Kamis, 08 Maret 2012

Tour De Flores - Java "Part I" -Larantuka-Bajawa-



Malam Sebelum Tour De Flores - Java
 
Sudah sejak waktu jaman SMP aku membayangkan sebuah perjalanan pakai mobil, terus ditambah rute perjalanan yang sangat jauh dan butuh waktu yang lama, sama teman-teman sambil dengerin lagu-lagu dari tape mobil. Impianku yang udah ketanam dari masa kecilku itu, akhirnya terwujud 23 Desember 2011 kemarin.

Sejak  July 2011, Mas Chandra (sahabat sekaligus keluargaku di Larantuka), selalu ngajak aku sama Agung Boyolali (adik sepupunya Mas Chan) balik ke Jawa lewat jalan darat.  tapi ternyata sudah berhari-hari, bahkan sampai berbulan-bulan, sampai si Agung Tung sudah pulang duluan ke Jawa, ajakan Mas Chan mudik ke Jawa bawa mobil sendiri tak kunjung terwujud juga, yah mau gimana lagi, bukan mobilku juga. Kupikir-pikir juga  pasti suatu saat kalau aku dapat rejeki lebih  untuk memiliki mobil, pasti akan kubawa untuk mewujudkan impianku yang sudah lama tertanam di otak ini.

Sekitar Pertengahan Desember 2011, sejak dari Juli kemarin, Mas Chan punya rencana ngajak aku lagi pulang lewat jalan darat. Tapi waktu itu Mas Chan masih ragu-ragu apa mau  pulang lewat jalan darat atau lewat Maumere terus pake kapal laut sampai Surabaya, karena waktu itu kebetulan juga pas kondisi keuangan lagi minus, ditambah lagi aku kurang tertarik perjalanan lewat kapal laut, maka nya ajakan untuk pulang lewat maumere terus naik kapal laut  sampai Surabaya pun aku tolak. Lagi-lagi Mas Chan pun kelihatan ragu, apa mau lewat jalur darat atau jalur laut. Seiring waktu berjalan akhirnya karena keragu-raguan itu Mas Chan gagal pulang bawa mobil lewat jalur laut karena tiket kapal Maumere- Surabaya sudah habis. Akhirnya sekitar tanggal 18 Desember 2011 Mas Chan datang ke kos dan ngajak lagi  buat pulang  lewat jalan darat, dengan pembagian biaya perjalanan Mas Chan nanggung 2/3 dan aku 1/3nya  ajakan itupun langsung aku setujui tanpa pikir panjang lagi. Begitu Mas Chan sudah mantab, aku coba nawarin Kang Agung alias Kang Plenthi (Staf Kejari Larantuka ) buat bareng-bareng ikut mudik lewat jalan darat. Walaupun agak nampak ragu-ragu, tapi akhirnya Kang Agung pun mau ikut dengan kami. Waktu itu kami memperkirakan biaya perjalanan sampai jawa sekitar 5 juta rupiah, dan akhirnya disepakati kalau habis sekitar 5 juta, berarti Mas Chandra menanggung 3 Juta terus aku sama Kang Agung  masing-masing 1 juta dan kamipun bersepakat.
Setelah kami bersepakat, dalam rangka untuk menghemat biaya pengeluaran selama perjalanan nanti, akupun segera membuat daftar teman-teman yang berdomisili  di jalur yang rencananya akan kita lewati di tiap kota (lumayan buat press biaya makan). Habis bikin list teman,  Tanggal 22 tiba-tiba aku dapat kiriman info BBM dari temanku di Labuhan Bajo Aji Rahmadi kalo di Pelabuhan Sapeh Sumbawa, ada aksi massa yang memblokir pelabuhan karena ada masalah pertambangan, akupun jadi ragu untuk bisa melakukan perjalanan ini, tapi kalo yang lain tetep mau berangkat aku pasti ikut, hitung-hitung kalau tetep ngga bisa nyebrang dari Labuhan Bajo kan sudah pernah jalan-jalan ke Labuhan Bajo lihat Komodo.
Akibat Nasi Kuning
Telur untuk stamina selama perjalanan
Tanggal 23 Desember 2011 akhirnya kamipun mempersiapkan segala sesuatu  untuk bekal perjalanan yang akan dimulai sore hari. Baju, oleh-oleh, hingga peralatan untuk berwisata pun segera ku siapkan, Jam 3 sore aku segera meluncur ke kantor kejaksaan sekalian mau nitip motor di Pak Agung (Kasi Pidum Kejari Larantuka), sampai di rumah pak Agung, kulihat Mas Chan masih beres-beres dan  memasukkan barang-barang bawaan ke dalam mobil. Pas aku lagi mengintip aktivitas Mas Chan,  tiba-tiba Pak Agung sama Bu Agung dengan kompak nyuruh aku makan dulu, buat persiapan perjalanan, dan akupun segera makan, sambil nunggu Mas Chan menyelesaikan persiapanya. Selesai makan aku lihat mas Chandra sudah meluncur ke rumah pak Agung, yang saat itu  jadi posko pemberangkatan rombongan -Tour de Flores - Java-. Waktu mau berangkat kami  sepakat kalo aku jadi Sekretaris pembukuan keuangan, sekaligus cerita selama perjalanan. Aku pun langsung menyiapkan Handphone khusus, yang mau  kupakai  buat nyatet kejadian di perjalanan, sama pengeluaran uang selama di perjalanan.  Pas ngetem di tempat Pak Agung, nampak Mas Chan sedang sibuk nyari obeng buat  mengganti plat mobilnya, ternyata plat mobilnya sudah mati pajaknya selama 2 tahun kalo ndak salah, jadi biar aman selama perjalanan,  Mas Chan pun mengganti plat mobilnya  dengan plat mobil Ibunya yang kebetulan merk, tipe + warnanya sama, yang sengaja didatangkan jauh dari Boyolali,  agar perjalanan kami menjadi  aman dan nyaman.  Pas lagi masang Plat  Nomor, tiba- tiba Pak Hargo (Jaksa Tersebut) pun datang dan melihat aku baru mengganti Plat Nomor, Pak Hargo  pun langsung menyuruh Mas Chan untuk membuat surat pengantar perjalanan, agar  selama dalam perjalanan kami merasa lebih aman lagi. Setelah beres semua, sekarang tinggal nunggu Kang Agung yang paling lama sekali persiapannya, hampir sama dengan waktu persiapan kami ditambah setengah jam lebih, tapi tetap tak kunjung siap juga. Setelah kami bertiga siap semua, akhirnya kamipun berpamitan dengan semua, waktu itu di Kejaksaan ada Pak Agung sekeluarga, Pak Hargo, Pak Didik, Parlin, Bagus dan Domi, waktu mau berangkat Bu Agung , masih sempat ngasih kami bekal berupa kacang Garuda 2 renteng, untuk bekal selama dalam perjalanan. Selesai berpamitan kami pun meluncur meninggalkan Rumah dinas Kejaksaan sambil melambaikan tangan bak seorang artis melambaikan tangan kepada para fansnya :D . Keluar dari Kompleks Kejaksaan, kami ngga langsung berangkat, kami masih mampir ke kosku dulu untuk mengambil barang-barangku.  Di kosku pun ternyata Mas Chan masih mandi dan sholat (ini tipikal mau berdoa kalo lagi ada perlu) pisssss, nah setelah barang-barangku naik semua di Mobil dan Mas Chan selesai Sholat,  Akhinya dengan mantab kamipun segera berangkat meninggalkan kos. Ternyata setelah meninggalkan kos pun kami tidak langsung berangkat, kami masih harus memperbaiki lampu dan kelistrikan mobil, yang  waktu itu memang dalam kondisi agak sedikit onar bin error. Sambil menunggu perbaikan mobil, kamipun kewarung untuk minum es teh sambil makan telur di warung mie ayam di depan bengkel, setelah semua beres akhirnya kami pun berangkat. 

