Minggu, 20 Januari 2013

KETIKA SAATNYA TIBA


Selamat Jalan Mbak Tipluk, semua kenangan dan  jasamu  tidak akan pernah terlupa (RIP 21 Januari 2013 08 : 00)

Tidak menangis bukan berarti aku tidak bersedih atau tidak mempunyai perasaan sama sekali, dalam beberapa kali saat keluargaku mendapatkan musibah aku sama sekali tidak menangis atau lebih tepatnya menangisinya. Saat itu aku hanya berfikir bahwa itu hal yang biasa, setiap orang pasti akan mengalaminya ketika ia dilahirkan kedunia. Ada waktunya seorang akan hidup dan mewarnai dunia tetapi ada saatnya ia akan mati.
Rasa sedih jelas ada karena walaupun bagaimana terhadap orang yang pernah memberi warna dalam hidup kita masing-masing pasti kita akan merasa kehilangan jika orang itu lebih dahulu meninggalkan kita. Ada beberapa cara yang dilakukan kita sebagai manusia untuk mengungkapkan rasa sedih itu ada dengan menangis ada yang dengan diam ataupun yang lainnya. Tetapi bagiku menangis adalah satu hal yang tidak ada gunanya ketika waktunya sudah tiba, karena saat waktu itu tiba kita tidak ada kesempatan sama sekali untuk merubahnya, inilah yang membuatku berprinsip bahwa aku tidak akan menangis ketika ada keluarga atau sahabatku lebih dahulu meninggalkan dunia ini.
Dengan menangis membuatku merasa bahwa kita tidak, atau belum rela orang yang mendahului kita, menemukan jawaban atas hidup dia dunia, untuk apa dia hidup atau mengapa dia harus hidup. Saat ini aku berfikir bahwa jawaban atas semua pertanyaan-pertanyaan kita  selama hidup ini adalah pada saat mati. Dia akan mendapatkan satu nilai kebenaran yang hakiki kebenaran yang bukan hanya menurut versi sebagian besar atau sebagian kecil manusia, kebenaran yang bukan hanya berdasarkan sudut pandang manusia, tetapi kebenaran hakiki tentang makna dari sebuah kehidupan, yang sampai saat inipun aku sendiri juga belum tahu darimana hidup ini.
Saat ini aku berkeyakinan bahwa Kematian adalah jalan terbaik ketika dalam kehidupan kita sudah tidak mampu untuk menjalaninya lagi, ketika seluruh tenaga dalam jasad ini sudah tidak mampu untuk bergerak kembali. Keyakinanku ini bukan merupakan suatu pilihan menyerah atas hidup dengan jalan mengakhiri sendiri, tetapi hanya merupakan kepasrahanku sebagai manusia yang memang sudah diberikan garis ataupun jangka waktu di bumi ini. Sekuat apapun tenaga kita sehebat apapun teknologi kita manusia untuk memperbaiki segala kerusakan yang ada dalam jasad ini, ketika sang pencipta hidup ini mengatakan bahwa waktu kita di bumi ini sudah habis maka kita tidak akan mampu menghindarinya.
Aku menulis tulisan ini untuk seorang keluargaku, tanteku yang saat ini sedang mengalami sakit, yang secara ilmu kedokteran manusiamungkin  tidak akan bisa disembuhkan lagi, apalagi saat ini aku mendapatkan kabar bahwa Tanteku sedang mengalami saat dalam bahasa jawa “lelaku-nya” yang artinya jalan menuju kematian, aku sangat bersedih ketika tanteku sakit aku tidak bisa pulang untuk menjenguknya tetapi walaupun begitu aku mempunyai keyakinan bahwa jalan kehidupan setiap manusia sudah ada yang mengaturnya, saat-saat yang akan terjadi, tidak ada satupun manusia yang mengetahuinya bahkan sampai saat inipun aku mempunyai keyakinan bila memang belum tiba saatnya pasti Tanteku akan sembuh tetapi bila memang sudah saatnya aku memohon kepada Sang Kuasa kepada Sang Pencipta  alam semesta ini untuk memberi kelancaran jalan.
Ada secercah cerita yang pernah aku alami antara aku dengan Tanteku ini, sebagai manusia kami pernah mengalami masa senang bersama, masa duka bersama, ada kalanya kami berbeda pendapat ada kalanya kami mempunyai kesamaan pendapat dan itu sangat wajar sekali sebagai manusia yang hidup dan mempunyai pikiran masing-masing. Aku sangat menyayangi Tanteku ini, bahkan aku juga harus mengakui bahwa langkah hidupku hingga saat ini juga tidak terlepas dari peran Tanteku, dan saat ini aku tidak bisa menemani tanteku yang sedang berjuang untuk sembuh dari penyakit yang dia derita atau sedang berjuang untuk menyelesaikan tugasnya sebagai manusia di bumi ini. Aku memohon dengan tulus kepada Sang Pencipta Alam ini, berikanlah yang terbaik menurut kehendakMu  untuk tenteku ini.
Larantuka, 21 Januari 2013 00:41 teruntuk Tanteku Ermawati Rahayu “Mbak Tipluk”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Entri Populer