Selasa, 22 Mei 2012

Catatan Singkat Sebuah Perjalanan

gbr. diambil dari sebuah situs website
Sehari setelah kepergian Nenekku (Hendrika Osi) untuk menghadap kepada yang Esa, aku dengan Bapakku harus pergi ke Atambua untuk sebuah tujuan yang menurutku baik. Kira-kira pukul 14.00 Wita, dengan menggunakan motor besar, kami berangkat menuju atambua. Dalam perjalanan menuju Atambua, kami menikmati indahnya alam dari Kaubele menuju Atambua. Hamparan padang ilalang berbukit, dihiasi areal sawah dengan hewan-hewan yang berlalu-lalang, memanjakan mata kami dengan sebuah keindahan yang sangat luar biasa, di tengah sebuah permasalahan yang sangat rumit. Kami sangat menikmati perjalanan itu, hingga akhirnya tanpa terasa, setelah menempuh 2 jam perjalanan, kamipun sampai di tempat tujuan kami di Atambua.  Sesampainya di Atambua, tanpa basa-basi kami langsung menyampaikan maksud dan tujuan kami, dan kami pun bersyukur, karena maksud dan tujuan kami akhirnya dapat diterima dengan baik. Setelah selesai menyampaikan maksud dan tujuan kami datang ke Atambua, akhirnya kamipun berpamitan untuk kembali ke Kaubele untuk menyampaikan sebuah kabar bahagia dari Atambua.

Kira-kira pukul 19.00 Wita, kami berangkat dari Atambua untuk membawa kabar bahagia ini. Tekad serta ketulusan hati, menjadi modal utama kami dalam perjalanan pulang menuju Kaubele. Pelan tapi pasti aku mulai memacu kendaraan. Perjalanan pada malam hari menjadi menarik karena dalam perjalanan aku mendapatkan sebuah pelajaran yang menurutku sangat berharga, untukku menjalani hidup ini. 

Perjalanan diawali dengan jalan yang cukup mulus, dengan lampu-lampu jalan membantu memberikan pencahayaan di malam hari itu. Keluar dari kota Atambua, kami mulai menemukan jalan-jalan yang berkelok-kelok dan naik turun. Di setiap tikungan, aku harus mampu untuk mendengar suara  dan melihat lampu sorot dari kendaraan lain yang ada dibalik tikungan, agar aku tahu apa yang harus aku lakukan dengan kendaraanku. Setelah melewati jalan berkelok-kelok, kemudian kami kembali memasuki sebuah perkampungan. Lampu di perkampungan mulai membantuku dalam melihat, tetapi aku harus tetap waspada  karena banyak sekali orang yang berjalan-jalan dipinggir ataupun ditengah jalan, hingga aku harus menggunakan mataku dengan baik.  Keluar dari perkampungan itu aku mulai menemukan jalan yang sepi, gelap, berlubang serta berbatu. Dalam perjalanan ini aku menemukan banyak ular yang berlalu lalang hingga aku harus berhati-hati, jangan sampai ular itu terbawa kendaraanku dan mematokku dari belakang. Di tempat sepi itu aku sejenak berhenti untuk sekedar buang air kecil, lalu melanjutkan perjalanan kembali. Tiba-tiba ditengah gelap malam, lampu kendaraan kami mati. Ketakutan luar biasa muncul dalam diriku, aku tidak mempunyai jarak pandang yang cukup untuk melanjutkan perjalanan, ditambah begitu banyak bahaya hambatan dan rintangan di depan, yang tidak mampu aku lihat dengan baik. Akhirnya aku memutuskan untuk berhenti sejenak dan berusaha untuk memperbaiki lampu itu. Akhirnya dengan kesungguhan dan tetap fokus pada tujuan, lampu itupun bisa aku perbaiki, hingga itu aku melanjutkan perjalanan kembali. Saat itu aku melihat ular yang mati ditengah jalan, jalan yang kulewati pun sudah mulai baik kembali. Pada waktu itu sejenak kami memutuskan untuk beristirahat di sebuah warung kecil. Selesai beristirahat, kami melanjutkan perjalanan hingga kami sampai di tujuan untuk memberikan sebuah kabar bahagia.

Dari sebuah perjalanan singkat itu, aku sedikit memetik sebuah perjalanan berharga, dalamku merangkum perjalanan hidup hingga saat ini, untukku gunakan sebagai pedoman, dalam melanjutkan perjalanan hidupku. Dalam mengarungi perjalanan hidup ini, aku perlu membuat sebuah tujuan hidup yang pasti, untuk kugunakan sebagai patokan kemana dan bagaimana aku harus melangkah. Setelah menentukan sebuah tujuan,  aku harus mempersiapkan segala sesuatu yang akan aku butuhkan untuk mencapainya, sehingga aku perlu membuat sebuah perencanaan yang baik. Ketika aku merasa perencanaanku sudah matang, aku harus mempunyai sebuah keberanian untuk melangkah menuju tujuan hidupku.  Aku harus yakin bahwa aku mampu untuk memulai sebuah perjalanan demi tujuan. Jangan pernah ragu atau takut untuk perjalanan itu walaupun kita tidak tahu medan dan keadaan di depan sana, karena semua petunjuk telah disediakan di depan sana.

Dalam sebuah perjalanan hidup untuk meraih sebuah tujuan, kita tidak melulu melalui jalan yang mulus dan lurus. Hambatan, rintangan, godaan dan segala bahaya di depan, begitu banyak dan siap menyertai perjalanan kita, hingga perlu kewaspadaan dalam melangkah. Pengaturan ritme dalam perjalanan sesuai dengan apa yang kita dengar, lihat dan fikirkan sangat diperlukan untuk memutuskan bagaimana kita menggerakkan seluruh bagian tubuh kita dengan tepat. Fokus pada tujuan, memaksimalkan seluruh daya yang ada, serta berani untuk melanjutkan perjalanan disaat kita kehilangan arah, adalah sebuah kekuataan untuk kita disaat kita merasa gagal dan harus berhenti. Disaat alat bantu kita hilang, hingga memunculkan rasa takut dalam diri  kita untuk melanjutkan perjalanan, tidak ada salahnya untuk sejenak berhenti untuk memperbaikinya, dengan tetap fokus untuk bisa melanjutkan perjalanan. Disaat kita berada disebuah persimpangan, kita harus mampu membaca petunjuk untuk dapat menentukan kearah mana kita harus berjalan. Jika kita mampu melewati itu semua maka terang akan kita temui dalam perjalanan kita, semua petunjuk sudah diberikan, jika kita tidak menemukan sebuah petunjuk, kita juga bisa bertanya kepada orang lain disekitar kita untuk dapat membantu perjalanan kita. Kita tidak perlu untuk tahu apa yang akan terjadi di depan sana, karena kita diberikan sebuah penglihatan yang cukup untuk melihat yang ada di depan sesuai dengan kemampuan kita. Ketika kita mampu melewati semua itu maka kita pasti akan sampai pada tujuan kita.

Semangat!!!!

       

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Entri Populer