![]() |
| Selamat Jalan Mbak Tipluk, semua kenangan dan jasamu tidak akan pernah terlupa (RIP 21 Januari 2013 08 : 00) |
Tidak menangis bukan berarti aku tidak bersedih atau tidak
mempunyai perasaan sama sekali, dalam beberapa kali saat keluargaku mendapatkan
musibah aku sama sekali tidak menangis atau lebih tepatnya menangisinya. Saat
itu aku hanya berfikir bahwa itu hal yang biasa, setiap orang pasti akan
mengalaminya ketika ia dilahirkan kedunia. Ada waktunya seorang akan hidup dan
mewarnai dunia tetapi ada saatnya ia akan mati.
Rasa sedih jelas ada karena walaupun bagaimana terhadap
orang yang pernah memberi warna dalam hidup kita masing-masing pasti kita akan
merasa kehilangan jika orang itu lebih dahulu meninggalkan kita. Ada beberapa
cara yang dilakukan kita sebagai manusia untuk mengungkapkan rasa sedih itu ada
dengan menangis ada yang dengan diam ataupun yang lainnya. Tetapi bagiku
menangis adalah satu hal yang tidak ada gunanya ketika waktunya sudah tiba,
karena saat waktu itu tiba kita tidak ada kesempatan sama sekali untuk merubahnya,
inilah yang membuatku berprinsip bahwa aku tidak akan menangis ketika ada
keluarga atau sahabatku lebih dahulu meninggalkan dunia ini.
Dengan menangis membuatku merasa bahwa kita tidak, atau
belum rela orang yang mendahului kita, menemukan jawaban atas hidup dia dunia,
untuk apa dia hidup atau mengapa dia harus hidup. Saat ini aku berfikir bahwa
jawaban atas semua pertanyaan-pertanyaan kita
selama hidup ini adalah pada saat mati. Dia akan mendapatkan satu nilai
kebenaran yang hakiki kebenaran yang bukan hanya menurut versi sebagian besar
atau sebagian kecil manusia, kebenaran yang bukan hanya berdasarkan sudut
pandang manusia, tetapi kebenaran hakiki tentang makna dari sebuah kehidupan,
yang sampai saat inipun aku sendiri juga belum tahu darimana hidup ini.
Saat ini aku berkeyakinan bahwa Kematian adalah jalan terbaik
ketika dalam kehidupan kita sudah tidak mampu untuk menjalaninya lagi, ketika
seluruh tenaga dalam jasad ini sudah tidak mampu untuk bergerak kembali.
Keyakinanku ini bukan merupakan suatu pilihan menyerah atas hidup dengan jalan
mengakhiri sendiri, tetapi hanya merupakan kepasrahanku sebagai manusia yang
memang sudah diberikan garis ataupun jangka waktu di bumi ini. Sekuat apapun
tenaga kita sehebat apapun teknologi kita manusia untuk memperbaiki segala
kerusakan yang ada dalam jasad ini, ketika sang pencipta hidup ini mengatakan
bahwa waktu kita di bumi ini sudah habis maka kita tidak akan mampu
menghindarinya.
Aku menulis tulisan ini untuk seorang keluargaku, tanteku
yang saat ini sedang mengalami sakit, yang secara ilmu kedokteran manusiamungkin
tidak akan bisa disembuhkan lagi, apalagi
saat ini aku mendapatkan kabar bahwa Tanteku sedang mengalami saat dalam bahasa
jawa “lelaku-nya” yang artinya jalan menuju kematian, aku sangat bersedih
ketika tanteku sakit aku tidak bisa pulang untuk menjenguknya tetapi walaupun
begitu aku mempunyai keyakinan bahwa jalan kehidupan setiap manusia sudah ada
yang mengaturnya, saat-saat yang akan terjadi, tidak ada satupun manusia yang
mengetahuinya bahkan sampai saat inipun aku mempunyai keyakinan bila memang
belum tiba saatnya pasti Tanteku akan sembuh tetapi bila memang sudah saatnya
aku memohon kepada Sang Kuasa kepada Sang Pencipta alam semesta ini untuk memberi kelancaran
jalan.
Ada secercah cerita yang pernah aku alami antara aku dengan
Tanteku ini, sebagai manusia kami pernah mengalami masa senang bersama, masa
duka bersama, ada kalanya kami berbeda pendapat ada kalanya kami mempunyai
kesamaan pendapat dan itu sangat wajar sekali sebagai manusia yang hidup dan
mempunyai pikiran masing-masing. Aku sangat menyayangi Tanteku ini, bahkan aku
juga harus mengakui bahwa langkah hidupku hingga saat ini juga tidak terlepas
dari peran Tanteku, dan saat ini aku tidak bisa menemani tanteku yang sedang
berjuang untuk sembuh dari penyakit yang dia derita atau sedang berjuang untuk
menyelesaikan tugasnya sebagai manusia di bumi ini. Aku memohon dengan tulus
kepada Sang Pencipta Alam ini, berikanlah yang terbaik menurut kehendakMu untuk tenteku ini.
Larantuka, 21 Januari 2013 00:41 teruntuk Tanteku Ermawati
Rahayu “Mbak Tipluk”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar