temui dalam perjalanan kita, semua petunjuk sudah diberikan, jika kita tidak menemukan sebuah petunjuk, kita juga bisa bertanya kepada orang lain disekitar kita untuk dapat membantu perjalanan kita. Kita tidak perlu untuk tahu apa yang akan terjadi di depan sana, karena kita diberikan sebuah penglihatan yang cukup untuk melihat yang ada di depan sesuai dengan kemampuan kita. Ketika kita mampu melewati semua itu maka kita pasti akan sampai pada tujuan kita.

Semangat!!!!

       

Entri Populer