Schumiran
Penantian Pasrah

Kali ini beneran berangkat!!! Pas di awal perjalanan langsung kami membuka rapat terkait dimulainya pengeluaran pribadi dan umum, dan saat itu disepakati bahwa pengeluaran umum dimulai  dari waktu beli bensin pertama kali di Larantuka,  waktu itu kami beli bensin Rp. 206.000 di Pom Bensin Mokantarak,  dari sinilah aku mulai mencatat pengeluaran selama perjalanan, Setelah mengisi penuh kamipun memulai perjalanan, kota tujuan pertama adalah Maumere, waktu menuju berangkat  Maumere Mas Chan langsung menjadi Joki, aku bagian Navigator, dan Kang Agung bagian Istirahat, dalam perjalanan aku mengontak Mbak Kesih (Teman Kosku di Larantuka / Mamanya Nadine), tanpa basa-basi, aku langsung ngomong Mbak Kesih kalo kita bertiga mau pulang ke jawa lewat jalan darat, mungkin malem sampai Maumere, mau  mampir numpang makan malam, begitu nerima pesan singkatku Mbak Kesih pun langsung balik nelpon aku, katanya "iya mas odik, ntar mampir aja makan dirumah", langsung dah aku kasih tau ke team tour, kalo malam ini kita makan di rumah mbak Kesih, langsung dah bersyukur minimal udah bisa menghemat duit 50-an ribulah. 
Heiho Ngatur Strategi
Perjalananpun tetap berlanjut di atas mobil Kang Agung langsung berpose tidur dengan mata terpejam dgn aer liur dimana-mana membentuk peta. Aku pun mulai ngobrol kiri-kanan nggak jelas sama Joki-nya, biar sama-sama nggak ngantuk. setelah melewati kira-kira satu jam perjalanan akhirnya kami sampai di Boru (sekitar perbatasan Larantuka- Maumere) perjalananpun tetap dilanjutkan tanpa berhenti di Boru,  setelah sekitar 1,5 jam perjalanan dari Boru kamipun memasuki wilayah Maumere, saat itu kami melewati sebuah kios di pinggir jalan, nah pas lewat kios itu Mas Chan bilang kalo yang jaga kios orangnya cantik, dasar naluri laki-laki nggak bisa dibiarin gitu aja kalau denger kata cantik, langsung deh kami bertiga putar haluan balik ke kios itu, sampai di dalam kios ternyata yang jaga laki-laki yawh cape dechhh, tapi buat nutupin rasa malu mau-nggak-mau kamipun tetep belanja disitu,  akupun langsung Beli aqua, extra jozz dan sampo Rp. 12.000 (skalian buat bersihin wiper), habis belanja kami melanjutkan perjalanan, kira-kira jam 8 malam akhirnya kami sampai  di Maumere, langsung kami menuju rumah Mbak Kesih, walaupun pakai acara nyasar sedikit akhirnya  kamipun menemukan rumah Mbak Kesih juga. Di rumah Mbak Kesih kami langsung disambut keluarga  Mbak Kesih, setelah duduk sebentar kami melanjutkan dengan makan malam, habis makan kami pun ngobrol sebentar buat menurunkan isi perut, setelah ngobrol sebentar kamipun berpamitan untuk melanjutkan perjalanan karena rencananya kami masih mampir di kantor kejaksaan maumere  untuk mengambil pesanan kami yaitu sebuah peta route perjalanan dan wisata terdekat selama perjalanan kami. Setelah berpamitan kamipun langsung menuju Kantor Kejaksaan Negeri maumere, langsung saja kami numpang kamar mandi sekaligus membayar peta pesanan kami  Rp. 50.0000. yang  sudah dibelikan oleh Bahdi. Setelah itu kamipun melanjtutkan perjalanan sebelum keluar dari Maumere nggak lupa kami isi bensin di Pom Bensin Maumere Rp. 48.000 sambil berfoto-foto sejenak, setelah bensin penuh kami melanjutkan perjalanan menuju kota kedua yaitu Ende, tapi sebelum keluar dari  Maumere kami sempat membeli 1 galon air minum Rp. 5000 untuk bekal selama perjalanan. akhirnya sekitar jam 10 malam kami pun bergerak meninggalkan Kota Maumere menuju Ende, nah pas perjalalanan disini ada kejadian aneh, konyol serem campur baur jadi 1 waktu itu yang jadi Joki  Kang Agung, aku tetep navigator, dan Mas Chan kebagian jatah istirahat.
Pocongnya ngga sempet berpose
Sampai di Hepang pas kira-kira jam 11.15  tiba-tiba aku sama Kang Agung kaget, dari jauh aku lihat ada kayak benda tinggi putih bergerak di depan, langsung terhentak dan diam sejenak pas lihat dari jarak deket ternyata benda itu adalah pocongan yang lagi loncat-loncat, tapi rasa kaget sama sedikit takut itu langsung hilang dan berubah jadi pikiran konyol sampe kita berdua ketawa terbahak-bahak pas lihat dari jarak deket,  pikirku, kok ada ya pocongan nyasar sampe di Flores,  tapi kupikir itu emang kerjaan iseng orang-orang sekitar situ, tapi  kalo iseng kok niat banget mana kostumnya perfect banget, ditambah mau-maunya sampe loncat-loncat segala diiket pula, mukanya putih semua bagian mata hitam-hitam bulet-bulet kayak bekas orang habis ditonjok, apapun itu yang pasti bikin Kang Agung nggak mau ditinggal tidur kalau dia pas lagi kebagian jatah nyetir. setelah ada insiden ketemu sama Pocong rasa ngantuk pun langsung hilang masih juga aku kepikiran aneh-aneh aja ada Pocong Nyasar di Flores, padahal kan setan Pocong ngga ngetrend di kawasan Flores, dan kami pun melanjutkan perjalanan lagi, baru jalan kira-kira 30 menit eh tiba-tiba ada orang bodoh, sok jagoan lagi mabuk malang-malangin mobil, hufttt aneh-aneh aja, jengkel campur maki-maki deh kita berdua tapi untungnya dia ngga sampai berhentiin mobil kalau sampai berani berhentiin mobil berani nekat kacau dehh.


