Mungkin niat kedua orang tuaku baik, untuk memberikan aku motivasi untuk bisa seperti teman-temanku. Tapi bagiku dengan cara itu aku sangat tersiksa hingga aku harus selalu berada dalam bayang-bayang teman-temanku yang lain. Dalam otak ini hanya berfikir untuk mengejar sebuah hal yang menurutku sia-sia, karena motivasiku hanya terbatas untuk membuktikan bahwa aku bisa sama atau lebih dengan teman-temanku dalam hal itu saja, padahal menurut ku masih banyak ruang lain dimana aku juga mempunyai kemampuan yang lebih di antara orang lain, tetapi hanya karena pikiranku yang terkungkung, akhirnya membatasi pikiranku untuk berkembang dalam hal lain.
Menurut seorang filsuf, kita dilahirkan dengan kemampuan tinggal bagaimana kita mengolah kemampuan kita. Selain itu dalam hidup ini aku sangat yakin bahwa seseorang mempunyai keahlian yang berbeda-beda antara satu dengan yang lain, karena memang dunia ini tercipta untuk saling melangkapi, ada ganjil maka ada genap, ada kanan maka diciptakan kiri, sehingga menurutku membanding-bandingkan antara satu orang dengan orang yang lain adalah suatu kesalahan yang sangat mendasar. Mungkin kita melihat bahwa mereka yang kaya itu lebih hebat dengan mereka yang miskin, tetapi kita tidak tahu bisa saja si miskin lebih bahagia daripada si kaya, atau bisa saja Buyung lebih pandai dalam bidang matematika daripada Otong, tetapi ternyata dalam melukis, Otong lebih lihai daripada Budi.
Dari sini aku mengajak kita untuk tidak membanding-bandingkan satu orang dengan orang lain, karena menurutku hal itu tidak berguna dan cenderung merugikan kita sendiri, karena dapat mengabaikan kemampuan kita yang sesungguhnya. bebaskan pikiran ini sehingga kita bisa berfikir untuk memaksimalkan kemampuan diri kita sendiri, daripada kita terlalu sibuk untuk melihat orang lain. Biarkan orang itu menjadi hebat dengan keadaanya dan kita juga menjadi hebat dengan keadaan kita sendiri.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar