Siang-siang sekitar jam 11 Wita, aku membaca sebuah pesan dalam group ternyata ada yang mengajak memancing ke sebuah pulau di tepatnya di Pulau Tiga daerah Ilebura Flores Timur, kebetulan pas hari libur dan sedang banyak pikiran yang harus segera "didinginkan" akhirnya aku menyambut pesan itu. Tanpa menunggu lama-lama aku langsung bergegas untuk mencari si-pengirim pesan yaitu Jeffa pemancing dari Ekasapta. Waktu itu aku tidak ketemu langsung dengan orangnya tetapi ketemu dengan Samsi. Ketika aku sampaikan maksud kedatanganku ke Kampung Baru, Samsi pun langsung tanggap dan menghubungi Jeffa untuk menjemputku. Tidak lama kemudian Jeffa-pun datang menghampiriku dan menyuruh untuk segera bersiap-siap, aku pun segera bergegas mempersiapkan segala sesuatu, mulai dari peralatan mancing sampai bekal selama memancing.Kira-kira jam 5 sore kamipun berangkat, rencana berubah dari tujuan awal ke Pulau Tiga berubah menuju ke Pulau Mas. Didalam kapal terdapat delapan orang yang siap merasakan sensasi Strike di Pulau Mas. Karena berangkat sore hari biasanya arus laut di Selat Larantuka sangat deras sehingga kapal pun menjadi lamban, Sang Kapten Kapal (Pak Hasan) pun segera mengambil langkah taktis dengan menjalankan kapal secara zig-zag dan mencari jalan untuk menghindari arus, dari jalur kiri menuju ke jalur kanan, setelah melewati arus (kira-kira jam 8 malam malam) Sang Kapten-pun beristirahat dan menyerahkan kemudi ke asisten-nya (Pak Anwar), karena gelap dan lupa pemandu di haluan kapal tanpa diduga dan begitu cepatnya, kapal kami pun menabrak karang dan terdampar di tempat dangkal tengah laut. Suasana santai, seketika itu juga berubah menjadi kepanikan.
Kapal tidak bisa lagi bergerak maju atau mundur karena terjebak diantara karang-karang. kondisi ini diperparah dengan ombak yang kerang menghantam badan kapal dari sisi kiri badan kapal sehingga kapal pun menjadi sangat oleng mengikuti irama ombak yang datang. Dalam setiap hempasan ombak yang datang selalu membat benturan antara badan kapal dengan karang dan benturan ini sangat keras dan berulang-ulang dan jika keadaan ini tidak segera teratasi maka pecahnya kapal-pun hanya tinggal menunggu waktu saja.
Pada saat kejadian semua awak yang sudah berpengalaman-pun sigap untuk menormalkan keadaan, Jangkar segera dilemparkan searah ombak supaya haluan kapal berhadapan dengan ombak, sehingga ombak tidak menghantam kapal, tetapi karena goncangan yang sangat keras tidak bisa dilemparkan karena di atas kapal kita tidak bisa berdiri dengan baik sehingga salah satu dari kami harus membawa jangkar secara langsung, Jeffa pun meloncat ke Laut untuk menancapkan Jangkar, dua orang lain turun untuk menahan bodi kapal, satu orang menahan kapal dengan menuaskan bambu, satu orang menahan tali jangkar sedangkan aku tetap berada di dalam kapal untuk memegangi dua anak kecil (anaknya Pak Hasan)yang juga ikut bersama kami dan masih tertidur, karena goncangan semakin kuat akhirnya mereka berdua pun terbangun. Setelah mereka terbangun aku pun menyuruh mereka untuk pegang kuat-kuat, karena saya mau membantu yang lain. akupun segera membantu menahan tali jangkar karena sangat berat sekali. Pas sedang menahan tali jangkar tiba-tiba bambu yang digunakan untuk menahan kapak dari atas terjatuh hingga goncangan kapal semakin kuat membentur karang. akupun melihat bambu itu ada didekatku, pada saat aku berdiri untuk berusaha meraih bambu, tiba-tiba satu hempasan ombak yang besar membuatku terhempas terlempar di karang. Keadaan menjadi sangat buruk untukku karena aku terjatuh diantara karang dan sisi kana badan kapal kapal, ditambah lagi ombak selalu datang ditambah ombak selalu menghantam kapal dari sisi kiri, sehingga membuat posisiku semakin terjepit. Saat itu terlintas dalam pikiranku bahwa aku akan mati karena pada saat itu jarak antara kepalaku dengan bibir kapal hanya sekitar satu jengkal saja, sedang aku tidak bisa mundur karena bagian belakang tubuhku sudah menempel dengan batu karang yang besar, ditambah ombak yang datang terus menerus membuatku susah untuk bergerak.