24 Desember 2011 Jam 00.05 akhirnya gantian, aku jadi Joki, Mas Chan Navigator dan Kang Agung Bagian istirahat, perjalanan pun dilanjutkan mulai dari Moni, Danau Kelimutu dan akhirnya jam 4 Pagi kami sampai di perbatasan Maumere Ende, pas diperjalanan Mas Chan ngerasa ada bau sangit tapi aku bilang ngga ada apa-apa kok, nah sampai di Ende kami sempat berhenti sejenak, Kang Agung masih lelap dalam mimpinya aku pun sempat turung di atas jembatan yang ternyata di bawahnya  sungai yang cukup besar dan deras airnya, akupun sempat berfoto sejenak di gapura masuk Kota Ende,  setelah sejenak berfoto dan mengambil telur yang dibeli kemarin sore, pas ngambil telur pun kami harus extra hati-hati karena telur itu di jaga oleh Sang Penjaga Telor, Ki Babon Susanto yang lagi terbuai mimpi mengerami telur. setelah makan telor kamipun melanjutkan perjalanan, memasuki kota Ende aku pun bergerak-pelan-pelan sambil menikmati kota Ende pas sampai pusat kota kami sedikit bingung, karena jalan utama masih dalam perbaikan jadi kami tidak bisa melewati pusat Kota Ende, malu bertanya sesat dijalan, aku pun berhenti sejenak bertanya sama warga sekitar jalan keluar dari Ende, akhirnya ditunjukkan juga setelah kami berputar kami pun menemukan jalan keluar, belum keluar dari kota Ende, kami bingung lagi karena jalan keluarnya ternyata ada yang satu jalur, ditambah lagi nggak ada rambu penunjuk jalannya, akhirnya kami memutuskan untuk bertanya lagi tapi masalahnya ngga ada orang duduk-duduk disekitar kita,  akhirnya kami coba menghentikan pengendara motor dari 3 kali usaha akhirnya ada 1 motor yang mau berhenti akhirnya motor itu mau mengantarkan kami, sebagai balas budi  atas kebaikan pengendara motor itu, kamipun memberikan Rp. 20.000 sebagai imbalan.
Setelah itu kamipun melanjutkan perjalan meninggalkan Kota Ende dan bergerak menuju Kota Bajawa, setelah mersaa capek akhirnya aku minta gantian posisi, sekarang aku bagian istirahat, Mas Chan nyetir dan Kang Agung  Bagian Navigator, nah masalahanya pas kebagian jatah istirahat aku malah susah tidur, jam 05:30 kami berhenti sejenak di jalan karena melihat pemandangan yang sangat indah, kalo aku membahasakan kayak negeri kayangan.

Aku lihat dari atas pemandangan bukt-bukit yang tertutup kabut hingga yang nampak hanya ujung bukit, kalau dari jauh kelihatan seperti daratan terbang  diantara awan. kami sejenak berfoto-foto, setelah berfoto ria akhirnya kami melanjutkan perjalanan, dalam perjalanan kami melihat sebuah pasar di pagi hari di daerah pasar  Matakalo, akhirnya kamipun berhenti sejenak di pasar Matakalo menikmati kopi khas asli Bajawa ditemani kue beli Kopi+kue 12.000 dengan lagak dan gaya mirip pak Bondan  maknyus. selesai manikmati Pasar Matakalo, lalu kami melanjutkan perjalanan dan singgah di sebuah Desa sambil mengabadikan dengan kamera,  sebuah tempat leluhur mereka yg didirikan di depan rumah, tempat tersebut bernama Kayu Pamali, kayu itu didirikan oleh nenek moyang mereka yang mereka sendiri pun tidak tahun kapan itu dibuat. walaupun Kota Bajawa  nggak satu jalur tapi kami tetap memutuskan untuk singgah di Kota Bajawa, pas masuk Kota Bajawa, dalam hati ini bertanya wah NTT juga punya kota yang penya tata kota luar biasa ya!! bersih, rapi, dingin dan sangat tenang lua biasa, tapi sayang promosi wisata ditambah akses yang agak susah membuat Bajawa kurang dikenal oleh wisatawan. sampai di Bajawa kami mampir di rumah Mas Arie Seorang Jaksa di Kejari Bajawa, sampai dirumah Mas Arie kamipun numpang mandi sekaligus sarapan pagi, pas aku mau mandi , aku ngambil baju ganti di dalam koper, pas ku buka koper, betapa kagetnya waktu kulihat ternyata madu yang kubawa dari kos sudah meledak didalam koper bajuku, alhasil akupun harus mencuci 3/4 bajuku sekaligus sama kopernya dan harus siap ngga pakai ganti baju sampai ada baju yang kering. selesai mencuci baju akupun langsung mandi setelah mandi lalu kamipun sarapan pagi, setelah sarapan akupun segera mengemas seluruh pakaian yang barusan kucuci dan kumasukkan kembali kedalam koper walau masih dalam keadaan basah semua. setelah selesai semua akhirnya kamipun berpamitan, baru sekitar 1 km perjalanan Mas Arie menelpon Mas Chan ngasih tau kalau ada jam tangan yang tertinggal dan ternyata itu jam tanganku, akhirnya kami pun balik ke rumah Mas Arie ngambil jam, setelah mengambil jam kamipun langsung menuju ke Pom Bensin mengisi bensin  Rp. 105.000 untuk melanjutkan perjalanan kekota berikutnya yaitu Kota Ruteng (Manggarai Timur), dalam perjalanan meninggalkan kota Bajawa aku dan Mas Chan melihat banya botol-botol bekas minuman mineral dengan isi cairan berwarna kuning, penasaran dengan isinya aku bertaruh 50.000 sama Mas Chan, aku menebak kalau isi Cairan itu adalah Arak, sedang Mas Chan menebak kalau itu adalah bensin, dan untuk pembuktian akhirnya aku pun turun dan menanyakan ke orang yang menjualnya  dan ternyata benar tebakanku isi dari botol-botol itu adalah Arak, akhirnya akupun mendapat tambahan uang perjalanan pengganti SPPD. Perjalanan pun dilanjutkan menuju Ruteng...
Hasil Pengabadian dalam perjalanan.........


Bajawa Coffe Morning
Konga Mutiara Larantuka

Selamat Datang Bajawa
Paijo Feat Ali Sa Bahar


Kutunggu kamu di Box

ahhhhhhhhhh....










Negeri di Awan
Dibawah atapnya
















Pasar Matakalo

Add caption

























Salah satu sekolah di Bajawa




Dikala Fajar menyingsing



Salah siapa tidak menyediakan toilet umum


Memasuki Bajawa












































Foto-foto lain menyusul.................





















Tunggu Episode Selanjutnya .....

3 komentar:

  1. Berawal dari mimpi, lalu diikuti tindakan nyata :)

    BalasHapus
  2. Yoiii....... bener bangettt... kadang setting impian (bukan mimpi) bisa terwujud entah kapan dan di mana.. :)

    BalasHapus

Entri Populer