Kurang lebih satu tahun yang lalu, saat sedang musim kering, karena hujan tak kunjung datang, aku pergi ke Kefa untuk menjenguk Eyangku. Aku melewati hamparan gurun yang sangat tandus dan gersang. Panas sangat menyengat yang kurasakan saat itu. Bagi orang yang tinggal di situ mungkin sudah biasa, tapi walau terbiasa, aku tidak melihat orang yang berjalan ataupun sengaja berjemur diterik matahari yang sangat membakar itu. Bahkan mereka yang sudah terbiasa dengan keadaan seperti itupun tetap berlindung di bawah naungan pohon-pohon yang masih bisa bertahan hidup di tengah padang gurun itu.
Dari sini aku melihat ternyata manusia adalah mahkluk yang tidak tahan dengan panas yang sangat menyengat. Bahkan menurutku manusia menginginkan suasana yang sejuk dan segar, tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin. Masalahnya adalah kebiasaan kita sebagai manusia yang selalu menginginkan semua itu, tanpa mau bersusah payah untuk menciptakan suasana dingin yang alami dan nikmat. Kebanyakan dari kita cenderung untuk mencari jalan pintas dengan menggunakan AC ataupun dengan sebuah kipas angin untuk menghilangkan rasa gerah, yang akhirnya membuat badan ini terasa berat, dan tulang menjadi sakit. Yah itulah resiko yang harus diambil jika kita memilih sebuah jalan pintas untuk mendapat kelegaan sesaat untuk kita.
Dari sini aku melihat ternyata manusia adalah mahkluk yang tidak tahan dengan panas yang sangat menyengat. Bahkan menurutku manusia menginginkan suasana yang sejuk dan segar, tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin. Masalahnya adalah kebiasaan kita sebagai manusia yang selalu menginginkan semua itu, tanpa mau bersusah payah untuk menciptakan suasana dingin yang alami dan nikmat. Kebanyakan dari kita cenderung untuk mencari jalan pintas dengan menggunakan AC ataupun dengan sebuah kipas angin untuk menghilangkan rasa gerah, yang akhirnya membuat badan ini terasa berat, dan tulang menjadi sakit. Yah itulah resiko yang harus diambil jika kita memilih sebuah jalan pintas untuk mendapat kelegaan sesaat untuk kita.
Kemarin karena aku mendapat sebuah pesan dari Bapak dan Ibu yang akan datang ke Kefa Untuk menjenguk Eyangku yang sedang sakit, akhirnya akupun memutuskan untuk ikut menjemput Bapak Ibu sekalian menjenguk Nenek. Dengan uang saku seadanya akhirnya aku berangkat menuju ke Kefa. Sepulang dari Rumah Eyang, akupun melewati gurun yang dahulu pernah kulewati dalam keadaan gersang tanpa ada naungan. Betapa kagetnya aku ketika aku lewat lagi padang yang dulu sangat gersang berubah menjadi areal persawahan dengan pohon-pohon yang sangat hijau dan memberikan warna keteduhan di daerah itu.
Tetapi sayang keadaan seperti ini hanya terjadi pada waktu musim hujan saja, padahal aku yakin jika warga di sana mau lebih giat berusaha, bukan satu keniscayaan gurun itu akan menjadi hijau sepanjang tahun, dan merekapun akan bisa hidup lebih baik di atas tanah mereka. Pikiran ini bukan tanpa sebuah alasan, karena aku melihat di sana banyak terdapat mata air yang sangat besar, yang bisa memberikan kehidupan pada pohon untuk memberi warna kesejukan di alam ini. Sejak saat itu, walaupun sebelumnya sudah kulakukan, kini aku berusaha merintis sebuah tindakan nyata dengan menciptakan kesejukan alami dari alam. aku akan berusaha dengan hal-hal yang sangat mudah yaitu dengan menanam pohon, lalu kemudian menyiramnya secara rutin dengan air. Aku berharap dari gerak nyataku ini.,walaupun sedikit demi sedikit, kelak aku dapat menciptakan sebuah kesejukan alam yang bisa dinikmati oleh semua orang.
Mari Menanam Pohon

Tidak ada komentar:
Posting Komentar