Saat itu aku merasa sangat dekat sekali dengan kematian aku tidak bisa melawan sang ombak, badanku terjepit antara diantara badan kapal dan karang hingga aku harus siap ketika mau-tidak mau, suka atau tidak suka badan kapal akan menindis tubuhku. Terlintas dalam pikiranku aku pasrah dan akan mati sebagai seorang pelaut. tetapi dalam kepasrahanku aku tetap berusaha untuk keluar dari jepitan kapal dan karang itu, dengan menggunakan tangan kiriku aku berusaha meraih apapun untuk bisa aku gunakan sebagai pegangan dan mengeluarkan tubuhku dari antara kapal dan karang. Hingga akhirnya ada satu ombak yang datang hampir membunuhku sekaligus menyelamatkanku. Berkat hempasannya dibantu dayungan tangan kiriku mengeluarkanku dari jepitan kapal dan karang, dalam hati ini langsung berkata aku selamat, walaupun dalam situasi itu masih ada kemungkinan badan kapal akan menghantamku karena hempasan itu hanya membuatku bergeser keluar dari jepitan saja tetapi tidak membuatku menjauh dari badan kapal, tetapi aku sangat yakin aku akan selamat, dan menurutku Tuhan meneguhkan keyakinanku ketika datang ombak lagi dan akupun terhempas sekitar 3 meter menjauh dari badan kapal dan saat itulah aku mempunyai ruang gerak yang bebas untuk bisa bangkit kembali mengatur badanku untuk ikut menyelamatkan kapal. segera aku berusaha untuk kembali naik kekapal untuk menahan tali kembali akhirnya pelan tapi pasti, haluan kapal bisa diarahkan kembali dengan dorongan dari berbagai sisi kapal dan jangkar yang sudah dipasang dengan benar searah ombak dan aku menahan tali jangkar kembali dengan sekuat tenaga. Sambil mengikuti irama ombak yang datang membantu kapak kita untuk bergerak pelan-pelan keluar dari karang.
Akhirnya kapal-pun bisa keluar dari karang-karang. tanpa menunggu lama Kaptenpun segera menghidupkan mesin kembali dan dengan pelan-pelan kami bergerak kembali hingga benar-benar keluar dari hamparan karang. Tidak ada sedikitpun pikiran dari kami untuk pulang kembali karena hambatan itu, tetapi kami tetap melanjutkan perjalanan kami, hingga akhirnya sekitar pukul 11 Wita, kamipun sampai ke tujuan dan memancing.
Kami memancing hingga siang hari dan tidak sia-sia perjuangan kami, karena kami pulang dengan membawa hasil yang cukup lumayan untuk dapat dinikmati, dan nikmatnya sungguh berbeda, ada sebuah rasa bangga dan nikmat yang tidak bisa terukur ketika aku menikmati hasil pancinganku setelah perjuangan yang menurutku sangat luar biasa. bahkan rasa sakit karena luka akibat benturan dan gesekan dengan kokoh dan tajamnya karangpun seolah menjadi tidak terasa sakit sama sekali.
Pengalaman ini memberiku pelajaran yang sangat berharga dalam hidupku. Dalam setiap perhentian masalah ada kalanya kita sebagai manusia biasa tidak mampu untuk berbuat apa-apa di saat itulah kita harus menyerahkan semuanya kepada Tuhan, dalam satu ayat dijelaskan "terjadilah sesuai kehendak-Mu bukan kehendak-Ku" jika memang kehendak-Nya nafasku haru berhenti pada saat itu maka aku tidak akan bisa mengelak lagi tetapi Tuhan berkata lain Ia masih tetap menginginkan dan memberiku satu kesempatan agar aku dapat memperbaiki diri dan bertobat inilah pelajaran pertama yang aku dapat. aku-pun yakin bahwa jalan Tuhan adalah jalan yang terbaik. yang aku ingat pada saat kejadian itu adalah Sabda Yesus ketika para muridnya merasa ketakutan saat terjebak di tengah badai kata-Nya kepada mereka“Mengapa kamu takut, hai kamu yang kurang percaya?" hingga membuatku merasa tidak takut sama sekali dalam kondisi itu, dan dengan kejadian ini semakin meneguhkanku untuk percaya dan beriman kepada-Nya karena Ia selalu membimbing jalanku. Semoga Tuhan menerima pertobatanku yang pernah menyangkal-Nya.
aku juga mendapatkan satu pelajaran lagi
sesederhana atau sekekurangan seperti apapun ketika itu kita dapatkan dengan sebuah perjuangan murni akan menjadi sebuah kenikmatan yang sangat luar biasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar