Kamis, 29 Oktober 2015

YANG PENTING PROYEK YANG PENTING DANA TERPAKAI

awas buaya berenang
Kesal, jengkel, marah, tapi tidak tahu mau disampaikan di mana. kira-kira suasana hati seperti itulah yang saya pribadi rasakan setiap melewati proyek-proyek yang dilaksanakan pemerintah baik pusat maupun daerah. Kira-kira begini  yang membuat saya merasakan suasana hati  kurang senang.
Pada bulan April ada proyek perbaikan jalan raya, semua jalan diperbaiki dibuat mulus licin, kemudian setelah itu kita pun mulai menikmati jalan yang mulus. Segala pujian saya muncul untuk pemerintah yang sudah "berjasa" membuat jalan menjadi mulus, hingga ketika kita naik kendaraan (segala jenis kendaraan) terasa sangat nyaman sekali.
Sebulan kemudian tiba-tiba kenyamanan menggunakan jalan raya yang sudah sedemikian mulus itu kembali terusik, gerombolan orang mulai menarik-narik kabel dan mengukur sepanjang jalan dan akhirnya mulailah "memperkosa" jalan yang sudah halus dan mulus, hingga mulai muncul sedikit goresan-goresan. Setelah selesai membenamkan kabel dan lain-lainnya, merekapun "lalai" untuk mengembalikan jalan ke kondisi semula yang sudah halus. Tidak hanya berhenti disitu, selang satu/dua bulan kemudian, kembali segerombolan orang mulai menata pipa-pipa dengan ukuran besar, dan akhirnya kejadian "pemerkosaan" terhadap jalan itu terulang kembali. Kali ini dengan ukuran galian yang agak besar, dan hampir dapat dipastikan bahwa pekerjaan ini akan menyisakan kerusakan kembali, bahkan yang lebih besar. Akhirnya jalan yang tadinya mulus itu sudah mulai rusak secara sistemik, dari kecil kemudian membesar dan semakin besar.
Saya kemudian berfikir, kenapa hal seperti ini bisa seperti itu, bahkan berulang-ulang. Apakah tidak ada proses pembelajaran dari sebuah pengalaman hingga kejadian seperti ini terulang terus menerus hingga saat ini? ataukah tidak ada orang kreatif lagi di pemerintahan (bagian konstruksi khususnya) yang dapat berfikir tentang pembangunan yang tersistemik dengan perencanaan yang benar-benar matang? ataukah memang mereka sudah tidak mau beranjak lagi dari "zona nyaman" tidak mau repot berfikir lagi tentang hal lain yang bisa dibuat andaikata sebuah jalan bisa berusia baik lehih dari 20 (dua puluh) tahun?, dan tentunya masih banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang ada di dalam benak ini, untuk sekedar mendapatkan sedikit jawaban atas persoalan yang menurut saya sudah terlalu akut.
Untuk mengatasi persoalan ini, saya mulai berangan-angan, bagaimana jika dalam satu kota/ kabupaten terdapat satu wadah yang dibuat, khusus untuk merencanakan, melaksanakan, dan menjaga/memelihara seluruh proyek konstruksi, wadah ini dibuat tentunya supaya tidak terjadi "lingkaran kehancuran" pada setiap pekerjaan konstruksi yang dilakukan oleh pemerintah, tidak ada lagi alasan dalam berkoordinasi sehingga perencanaan dan dilaksanakan dengan lebih matang.  Dalam bayangan saya, saya, jika kita ingin membuat jalan, maka saya  terlebih dahulu memikirkan gorong-gorong untuk lalu-lintas air dan sebagainya, gorong-gorong itu akan saya buat dengan ukuran yang besar sehingga mudah dibersihkan, selain itu saya akan berfikir tentang bagaimana gorong-gorong itu dapat saya fungsikan juga untuk memasang instalasi-intalasi seperti listrik, telepon, air pipa air dan sebagainya. saya juga akan sudah ditentukan titik-titik untuk penyeberangan air, selain itu saya juga akan menentukan jarak persekian meter untuk dapat keluar masuk manusia kedalam gorong-gorong tersebut, sehingga jika ada kerusakan atau penambahan instalasi tidak perlu membongkar jalan lagi cukup dengan membuka dan menutup pintu gorong-gorong. Pola pembangunan yang seperti ini mungkin akan membutuhkan biaya yang lebih mahal untuk seketika, tetapi jika hal ini dibarengi dengan perawatan yang baik, pastilah kedepan lebih murah karena kita tidak perlu membongkar dan membangun lagi dari awal lagi, tetapi cukup dengan merawatnya dengan baik. Sehingga setelahnya hanya diperlukan biaya perawatan saja bukan biaya pembangunan ulang. Akhirnya pos anggaran yang biasanya hanya berulang-ulang ikut terjebak dalam lingkaran kehancuran, bisa digunakan untuk hal-hal lain atau untuk semisal pemerataan pembangunan, di desa-desa.
Hal ini tentu bisa dilaksanakan jika memang orientasi pembangunan adalah murni untuk kesejahteraan masyarakat. Jika orientasi pembangunan adalah untuk bagaimana bisa mendapatkan keuntungan pribadi melalui "usaha proyek", mungkin selamaya kita akan terjebak dalam "lingkaran kehancuran".


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Entri Populer