![]() |
| pic "find the endles love" by odik |
Tadi pagi, kebetulan setelah aku selesai membuat draft Keputusan di ruang kerja di mana hanya ada aku dengan atasanku, kamipun mengobrol untuk sekedar mengisi waktu luang. Obrolan ringan pun dimulai dari masalah video di You Tube, hingga tiba-tiba kami berbicara tentang masalah perjodohan. Nah pas sampai di topik ini, aku langsung menggunakannya untuk berbagi tentang permasalahanku, yaitu hingga saat ini aku belum menemukan pasangan hidup sekaligus jodoh untuk sekali seumur hidupku. Jangankan jodoh sekaligus pasangan hidup, bahkan hingga saat aku berfikiran untuk mencurahkan isi pikiran di catatanku ini, aku belum mempunyai pacar atau orang kupilih untuk kudekati untuk menjadi pacar, yang kelak akan jadi pasangan hidup sekaligus jodohku.
Sebenarnya, sebelum ada tulisan ini, aku mempunyai seorang pacar, yang aku harapkan kelak menjadi pasangan hidup sekaligus jodohku. Tapi karena ada satu hal permasalahan yang mungkin juga merupakan kesalahanku, akhirnya hubungan kami pun harus berakhir. Jujur setelah berpisah aku merasa jatuh dan tersiksa, hingga membuatku kehilangan gairah, untuk kembali menjalin sebuah hubungan dengan wanita lain. Bahkan sampai saat inipun, aku juga belum tahu alasanku, mengapa aku menjadi seperti orang yang kehilangan semangat, hingga akhirnya aku memutuskan untuk membagi permasalahnku ini, sekaligus bertukar pikiran dengan atasanku tentang permasalahan dalam mencari dan menentukan pasangan hidup.
Waktu bertukar pikiran dengan atasanku, beliau memberi beberapa saran dan tips dalam mencari pasangan hidup kelak. Ternyata banyak juga pertimbangan-pertimbangan yang mesti dipikirkan baik-baik pada waktu kita memutuskan untuk memilih pasangan hidup (dalam konteks pembicaraan kami pasangan bukan lagi dalam hubungan pacaran tapi untuk jenjang yang lebih tinggi yaitu suami istri). Saran-saran yang beliau berikan, menurutku memang gampang-gampang susah, tapi dari sekian panjang obroran kami, aku membuat sebuah kesimpulan bahwa "kalau mencari seorang jodoh tidak bisa bisa hanya dilihat secara fisik saja dan rasa ketertarikan awal saja, tetapi kita juga harus bisa menyeimbangkannya dengan realitas hidup". Nah dari hasil ngobrol tadi ini coba kurangkum dalam tulisan ini.
Pertama, menurut beliau seorang pria memang harus pada posisi yang lebih tinggi daripada seorang wanita, alasannya adalah psikologi seorang wanita, cenderung ingin dilindungi oleh pria. Dilindugi di sini maksudnya bukan hanya sekedar dari ancaman fisik nyata atau serangan fisik dari luar, tapi juga dalam segala lini kehidupan, termasuk dalam permasalahan dapur atau kebutuhan yang lain. Lebih ringkasnya perlindungan dalam hal materi maupun bathin. Alasannya adalah karena jika seorang wanita berada pada posisi yang lebih tinggi, membuat kecenderungan memunculkan sifat ego yang sangat tinggi dan akan meremehkan pihak pria. Jika hal ini terjadi, dapat menimbulkan sebuah gangguan dalam hubungan berkeluarga, khususnya bagi pihak pria. Menurut pengalaman beliau, seringkali pria akan mengalami depresi atau rasa minder karena alasan itu. Kesimpulan pertama menurut atasanku adalah, dalam mencari pasangan hidup, pilihlah wanita yang maksimal adalah sejajar dengan kita, jangan sampai melebihi kita atau dengan kata lain jangan sampai kodrat kita sebagai pria diambil alih dan digantikan oleh wanita.
Kedua, harus dilihat dari latar belakang pendidikan juga. Menurut beliau, akan lebih baik jika mencari pasangan hidup yang seimbang dalam hal pendidikan. Alasannya, dalam kehidupan keluarga kita tidak hanya saling melihat saja, tetapi dibutuhkan juga adanya sebuah komunikasi. Karena itu, suami-istri harus bisa saling berkomunikasi dengan baik dan bisa berimbang. Aku simpulkan di sini berarti akan lebih baik jika mencari pasangan hidup yang paling tidak mempunyai latar belakang pendidikan yang tidak terlalu jauh dengan kita.
Ketiga, secara fisik, orang yang akan kita pilih untuk menjadi pasangan hidup harus mempunyai daya tarik untuk kita atau dengan kata lain cantik menurut selera kita masing-masing. Alasannya, sebagai manusia normal, yang membuat adam tertarik dengan hawa pada waktu awal adalah jasmani, hal ini karena menikah bukan hanya merupakan urusan bathin, tetapi juga jasmani. Jadi beliau memberikan sebuah saran dalam mencari pasangan tidak boleh hanya karena merasa nyaman saja, tetapi juga harus mempunyai daya tarik secara fisik menurut kita.
Keempat, kita juga harus melihat juga latar belakang keluarganya. Alasannya karena pada waktu kita menikah dengan seseorang, kita tidak hanya menjalin hubungan suami istri saja, tetapi kita juga menjalin hubungan yang melibatkan banyak hal termasuk keluarga pasangan kita. Nah jangan sampai nanti dalam hubungan keluarga, faktor keluarga besar menjadi sebuah batu sandungan. Kira-kira seperti itu tadi yang beliau sarankan ke aku.
Walaupun pada waktu bertukar pikiran dengan atasanku tadi, kami membahas beberapa kriteria atau patokan seorang wanita untuk
pria, tetapi aku berpikir mungkin seorang wanita pada waktu mencari pasangan hidupnya, memiliki patokan atau
kriteria yang sama dengan beberapa kriteria di atas tadi. Jadi aku coba melihat diri sendiri apakah aku bisa
masuk kedalam kriteria wanita. Untuk itu aku mencoba membuat sebuah gambaran
selintas tentang aku.
Pertama, secara fisik. Menurutku aku termasuk dalam kategori pria yang normal-normal saja, tidak terlalu jelek-jelek, hanya sering menjadi masalah adalah postur tubuhku cenderung agak pendek dan gendut, dengan tinggi badan 165 cm dan angka berat tertinggi sampai di angka 84kg. Karena permasalahan itu aku berusaha keras untuk memperbaikinya, hingga akhirnya sekarang aku bisa menurunkan berat badan hingga mencapai angka 70 kg dari target 60 kg. Secara keseluruhan fisik, menurutku disamping dua permasalahan itu tidak ada permasalahan yang lain.
Kedua, secara penghasilan. Sebagai PNS Golongan III/a, aku sudah mempunyai penghasilan yang tetap, dan cukup (kalau bisa nyukup-nyukupin). selain itu masalah jaminan untuk masa tua, aku sudah jelas memiliki uang pensiun yang mengiringiku hingga aku mati kelak. Jadi menurutku, secara penghasilan, kalau ada yang mau hidup dengan gaya pas-pasan, dengan gaji seadanya, pasti tidak akan menjadi sebuah masalah.
Ketiga, latar belakang keluarga. Menurutku, keluargaku secara ekonomi pas-pasan, bisa memenuhi kebutuhan makan untuk sebulan penuh, tidak terlalu kurang, tetapi tidak berlebihan juga. Jadi menurutku tentang permasalahan latar belakang keluargaku juga tidak akan menjadi sebuah masalah.
Kelima, masalah pendidikan. Menurutku aku juga tidak mempunyai permasalahan dalam hal pendidikan. Pendidikan yang tempuh juga cukup tinggi, buktinya kelasku pada waktu aku bersekolah saja berada di lantai 3.
Terakhir adalah masalah sifat. Inilah yang mungkin sedikit mengganjal. Secara sifatk, aku adalah seorang laki-laki biasa, aku mempunyai kebaikan tetapi juga keburukan. Hampir semua kenakalan sudah pernah aku rasakan kecuali narkoba. Tapi di sisi lain, aku juga mampu membuktikan bahwa aku dapat dan mampu bertahan hidup sendiri, dan mampu mencapai sesuatu serta sangat setia kawan. Sewaktu pacaran aku juga cenderung setia, karena seingatku yang pernah aku kujalani, aku tidak pernah menduakan pasanganku. karena menurutku kalau aku tertarik dengan wanita dan menjalin hubungan khusus, aku tidak mau ada wanita lain. Memang pernah sekali aku menduakan, tetapi pada saat itu hubunganku memang sudah goncang dan memang tidak mungkin bisa bersama lagi (akhirnya memang berpisah), saat itu aku dekat dengan orang lain lagi, tapi kejadian itu hanya sekali saja. Jadi menurutku, secara garis besar aku masuk dalam kategori orang yang setia.
Pertama, secara fisik. Menurutku aku termasuk dalam kategori pria yang normal-normal saja, tidak terlalu jelek-jelek, hanya sering menjadi masalah adalah postur tubuhku cenderung agak pendek dan gendut, dengan tinggi badan 165 cm dan angka berat tertinggi sampai di angka 84kg. Karena permasalahan itu aku berusaha keras untuk memperbaikinya, hingga akhirnya sekarang aku bisa menurunkan berat badan hingga mencapai angka 70 kg dari target 60 kg. Secara keseluruhan fisik, menurutku disamping dua permasalahan itu tidak ada permasalahan yang lain.
Kedua, secara penghasilan. Sebagai PNS Golongan III/a, aku sudah mempunyai penghasilan yang tetap, dan cukup (kalau bisa nyukup-nyukupin). selain itu masalah jaminan untuk masa tua, aku sudah jelas memiliki uang pensiun yang mengiringiku hingga aku mati kelak. Jadi menurutku, secara penghasilan, kalau ada yang mau hidup dengan gaya pas-pasan, dengan gaji seadanya, pasti tidak akan menjadi sebuah masalah.
Ketiga, latar belakang keluarga. Menurutku, keluargaku secara ekonomi pas-pasan, bisa memenuhi kebutuhan makan untuk sebulan penuh, tidak terlalu kurang, tetapi tidak berlebihan juga. Jadi menurutku tentang permasalahan latar belakang keluargaku juga tidak akan menjadi sebuah masalah.
Kelima, masalah pendidikan. Menurutku aku juga tidak mempunyai permasalahan dalam hal pendidikan. Pendidikan yang tempuh juga cukup tinggi, buktinya kelasku pada waktu aku bersekolah saja berada di lantai 3.
Terakhir adalah masalah sifat. Inilah yang mungkin sedikit mengganjal. Secara sifatk, aku adalah seorang laki-laki biasa, aku mempunyai kebaikan tetapi juga keburukan. Hampir semua kenakalan sudah pernah aku rasakan kecuali narkoba. Tapi di sisi lain, aku juga mampu membuktikan bahwa aku dapat dan mampu bertahan hidup sendiri, dan mampu mencapai sesuatu serta sangat setia kawan. Sewaktu pacaran aku juga cenderung setia, karena seingatku yang pernah aku kujalani, aku tidak pernah menduakan pasanganku. karena menurutku kalau aku tertarik dengan wanita dan menjalin hubungan khusus, aku tidak mau ada wanita lain. Memang pernah sekali aku menduakan, tetapi pada saat itu hubunganku memang sudah goncang dan memang tidak mungkin bisa bersama lagi (akhirnya memang berpisah), saat itu aku dekat dengan orang lain lagi, tapi kejadian itu hanya sekali saja. Jadi menurutku, secara garis besar aku masuk dalam kategori orang yang setia.
Setelah aku bandingkan diriku dengan saran-saran yang diberikan oleh atasanku, menurutku aku seharusnya sudah dapat pasangan hidup. Tapi tidak tahu kenapa hingga saat ini, aku pun belum mempunyai seorang pacar . Apa yang terjadi denganku, apa masalahku, apa yang salah dalam diriku ini!!! Tetapi setelah aku pikir-pikir, aku tidak boleh menyalahkan diriku sendiri. Jodoh tidak akan bisa kita temukan jika kita mencarinya dengan nafsu untuk segera mendapatkannya. Jodoh itu pasti akan datang, saat kita sudah benar-benar siap untuk menerima jodoh kita. Lalu aku melihat lagi diriku, dari sisi umur, ternyata aku juga belum terlalu tua. Saat ini umurku baru mau menginjak di angka 26 tahun, sedangkan teman-temanku yang umurnya 30 tahun saja masih banyak yang belum menemukan jodohnya. Setelah kupikir-pikir saat ini, aku yang segera ingin menemukan jodohku, mungkin lebih dikarenakan dorongan nafsu dan lebih karena dorongan keinginan orang tua, hingga tidak bisa untuk benar-benar berfikir secara jernih.
Memang benar dalam mencari pasangan hidup untuk sekali seumur
hidup, kita tidak boleh melakukan dengan asal-asalan saja. Tapi mendengar saran dan tips yang diberikan oleh atasanku itu, aku berpikir ternyata mencari pasangan hidup adalah suatu hal yang menurutku gampang-gampang susah juga.
Membayangkan itu aku jadi merasa ngeri juga, apalagi kalau harus paten dan melaksanakan persis saran-saran
seperti yang beliau berikan. Huffffffffttt. Kupikir kapan aku akan menemukann pasangan hidupku, owh my
goshhh!!! Tapi setelah menimbang-nimbang lagi, aku memutuskan lebih baik saat ini aku menjalani dengan apa adanya saja terlebih dulu, santai, hingga aku benar-benar menemukan seorang yang menurutku, maupun menurut dia adalah yang terbaik untuk masing-masing. Aku yakin kelak suatu saat, aku pasti bisa menemukannya siapapun itu, di manapun dan kapanpun itu. Jadi aku merasa tidak perlu berkecil hati Coyyyy!!!!! Tak kan lari gunung dikejar.

akan indah pada waktunya :D
BalasHapusamin... :)
BalasHapus